
Setelah mendapat rawatan kerok gelas dan minyak angin oleh mbak Lusi di bahu, tengkuk, punggung, hingga pinggang yang terasa nyeri nyeri sedap, Ratria tertidur dengan perut yang kenyang. Kerokan tidak berakhir mulus begitu saja. Tapi diakhiri dengan drama konyol yang tiba - tiba mbak Lusi diusir dari kamar dengan pintu terbanting namun membuka jendela kamar lebar-lebar.
Ratria yang super cantik itu sedang membuang angin sangat besar dari perutnya di jendela kamar sambil senyum-senyum sendirian. Merasa malu dan konyol sekali, namun sangat lega luar biasa. Kamar berdinding pink ungu itu tanpa kipas angin ataupun AC pendingin.
Sebab, di Sirah Kencong hampir tidak pernah muncul hawa gerah. Selalu terasa sejuk semilir sepanjang waktu. Sangat khas dengan hawa segar pegunungan saat siang. Dan berubah dingin membekukan saat malam.
🍃🍃🍃
Mbak Lusi kian yakin jika Ratria telah menutupi perkembangan hubungannya dengan Syahdan. Prasangka akan kemajuan hubungan mereka yang membaik, telah diyakini dengan imbuh penampakan pagi tadi.
Meski baju yang dipakai Ratria tidak terlalu terbuka, masih bisa jelas menampakkan kulit leher yang terdapat juga beberapa lebam kecil. Mbak Lusi memastikan jika Ratria dan Syahdan sudah saling bersentuhan sebagai pengantin baru pada umumnya. Mungkin Ratria merasa masih malu untuk mengaku.
Merasa gembira dengan pernikahan Ratria yang kemungkinan akan langgeng. Juga sangat lega, bahwa gadis asuhannya itu telah bersama lelaki super tepat yang akan meneruskan menjaganya. Dan merasa dirinya harus andil untuk semakin mendekatkan mereka menjadi lebih rapat.
__ADS_1
Mbak Lusi adalah janda ditinggal mati dan sudah terniat untuk tidak akan menikah lagi. Mbak Lusi berasal dari daerah Blitar Selatan di Wates. Telah mengabdi pada kakek Yakub sejak dirinya masih muda. Memiliki satu anak lelaki dan sudah mandiri yang kini duduk di bangku SMA di kampung halaman.
🍃🍃🍃
🍃🍃🍃
Di angkasa raya langit Macau...
Burung besi raksasa yang dibawa kapten Johan, sedang mengudara meninggalkan langit Macau dengan membawa penumpang beserta seluruh awak pesawat yang sedang bertugas di dalamnya. Terbang lurus dan tenang saat malam mengarungi hamparan awan Macau di angkasa.
Vario sedang bersantai sejenak setelah bertugas membagikan selimut kepada seluruh penumpang di kabin. Lelaki tampan itu duduk berselonjor di ranjang dalam kabin rahasia awak pesawat atau disebut juga awak kabin atau khususnya lagi pramugari dan pramugara.
Ada dua emergency hatch yang dimiliki pesawat maskapai kali ini. Di bagian atasnya kabin penumpang, dan di depan kabin penumpang. Dilengkapi dengan ranjang yang bisa digunakan oleh seluruh para awak. Cukup aman dan nyaman untuk istirahat para awak pesawat dengan durasi tempuh yang mencapai belasan jam perjalanan itu.
__ADS_1
Vario sedang bersama empat awak kabin lainnya di dalam emergency hatch lantai atas, termasuk Judith bersamanya. Sedang ada dua awak kabin maskapai yang mendapat giliran meronda di kabin penumpang lantai bawah.
Dua pramugara dan tiga pramugari yang sedang mengobrol santai sambil sesekali bercanda, sangat terkejut saat tiba-tiba merasa jika pesawat sedang terbang menghentak berulang kali dan mereka paham itu adalah situasi yang tidak aman.
Tiga awak kabin milik maskapai itu merasa lebih berkuasa dan telah menguasai ranjang masing-masing serta memasang seat belt dengan cepat. Hanya tersisa satu ranjang dan satu seat belt saja.
"Dit, gunakan ranjang ini. Cepat, Dit,,!" seru Vario pada Judith yang nampak cemas dan takut.
Vario segera menyambar tangan Judith yang kesusahan menggapai ranjangnya. Dengan cekatan memasangkan seat belt ranjang di pinggang Judith yang memilih posisi duduk.
"Mas Rio sendiri bagaimana?!" tanya Judith nampak panik.
"Tenang, Dit. Yang penting kamu aman. Tolong jika guncangan parah, kamu bantu pegang tanganku, ya,,!" himbau Vario pada Judith yang sudah didudukkannya diranjang sambil siaga berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Judith mengangguk cepat dengan tegang. Tapi langsung menyambar lengan tangan Vario meski guncangan masih stabil dan belum sangat tajam. Hentak guncang pesawat yang kemungkinan banyak mendung di luaran, terasa sangat menegangkan dan seram. Vario membiarkan tindakan panik Judith yang menyambar tangan besarnya dan memeluk erat di dadanya. Dan guncangan pesawat masih saja berlanjut memberikan efek tegang yang mengancam.