Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
66. PT Greenfields


__ADS_3

Pria tampan penguasa perkebunan baru keluar dari ruang penggilingan teh. Kini sedang bergeser di ruang penguapan, pengeringan, sekaligus tempat pengopenan daun teh setelah tergiling kasar sebelumnya.


Pabrik teh milik kakeknya tidak menjual lepas hasil pengolahan daun teh menjadi teh yang siap disajikan. Namun hanya menjual teh bahan packing dan langsung ke distributor nasional. Merekalah yang kemudian memasarkan secara nasional maupun eksport pada perusahaan-perusahaan teh untuk dikemas sesuai nama brand dengan berbagai ukuran dan olahan.


"Pukul berapa orang dari PT Greenfields akan datang, pak Andi?" tanya Syahdan pada lelaki yang setia mendampingi di sampingnya.


"Lepas dzuhur siang ini, pak Syahdan. Akan datang ke kantor bersama seorang sekretarisnya," jelas pak Andi dengan pelan.


Pak Andi sempat menjelaskan jika akhir-akhir ini kesehatannya sangat sering bermasalah. Dengan jiwa besar, lelaki itu mengakui jika sakitnya adalah karena faktor usia yang merangkak menuju tua dan senja. Dan itu cukup membuat Syahdan gamang tidak tenang. Memikirkan pada masa depan pabrik dan perkebunan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Sebenarnya sangat ingin mengajak Ratria ke manapun bersama. Tapi Ratria seperti sedang bad mood dan tidak enak badan. Sedang dirinya harus kembali ke rumah dinas malam nanti. Besok pagi boss besar maskapai Air Asia ingin bertatap muka kembali dengannnya.


"Rat, benar kamu tidak ingin menemaniku kembali ke Juanda?" tanya Syahdan. Mereka sedang makan siang di vila. Penjaga wanita di vila sudah kembali datang dan membuatkan bubur ayam sangat lezat untuk Ratria, dan Syahdan pun memilih isi piring dengan menu yang sama.


"Iya. Sebaiknya aku tinggal di rumah dinas saja, pak Syahdan." Ratria menjawab tak bersemangat.


Syahdan mengambil nafas panjang berulangkali, tak berani lagi menawar dan mendebat. Was-was jika sang istri kembali ke mode ketus dan bad mood. Syahdan tidak ingin bersitegang disaat Ratria sedang dalam kondisi tak maksimal.


"Aku akan kembali paling lama dua minggu lagi, Rat. Sebenarnya aku sedang bimbang, tetap mengabdi pada Air Asia atau tinggal saja di sini. Pak Andi sudah sepuh. Kasihan jika dia mengurus pabrik dan kebun sendiri saja," ucap Syahdan. Menatap teduh Ratria lekat-lekat.


Ratria membungkam. Merasa kecewa pada Syahdan. Kenapa harus ditanya segala,, harusnya sebagai suami, wajib mengajak istri ke mana-mana. Bahkan jika perlu, dipaksa sajalah biar mau.


Bukankah fasilitas pun ada... Mobil untuk mengangkut ada,,, bahkan rumah untuk ditinggali pun tersedia.

__ADS_1


Tapi Syahdan seperti tidak memperjuangkan dirinya. Tidak terlalu menginginkan Ratria bersamanya. Padahal satu hal paling berharga yang dimiliki, sudah diserahkannya pada Syahdan dengan rela. Tapi seperti tak berarti saja baginya. Ratria sangat kecewa, Syahdan tidak memaksa membawanya.


"Rat, jika sudah selesai, kamu bersiap ya. Ikut aku menemui orang dari PT Greenfields. Aku sedang ada kerja sama dengan perusahaan sapi itu. Dia datang di vila, di ruang kerjaku. Kamu mau? Atau ingin di kamar saja?" ucap Syahdan. Duduk menyandar setelah menghabiskan segelas kecil air putih.


"Iya. Aku ingin ikut saja. Sebentar, kuhabiskan dulu, tinggal sedikit," jawab Ratria sambil mengangguk. Berharap Syahdan tetap duduk menunggunya makan hingga habis makanan di piring. Dan cukup jadi pelipur, Syahdan menunggunya makan hingga habis dengan sabar tanpa protes.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Hero Prabowo adalah nama dari pria lajang, kepala lapangan bidang penyediaan pakan ternak sapi di PT Greenfield. Perusahaan sapi perah mega besar, bahkan terbesar di Asia Tenggara dengan lahan peternakan yang mencapai seratus tujuh puluh dua hektar luasnya di Sirah Kencong. Terletak di dataran bawah dan tidak terlalu jauh dari perkebunan teh milik Syahdan.


"Jadi, finally pak Syahdan tidak keberatan menjalin kerja sama dengan kami?" tanya Hero. Memberi kode pada sekretarisnya yang seksi itu untuk menyiapkan berkas kerja sama mereka di meja.


Diana, sekretaris bercelana ketat dengan atasan blouse berpotongan leher rendah itu berpindah duduk cukup dekat di sebelah Syahdan. Tidak peduli adanya Ratria yang memilih duduk terpisah di sofa sebelah.


"Silahkan berkas-berkas ini bapak tanda tangani ya.. Pak Hero sudah bertanda tangan di sebelah tempat anda. Silahkan, pak Syahdan,,,,," suara sekretaris cantik itu sangat lembut dan ramah.


Syahdan sekilas memandang Ratria yang juga sedang memandang datar padanya. Pak Hero sedang mengajak sang istri mengobrol. Lalu menerima uluran berkas satu-persatu untuk dibaca teliti dan buru-buru di tanda tanganinya.


"Saya tidak menyangka jika mbak Ratria berasal dari Sirah Kencong. Betul lahir dan besar di sini?" pak Hero bertanya tak percaya.


"Iya,,betul, pak Hero. Buat apa saya berbohong,,?" Ratria menjawab dengan menunjuk wajah seriusnya.


"Kita tidak pernah bertemu sebelum ini, ya,,?" ucap pak Hero. Seperti mengeluh dan menyayangkan tidak sempat mengenali Ratria. Sedang dirinya sudah bertahun-tahun juga di Sirah Kencong.


"Iya, pak Hero. Nenekku sangat posesif padaku. Waktuku habis untuk berdiam diri dalam rumah," Ratria mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Yang sebelah mana rumah kamu, mbak?" tanya Hero dengan wajah yang serius. Menganggap Syahdan sedang fokus bersama berkas dan sekretarisnya.


"Blok A nomor 11, pak Hero," jawab Ratria dengan jujur dan cepat. Hero tinggal di perumahan Greenfield yang elite. Merasa jika lelaki itu juga tetangga meski agak berjauhan. Tidak berguna jika berbohong.


"Kenapa waktu menyusun skripsi, kamu tidak mengambil pembahasan seputar Greenfield? Itu sangat menarik dan luas. Aku bisa memberimu support sebagai nara sumber dan tokoh. Waktu itu, kamu belum menikah kan?" Hero seperti tidak puas menyesali. Dan Ratria mengangguk.


"Greenfield itu sangat sensitif, pak. Dari sekarang pun, bentrok antara warga dengan pihak bapak tentang pembuangan limbah pun tidak juga selesai. Apa yang harus saya bahas,,, di pihak siapa skripsiku nanti,,?" jawab Ratria. Bibir meronanya sedang tersenyum melebar, sangat mempesona dan cantik.


Syahdan memandang sekilas pada Ratria dan pak Hero dengan kepala yang berdenyut. Terpaksa tetap fokus untuk menelaah hati-hati setiap berkas yang kemudian ditanda tanganinya.


Pak Hero tertegun dan merasa tersindir oleh ucapan Ratria. Namun istri orang yang sekaligus istri mitra kerja di sampingnya itu terlalu jelita dan menarik. Jarang tersenyum, sekali tersenyum sangat menawan. Membuat jantung pak Hero jumpalitan tak karuan.


"Maaf, pak Hero. Saya ingin mengoreksi. Saya harap anda tidak keberatan," tegur Syahdan tiba-tiba. Hero buru-buru menyimak.


"Bagian apa itu, pak Syahdan?" tanya Hero terheran. Syahdan menyodor selembar berkas padanya.


"Di bagian lama kerjasama ini terlalu panjang. Saya hanya ingin bertanda tangan dalam lima tahun pertama penyewaan saja. Bukan langsung dua puluh tahun. Jika kita telah sama-sama merasa diuntungkan dalam kurun lima tahun, barulah kita panjangkan lagi kemudian. Tolong dirubah, pak Hero," nego Syahdan. Memandang lekat pada Hero.


Hero Prabowo juga menatap Syahdan lekat-lekat. Sedang berfikir pada perubahan ide yang tiba- taba oleh pemilik perkebunan.


Hero dan Syahdan telah bersepakat semalam, bahwa Syahdan telah menerima pengajuan sewa dari Hero sekaligus wakil dari PT Greenfields untuk menyewa sebagian kecil lahan di perkebunan selama dua puluh tahun lamanya.


Hanya sebatas lahan tepi di tiap-tiap petak kebun teh yang luas itu. Akan ditanami dengan pohon kelor unggul sebagai bahan pakan ternak sapi perah di PT Greenfields Sirah Kencong. Dengan istilah pagar betis tumpang sari. Dan Syahdan telah menyetujuinya semalam.


Kegalauan Hero menguap cepat saat pandangannya beralih sekilas pada Ratria yang juga tengah ikut menatapnya. Mungkin tengah menunggu jawaban atas negosiasi Syahdan pada berkas kerja sama mereka.

__ADS_1


"Baiklah, saya setuju. Apa salahnya mencoba di lima tahun yang pertama. Tidak jauh berbeda dengan langsung dua puluh tahun. Mari kita sama-sama remark kurun waktunya, pak Syahdan," putus Hero dengan cepat.


Meminta pada sekretaris seksinya untuk mengoreksi manual pada bagian kurun waktu. Dan coret koreksi satu kali itu sama-sama ditanda tangan oleh Hero dan Syahdan bergantian, sebagai bukti keabsahan pembetulan yang telah disepakati kedua nama mereka.


__ADS_2