Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
49. Hadiah


__ADS_3

Malam hampir pukul sebelas. Syahdan telah standby di depan televisi dengan mata fokus namun hatinya bercabang. Seseorang yang berjanji menemani belum juga keluar untuk duduk menghadap televisi sebagai teman menonton bersama.


Penantiannya terusik dengan ketukan di pintu rumah dan segera menduga jika itu adalah si bungsu Kahfi. Syahdan bergegas menghampiri dan membuka pintu rumah dinasnya.


"Assalamu'alaikum, mas,,!" Kahfi bersemangat melempar salam pada Syahdan.


"Wa'alaikumsalam,,,," Syahdan menepi sedikit dari pintu. Kahfi kembali masuk dengan santai dan melewati Syahdan di pintu.


"Ratria mana, mas ?" tanya Kahfi yang telah duduk di sofa.


"Sudah tidur," Syahdan menjawab dengan cepat.


"Iyalah, ini mungkin sudah malam," gumam Kahfi. Lelaki itu memangku tas ransel dan membukanya. Mengeluarkan sebuah kantung belanja berisi satu kotak. Sepertinya kotak sandal atau juga kotak sepatu.


"Kamu kenapa nanya Ratria, Fi,,? Apa itu?" tanya Syahdan sambil menunjuk kotak di tangan Kahfi dengan dagunya yang habis dicukur.


"Hadiah," sahut Kahfi sambil diletaknya di meja.


"Milik siapa?" tanya Syahdan. Mengamati wajah tampan adiknya yang lelah.


"Kasih ke Ratria ya, mas. Aku mau pulang," pesan Kahfi sambil berdiri. Mengetuk-ngetuk kotak yang diletak di meja dengan buku-buku jarinya.


"Apa, Fi,,?" Syahdan bertanya ulang.


"Sepatu cewek, mas. Baru kubelikan tadi. Aku habis manggung di pantura. Aku ikhlas ngasih buat kakak iparku. Kamu nggak papa kan, mas,?" tanya Kahfi. Ada gurat segan juga di wajahnya.


Syahdan terdiam, diambilnya kotak dari meja dan dibuka. Sepatu indah dan modis. Syahdan tahu jika harganya cukup mahal. Judith juga memilih dengan nama brand yang sama jika minta ditemani ke butik sepatu dan sandal. Tidak menyangka jika Kahfi sebegitu perhatiannya pada Ratria.


"Kamu itu, Fi,,, Masa depan juga masih panjang, masih sekolah, bahkan nggak tamat-tamat. Apa kamu juga sering ngasih barang mahal sama pacar-pacar kamu,?" tanya Syahdan agak khawatir dengan keroyalan adiknya.


"Hanya sekali-kali saja, mas. Sebagai apresiasi buat mereka telah bersedia kupacari," ujar Kahfi dan tersenyum. Syahdan duduk di sampingnya.


"Ya semuanya terserah kamu, Fi. Asal jangan terlalu royal hingga habis-habisan. Satu saja pesanku, kamu jangan sampai menghamili anak orang. Dan Sungguh-sungguhlah belajar." pesan Syahdan dengan tegas.


"Siap masskuuu... Tapi aku ogah meniduri anak orang... Hanya pegang-pegang saja itu, masskuu..." suara Kahfi terdengar serak dan lelah. Namun masih berusaha tertawa. Lalu berdiri dan menyangkut tas ransel di pundak. Meletak kunci mobil di meja.


Syahdan hanya bisa bernafas panjang-panjang sambil memandang Kahfi dengan seribu cabang perasaan dan pikiran.

__ADS_1


Mungkin adiknya yang playboy itu memang baru manggung lumayan lama di pantura. Kahfi adalah vokalis di grub band miliknya, sekaligus drumer handal yang cukup popoler di kota Surabaya.


Penghasilan pribadi Kahfi terbilang cukup aman. Selain dari jatah bulanan yang tebal dari orang tua, dan sebagai anak band yang sudah cukup komersil, Kahfi juga memiliki peralatan musik yang lengkap. Sound system mega audio, serta peralatan band yang lengkap milik pribadi, sangat siap disewakan untuk manggung.


Meski kuliahnya tidak kunjung kelar, namun jiwa usahanya sudah maksimal. Kahfi tidak pernah kekurangan uang. Apalagi untuk modal kesenangan sebagai cowok playboy dengan prinsip sebatas pegang-pegang...


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Lelaki yang sempat merasa enggan untuk menyampaikan amanah, kini merasa penuh harap saat mengetuk pintu kamar. Dan pemiliknya telah berdiri di pintu yang baru di buka. Syahdan berharap Ratria segera keluar dan menemani. Malam telah hampir pukul dua belas.


"Pak Syahdan, ada apa?" tanya Ratria dengan mata yang sedikit sembab bangun tidur. Wajah sembab itu nampak cantik. Dengan baju tidur celana panjang namun atasan menggantung di pusar. Benar-benar meresahkan.


"Kamu sudah minum obat?" tanya Syahdan berusaha bertenang. Ternyata gadis itu sudah tidur. Padahal begitu ditunggu kedatangannya di ruang tivi.


"Eh iya, pak Syahdan. Aku belum minum obat. Setelah makan malam tadi, aku mengantuk." Ratria berusaha tersenyum dengan kepalanya yang terasa agak pening.


"Minum dulu obat kamu, Rat. Aku menunggu di ruang tivi. Ada hadiah untuk kamu dari Kahfi," ucap Syahdan. Lalu berbalik meninggalkan Ratria dan duduk gontai di sofa.


Tidak lama Ratria telah berdiri datang menyusul. Namun diam-diam Syahdan merasa sedikit kecewa. Baju tidur menggantung itu telah ditutupi dengan jaket.


"Duduklah, Rat. Ini, hadiah dari adik iparmu. Coba saja. Jika kebesaran atau kekecilan, bisa ditukarkan sizenya." Syahdan berkata lirih dengan menyodor kotak dalam bag belanja.


"Buka saja dan cobalah, " ulang Syahdan menginstruksi.


Risau jika Syahdan akan kesal dan ingin menghargai pemberian, Ratria membukanya perlahan. Diam-diam terkejut dengan nama brand yang tertulis di kotak. Meski berusaha ditutupi, wajah sukanya tak bisa disembunyikan.


Wajah Ratria kian cerah dengan bayang senyum di mata. Sapatu indah warna merah dengan brand yang tak disangka akan dimiliki secepat ini. Dan senyum yang ditahan benar-benar merekah saat sepatu cantik itu sangat pas si kakinya.


"Pas? Apa kamu suka?" tanya Syahdan. Mengamati kaki Ratria.


"Iya, pak Syahdan. Aku suka sekali. Terimakasih, yaaa. Tolong bilang pada Kahfi, terimakasih." Ratria berkata dengan jujur. Bibirnya benar-benar tersenyum. Syahdan terpicing memandangnya.


"Itu warna merah tapi kamu juga suka? Bukankah warna kesukaanmu adalah ungu?" tanya Syahdan tiba-tiba. Justru seperti tidak suka dengan raut gembira di wajah Ratria.


"Tidak, kapan aku bilang tentang warna yang kusuka? Semua warna aku suka, pak Syahdan," sanggah Ratria.


Memandang Syahdan yang melihatnya dengan raut tidak hangat seperti biasanya. Bahkan memicing nampak dingin. Apa Syahdan kurang suka jika Kahfi membelikannya barang mahal?

__ADS_1


Mendadak merasa tidak enak sendiri. Segera dilepas sepatu dari telapak kaki yang sebelah saja di coba. Untuk kaki dengan jempol yang luka, Ratria tidak memasangnya. Kemudian disimpan lagi dalam kotak dan mengulurkan lagi pada Syahdan.


"Pak Syahdan, aku segan menerimanya. Ini sangat mahal. Tolong kembalikan saja pada Kahfi. Bilang aku tidak suka sepatu apapun. Kakiku sedang sakit. Ini seperti menyindir cacatku," ucap Ratria dengan asal pada alasannya. Hatinya tiba-tiba merasa sebak dengan sikap dan pandangan Syahdan yang dingin padanya.


"Pak Syahdan, aku mengantuk. Aku ingin tidur saja di kamar. Permisi,," Ratria buru-buru berdiri dan akan berjalan memutar di belakang sofa.


Ratria terkejut, lengannya tiba-tiba tertahan dan membuat langkah kakinya terhenti. Dan tak disangka juga, lengannya telah ditarik kuat hingga duduk kembali. Namun bukan lagi di kursi, tapi telah berpindah di atas pangkuan pak Syahdan.


"Appa maksudmu, aku sangat terkejut. Lepaskan aku, pak Syahdan,," panik Ratria. Syahdan menahan pinggang rampingnya dengan tangan yang telah melingkar rapat di perut.


"Kamu mau ke mana, Rat? Kamu sudah bilang akan menemani nonton tivi, kan?" tanya Syahdan. Mengerahkan tenaga sebab Ratria berusaha turun dari pangkunya.


"Diamlah, Rat. Aku tidak akan ngapa-ngapain kamu. Hanya ingin berbincang," Syahdan sedikit menggerakkan tangannya.


"Tapi aku ingin tidur di kamar saja, pak Syahdan. Di sini gerah," jawab Ratria dengan alasan tepatnya. Menahan geli sebab tangan Syahdan yang mulai terasa menggelitik.


Syahdan tidak menanggapi. Tangannya sebelah terulur pada kancing di jaket Ratria dan melepasnya. Ratria mendadak tidak lagi bergerak, tapi diam tegang dengan perlakuan Syahdan padanya.


"Tentu saja kamu gerah, Rat. Lepas saja jaket kamu? Untuk apa kamu ini pakai jaket?" sahut Syahdan sambil membuka jaket Ratria.


Tahu jika Ratria berkata benar, dahi dan ubun-ubun cantik itu nampak basah sebab keringat. Merasa Ratria sedang berubah jinak, Syahdan sedikit bergeser dan meraih sebuah remote pendingin ruangan dan menyalakannya dengan cepat. Kemudian meletak remote dan kembali melekat tangan di pinggang Ratria yang lembut.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Tolong kasih semangat buat otor yaaa..


Sangkutin VOTE Seninmu di sini yaa...


Sangat berguna bagiku.. Arigato..


Teruslah tinggalkan jejak2mu ya kakak readers... Love you...


Jangan lupa klik minta update dong yaa..

__ADS_1


Agar karyaku dilirik sedikit saja oleh NTooN..


😘😘😘


__ADS_2