
Hampir tengah malam di pukul setengah dua belas, Ratria yang ikut tertidur dengan menyandar di sofa, terbangun sebab rasa kebas di paha. Terasa pegal dan ngilu sebab Syahdan masih terus pulas merebah.
"Mas,,mas..." Ratria mengguncang pelan bahu Syahdan agar membuka mata dan bangun.
"Hemm.." Syahdan bergerak sedikit.
"Mas, mas Dan... Pahaku sudah pegal. Leherku juga kaku. Bangunlah, ayo kita pindah ke tempat tidur." Ratria sedikit menggerakkan kakinya. Syahdan meloncat bangun meski belum benar-benar terjaga.
"Pahamu mati rasa?" tanya Syahdan dengan mata agak memerah. Ratria menggeleng.
"Bukan mati rasa. Tapi ngilu, pegal. Aduuh, sakitnyaa,," rintih Ratria. Pahanya terasa lebih pegal dan ngilu.
"Ayo,, tidur di tempat yang nyaman saja,," ucap Syahdan.
Segera berdiri dan menyambar tubuh Ratria dengan mudah. Ratria tidak kurus, tapi Syahdan melakukannya dengan senang. Membuatnya serasa sangat ringan.
"Mas Syahdan tidak pusing ?" tanya Ratria memandang dengan sayang. Syahdan sudah biasa menyambarnya, jadi tidak merasa kaget lagi.
"Tadi memang pusing, Rat. Sekarang tidak. Setelah membawa kamu ke sini." Syahdan telah meletak Ratria di pembaringan dengan pelan.
__ADS_1
"Katanya mau tidur cukup,,," keluh Ratria. Syahdan bukan ikut merebah di sampingnya. Tapi justru menindihnya.
"Satu kali saja ya,," bisik Syahdan. Merayu dengan menyentuhkan tangan pada pinggang ramping Ratria.
"Janji sekali saja, kaan?" tanya Ratria memastikan. Mulai merangkuli leher Syahdan.
"Iya, Ratria," jawab Syahdan. Suaranya sudah begitu sangat serak.
Mereka telah sepakat bermesra. Mengarungi malam Surabaya dengan semangat empat lima. Meraih puncak yang berakhir dengan senyum puas bersama.
🍃🍃🍃
Empat orang itu sedang duduk di sofa dengan saling berhadapan. Judith dan Vario duduk bersebelahan di sofa yang sama. Berhadapan dengan orang tua Judith. Pak Afandi, 55 tahun, ayah Judith dan bu Rani, 50 tahun, mama Judith. Keduanya masih nampak muda dan sehat. Namun, mamanya Judith , bu Rani, sudah memakai kacamata yang sangat tebal di kedua matanya.
"Terimakasih, pak Afandi," jawab Vario dengan segan. Mulai menebak dengan arah pembicaraan ayah Judith.
"Syahdan adalah pria yang sangat sempurna menurutku. Tapi bagaimana lagi, Judith tidak berjodoh dengan putra temanku itu. Sekarang Judith ada kamu. Aku pun menilai, jika kamu kurang lebih sama bagusnyalah dengan Syahdan. Judith tidak akan salah pilih. Jadi, aku dan istriku, orang tua Judith ini, sangat merestui kamu untuk bersama anakku."
"Kali ini aku tidak ingin membiarkan anak perempuanku sendirian, Vario. Aku akan melindunginya. Vario, apa benar kamu berniat serius dengan Judit?" tanya pak Afandi dengan menatap teduh pada Vario.
__ADS_1
Vario tidak terkejut. Sudah menduga jika seputar inilah tujuan ayah Judith untuk bertemu dengannya. Mengambil kepastian untuk anak perempuannya.
"Tentu, pa. Mas Vario tidak akan mempermainkan aku. Dia baik sekali padaku. Aku aman di sini dengannya, pa. Papa sama mama pokoknya enggak usah khawatir yaa. Dan kalian jangan khawatir, mas Vario itu sholeh, pa,,ma,,, nggak akan membawaku untuk berbuat hal-hal dosa." Judith berusaha segera mengeksekusi peebincangan. Merasa lebih baik membicarakan hal lain. Rasanya sangat segan pada Vario.
"Maka itulah, Dit... Papa dan mama sebelum kembali ke Kalimantan, ingin menikahkan kalian segera. Kami ingin Vario segera menikahi kamu. Seperti Syahdan saja, akad nikah resmi dulu. Nanti kalo papa dan mama sudah pulang lama, dimeriahkan, Dit," kali ini sang mama yang bicara.
Vario dan Judith seketika saling pandang. Judith merasa sangat bersalah sekaligus serba salah. Bagaimana ini,,,?
"Bagaimana, Vario?" tanya pak Afandi pada lelaki tampan itu.
"Kapan pak Afandi menginginkan saya menikahi, Judith,,?" tanya Vario dengan isi kalimat yang mengejutkan.
"Mas,,?!" Judith ternganga memandang Vario tak percaya. Vario mengacuhkannya.
"Bagaiman jika besok pagi, Vario. Aku akan meminta bantuan ayahnya Syahdan untuk menyiapkan segalanya." Pak Afandi berkata dengan pandangan teduhnya.
"Baik, pak Afandi. Tapi sebelum saya benar-benar menyetujuinya, izinkan saya untuk berbincang sebentar dengan Judith di lobi. Bagaimana, pak Afandi?" tanya Vario. Dengan cepat pak Afandi pun mengangguk.
"Silahkan kalian pergi ke lobi untuk berdiskusi. Papa dan mama tidak keberatan," ucap pak Afandi.
__ADS_1
"Dit, aku ingin berbicara denganmu. Ayo kita ke lobi sebentar," ajak Vario pada Judith begitu saja. Berdiri dan menunggu agar Judith segera mengikuti.
Rasa segan Judith telah bercampur dengan rasa heran. Diskusi ini justru seperti diambil alih oleh Vario dan tentu bersama papanya. Vario bersikap sangat tenang, seolah semua ini sama sekali bukan masalah baginya. Ah, kini Judithlah yang justru merasa sangat sakit di kepalanya..