Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
86. Hidup Bersama


__ADS_3

Bandar Udara Internasaional Juanda, Sidoarjo-Jawa Timur..


Pesawat dengan tujuan kota Bontang, Kalimantan Timur itu telah lepas landas mengudara. Membumbung tinggi ke angkasa luas nan jauh dari segala gapaian dan pandangan. Membawa orang tua untuk kembali bekerja dan berpisah sementara dengan satu-satunya anak yang dimiliki dalam waktu yang tidak menentu dan lama.


Vario menoleh Judith yang sedang menyeka air mata beberapa kali dengan tisu di tangannya. Tidak ada isak tangis, hanya guncang di dada dan pundak saja yang sesekali terlihat.


"Ayo kita pulang, Dit." Vario mendekati Judith. Tapi seperti tak didengar. Pandangannya jauh memembus ke awan. Berharap pesawat yang ditumpangi orang tua menyembul kembali dan nampak.


Vario menyentuh bahu Judith dan mengusapnya dengan ragu.


"Ayo pulang," kata Vario.


Tangannya merambat turun ke lengan Judith dan mengambil tangannya. Vario merasa tangan Judith sedang kaku dan tegang. Dibawanya berjalan pelan meninggalkan ruang gate pelepasan pesawat. Sebab mereka sudah kenal rapat dengan para petugas, tentu saja dengan mudah mereka dibiarkan memasuki gate khusus penumpang untuk menunggu kedatangan pesawat.


"Mas, aku tidak menipu orang tuaku lagi kan?" tanya Judith memandang Vario sambil berjalan. Matanya sangat sembab. Vario terdiam, menunduk sebentar dan terus saja berjalan. Mengeratkan genggaman tangannya di tangan Judith yang halus.


"Menurutmu?" Vario justru membalikkan pertanyaan.


"Ini membingungkan. Tapi aku ingin suatu saat bercerita pada papa dan mamaku, bagaimana hubungan kita sebenarnya saat menikah. Kuceritakan ketika pernikahanku denganmu ternyata bahagia, atau justru ternyata menyesakkan,," ucap Judith sendu.


Tiba-tiba Vario menyentak pelan tangannya.


"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu lagi, Dit. Jangan merasa pesimis. Kamu tidak yakin padaku? Kamu tidak yakin jika aku akan membuatmu bahagia? Dan kamu tidak ada niatan kuat untuk membuat suami kamu ini bahagia, Dit," tegur Vario penuh tekanan dan beruntun.


"Eh, bukan seperti itu maksudku, mas," ralat Judith kebingungan sendiri. Merasa jika Vario kian kencang menggenggam tangannya.


"Iya, Dit. Aku paham maksud kamu. Sudahlah. Ayo kita pulang ke apartemenmu," ucap Vario. Membawa Judith kian cepat melangkah.

__ADS_1


"Jadi, mas Rio tidak keberatan tinggal di apartemen,,?!" tanya Judith. Terdengar cukup memekik dan gembira.


"Aku cuti tiga hari, Dit. Malam ini di apartemen kamu. Pagi-pagi kita ke Blitar. Mengunjungi orang tuaku, mereka ingin mengenalmu. Jika aku bekerja, tinggal di rumah dinasku dulu. Jika libur, pergi ke apertemenmu," terang Vario dengan tegas.


Judith menyambut dengan senang, Vario akan membawanya ke Blitar di Sirah Kencong. Tempat yang sudah lama ingin dikunjungi, tapi Syahdan tak pernah sekali pun mengajaknya. Justru orang yang tidak disangka yang akan membawanya ke sana. Ya, Vario, suaminya sendiri.


🍃🍃


Apartemen mewah dengan kamar berjumlah dua pintu itu nampak sedikit berantakan. Tentu saja jadi kacau seperti itu, semalam orang tuanya datang dan menginap. Belum lagi mereka datang sebab akan mengadakan acara penting untuk menikahkan dirinya. Jadi, semuanya serba kacau.


Pagi tadi, Judith kelabakan sebab bangun kesiangan seperti biasanya. Sedang orang tua telah pergi ke masjid di bandara sejak subuh, guna mengurus izin untuk mengadakan acara ijab kabul di sana.


"Yang mana kamar kamu, Dit?" tanya Vario. Pintu apartemen telah on locked kembali. Judith nampak pias memandang padanya.


Vario dengan koper terbang yang berisi beberapa baju, membuatnya berdebar. Lelaki gagah itu memang berniat bermalam bersama di apartemennya.


Dan sekarang bahkan menanyakan kamarnya tanpa sungkan-sungkan. Vario menatap lekat menunggunya menjawab. Kian laju saja detak jantung di dadanya.


"Dit, kamu tidak lupa dengan mufakat kita kemarin, kan?" tanya Vario. Gadis cantik yang sudah menjadi istrinya itu mengangguk.


"Tidak," sambut Judith tersenyum. Berjalan menuju salah satu kamar yang telah ditempatinya sendiri selama ini.


Judith meresa gentar, Vario terus membuntuti di belakangnya dengan cepat. Lelaki itu tak nampak malu, ragu atau juga kikuk sedikit pun. Justru Judith yang diam-diam merasa jantungnya berdetak jumpalitan. Berdebar dengan apa yang akan terjadi pada mereka, setelah tinggal di dalam kamar yang sama.


"Dit, setelah kita mandi, kita sholat bareng. Siapa duluan yang mandi? Atau bareng-bareng saja?" tanya Vario dengan iseng. Judith tidak menjawab. Berbalik badan mengahampiri almari. Pengantin baru itu terlihat sangat kikuk sekali.


Judith lebih terkejut lagi saat berbalik, jantungnya kian laju berdegub. Vario telah bertelanjang dada dengan celana panjang menggantung. Terlihat bingung memandang isi koper dengan sebelah tangan di kepala.

__ADS_1


"Dit, aku tak bawa handuk. Lupa kumasukkan dalam koper. Pagi tadi buru-buru," terang Vario sambil menutup kembali kopernya. Meletak baju ganti yang diambil di ranjang.


Judith segera paham. Mengambil stok handuk yang bersih di almari dan mengulurkan pada Vario. Judith melakukannya dengan membuang pandangan ke samping. Vario tersenyum karenanya. Ada iseng berkelebat di kepala.


"Eh, mass,,!!" jerit Judith. Vario menyentak handuk yang masih dipegang oleh Judith, yang membuat tubuh Judith doyong dan ambruk padanya. Dan segera ditangkap erat dengan kedua tangan kekarnya.


"Mass, kamu sengaja,,?!" respon Judith. Wajah putih dan cantiknya benar-benar merona.


"Iya, sorry. Aku hanya ingin membantu melepas kebaya kamu. Boleh, Dit?" tanya Vario tiba-tiba. Memasang wajah sungguh-sungguh dan serius. Namun, Judith justru cepat-cepat menggeleng menolak tawaran suaminya.


"Enggak usah, mas Rio. Aku lepas sendiri saja. Mudah saja kok," jawab Judith sambil menolak perut Vario yang keras. Judith ingin segera menjauh. Tapi tangan Vario telah mengunci punggung dan pinggulnya.


"Mass,," rengek Judith. Sangat berdebar rasanya. Tidak sanggup untuk bertatap mata dengan Vario.


Meski melihat lelaki bertelanjang dada bukanlah hal baru, tapi berhadapan dengan Vario, benar-benar membuatnya sangat gugup. Judith juga sudah tidak terhitung lagi melihat teman lelaki sesama model yang tanpa baju atasan di tubuhnya. Tapi lagi, badan atas sang suami yang bersih dan cerah itu membuatnya salah tingkah dan malu.


"Kenapa, Dit. Kamu tidak mau menyentuhku?" tanya Vario. Merasa ingin tertawa dengan kegugupan Judith padanya. Judith berdiri tegang dengan tangan membuka kaku di samping kanan dan kirinya.


"Coba pegang dadaku, Dit," pinta Vario yang semakin mengejutkan. Dilepasnya tubuh Judith, namun berganti dengan menyambar tangan yang diletakkan ke dadanya. Judith berusaha menolak.


"Mass, aku gerah. Kamu bilang akan mandi,," keluh Judith memprotes. Merasa jika Vario memang sedang menggodanya.


"Sebentar saja, Dit," ucap Vario. Menatap lekat mata Judith. Wajah cantiknya tidak begitu nampak malu seperti tadi. Mata indah berbinarnya sedang menatap dengan senyum.


"Ah, Dit!! Kamu ,,!!" pekik Vario tiba-tiba. Bersama dengan menarik dirinya menjauh dari Judith. Membawa handuk dan jalan terbirik ke dalam kamar mandi.


Judith tertegun dalam tawa. Tak menyangka berhasil usahanya. Entah ide dari mana, tiba-tiba tangannya begitu jahil dan berani mencubit putting di dada Vario. Dan ternyata seheboh itulah reaksinya.

__ADS_1


Judith merasa telah menggenggam kartu mati sekaligus kelemahan sang suami. Kini pengantin wanita itu sedang tersenyum puas dan menang.


🍃🍃🍃


__ADS_2