
Perjalanan dari kampung Sirah Kencong, Wlingi, menuju kota besar Surabaya memakan waktu sekitar lima jam. Itu jika tidak turun hujan deras yang harus melambatkan kecepatan demi keselamatan perjalanan. Apalagi jalan di Sirah Kencong yang penuh belokan dan tikungan. Harus ekstra hati-hati.
Syahdan yang berangkat pukul tujuh malam, sampai di bandara Juanda hampir tepat tengah malam, dengan beberapa kali pemberhentian. Satu kali di Masjid, dua kali sekedar berhenti cepat, dan satu kali makan malam di sebuah rumah makan. Dia membawa mobilnya sendiri sebab sopir Arka sedang demam.
Dan sekarang berjalan tergesa menuju kantor agency tempat Vario sedang bertugas malam di kantor. Namun perkiraan Syahdan tidak tepat. Vario hanya bertugas dari pukul tiga sore hingga pukul sebelas malam saja. Bukan kerja malam.
Sebab menghemat waktu dan ibunya juga sudah kembali ke Bontang, Syahdan tidak pulang. Namun tidur di rumah dinas di luar area Juanda, dan masih cukup dekat dengan lokasinya bekerja.
Perumahan model 36 yang cukup bagus dan rapi. Berpagar cukup tinggi dan aman. Tidak hanya miliknya saja, namun banyak berjejer rumah-rumah di samping dengan model yang serupa. Tidak saling berhimpitan, sebab terpisah taman dan tanaman di sela tiap unitnya.
Meski rasanya cukup lelah, tapi mata Syahdan tidak juga menutup. Kepalanya sedang bercabang pada Ratria. Apa yang telah dilakukan gadis itu selama tiga hari di Surabaya? Apa sudah bekerja, di mana? Tapi kemungkinan belum. Syahdan merasa sangat bersalah.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Vario tengah fokus menyusun jadwal terbang harian untuk para pramugari lepas yang akan terbang esok hari. Hingga seseorang datang menghampirinya.
"Vario, manager tampan Air Asia mencarimu di luar. Kenalin doong,," bisik wanita cantik yang baru duduk di samping Vario. Adalah Kiki, staff senior di agency.
Vario terdiam sejenak. Lalu dirapikan kertas-kertas di meja. Risau jika seseorang akan mengusik pekerjaan pentingnya.
"Var, kenalin,,!" wanita itu tersenyum. Mungkin paham jika Vario yang pendiam itu pasti akan mengabaikan pesannya.
🍃
Dua lelaki tampan sama tegap itu sedang berdiri berhadapan. Mereka tengah terlibat dalam perbincangan.
"Jadi pak Syahdan semalam baru pulang dari Blitar,?" tanya Vario. Syahdan mengangguk.
"Aku ingin berbicara dengan Ratria. Sekaligus ingin mengajaknya tinggal bersamaku," terang Syahdan. Vario menganggukkan kepalanya.
"Datang saja ke blok 25 C. Ratria belum berniat mencari kerja," Vario menyebutkan nomor blok rumahnya. Rumah yang sedang ada Ratria saat ini.
"Rumahmu satu perumahan denganku,?". Syahdan cukup terkejut.
"Iya. Tapi jauh lebih baik tempatmu," terang Vario.
"Aku akan ke sana. Terimakasih, Vario,!" pamit Syahdan sebelum melangkah.
"Pak Syahdan,!" seru Vario. Dan Syahdan berhenti, berbalik pada Vario.
"Satu pesanku, jangan memaksanya,!" seru Vario dengan tegas.
"Aku tahu,!" sahut Syahdan dengan cepat dan kembali berjalan.
__ADS_1
🍃🍃
Rumah dinas Vario hampir sama dengan miliknya, namun lebih kecil dan tanpa taman di sampingnya. Rumah-rumah di blok itu saling rapat dan langsung menyambung.
Syahdan tengah menunggu di depan pintu dengan merasa sedikit was-was. Risau jika yang dicari tidak di dalam dan kembali tidak berjumpa dengannya.
Ceklerk,,!
Syahdan merasa berdegup saat pintu dibuka dan menunggu wajah Ratria untuk menyembul terlihat.
"Pak Syahdan,,!" wajah cantik itu nampak kaget saat mendapati Syahdan di balik pintu.
Merasa jika telah berpesan pada semua orang agar pura-pura tidak tahu di mana dirinya. Ratria semakin kecewa saat sadar jika mereka lebih memihak Syahdan daripada dirinya. Rasanya kian muak saja dengan lelaki terhormat dan pemaksa di depannya.
"Boleh aku duduk di dalam, Ratria,?" Syahdan bertanya lembut. Sadar jika gadis itu sedang marah dan kecewa. Wajah dan mata cantik itu sedang sama-sama menajam menatap padanya.
"Aku di sini menumpang. Jadi duduk saja di luar," Ratria menutup pintu dan berjalan menuju bangku kayu di teras.
"Cepat saja katakan, kenapa mencariku? Apa ada lagi kertas-kertas yang harus kutanda tangani untuk kelancaran warisanmu,?" tanya Ratria tajam dan jelas.
Syahdan yang biasa tegas berwibawa, mendadak kelu lidahnya. Tiba-tiba merasa tidak percaya diri di depan Ratria. Merasa bersalah sekaligus merasa dibenci Ratria akan keegoisannya pada gadis itu.
"Maafkan aku Ratria."
Syahdan terdiam merasa agak susah berbicara. Hanya memandang Ratria yang nampak begitu cantik dengan dress tidur selutut dengan atasnya lengan panjang. Rambutnya tergerai sangat indah. Sesuai dengan wajah serta mata yang tajam sebab marah. Dan sedang sengit menatap lekat Syahdan tanpa sedikit pun berpaling.
"Bagaimana jika tinggal bersamaku saja? Akan kucarikan pekerjaan yang juga layak untukmu." Syahdan memulai lagi berbicara dengan pelan.
"Kamu itu siapa? Kenapa tinggal denganmu? Kita tidak pernah saling kenal sebelumnya. Hanya tiba-tiba saja menikah," ketus Ratria menolak.
Syahdan meluruskan duduknya.
"Aku suamimu. Bagaimana jika kita mencoba menjalani pernikahan ini menjadi yang sesungguhnya. Kita belajar saling menerima. Bagaimana?" Syahdan menerangkan dengan lembut dan dewasa.
"Aku tidak menyukaimu," jawab ketus Ratria sangat cepat.
Syahdan sedikit terkejut. Dirinya yang belum pernah menyatakan perasaan suka pada wanita manapun, tiba-tiba seperti mendapat sebuah penolakan.
"Baiklah, aku paham perasaanmu, Ratria. Sekali lagi maafkan aku." Syahdan menenangkan diri dan mencoba mengalah.
"Tapi, tinggal sajalah denganku. Apa kamu masih ingat perbincanganmu dengan ibuku di meja makan malam itu? Seperti itulah aku akan menjagamu. Aku tidak akan pernah memaksa apapun padamu lagi," Syahdan kembali membujuk.
"Bagaimana?" tanya Syahdan, juga memandang Ratria lekat-lekat.
__ADS_1
"Aku tetap tidak mau tinggal denganmu. Tidak perlu dijaga. Aku sudah dewasa. Aku akan mencari pekerjaan sendiri," ucap Ratria datar.
"Apa kamu lupa dengan statusmu? Bagaimana aku bisa memberi garansi pada calon suamimu kelak bahwa kamu masih sangat bersih? Sedang aku tidak tahu menahu apa saja yang kamu lakukan di luaran," ucap Syahdan dengan sangat lancar kembali.
"Aku tidak peduli. Aku tidak berharap pembelaanmu tentangku pada siapapun lelaki yang kelak akan menikahiku. Lebih baik aku berstatus janda. Aku akan berjumpa dengan lelaki yang bisa menerima aku apa adanya. Ceraikan saja aku secepatnya, pak Syahdan,!" Ratria berkata tajam dengan pandangan yang juga tak kalah tajam pada Syahdan. Rasa kesal dan benci sudah meraja di hati.
Syahdan menyembunyikan keterkejutan pada keinginan Ratria untuk bercerai.
"Tinggallah denganku. Kamu dan Vario tidak pantas tinggal seatap. Kalian bukan saudara kandung. Hanya bagus saja Vario adalah lelaki baik dan berakhlak sangat baik." tegas Syahdan menjelaskan. Ratria kembali sangat tajam memandangnya. Gadis itu menggeleng cepat sekali lagi.
"Aku akan mencari tempat lain. Tinggal denganmu, sama dengan mendapat pengawasan dua puluh empat jam darimu. Itu sama dengan pemaksaan."
"Kita bercerai saja." tegas Ratria.
"Bukankah semua alamatku tiba-tiba sama denganmu... Jadi proses cerai itu di sini saja. Setelah selesai, aku akan pulang lagi ke Blitar. Aku akan merasa lega." Ratria menerangkan dengan jelas.
"Uruskan cerai itu secepatnya, pak Syahdan,!" tegas Ratria sekali lagi.
Syahdan berdiri. Wajah tampan itu tegang dan mengeras. Seperti sedang menahan rasa kecewa dan amarah.
"Baiklah jika kamu tidak mau kujaga, Ratria. Tapi aku tidak akan menceraikan kamu. Setidaknya sampai kamu menemukan lelaki pilihanmu. Jika ada masalah apapun, jangan segan untuk datang padaku. Jangan takut, aku tidak akan meminta imbalan apapun darimu,"
"Assalamu'alaikum,!" Syahdan berjalan pergi meninggalkan teras dan pagar menuju mobilnya. Tidak peduli dengan Ratria yang mungkin sedang menangis.
"Kamu jahat Syahdan! Aku benci padamu!"
Hanya seruan melengking Ratria lah yang sedang terdengar di telinga. Syahdan cepat meluncurkan mobil menjauhi rumah Vario. Tidak ingin menjadi tontonan penghuni rumah lain yang bisa jadi mengenalinya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Semoga cerita ini mampu menghiburmu...
Semangati author dong !!! Tinggal jejak / hadiah/ Vote..
Atau setidaknya klik lah kolom minta update paling bawah di tiap akhir bab...
***Author bukan robot ya.. tapi juga manusia yang berhati kayak dodol..
Kadang keras..kadang lembek.. kadang manis..kadang pahit***...
Author juga butuh hiburan..
Apalagi otor pinggiran yang tersingkir sepertiku...
__ADS_1
Love uuu!!!
😂😂😂😘😘😘