
Dua insan yang telah saling mencinta, baru saja mengarungi malam indah yang sangat melelahkan. Sekaligus mengarungi malam panas menyenangkan. Dan juga telah mencapai puncak bersama di sandaran yang melebihi satu kali.
Mereka sedang berpeluk dengan sisa engah dan sedang tidak berbenang satu helai pun di badan. Berpelukan erat dengan saling melempar senyum berpandangan. Selimut yang berserakan itu ditarik dan ditutupkan sempurna kembali oleh Syahdan.
"Ratria,,, kamu,, kenapa tidak bilang jika sudah bersih, hah,,?!" tanya Syahdan. Memeluk erat lagi separti akan dipatahkan saja tulang sendi sang istri. Tapi rasanya sungguh sangat bahagia sekali.
"Untuk apa? Hatiku sedang sakit dengan datangnya penggemarmu itu ke sini. Lagipula, nanti aku akan kamu anggap cewek murahan," jawab Ratria tersenyum. Syahdan mengeratkan memeluknya.
"Penggemarku? Kasandra? Jangan bahas tentang itu lagi, Rat. Please,,, jangan ungkit," ucap Syahdan dengan menyentuhkan jarinya di bibir Ratria.
"Rat, istri menawarkan diri pada suami itu justru empat jempol. Mana ada suami yang berfikir jika istrinya murahan sebab ngajak kikuk duluan.,,??" ucap Syahdan. Jari-jarinya sedang bermain di bibir Ratria.
"Nanti kamu bosan padaku,,," kilah Ratria dengan wajah yang manyun.
"Huss, jangan bilang seperti itu lagi," tegur Syahdan dengan sungguh-sungguh.
Ratria tersenyum dan mengangguk. Kemudian memeluk sang suami erat-erat.
"Hampir pukul dua pagi, Rat. Ayo ke kamar mandi," ajak Syahdan pada sang istri. Yang ditarik pun akur dan segera bangun mengikuti untuk membersihkan diri bersama. Hal yang belum pernah mereka lakukan bersama sebelumnya.
🍃🍃🍃🍃
Syahdan telah bersiap pagi-pagi untuk pergi ke bandara. Bukan bertujuan untuk bekerja seperti hari biasanya. Tapi untuk mengambil beberapa dokumen pribadi serta barang pribadi berharga yang masih tertinggal di ruang kerjanya. Sedang surat pengunduran diri, telah dikirim subuh tadi lewat media online di maskapainya.
Kini sedang duduk di meja makan bersama sang istri. Menikmati sarapan buatan asisten rumah yang juga datang pagi-pagi.
__ADS_1
Sayur mayur, tempe-tahu, dengan sambal pecel khas Blitar itu telah menghampar di meja. Dilengkapi bakwan jagung, kerupuk, dan telur setengah matang yang menggugah selera. Makanan remeh temeh, namun Ratria sangat suka.
Dan ternyata Syahdan pun juga sangat menggemarinya. Sang ibu, bu Anisa, juga sering menghadirkan menu pecel sayur itu di meja makan keluarga.
"Jadi, siang ini juga kita akan meninggalkan rumah dinas,,?" tanya Ratria. Tangannya sambil melumuri tempe goreng dengan saos sambal pecel yang baginya sangat lezat.
"Iya, Rat. Kamu bersiap-siap ya. Syukur barang kita tidak banyak. Jadi kita tidak terlalu repot untuk mengungsi," ucap Syahdan.
"Iya, pak Syahdan,," sahut Ratria dengan kepala mengangguk.
"Ratria,,!" tegur Syahdan agak keras. Pura-pura kesal di wajahnya.
"Eh, iya,,,maaf. Aku lupa, mas Syahdaaan,,," ralat Ratria tersenyum. Merasa malu sendiri jika ingat ucapannya pada sang suami semalam.
" Usahakan jangan pernah lupa lagi, Ratria. Aku sudah terlanjur bahagia. Jangan pe ha pe padaku," bisik Syahdan sungguh-sungguh. Ada asisten rumah yang sedang menggunakan wastafel di dapur.
"Sudah, ayo lekas habiskan sarapan kamu." Syahdan menunjuk ke piring Ratria yang masih menggunung.
"Mas, apa nanti kamu juga akan bertemu dengan bu Kasandra, di kantor?" Ratria bertanya segan. Tapi sangatlah ingin tahu.
"Ini masih sangat pagi, Rat. Belum ada orang yang berminat pergi ke kantor. Baru pukul setengah enam," jelas Syahdan. Menyeruput kopi hitamnya.
"Kalo bertemu,, dan kamu dirayu, bagaimana?" desak Ratria. Tidak peduli jika Syahdan akan kembali menegurnya.
"Kamu tidak percaya dengan suami kamu ini? Apa kamu mau ikut denganku ke kantor? Sekalian membantuku berkemas," goda Syahdan tersenyum.
__ADS_1
"Tidak,,! Aku akan berkemas yang di rumah saja," tolak Ratria cepat-cepat.
"Rat, aku akan mengabarkan pada orang tuaku tentang keadaan kita yang sudah berubah ini. Mungkin dalam waktu dekat, ayah dan ibuka akan pulang. Mungkin mereka akan mengadakan sedikit rangkaian acara." Syahdan menjelaskan sambil mengisyaratkan agar Ratria terus makan.
"Lalu, kapan kita pulang ke Blitar?" Ratria memandang Syahdan sebentar dan lanjut makan lagi. Tidak ingin mendapat teguran ke sekian kali kembali.
"Setelah orang tuaku pulang, dan segala urusanku beres, Rat. Mungkin satu mingguan," jelas Syahdan.
"Jadi, kita tinggal di rumah Surabaya selama sekitar satu minggu?" tanya Ratria sambil makan.
"Tidak. Hanya meletak barang di kamarku saja," sahut Syahdan. Memandang Ratria dengan senyum.
"Lalu, di mana lagi kita tinggal?" tanya Ratria kembali. Isi di piring hampir habis.
"Di hotel," ucap Syahdan dengan lirih. Senyum mesum sedang menghias di wajah cerahnya.
Ratria pias dan merona. Dengan cepat menyimpan wajahnya menunduk.
"Anggap saja hanimun, Rat. Maaf ya, belum bisa jauh-jauh. Kamu nggak pa pa?" tanya Syahdan dengan rasa bersalahnya.
"Iya, mas. Nggak masalah kok. Di mana saja, mudah-mudahan kamu berhasil, dan aku segera hamil," sambut Ratria tersenyum.
Syahdan memandang lekat dan juga tersenyum. Merasa gembira. Selalu ada hikmah di setiap ujian yang telah pergi berlalu.
Ratria yang sebelumnya enggan dan keberatan memenuhi inginnya. Kini justru berharap antusias untuk mendapat kehamilan. Rasanya sangat bahagia tak disangka!
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃