
Gadis sangat cantik dan juga sangat langsing, sedang duduk dengan muka masamnya di depan meja staff lelaki yang rupawan.
"Mas, kurangin lagi dong jadwalku. Baru saja aku dari Canberra, masak mau terbang lagi ke Macau. Capek,," keluh Judith. Vario memandangnya sekilas.
"Ini beda, Dit. Tidak capek. Bukan bolak-balik. Tapi stay di sana sepuluh hari. Khusus mengantar pelancong. Jadi kamu pun juga bisa sekalian melancong ," bujuk Vario.
Dan iming-iming Vario memang berhasil membuat mata lebar Judith semakin lebar lagi. Selain kata kunci stay sepuluh hari dan melancong, tapi sikap ramah Vario lah yang justru membuatnya tercengang.
Vario yang biasa acuh dan tak bisa ditawar, kini seperti membujuknya. Sudah rumor di kalangan para pramugari, jika Vario adalah pramugara merangkap staff agency yang dingin. Bahkan banyak yang menggunjing jika Vario adalah bagian dari barisan kaum pelangi.
"Mas, ada pesangon di muka nggak?" Judith bertanya dengan mimik yang tegang.
Bukan soal pesangon, tapi menunggu apa Vario sudi menjelaskan atau abai dan pergi. Biasanya seperti itu. Hanya memberi tahu tentang schedule terbang terbaru. Hal-hal lain tentu tidak mau tahu dan tidak peduli dengan segala apapun pertanyaan. Ada staff bagian lain yang bertugas melayani segala keluh kesah di agency.
"Ada. Setelah tiba di sana. Ini maskapai besar itu, Dit. Kamu paham kan, maskapai penerbangan apa yang aku maksud?" terang Vario sambil mengetik sesuatu di komputernya. Dan Judith pun mengangguk.
"Iya. Jujur, aku paling suka jika disewa sama maskapai ini. Apresiasinya bagus. Dan hampir tidak pernah accident,," ucap Judith tersenyum. Sepertinya dia sudah rela dengan tugas yang Vario beri padanya.
"Ya sudah. Kamu boleh pergi. Jangan lupa, pukul lima pagi harus standby di agency. Pembagian seragam." Vario masih tetap sambil mengetik.
"Aku diusir?" Judith sengaja mengusik. Vario memandangnya sebentar.
"Kamu ingin menemaniku? Duduk saja di situ sampai pegal," ucap Vario tanpa lagi memandang Judith.
"Ish..Kumat,," sindir Judith yang kemudian berdiri. Vario abai dan terus saja mengetik.
__ADS_1
Judith telah jauh berlalu keluar dari ruang kantor agency. Vario duduk menyandar dan selesai mengetik. Memandang kosong ke sudut ruang kantor yang sepi. Nampak dua orang staff laki-laki masih sibuk bercengkerama dengan komputer dan data masing-masing.
Judith,,sudah jadi rahasia umum jika gadis itu adalah putri seorang pengusaha sukses dan kaya raya. Bukan uang semata yang membuatnya melakoni tugas pramugari dan model. Namun Judith memang suka travelling. Keduanya adalah pekerjaan dan event untuk mengunjungi banyak tempat yang berbeda. Meski Judith begitu takut dengan tragedi berdarah sebab peristiwa kecelakaan.
Namun Vario baru saja tahu, jika tujuan Judith pindah dari Jakarta ke Surabaya adalah demi kekasihnya. Dan lebih terkejut, Syahdan, suami Ratria, bos pabrik di perkebunan sekaligus bos di air asia itulah kekasih tercintanya.
"Mas Rio,!" sebuah seruan dari seorang Lelaki dewasa membuyarkan lamun Vario.
"Kenapa, mas Delon?" tanya Vario. Delon adalah seorang ayah muda dari satu balita empat tahun.
"Mohon maaf, mas. Aku terpaksa gagal terbang. Istriku hamil tua. Tidak mau aku tinggal jauh dan lama, mas," mas Delon nampak segan dan sesal.
Vario merasa jika dirinya telah lalai dan salah pilih pramugara. Tidak tahu jika mas Delon sedang on the way anak kedua. Dan merasa ini adalah lalainya.
"Terimakasih atas pengertianmu, mas Rio. Aku doakan semoga mas Rio segera bertemu jodoh dan mendapat cepat momongan," mas Delon mendoakan Vario dengan tulus dan sungguh-sungguh.
"Aamiin. Terimakasih, mas Delon," respon Vario dengan senyuman.
Mas Delon telah izin undur diri. Meninggalkan Vario tengah berfikir keras. Menimbang siapa yang akan dipercayainya untuk mengganti pramugara senior itu, guna mendapat sewa terbang istimewa ke Macau..
🍃🍃🍃
Setelah sekian hari Syahdan berkata akan membeli lampu tidur, baru sore tadi itulah lampu tidur yang cantik ditentengnya ke dalam kamar. Entah apa sajalah kendala pak Syahdan hingga perlu waktu berhari-hari untuk memenuhi janji lampunya itu pada Ratria.
"Kamu benar-benar akan pulang, Rat?" tanya Syahdan.
__ADS_1
Lelaki gagah itu telah merebah di sisi tepi ujung ranjang. Cukup jauh antara bantal yang dipakainya dengan bantal yang dipakai Ratria berada. Kini kamar telah redup dan bukan lagi gelap gulita. Lampu tidur baru yang sangat mahal itu benar-benar berfungsi sangat baik.
"Aku sudah sembuh, pak Syahdan," Ratria mengangguk. Menoleh Syahdan yang juga menolehnya. Mereka tidur berjauhan. Tiba-tiba mereka merubah posisi hampir bersamaan. Berbalik tidur miring dan saling berhadapan. Keduanya saling memandang dengan bungkam.
"Jika tiba-tiba hasil cek besok kondisi luka kamu turun dan kurang bagus, bagaimana?" tanya Syahdan.
"Pak Syahdan berharap yang tidak baik padaku?" ucap Ratria curiga.
"Bukan begitu, Rat. Aku sekedar ingin tahu," sanggah Syahdan.
Keduanya terdiam nampak gelisah. Tidak lagi saling bertanya atau juga saling menjawab.
"Pak Syahdan, aku tak bisa tidur. Bagaimana jika lampu dipadam saja,?" tanya Ratria dengan segan.
"Aku juga, Rat. Ternyata sangat nyaman tidur dalam gelap gulita itu ya..." sambut Syahdan antusias.
"Iya, pak Syahdan," Ratria menjawab akur ucapan pak Syahdan.
Syahdan bangun super cepat dan mendatangi meja tempat lampu tidur diletakkan. Meja itu di pojok kamar yang berjauhan dengan ranjang.
Lampu tidur telah padam menyusul keadaan kamar yang gelap. Menyusul lagi dengan bayang badan Syahdan yang lenyap.
Ratria berdebar menunggu. Apa yang disangkanya telah berlaku. Terasa gerakan pelan yang merebah dekat di sampingnya. Syahdan kembali tidur dengan sangat dekat saat lampu telah padam dan gelap. Bahkan aroma khas Syahdan telah kembali mengudara menyapa di hidungnya yang cantik.
Dan keduanya telah bersama menuju tidur dengan rasa nyaman dalam gelap. Tidak lagi gelisah atau membuat gerakan yang sia-sia tak terarah..
__ADS_1