Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
24. Di Tunjungan


__ADS_3

Gadis jelita berbadan tinggi dan begitu langsing, berjalan di samping pria gagah rupawan dengan wajah berbinar dan gembira. Begitu juga aura si pria, nampak cerah dengan samar senyumnya.


Mereka adalah dua insan yang saling memendam rasa, namun belum tergerak untuk mengikatnya. Khususnya dari pihak laki-laki. Entah apa yang dinantikan, tidak ada yang mengerti. Hanya penuh lapang dada menerima arahan dan amanah orang tua saat gadis itu baru sampai di Surabaya hampir satu tahun yang lalu.


Seperti itulah cerita antara Syahdan dan Judith. Merasa nyaman bersama, namun belum juga ada ikatan antara keduanya. Lebih tepatnya, si gadis berusaha sabar menunggu penuh harap hingga si pria berkata cinta dan lalu melamarnya.


"Mas, kamu lagi seneng, ya? Kenapa,?" tanya Judith sambil menoleh ke wajah tampan di sampingnya. Lelaki itu tersenyum.


"Aku lega, mama dan dua adikku sudah tanda tangan di arsip pelimpahan warisan kakekku," ucap Syahdan terdengar lega dan puas.


"Secepat itu, mas? Kamu bilang mungkin agak lama. Jadi, mas Syahdan nggak perlu datang ke Blitar lagi, kan,?" tanya Judith dengan wajah senang dan gembira.


"Tidak mungkin jika tidak ke Blitar sama sekali, Dit. Tentu ada saja urusan yang mengharuskan aku berkunjung sesekali ke sana," terang Syahdan. Mereka memasuki sebuah mall besar di daerah Tunjungan Surabaya kota.


"Jika pas libur, dan kamu ke Blitar, aku ikut ya, mas,,?" rayu Judith dengan manja.


"Boleh," jawab Syahdan mengangguk.


Syahdan akur dengan ajakan Judith untuk singgah di rumah makan dalam mall. Meski masih kenyang setelah makan malam di rumah, namun Syahdan bersedia menemani Judith untuk mengisi perutnya sebentar.


"Mas, kapan perempuan itu datang? Katamu tante sama om nggak mau tanda tangan kalo belum ketemu sama perempuan dari Blitar itu,," ucap Judith.


Gadis itu memang sudah tahu kisahnya. Selain Syahdan cukup terbuka, Judith juga rapat dengan keluarga bu Anisa. Mereka sudah terbiasa untuk saling bercerita.


"Dia ada kerja bersama timnya ke Juanda," jawab Syahdan. Lelaki itu hanya memesan satu cangkir kopi panas.


"Oh, dia pegawai Telkom? Kamu ketemu dengannya di seminar,?" tanya Judith merasa tertarik. Dia juga tahu tentang kegiatan kerjasama antara Telkom dengan maskapai penerbangan tempat Syahdan bekerja. Dan lelaki rupawan itu mengangguk sekali lagi.


"Mas, jadi dia di sini,? Kamu tidak ingin mengenalkan aku pada dia? Aku ingin lihat. Apa dia cantik,?" tanya Judith beruntun.


"Untuk apa? Tidak perlu, Dit," sahut Syahdan dengan tegas.

__ADS_1


"Kenapa? Apa salahnya kami kenal,?" protes Judith. Syahdan terkesan menutupi.


"Baiklah, besok pagi saja. Datanglah ke aula bandara sebelum pukul tujuh." Syahdan memutuskan untuk menunjukkan Ratria pada Judith saat penutupan seminar besok pagi.


🍃🍃🍃. 🍃🍃🍃


Ratria menatap gedung tinggi Tunjungan sambil terus melangkah mengikuti Hendra memasuki area dalam mall. Lelaki itu membawanya ke salah satu rumah makan di dalamnya. Meninggalkan mobil dinas di area parkir Tunjungan yang remang.


Hendra tidak percaya saat Ratria menjawab jika dirinya sudah makan dengan kenyang. Dan Ratria menurut ikut sebab khawatir jika Hendra sedang lapar.


Mereka nampak gembira berbincang dengan menikmati suasana. Suasana malam Surabaya yang amat bingar dan gemerlap.


Hendra memilih duduk di tepi marapati dinding kaca. Ratria menyukai pemandangan di luar yang nampak jelas dari dalam. Dan mereka sedang seru dalam obrolan.


"Ha..ha..ha..Jadi meski kedapatan dan ditangkap tujuh pasang, masih ada sejuta pasang yang ngumpet, mas? Ha..ha..ha,," Ratria tertawa tak lagi bisa menahan. Hendra mengangguk dan ikut tertawa.


"Dan yang seperti itu, sudah merata di seluruh Indonesia, Rat. Ha..ha..ha,," Hendra kembali tertawa pada ucapannya sendiri.


"Tidak. Ini memang fakta dan ada di negara kita," jawab Hendra dengan cepat.


Obrolan mereka terus berlanjut dengan canda dan kelakar.


Bermula dari Hendra yang mengeluh pada Ratria. Merasa kesusahan menghubungi pak Leo di ponselnya. Begitu juga dengan ponsel bu Siska. Ponsel keduanya sedang pasif tanpa ada layanan pesan suara. Benar-benar mati total tak tertolong.


Berlanjut dengan sangkaan Hendra jika keduanya tengah menyingkir keluar dari bandara. Keluar area Juanda untuk bergabung bersama dalam satu kamar hotel yang sama.


Berlanjut lagi dengan fakta persamaan kasus serupa yang melimpah terjadi di negara Indonesia kaya raya. Dan dari situlah mereka terus saja tertawa. Meski dalam hati Ratria menyadari jika dirinya pun baru keluar bersama seorang lelaki, namun dengan kasus yang tentu jauh sangat berbeda.


Gadis cantik dengan bodi proposional dan berlekuk sempurna bak barbie itu masih nampak sisa senyum di bibirnya. Tidak lagi bicara atau tertawa, sebab Hendra tengah karam dalam hidangan yang dipesan dan baru saja diantar. Pengunjung yang melimpah membuat layanan sangat lambat menyambut. Dan sepertia biasa, Ratria hanya menuliskan susu segar hangat tanpa gula kegemarannya di buku pesanan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Ratria tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sesekali menyambar ke arah dirinya. Mata milik seorang pria yang sedang menikmati secangkir kopi panas di mejanya. Bersama gadis modis sangat langsing yang duduk anggun di depannya.


"Cepat habiskan makanmu, Dit. Nanti keburu malam. Kamu jadi nyari baju kan,?" tanya Syahdan setelah meletak cangkir kopi yang sudah licin ke meja.


"Aku sudah selesai, mas. Perutku terasa penuh," ucap Judith sambil mengusap perutnya yang tipis dan perat. Tidak lagi berminat menyentuh makanan lezat di meja hingga tamat. Tidak menyangka jika Syahdan benar-benar tidak ingin makan lagi.


"Kamu sangat kurus, Dit. Kurasa tidak perlu diet lagi," ucap Syahdan sambil matanya menelusur tubuh Judith sekilas.


"Agency modelku bilang aku harus bertahan dengan tubuhku yang seperti ini." ujar Judith dengan alasannya. Syahdan menaikkan alisnya merasa iba.


"Kurasa para agency model, di manapun.. Sangat suka menyiksa para modelnya," bantah Syahdan.


"Ah, mana ada! Mas Syahdan hanya menakutiku. Lagian, kamu biasanya tidak peduli. Tapi aku suka, kamu perhatian denganku. Terimakasih, ya mas,,!" Judith berkata manja dengan wajah yang cerah. Memandang Syahdan dengan senyum mengembang.


Syahdan terdiam, tidak berniat menimpali. Merasa tidak berguna untuk mengomentari Judith yang mungkin sudah dicuci otak oleh agency modelnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Butik terbesar di Tunjungan sedang dipadati pengunjung yang berburu baju dan sepatu. Tidak terkecuali dengan Ratria dan Hendra yang ikut menyemut di dalamnya.


Hendra tengah berburu di salah satu stand penyedia set baju daerah untuk anak-anak dan balita. Lelaki itu ingin membelikan oleh-oleh untuk para keponakannya di rumah.


Sedang Ratria sudah asyik tenggelam dalam pilihan aneka model baju tidur dan dalammann. Sengaja bersepakat dengan Hendra untuk memencar agar bebas berbelanja.


Kembali tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sesekali menyinggahi dirinya. Lelaki pemilik mata yang setia mengikuti wanita yang sedang kalap berbelanja.


"Mas Syahdan, lihatlah.. Ini pas tidak dengan tubuhku,,?!" seru manja Judith. Gadis itu baru keluar dari ruang pas baju di pojokan. Syahdan menoleh dan sedikit mendekat. Pria itu terlihat mengangguk dan yakin. Judith nampak puas dengan gaun pilihan yang sudah diacc oleh Syahdan. Kembali ke fitting room dengan sangat bersemangat.


Syahdan termangu sebentar pada pintu pas baju yang baru saja ditutup. Kembali menjauh dan melarikan lagi pandangannya. Mencari-cari subjek berkerudung di antara deretan baju tidur dan pakaian dalam.


Syahdan tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sedang mengamatinya dengan senyum. Seorang manager Air Asia yang terhormat serta gemar memaksa, tengah menemani sang kekasih berbelanja dengan patuh dan setia.

__ADS_1


__ADS_2