Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
48. Kedatangan Kahfi


__ADS_3

Meski malu, tapi merasa senang mendapat respon dari Syahdan pada penampilannya pagi ini. Merasa diri sangat konyol dan mungkin bermain dengan buaya yang sedang setengah tertidur.


Mendapat tatapan dan ekspresi Syahdan yang berhasrat padanya, ternyata itu terasa menyenangkan. Dan ini adalah pertama kali dalam hidup, sengaja berpenampilan seksi untuk memancing minat lelaki. Yaitu Syahdan, sang suami sendiri.


Tapi Ratria juga was-was jika Syahdan benar-benar berniat dan memaksa menyentuhnya. Merasa diri belum siap. Ratria hanya sedang berusaha meyakinkan diri serta mencoba agar Syahdan benar-benar menerimanya dengan cinta yang tulus. Memalingkan hati lelaki itu dari Judith, kekasihnya, secara perlahan. Mau menerima Ratria apa adanya dengan sungguh-sungguh, dan bukan hanya karena warisan pabrik itu semata.


Vario tidak bosan mengirim pesan yang berisi semangat serta dorongan untuk mendapatkan hati Syahdan. Menerima dengan ikhlas perkawinan sekaligus mempertahankan perkawinan. Serta meyakinkan Ratria bahwa Syahdan adalah lelaki terbaik yang harus berusaha diterima dan digenggam. Dan Ratria telah mengakui kebenaran dari segala saran sang kakak padanya.


Selain itu, Ratria juga masih sebagai gadis muda yang baru merasakan kebebasan. Keinginan memiliki kekasih dan berpacaran masih sering menggoda kepalanya. Bukan mudah bagi Ratria yang seorang mahasiswa dan sangat cantik untuk tidak tergoda pada pilihan lelaki yang datang silih berganti waktu itu. Bukan mudah juga untuk patuh pada sang nenek agar dirinya membatasi pergaulan.


Dan kini hanya pada Syahdan lah berharap, perasaan dan perlakuan indah yang sempat tertinggal dan dimimpikan, akan didapat serta dirasakan. Ratria ingin bermain-main dalam debar rasa sebagaimana yang dulu teman-temannya sering ceritakan dan menggodanya. Memamerkan pada Ratria bahwa betapa menyenangkan berpacaran.


Itulah sebab Ratria tiba-tiba ingin dan berani tampil seksi dengan sengaja di depan Syahdan yang super tampan itu pagi ini....


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Dress sopan selutut dengan lengan panjang, sebab itu adalah model favorit, telah melekat tak kalah indah di tubuhnya. Merasa segan untuk lama -lama berpenampilan seksi di depan Syahdan, tidak ingin rasa penasaran akan berubah menjadi rasa membosankan. Dan tentu masih menyimpan niat untuk berbaju seksi lagi lain kali.


Ratria dan Syahdan hampir berbarengan keluar kamar saat sayup terdengar ketukan dari pintu luar di depan.


"Siapa, pak Syahdan,?!" seru Ratria dari pintu kamar. Syahdan memandang Ratria sambil jalan menghampiri. Kamar Ratria lebih berdekatan dengan ruang tamu.


"Mau ikut menemui?" tanya Syahdan. Merasa lega sebab baju yang dipakai Ratria sedang sopan.


Ratria tidak bersuara, tapi hanya mengangguk tersenyum dan langsung membuntuti Syahdan di belakangnya.


Ceklerk,,!


"Mas ! Lama sekali,,! Aku mau pinjam,,," lelaki muda dan sangat tampan sedang berdiri di depan pintu dengan penampilan yang cerah dan rapi. Mirip Syahdan...

__ADS_1


"Ratria,,,,? Kamu Ratria,,?? Hei,,! Mas Syahdan bilang kamu di Blitar,,?!" tanya lelaki tampan itu terheran.


Memandang gadis cantik itu dengan setengah tidak yakin. Selama ini, Ratria selalu berkerudung jika datang bersama Syahdan di rumah keluarganya. Dan kini Kahfi berkesempatan melihat kilau Ratria di balik kerudungnya.


"Kahfi,,! Kamu mau pinjam apa,,?!" tegur Syahdan pada Kahfi. Adik playboynya itu terus memandang Ratria tak berkedip.


"Mas, kamu bilang Ratria langsung ke Blitar pas kecelakaan itu?!" Kahfi berkata kesal dan langsung masuk melewati mereka berdua. Duduk di sofa dengan kedua kaki dinaikkan begitu saja.


"Iya, biar dia tenang dan cepat sembuh." Syahdan menjawabnya singkat.


"Apa salahnya aku menjenguk Ratria, mas. Kan aku bisa menamani kamu di rumah ya, Rat? Mas Syahdan sering ninggalin kamu, kan? Dia itu gila kerja,,! Tumben Minggu begini dia di rumah,,!" Kahfi menggerutu panjang pada Syahdan.


"Tadi aku sudah ke bandara.. Bilang dong mas, kalo kamu libur,,!" sambung Kahfi merasa kesal dengan kesalahannya sendiri.


"Kenapa kamu nggak nelpon, Fi?" tanya Syahdan. Terus nyengir dan tersenyum menanggapi dumelan adik bungsunya.


"Hedeh, berapa kali sudah ku telpon?! Tak tahunya,, kalian lagi kikuk-kikuk ya??!" Kahfi menggerutu kian sebal.


"Jaga bicara kamu, Kahfi,,!!" tegur Syahdan pada adiknya.


Paham dengan perasaan Ratria yang sedang memerah mukanya. Syahdan juga risau jika gadis yang baru saja ada perkembangan dengan berbaju seksi dan menghidangkan masakan lezat itu, kembali membatasi diri dan penampilannya.


"Kenapa juga sewot, mas? Kalian pasutri yang tinggal seatap. Emang tahan tidak ngikuk?!" Kahfi juga terlihat masih kesal.


"Kami tidak ngapa-ngapain, Fi,! Ratria sakit dan aku wajib merawatnya,!" tegas Syahdan terpaksa. Melirik Ratria yang memandang Kahfi dengan kaget dan kemudian menunduk. Risau jika Ratria tidak terima dan akan bersikap lebih marah.


"Ha..Ha..Ha.. Pulang ke Blitar konon,,," tawa Kahfi. Masih belum puas juga menyudutkan kakak lelakinya.


Saat hari Ratria terserempet, Kahfi dan Khairy berencana menjenguk dan melihat keadaan Ratria. Tapi Syahdan melarang dan berkata jika Ratria baik-baik saja serta langsung diantar Arka ke Blitar. Ternyata kakak sulungnya itu berbohong.

__ADS_1


"Sudah Kahfi, kamu mau ke mana? Kamu mau bawa mobilku kan?" tanya Syahdan mengalihkan perbincangan. Langsung dilemparkannya kunci mobil pada Kahfi. Dan disambar dengan tepat oleh Kahfi.


"Rat, ikut aku jalan-jalan ke Royal Plaza, kamu mau?" tanya Kahfi dengan memandang Ratria setelah menerima kunci mobil. Merasa yang diajak sudah berpenampilan standby untuk pergi jalan.


Ratria yang merasa di ajak oleh adik ipar lelaki itu tersenyum dan memandang Syahdan. Yang dipandang menyambar bantal dan dilemparkan pada Kahfi.


"Lalu kamu pinjam mobilku itu buat apa, Fi? Cewek yang sudah kamu janjikan itu akan kamu kibulin,,?" tanya Syahdan menahan senyumnya. Kahfi telah menangkap bantalnya.


"Ya kalo Ratria mau, kubilang saja mobilku rusak,, memang rusak... Tadi aku ke sini naik motor," terang Kahfi.


"Mas, Judith bagaimana,, Dia nggak ngamuk Ratria di sini?" tanya Kahfi berkerut.


"Kamu boleh ngajak jalan-jalan Judith, Fi. Aku sudah nggak sempat lagi keluar dengan dia. Kerjaanku banyak," keluh Syahdan pada adiknya. Kini merasa jika Judith adalah tanggung jawab bersama keluarga, bukan sekedar dirinya saja.


Ratria merasa tidak enak hati mendengar jika Syahdan sangat sibuk. Merasa diri adalah salah satu penyebab kesibukan Syahdan. Merasa diri mungkin merepotkan.


"Kok aku,, aku nggak ingin digosipin sama Judith, mas. Aku cuma ingin gembira di balik layar. Mas Khairy saja nanti kubilangin,," ucap Kahfi memandang Ratria yang duduk di samping Syahdan dan mengamati ponselnya.


"Ssstt,,sstt,,Rat,,!! Gimana, yuk shopping ke Royal. Kubeliin sandal branded, yang nyaman buat kaki kamu ,!" ulang Kahfi dengan ajakannya. Wajah tampan yang playboy itu tidak sempat lagi menangkis lemparan bantal dari Syahdan.


"Tidak sopan kamu, Fi,,! Siapa yang mendidikmu?! Kamu lupa, masmu ini adalah suami Ratria? Itulah salah satu alasanku, kenapa kubilang Ratria sudah ke Blitar!" kesal Syahdan sambil kembali melempar bantal pada Kahfi dengan keras.


"Ha..Ha..Ha..Sudah merasa punya istri? Sudah merasa jadi suami? Maafkan aku massee,,, pinjem mobil ya, massee..!" Kahfi tak puas lagi mengejek.


"Rat, sorry ya, bercanda..!" Kahfi menyapa Ratria sambil berjalan cepat menuju garasi. Seperti risau jika Syahdan berubah pikiran untuk meminjamkan mobil sport padanya.


"Hati-hati, Kahfi,,!!" Syahdan sempat berseru pada adik lelakinya.


Bagaimana pun sebagai anak tertua, dirinya tidak lupa untuk berusaha memperhatikan serta mengayomi adik-adiknya. Apalagi dengan tidak adanya orang tua di samping mereka.

__ADS_1


Dan Kahfi yang mendengar seruan Syahdan tidak menjawab, pura-pura tidak mendengar namun senyum gembira nampak ada di wajah cerahnya.


__ADS_2