
Dokter ortopedi yang terbiasa menangani Ratria, telah memberi rekomendasi rawat mandiri alias jaga diri di rumah. Sebab luka di jempol telah mulai pulih dengan baik dan mampu memperpaiki jaringan sel tulangnya secara alami dari dalam.
Dokter juga memberi pesan untuk segera memeriksakan diri di manapun berada jika tiba'-tiba merasa sakit yang tidak biasa di lukanya. Yang dijawab dengan kesanggupan manis dari Ratria di setiap akhir penjelasan sang dokter padanya.
Dan kini gadis berkerudung itu sedang berada di sebuah taman hiburan berisi benyak binatang segala rupa dan beraneka macam jenis alias di kebun binatang. Ke Kebun Binatang Surabaya lah Syahdan membawa Ratria. Ingin membuat gadis itu sedikit merasa bergembira.
Tiket masuk ke dalam area Kebun Binatang Surabaya seharga lima belas ribu rupiah tiap kepala telah berpindah tangan pada petugas. Dan Ratria terus mengikuti Syahdan yang membawanya kian masuk ke dalam area di kebun.
"Kamu ingin naik wahana nggak, Rat? Atau naik hewan besar?" Syahdan bertanya dan berhenti berjalan.
Menunggu Ratria sejajar dengannya. Gadis yang selain berjalan lambat sebab luka di jempol kaki, juga seperti enggan untuk bertatapan muka dengan Syahdan.
Wajah cantik itu akan terlihat salah tingkah dan pias jika bertemu mata dan muka dengan Syahdan. Baik sengaja sedang berbincang atau tidak sengaja saling menoleh dan memandang. Sepertinya Ratria terus merasa malu dengan kejadian mesra agak panas malam itu.
"Aku,,, aku ingin naik... naik apa,??" Ratria nampak tidak fokus untuk menjawab pertanyaan Syahdan barusan. Dan lelaki yang bertanya menyimak wajah cantik dengan mata jernih dan bibir segar merona yang terbuka kebingungan.
"Bagaimana jika naik gajah, atau unta?" tanya Syahdan dengan lembut. Ingin Ratria mencerna tanyanya kali ini.
"Iya, iya pak Syahdan. Aku ingin,," jawab Ratria. Dan mereka kembali berjalan ke depan.
Ratria terheran saat langkah mereka bukan menuju ke tempat di mana ada nampak gajah atau juga unta. Tapi memasuki sebuah restoran yang ada di dalam area kebun binatang. Gadis berkerudung itu hanya diam mengikuti dan tidak ingin bertanya.
"Rat, kita makan siang dulu. Biar nggak oleng saat naik gajah dan unta nanti," ucap Syahdan sambil menarik kursi untuk Ratria dan dirinya.
Sengaja memberi kursi yang sejajar agar Ratria merasa nyaman serta tidak merasa kikuk saat mengisi perutnya.
Dua set menu pilihan Syahdan yang sama. Dua gelas lemon manis madu hangat serta dua piring nasi dan dua mangkuk soto babat yang panas. Mereka terdiam sejenak menunggu dinginnya hidangan dalam diam.
Syahdan nampak mengeluarkan ponsel dan mengarahkan ke segala penjuru. Dan agak lama berhenti di wajah Ratria yang nampak tersenyum memerah.
"Jangan diarahkan lama-lama padaku pak Syahdan. Aku adalah pengunjung kebun, bukan penghuni kebun ini," Ratria tersenyum dan berpaling. Syahdan tersenyum lebar sambil menyudahi pengambilan video ponselnya. Merasa lega, bintang dalam video ponsel yang baru direkamnya itu tidak menolak dan marah.
__ADS_1
🍃
Ratria kembali berjalan mengikuti Syahdan di belakang. Dan Syahdan kembali berhenti menunggu hingga mereka sejajar.
"Rat, mungkin orang-orang yang memperhatikan kita itu menganggap aku pria tak baik. Selalu meninggalkan kamu di belakang," Syahdan berkata bersama ulur tangannya pada Ratria. Tangan halus itu telah digenggam untuk dibawa berjalan.
"Kamu tidak apa-apa kan ku gandeng?" tanya Syahdan. Merasa lega, menduga jika Ratria akan mengibaskan tangan, ternyata tak terjadi. Tangan lembut itu terasa pasrah di genggamannya.
"Tidak, pak Syahdan. Aku lebih suka jika orang-orang itu memberimu nilai sebagai lelaki yang baik," Ratria menjawab sambil tersenyum kikuk dan pias.
"Ah, Ratria. Terimakasih," ucap Syahdan. Tak sadar meremas tangan lembut itu dengan kuat. Ratria membiarkannya tanpa respon. Tapi dadanya sedang berdebaran tak karuan. Dan kini mulai berjalan pelan saat tangannya ditarik jalan oleh Syahdan.
Jalan Ratria yang diimbangi oleh Syahdan dengan pelan itu sangat sesuai pada tempat yang sedang mereka kunjungi. Pemandangan hewan-hewan dengan pohon-pohon rimbun dan rindang di sepanjang jalan itu sangat nyaman menggemaskan. Ingin berhenti lama di satu jenis sangkar namun sadar masih banyak sangkar hewan lain yang sunguh sayang jika harus dilewatkan.
Syahdan terus menggenggam tangan Ratria tanpa terlepas sebentar pun. Kecuali saat Ratria minta dilepas sebab ingin mengambil gambar binatang yang dianggapnya sangat unik dan langka.
Dan Syahdan akan terus mengambil tangannya lagi untuk melanjutkan perjalanan.
"Pak Syahdan tidak mengambil foto?" tanya Ratria. Merasa dirinya saja yang dari tadi begitu lebay membidik.
"Untuk apa, Rat. Kamu kan sudah,," Syahdan tersenyum.
"Kan nggak sama,,," protes Ratria.
"Apanya yang beda? Sama saja. Aku bisa pinjam punyamu," ucap Syahdan sambil berjalan. Ķembali menyambar tangan Ratria. Mereka berjalan sanggat lambat.
"Itu lucu, Rat. Kamu tidak ingin memotret?" Syahdan menunjuk ke sebuah sangkar lebar di sebelah kanan. Setuju dengan pendapat Syahdan, Ratria berhenti dan membidik.
Seekor bekantan besar sedang berayun-ayun kencang di sebuah tali tambang. Jenis orang utan namun berhidung mancung itu juga memperhatikan Ratria yang tengah membidik sambil berayun jadi pelan.
"Sepertinya dia bekantan cowok, Rat. Ha..Ha..Ha.." Syahdan tertawa lepas saat merasa bekantan itu sangat mesum. Sedang memegang di bagian vittallnya dengan fokus memandangi Ratria. Entah apa maksud bekantan itu. Ratria merasa risih dan segera menyudahi bidikannya.
__ADS_1
"Bisa jadi dia wanita, pak. Diapun juga sambil mamandangimu. Ha..Ha..Ha.." Ratria benar-benar tak mampu lagi menahan tawanya. Bekantan itu memonyong-monyongkan bibir nampak genit dengan pandangan yang bergeser pada Syahdan.
"Ha..Ha..Ha..Iya, Rat. Untung ada pagar, keder juga aku, Rat," Syahdan menggosok-nggosok telinganya salah tingkah.
Ternyata tidak hanya mereka berdua saja yang tertawa. Entah sejak kapan, di sekitar mereka sudah banyak pengunjung lain yang berkerumun. Mereka ikut tertawa sambil memandangi bekantan juga pada Ratria dan Syahdan bergantian.
"Rat, kita ini pengunjung kebun, kan? Bukan penghuni kebun,," Syahdan berkata agak keras pada Ratria dengan sengaja. Agar pengunjung yang sedang tertawa pada mereka itu mendengar dan sedikit tahu diri.
"Nggak papa, pak Syahdan. Ini memang lucu. Ini hiburan alami yang tidak dibuat-buat. Menyenangkan hati orang itu mulia dan berpahala. Biarin jangan marah," Redam Ratria dengan lembut. Membalas genggaman tangan Syahdan tanpa sadar. Juga sambil melempar senyum pada orang-orang yang masih tak bisa menahan tawa bahak mereka. Dan Bekantan yang tak jelas jantinanya itu kembali berayun-ayun kencang saat Ratria ditarik Syahdan pelan meninggalkan sangkarnya.
"Rat, lebih baik kita naik gajah saja," Syahdan menarik pelan Ratria mendekati pawang gajah yang siaga di tempat. Dua lelaki itu sedang melakukan tranksaksi tunggang gajah.
"Yuk, Rat. Kakinya nggak papa?" Syahdan tiba-tiba ingat luka Ratria dan ragu.
"Kayaknya nggak sanggup, pak Syahdan. Ini tinggi banget," tolak Ratria yang juga sempat lupa akan luka di kakinya.
Pawang gajah itu mendekati mereka.
"Gajahnya bisa di rendahkan lagi kok, mas. Jadi bisa naik,," bujuk pawang gajah.
Syahdan mengangguk dan memandang Ratria yang ragu.
"Bapak, mohon maaf. Mungkin lain kali kita akan datang lagi dan naik gajah ini. Istri saya kakinya sedang cidera. Khawatir jika nanti sakit lagi. Maaf ya, pak," Syahdan membatalkan tunggang gajah dengan sopan pada pawang.
"Oh iya, nggap papa, mas. Ini uangnya saya balikin," bapak pawang gajah itu mengulurkan uang meski wajahnya nampak kecewa. Dan tentu saja Syahdan menolak uangnya untuk dikembalikan padanya.
"Rat, kita keliling sepuasnya ya. Kalo capek bilang. Kita istirahat di Mushola. Pulang malam tidak apa-apa kan?" tanya Syahdan. Mereka berjalan lagi berkeliling.
"Ini sangat menyenangkan, pak Syahdan. Penasaran dengan semua isi di kebun ini. Aku tidak capek,,aku tidak bosan," terang Ratria bersemangat. Syahdan pun mengangguk dengan ekspresi yang senang.
Mereka terus berjalan pelan dan masih saling menggenggam. Dengan kepala yang tidak berhenti menoleh ke sangkar-sangkar di sepanjang jalan penelusuran dalam kebun.
__ADS_1