Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
43. Hasrat Pagi


__ADS_3

Adzan subuh dari Juanda belum terdengar dari kamar di rumah dinas sang manager. Tapi pasien jelita yang akan pergi kontrol terakhir pagi ini, sudah terjaga dan sedang berdebar serba salah. Selain sebab jempol kakinya terasa agak lebih nyeri pagi ini, tapi pemilik kamar sedang tidur dengan tubuh yang terasa jauh lebih dekat lagi dari semalam.


Bukan hanya dekat lagi, tapi rasanya sangat sesak. Syahdan tidur sangat rapat dengannya. Guling yang biasa diletak Ratria di samping tengah, memang tidak lagi diletak di sana. Tidak tahu kenapa, semalam tiba-tiba hatinya ingin saja memindah guling itu ke pinggir di sebelah. Membiarkan antara Syahdan dan dirinya tidak ada lagi pembatas.


Syahdan yang biasanya tidur aman tanpa gerakan liar apapun, kini terasa menghimpit dirinya. Meski Syahdan tidak menyentuh, tapi lengan bahu Ratria telah menempel di dada Syahdan yang keras. Dan entah sejak kapan Syahdan bergeser merapat, sama sekali tidak terasa.


Ratria terus terdiam dengan berdebar, tanpa berani bergerak atau juga bergeser. Takut jika Syahdan terasa dan bangun. Lalu,,, lalu akan berbuat lebih dengan merapat mendekat lagi padanya. Dan kemungkinan Syahdan akan berbuat lebih nekat,,,mungkin saja,, Dadanya lebih berdebar lagi membayangkan.


Tapi degub jantung yang kian laju dan kencang justru yang jadi meresahkan. Merasa berdetak keras dan bising. Rasanya takut jika Syahdan diam-diam sampai mendengar. Ratria akan merasa malu yang sangat karenanya.


"Mau ke mana, Rat? Ini belum subuh."


Suara Syahdan yang tiba-tiba terdengar di samping kepalanya, sangatlah mengejutkan. Ratria urung untuk bergeser menepi.


Dan semakin terkejut lagi. Syahdan tidak hanya bersuara dan bertanya tapi juga telah bertindak. Tanganya dengan cepat telah menempel di perut cekung Ratria yang halus. Perlahan bergerak mengelus dan kini telah memeluk di pinggang. Tentu saja Syahdan telah benar-benar merapat padanya.


Ratria coba melepas tangan Syahdan dan berusaha menjauh. Tapi Syahdan seperti sedang kuat mengikat dengan tangan kekarnya. Ratria teringat akan perlakuan Syahdan yang serupa di kamar asrama bandara malam itu. Syahdan seperti sedang kembali menjadi sosok lelaki yang sedikit liar dan pemaksa. Dengan dirinya yang tidak berdaya sekali lagi.


"Kenapa sudah bangun? Ini belum adzan, Ratria," tanya Syahdan lagi begitu dekatnya. Seperti abai dengan usaha Ratria yang menolak.


"Kakiku agak nyeri tiba-tiba, pak Syahdan. Aku takut," ucap Ratria dengan susah payah. Tapi tidak menegur tindakan Syahdan padanya. Ratria seperti berubah rela tiba-tiba.


"Kenapa bisa seperti itu? Kamu tidak minum obat lagi? Atau kamu tidak disiplin minum obat?" tanya Syahdan beruntun.


"Ah, geli pak Syahdan,!" Ratria justru menjerit. Mungkin Syahdan terkejut dan risau. Telapak tangan yang lebar itu sambil meremas lembut pinggang ramping Ratria yang kecil.


"Kenapa, Rat? Kenapa sakit nyeri lagi?" ulang Syahdan. Tangannya telah diam di tempat.


"Mungkin sebab herbal darimu sudah habis," terang Ratria agak ragu dan segan. Risau jika pengakuannya mendapat teguran dari Syahdan.


"Apa, Rat? Sejak kapan? Kenapa tidak cepat bilang?" tanya Syahdan terkejut. Merasa bersalah juga. Tidak ikut mengontrol. Merasa Ratria sudah bisa menjaga diri, jadwal minum obat telah dipikir Ratria sendiri.

__ADS_1


"Kupikir sudah benar-benar pulih. Dan aku segan padamu,," jawab Ratria sesungguhnya.


"Jangan seperti itu lagi, Rat. Aku seperti bukan siapa-siapa bagimu. Kamu sadarlah, akulah yang sedang harus menanggung hidupmu. Kenapa kamu tidak mau paham?"


Syahdan merasa kesal dengan Ratria. Kembali tangannya menjepit pinggang Ratria. Kali ini agak kuat sebab rasa geramnya.


"Auwh, ah,, pak Syahdan, aku geli,!" Ratria kembali memekik dan ingin menjauh. Dengan tangan yang menepikan lengan kekar itu dari pinggang dan perut kecilnya.


Namun tak berefek sedikit pun pada badan Syahdan yang besar. Syahdan justru berubah gemas dengan jerit Ratria yang baginya justru terdengar sangat menggoda pagi ini.


Tidak hanya memeluk pinggang dan perut. Kini Syahdan telah memeluki Ratria dengan kaki menjepit dan tangan yang telah meraba acak di mana-mana. Tubuh besarnya telah menggumuli tubuh halus lembut Ratria dalam gelap. Ratria yang sesekali masih mengeluh geli justru seperti sedang menggoda hasrat paginya yang dahsyat kali ini.


Syahdan seperti sedang lupa pada segala janji pada Ratria. Lupa jika Ratria masih sebagai seorang pasien pesakitan yang harus dijaganya. Lupa jika adzan subuh baru saja menghampiri kamarnya. Lebih tepatnya sedang tidak ingin peduli. Hanya ingat jika Ratria adalah istri yang sedang halal disentuhnya. Puas memelukinya dengan lembut namun liar, kini Syahdan telah menindih tubuh Ratria di bawahnya.


"Sudah, pak Syahdan! Sudah! Turunlah,,, nyalakan lampunya!! Kakiku sakit.. terlalu banyak gerak, kakiku sakit..!! Hik...hik...hik...!"


"Aku takut,,! Aku takut! Hik..hik..hik...!"


Tiba-tiba Ratria berteriak menegur dan berakhir dengan tangisan sedu takutnya. Syahdan pun juga sadar diri seketika. Segera turun dan duduk menepi di sebelah Ratria.


"Kunyalakan lampunya sekarang?" tanya Syahdan tak ingin salah lagi.


"Sebentar!" seru Ratria terdengar serak.


Ranjang terasa gerak-gerak. Mungkin Ratria sedang membetulkan dress tidurnya yang compang- camping berantakan.


"Sudah," kata Ratria.


Syahdan meluncur menggapai tombol di dinding. Lampu menyala dan kamar pun terang benderang.


"Maaf, Rat. Tidak aku ulang lagi memaksamu. Anggap saja aku sedang khilaf." ucap Syahdan sambil memandang Ratria di ranjang. Juga sudah bangun dan duduk. Sedang menunduk dengan rambut berkilau berantakan. Dan justru terlihat menyenangkan.

__ADS_1


"Rat, akan aku datangkan lagi herbal dari Kalimantan. Tinggallah dulu di sini. Aku tidak ingin kamu pulang saat sakit," Syahdan menumpahkan masalah di kepala yang dipendam semalaman. Dan kini mendapat alasan untuk melarang Ratria kembali pulang ke Blitar.


"Rat,,," tegur Syahdan. Mendekati Ratria di ranjang. Wajah cantik sembab bangun tidur itu menengadah menoleh padanya.


"Kamu marah?" tanya Syahdan dengan duduk di sampingnya. Wajah cantik itu menggeleng.


"Aku tidak tahu. Tapi tolong jangan diulang lagi. Aku takut," jawab Ratria apa adanya. Merasa heran dengan hatinya. Tidak marah,,,tapi tidak rela.


"Iya, Rat. Tapi kamu jangan pulang. Bagaimana?" bujuk Syahdan.


"Jika aku pulang?" tanya balik Ratria, justru seperti memancing. Syahdan terlihat diam dan berfikir.


"Mungkin orang tuaku akan kecewa jika kamu pulang. Mereka berdua sangat ingin aku mengurus kamu," jawab Syahdan begitu saja. Ratria menoleh lagi dan mengangguk kemudian.


"Baiklah, pak Syahdan. Jika masih ada sesuatu yang tidak beres dengan jempol kakiku, aku masih akan ikut denganmu. Tapi,," jelas Ratria yang kemudian terhenti.


"Tapi apa, Rat?" Syahdan nampak menunggu.


"Aku ingin menempati kamar yang lain," jawab Ratria dan menunduk. Syahdan menghela nafas dengan menaikkan alis bersamaan.


"Baiklah," putus Syahdan. Lelaki itu berdiri dan akan keluar kamar. Meninggalkan Ratria yang nampak bingung sendiri dengan jawaban Syahdan. Ternyata sangat mudah membolehkan dirinya menempati kamar yang lain.


Dering ponsel menghentikan langkah Syahdan di pintu.


"Wa'alaikumsalam. Ya , halloo, Dit..." Syahdan menjawab panggilan setelah menyambar ponsel di atas meja pojok. Panggilan itu menggunakan kode telepon kantor di Bandara.


"Berapa lama?" tanya Syahdan nampak perhatian.


Ratria melirik percakapan Syahdan dengan pemanggil yang bernama Dit, dan itu pasti dari Judith. Syahdan sedang antusias menyimak dan fokus.


"Baiklah hati-hati. Uangmu cukup?" tanya Syahdan di ponsel. Ratria seketika meliriknya kembali.

__ADS_1


"Oke... Iya, Dit. Wa'alaikumsalam," jawaban salam Syahdan mengakhiri panggilan.


Lelaki itu buru-buru meletak ponsel. Berjalan cepat ke pintu dan keluar dari kamar. Tidak lagi menoleh Ratria yang sedang duduk di ranjang dan memandang galau padanya.


__ADS_2