
Bahu dan tangan Syahdan terasa kebas saat perjalanan sudah mulai memasuki wilayah kota Batu. Membelah hutan pinus Songgoriti yang lengang dengan banyak kelok tajam dan curam. Arka nampak fokus pada handle kemudinya.
Salah sendiri, saat Ratria mulai mengantuk dan ingin tidur, Syahdan memintanya untuk tetap bersandar di lengan bahu sepuasnya. Kini lengan tangan seperti sudah mati tanpa rasa. Syahdan merasa jika dirinya sedang kesemutan dan bisa jadi memang sebab sudah tua.
"Rat...Ratria..." Syahdan memanggil lembut sambil menggoyang pelan punggung dan kepala Ratria di bahu.
Ratria langsung tergagap dan duduk tegak seketika. Kesiagaan Ratria memang cukup bagus saat tidur.
"Pak Syahdan, kita di mana? Gelap sekali," tanya Ratria dengan suara agak sendat bangun tidur.
"Daerah Paralayang, kita akan menuju jalur ke Cangar kemuduan Pacet. Biar lebih cepat. Kamu pernah jalan-jalan ke sana?" Syahdan menjelaskan. Menarik cepat tangannya, risau jika Ratria menyandar tiba-tiba. Yang pasti akan menyiksa semut-semut di tangannya.
"Hanya lewat setengah jalan di jembatan mistis habis Cangar itu. Perasaanku tidak enak, aku minta perjalanan dibatalkan," jelas Ratria yang mungkin sudah cerah kembali mata dan kepalanya.
"Kamu dengan siapa?" Syahdan bertanya dengan nada menyelidik.
"Teman."
"Dimas?"
"Bukan."
"Lalu siapa?" Syahdan ingin menggelitik pinggang Ratria. Namun tangannya masih terasa ngilu. Merasa diri harus segera check up kesehatan. Entah kolesterol, entah asam urat, bisa jadi..Syahdan tertawa dalam hati.
"Siapa teman kamu, Rat?" desak Syahdan tidak sabar.
"Pak Jati."
"Uhuk,,! Ehemmh,,!" respon Syahdan seketika.
"Kalian seakrab itu? Ini membelah hutan, rawan dan sunyi, Ratria. Apa yang kalian cari di sini?" Syahdan menyelidik tak habis pikir. Bagaimana bisa Ratria pergi dengan lawan jenis tanpa ikatan membelah hutan rimba raya di jalur Pacet ..
"Waktu itu sahabat dekatku menikah. Kaira, menikah diam-diam di Surabaya. Hanya aku yang dapat undangan. Ternyata pak Jati tahu jika aku dapat undangan. Lalu aku ditawari ke sana bareng. Soalnya pak Jati juga sambil pulang menjenguk ibunya."
"Kamu ini selalu berburuk sangka, pak Syahdan,," keluh Ratria dengan lirih. Tidak ingin didengar Arka di depan.
"Su'udzon bagaimana? Kata-kataku benar dan wajar, Rat," sanggah Syahdan tanpa bisik. Tidak peduli dengan reaksi Arka yang tiba-tiba menoleh ke belakang.
"Sudah, pak Syahdan. Lebih baik tidak usah dibahas lagi. Aku lelah," ucap Ratria perlahan. Merasa tidak akan berguna jika terus saja berdebat. Dan padahal kejadian itu sudah lama berlalu.
Syahdan pun terdiam. Akur dengan ucapan Ratria. Mereka terdiam dalam dingin mobil yang hening. Yang sebetulnya Syahdan tengah berfikir sesuatu.
"Arka! Mampir ke rumah kakekku sebentar..!" seru Syahdan tiba-tiba.
__ADS_1
"Ya, pak Syahdan,,!" sahut Arka siaga.
"Kakek?" tanya Ratria menoleh pada Syahdan.
"Iya, kamu tak tahu jika sebagai anak pertama, aku telah dilahirkan oleh ibuku di sini. Dan kakungku dari papa masih ada, tapi nenekku sudah tiada," jelas Syahdan tersenyum. Ratria menyimak seksama.
"Rumah kakungku di daerah Jurang Kuali, dekat wisata petik apel. Sayang sekali ini malam. Jika siang, kuajak kamu berkunjung berkeliling. Tapi jangan risau, rumah kakekku sangat unik, Rat." Syahdan menjelaskan bersemangat. Mungkin akan bertemu dengan sang kakek yang dirindu.
🍃🍃🍃
Mereka berdua telah berdiri di sebuah pintu kayu ukir berlapis pintu teralis besi stainless yang kokoh. Menunggu ketukan Syahdan yang keras mendapat sambutan.
Pintu telah terbuka bersama nampaknya lelaki tua dengan rambut putih yang pendek. Serta bersarung hijau dan berkoko panjang warna putih. Menjawab salam dari Syahdan dengan dahi berkerut merutnya. Sangat terkejut melihat kedatangan Syahdan dan Ratria saat malam ke rumahnya.
"Lhoh lakok kon ta, Dan,, lha arek ayu iki sopomu? Ojok aneh-aneh nggowo wedokan kon iku, Dan. Tak kandakke wong tuamu, kon,,!" Kakeknya Syahdan menyambut dengan bahasa jawa logat Malang yang khas. Sambil menelisik Ratria dengan lekat.
Artinya ucapan kakeknya Syahdan:
"Lho, kok kamu tho, Dan.. Lha gadis cantik ini siapamu? Jangan aneh-aneh bawa perempuan kamu itu, Dan. Aku adukan orang tuamu, kamu,,!" kakek Syahdan nampak tidak suka dengan kedatangan cucu lelaki malam-malam bersama gadis cantik yang asing.
Syahdan segera memberi pencerahan pada kakeknya bahwa Ratria adalah istri yang sudah dinikahi dengan resmi. Sekaligus cucu menantu bagi pak Muchsin, nama sang kakek. Juga meminta maaf, jika pernikahan mendadak itu tidak sampai ke telinga sang kakek.
Pak Muchsin mengangguk beberapa kali sambil memandang Ratria dengan wajah yang cerah. Nampaknya, pak Muchsin merasa suka dan puas dengan istri cucu lelaki sulungnya. Dan segera meminta asisten rumahnya yang kebetulan laki-laki, untuk menyiapkan makan malam sederhana dan gampang di meja makan.
Arka yang kembali memilih untuk istirahat dalam mobil, mendapat kiriman makanan dari asisten kakek Muchsin.
"Sebaiknya istirahatlah sebentar sebelum meneruskan perjalanan. Ingat Dan, jalur pacet itu cukup panjang. Kamu harus cukup istirahat." pesan sang kakek pada cucunya.
"Terimakasih, kung. Tapi ada sopirku, Arka. Aku bisa menyambung istirahat dalam mobil." sahut Syahdan.
Mereka bercakap-cakap dengan akrab menggunakan bahasa jawa yang medok. Ternyata Syahdan pun jago juga.
Dan Ratria sebagai penggembira di antara cucu dan kakek yang sangat jarang saling jumpa. Merasa geli dengan bahasa sekaligus logat jawa yang sangat luwes dan medok dari mereka berdua. Meski dirinya juga orang jawa dengan bahasa jawa. Tapi Ratria mengaku tidak dididik keras untuk berbahasa jawa kental oleh sang nenek.
"Ayo, Dan. Bawa istri baru kamu yang molek itu istirahat di kamarmu barang sebentar. Jangan sampai istri kamu itu sampai sakit, Dan,,!" arah kakek Muchsin pada Syahdan dengan bahasa jawanya yang kental khas logat Malang. Mereka sudah selesai dengan urusan makanan di piring masing-masing.
"Iya, kung," jawab Syahdan. Lelaki itu memanggil sang kakek dengan sebutan kakung.
Ratria mengikuti ajakan Syahdan untuk menuju ke bagian belakang rumah kakeknya. Rumah unik, yang seperti di bawah tanah. Jauh lebih rendah dari jalanan. Di sekeliling rumah diberi pipa besar penampung air sumber yang tersalur langsung dari perbukitan yang tidak jauh dari rumah sang kakek.
Pipa itu diberi lubang-lubang di bagian bawah, sehingga air mengucur dan memancar keluar. Sedang bagian bawah terdapat kolam mini panjang mirip sungai kecil buatan yang mengelilingi hampir seluruh sisi luar rumah. Dengan dipenuhi ikan lele tiga warna, hitam, putih dan ikan lele belang atau blorok di bawahnya. Ikan paling tahan sekaligus minim resiko mati pada segala suhu dan cuaca di dataran tinggi Batu yang begitu cepat berubahnya.
🍃
__ADS_1
"Masa kecilku gembira di sini, Rat. Aku paling suka memancing ikin lele di sungai buatan kakek ini. Tapi hanya boleh digoreng yang warna hitam saja, yang putih sama yang blorok harus di lepas lagi," terang Syahdan. Mereka duduk di teras luar kamar.
"Apa tidak ada cucu lain yang sering datang ke sini selain kamu?" tanya Ratria. Mereka duduk di bangku tanpa meja.
"Jarang sekali. Setahun sekali pun belum tentu. Kakak perempuan papa, ikut suaminya ke Makassar, susah ada waktu luang," terang Syahdan.
"Kelak, siapa yang meneruskan hobi bertanam sayur kakekmu, pak Syahdan?" Ratria berdiri mendekati kolam kecil namun panjang, banyak sekali lele putih di dalamnya.
"Bisa jadi adikku, Khairy. Dia belum memiliki usaha apa pun. Dan juga suka berkunjung ke sini," jawab Syahdan. Telah berdiri merapat di samping Ratria.
"Kamu tidak ingin rebah sebentar?" tanya Syahdan menyelip tangan ke pinggang. Ratria sedikit berjingkat.
"Pak Syahdan ingin istirahat?" pandang Ratria ke samping pada Syahdan.
"Ayo, denganmu," jawab Syahdan. Menarik pinggang Ratria dan membawanya ke dalam kamar. Menutup pintu balkon kembali rapat-rapat.
"Sekarang pukul sembilan, pukul sepuluh kita berangkat lagi. Mungkin sampai di rumah dinas pukul dua belas malam. Kita masih bisa cukup istirahat." Syahdan sedikit mendorong tubuh Ratria untuk rebah di atas ranjang.
"Kita hanya akan istirahat kan, pak Syahdan?" tanya Ratria dengan mata melebar gugup. Syahdan tidak rebah di sampingnya. Tapi seperti akan menindihnya.
"Iya, Rat. Sambil senang-senang. Kamu keberatan?" tanya Syahdan terus terang.
"Maksud kamu apa, pak Syahdan?" Ratria nampak pias dan tegang.
"Aku meninginkan kamu sekarang juga, Ratria. Jujur aku ingin cepat memiliki anak. Aku khawatir jika sebenarnya aku ini sudah tua," bisik Syahdan sangat dekat di atas wajah Ratria.
"Maksudmu, kamu ingin menghamiliku cepat-cepat?" tanya Ratria berdebar. Syahdan mengangguk.
"Benar, Rat. Aku ingin segera memiliki anak denganmu. Aku ini sudah berumur. Teman-temanku yang lebih muda pun, sudah pada punya anak,"
"Tapi aku tidak siap, aku belum memikirkannya," keluh Ratria putus asa.
"Siap tidak siap, Rat. Banyak yang lebih muda dari kamu sudah menggendong anak. Bahkan tidak terhitung juga yang tanpa ayahnya. Sedang kamu, jelas ada aku, suamimu. Makin cepat makin baik untuk kita memiliki anak,"
"Ratria,,, apa kamu masih keberatan,,?" tanya lembut Syahdan. Ratria perlahan menggeleng tapi dengan cepat mengangguk.
"Tapi saat ini aku sedang datang bulan, maafkan aku,," Ratria merasa was-was, namun juga iba.
"Jadi itu benar-benar sudah datang?" tanya Syahdan dengan ekspresi kecewanya. Segera paham, tapi tidak juga menepikan dirinya dari menindih Ratria.
"Jika begitu kita senang-senang sekedarnya saja ya, Rat. Aku benar-benar perlu refresh saat ini juga darimu," ucap Syahdan tanpa segan-segan lagi. Merasa aliran listrik sebab menindih Ratria cukup lama, sudah mulai membuat tubuhnya menuju tegangan yang tinggi.
Suara air gemericik yang menembus masuk ke kamar, serta hawa dingin di Jurang Kuali, cukup menjadi provokasi hebat untuk keagresifan Syahdan pada sang istri. Dan sambutan panas beriring engah dan dessah, membuat Syahdan seperti jadi lupa diri.
__ADS_1
Tembok pembatas merah yang sedang datang menghadang, bukan penghalang dirinya untuk mendapat kepuasannya. Syahdan memang lelaki tak bernoda sebelum menikah, namun bukan berarti menjadi lelaki yang polos tanpa imajinasi dan fantasi.
Dan kini merasa bahagia, telah menemukan Ratria sebagai istri, tempat meluahkan sebagian fantasinya selama ini. Benar-benar sebuah refresh jiwa raga yang nikmat menyenangkan!