Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
45. Pandang Saja


__ADS_3

Menjadi pengikut Syahdan di belakang, membuatnya jadi pasif dan malas. Hanya terus mengekori dengan lelaki itulah yang sedang mencari posisi kursi untuk kemudian disinggahi. Rasanya sungguh santai dan nyaman sekali.


Berjalan di belakang, diam-diam Ratria beberapa kali tersenyum sendiri. Ini adalah pertama kalinya masuk bioskop hanya berdua dengan seorang lelaki. Apalagi film yang akan ditonton adalah kategori dewasa masa kini, sungguh kecanggungan yang hakiki. Meski sebenarnya lelaki gagah itu adalah suaminya sendiri..


"Sepertinya itu kursi kita, Rat." Syahdan menoleh Ratria di belakangnya sebentar dan berjalan kembali. Menyelip di antara bangku dan pengunjung yang lain. Ratria dengan patuh pun mengikuti.


Bangku yang mereka dapat berada di barisan nomor dua di depan. Dengan kursi yang berisi penuh dan tak satu pun nampak kosong. Pengunjung sangat antusias malam ini.


"Sepertinya tiket terjual habis, Rat. Ini malam minggu," ucap Syahdan di sampingnya. Ratria memandang sejenak membenarkan. Namun diam-diam telah lupa hari apa malam ini.


"Pak Syahdan, apa kamu sering pergi ke bioskop,?" tanya Ratria. Lelaki di sampingnya nampak sangat tampan dan gagah. Tidak lagi mengenakan jas kerja yang formal. Tapi amat santai dengan kaos warna pastel lengan panjang.


"Kadang saja, Rat. Bukan sering." Syahdan menjawab membetulkan. Memandang Ratria yang mungkin sedang ingin tahu tentangnya.


"Dengan Judith?" tanya Ratria menyambung. Syahdan memandangnya.


"Iya. Sejak ada dia, hanya dengan dia aku nonton," Syahdan menjawab jujur apa adanya.


"Film dewasa,?" kejar Ratria tanpa sungkan. Syahdan memandangnya lagi dan tersenyum.


"Film laga, film horor, film komedi, film sains, film horni, film perjuangan, sudah aku tonton dengan siapa saja. Tidak ada bedanya..." Syahdan terus berbicara sambil tersenyum.


"Dan... semua sama lah, Rat. Bikin tegang, ha,,ha,,ha,,!!" Syahdan tertawa kecil dengan kelakarnya sendiri. Ratria berpaling wajah membuang senyuman agak lama.


"Kamu, Rat? Sering nonton di mana?" tanya balik Syahdan.


"Tidak sering. Sangat jarang. Di Moviemax Dinoyo, Malang. Dekat kampusku." Ratria menyahut tersenyum. Teringat teman-temannya sekilas.


"Dengan teman-teman. Rame-rame," jawab Ratria.


"Dengan dosenmu, Jati?" tanya Syahdan tanpa nampak senyumnya.


"Tidak pernah. Aku tidak mau. Dengan dia, hanya makan malam di luar saja. Itu pun rahasia. Kami sama-sama tidak ingin jadi bahan gosip," terang Ratria tersenyum.

__ADS_1


"Jadi kamu sering keluar dengan dosenmu? Kalian pacaran?" desak Syahdan. Ratria menggeleng.


"Apa namanya kami pacaran? Dia tidak pernah menembakku. Tapi kami justru tidak pernah lagi keluar bersama setelah aku menolak ajakannya untuk menikah," Ratria tersenyum. Merasa sedih dengan nasib hubungan gelapnya bersama sang dosen.


"Jadi, andai Jati hanya mengajakmu berpacaran dulu, kamu justru mau dengannya?" kejar Syahdan. Ratria tersenyum.


"Mungkin. Aku tak tahu, pak Syahdan."


"Pak Jati terlalu buru-buru,, salahnya sendiri," Ratria mengeluh tanpa sadar.


Syahdan mendengarnya. Lalu membuang pandangan ke depan. Bersamaan lampu gedung yang dimatikan. Berganti dengan lampu sorot mega projector ke arah layar lebar di depan.


Keduanya kompak terdiam. Mencoba fokus pada tayangan yang mulai diputar. Film dengan thriler awal yang cukup tegang panas itu diawali dengan adegan pembukaan yang damai dan wajar. Hingga menuju ketegangan konflik serta pada inti judul film yang lumayan menegangkan dan gerah.


Ratria merasa begitu tegang, serba salah, dan malu sendiri. Mungkin lain rasa dan cerita jika teman menonton yang duduk di sebelahnya bukan Syahdan. Sebab ingat jika Syahdan lah yang sedang bersama, rasanya tidak tenang dan resah yang gerah.


Membuang muka pun juga salah. Berpaling ke kiri, seorang lelaki juga tengah berpaling dan memandang Ratria. Berpaling ke kanan juga sama keadaannya. Meski remang, masih juga nampak jelas wajah mereka.


"Sudah, pandang saja. Apa salahnya,, anggap saja ini pembelajaran untuk kamu. Kamu belum pernah, kan?" tiba-tiba suara Syahdan berbisik sangat lirih. Ratria menoleh, dan mereka saling berpandangan.


Bertambah salah tingkah rasanya. Memang memandang juga ke depan. Tapi pikiran bercabang. Antara tayangan di depan, dengan adanya Syahdan di sebelah.


Benarkah lelaki itu tidak pernah,,? Ini kan Surabaya,, kota terbesar kedua setelah Jakarta..! Rasanya tidak mungkin!


🍃🍃🍃


Cemilan yang utuh itu tidak dimakan dan diletak di meja dapur. Mereka, pasangan suami istri yang telah pisah ranjang dengan damai, telah di kamar masing-masing dengan derita yang sama. Sama-sama sedang disiksa susah tidur!


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Vario sedang membawa makanan dalam baki di sebuah restoran besar di kota Macau. Niat untuk duduk gabung bersama beberapa pramugara diurungkan saat dilihatnya Judith sedang makan sendirian di meja pojok.

__ADS_1


"Boleh gabung, Dit?" tanya Vario sambil langsung duduk.


"Tidak,,!!" jawab Judith namun tersenyum.


Vario abai dan langsung mulai makan miliknya dengan lahap. Dipandangnya baki di depannya, hampir masih utuh.


"Kamu ini makan apa, Dit?" tanya Vario dengan heran. Diliriknya Judith, pantas saja gadis itu langsing sekali.


"Aku sudah kenyang, mas," ucap Judith sambil minum sari anggur yang terlihat sangat segar.


"Gaya makan kamu sangat tidak bagus, Dit. Kamu sangat kurus sekali." Jelas Vario perhatian.


"Tidak, aku tidak kurus. Ini sangat ideal," pungkas Judith dengan yakin.


"Cobalah cari rumus tubuh ideal wanita. Pasti berat badanmu sangat jauh dari ideal. Jika kamu terus-terusan dengan pola makanmu yang buruk seperti itu, kamu bisa kena anoreksia. Kamu bukan kurus lagi, tapi akan terlihat seram, Dit." Vario menerangkan dengan panjang.


Dan Judith tercengang memandang. Merasa sikap Vario ternyata begitu ramah dan hangat padanya.


🍃🍃


Hawa di Macau saat malam dengan rintik salju yang turun begitu dingin menggigit. Lelaki tampan dalam kamar hangat, sedang bersila di pembaringan empuk sambil terus saja mengetik. Sebuah notebook mini sedang nyaman di pangkuan.


Vario bergegas bangun saat bunyi bell di pintu kamar terdengar.


"Kamu, Dit.. Kenapa?" Vario terheran. Judith nampak pucat sambil memeluk selimut tebal hangatnya.


"Mas, kita tukeran kamar yuk. Kamarku rasanya beku. Penghangatnya kurasa rusak,," terang Judith. Nampak kesusahan bicara. Hawa sangat dingin menusuk tulang dan kulit.


"Masuklah," ucap Vario dengan singkat. Judith dengan cepat ditariknya ke dalam.


"Mas, punya paracetamol nggak? Aku sangat pusing,," Judith telah tidur di atas ranjang bergelung selimut yang dibawanya.


"Aku ada. Tapi sebelum minum obat, kamu harus makan ulang. Perutmu kosong, Dit," Vario mengambil ponsel dan menyambungkan. Nampak menunggu.

__ADS_1


"Aku sudah makan, mas !" pekik Judith. Seperti ketakutan dengan kata makanan. Dan Rio sedang berbicara dalam bahasa mandarin di ponselnya.


Rio memandang Judith yang sedang meringkuk dengan heran. Gadis cantik yang nampak berwawasan, namun berpola fikir sangat terbelakang dan salah. Bahkan telah menyiksa raganya sendiri dengan keyakinannya yang sesat.


__ADS_2