
Syahdan menyodor berkas-berkas sertifikat itu ke hadapan boss besar dengan hormat. Abai pada tatapan lelaki tua yang sangat tajam dan sedang marah padanya. Merasa harus segera menuntaskan masalah dan selisih pendirian itu dengan cepat. Tidak ingin lagi membuat perasaan Ratria seperti dipermainkan berterusan olehnya.
"Sekali lagi, saya mohon maaf. Untuk hal seperti ini, saya tidak bisa memberikan bantuan apapun pada anda. Dan ini, seluruh bukti kepemilikan atas hadiah yang tadi diberikan, saya kembalikan seluruhnya."
Syahdan sedikit membungkuk di akhir bicaranya. Menoleh pada Ratria di sebelah sebentar, masih saja menunduk sangat dalam. Menekan keinginan hati untuk meraih tubuhnya dan memeluk. Bagaimana pun sedang ada dua hati yang sedang sangat kecewa di depannya.
"Syahdan, apa istimewanya istri kamu, hingga kamu menerima dijodohkan? Kenapa kamu menolak perjodohan dengan Kasandra? Bukankah Kasandra juga begitu cantik dan telah memiliki segalanya? Kujaminkan kamu tidak akan kekurangan apapun hingga beberapa keturunan kamu kelak, Syahdan," sang presdir tidak bosan membujuk.
"Maaf, presdir. Sebenarnya saya tidak ingin membahas apapun masalah harta. Tapi jika saya terus diam, itu tidak adil untuk Ratria."
"Istri saya sudah memberikan harta yang juga tidak akan habis dimakan hingga beberapa keturunan saya di masa depan. Jadi, saya tidak berniat untuk menambah tumpukan harta lagi dari Kasandra. Saya bukan pria serakah. Maafkan saya, presdir," ucap Syahdan. Membungkuk sedikit sekali lagi.
"Istri kamu juga membawa harta? Apa maksudmu,,?" tanya presdir. Memandang bergantian pada Ratria dan Syahdan.
"Maaf, pak presdir. Tentang kenapa saya menerima perjodohan dengan Ratria, karena kakek saya hanya akan menyerahkan warisan perkebunan untuk saya jika saya bersedia menikah dengan Ratria. Seperti itulah," terang Syahdan.
Presdir Alek menaikkan sebelah alisnya dan tipis tersenyum.
"Memangnya, berapa luas perkebunan yang kamu dapat dari kakek kamu dengan menikahi Ratria, Syahdan?" tanya presdir dengan nada yang remeh.
"Alhamdulillah. Seratus lima puluh hektar kebun teh bersama pabrik tehnya sekalian , presdir. Dan itu sudah sangat luar biasa bagi saya," terang Syahdan. Sang presdir nampak terkejut.
"Benarkah,,?! Seluas itu?! Dan kamu begitu tenang, bersikap seolah kamu ini tidak memiliki apapun, Syahdan,,?!" respon sang presdir seperti masih tidak percaya. Dan Syahdan pun hanya mengangguk dengan ekspresi yang selalu nampak segan.
"Maafkan saya, pak presdir. Sekali lagi itu hanya amanah dari kakek saya. Tidak patut bagi saya untuk menunjukkannya jika tidak sangat terpaksa," ucap Syahdan kembali sedikit membungkuk.
Sang presdir terdiam beberapa saat. Memandang Syahdan dan Ratria bergantian kembali. Kemudian mengangguk-angguk sendiri yang entah apa maksud anggukan di kepalanya itu.
Tiba-tiba Kasandra mendekati telinga sang ayah dan berbisik sesuatu. Presdir nampak menunduk dan fokus menyimak. Pandangan mata yang tetap tajam meski sudah berumur, terpaku lekat di lantai berkarpet.
Kasandra telah selesai membisikkan sesuatu pada sang ayah. Kini presdir Alex nampak diam termenung. Seolah sedang berfikir dan menimbangkan hal berat.
Syahdan mengubah posisi bersilanya ke posisi duduk dengan bertumpu dua kaki di belakang. Diam-diam pria tampan dan menawan itu sedang terserang kesemutan lagi sekarang. Merasa dirinya kurang cukup makan sayur dan juga jarang olahraga. Semenjak menikah dengan Ratria, pola hidupnya justru tak terkontrol dan seolah jadi pria paling sibuk sejagad raya.
Sebenarnya bukan sebab Ratria. Hanya sejak menikahi Ratria dan menjadi pemilik sebagian besar perkebunan, tenaga dan pikirannya terus jauh bercabang. Antara bandara, perkebunan dan tentu saja Ratria. Syahdan seperti tidak memiliki waktu untuk mengurusi dirinya. Pola hidup yang apa adanya dan sedikit berantakan, sangat berpengaruh pada vitalitas kesehatannya.
__ADS_1
"Ehm,,Syahdan,," panggil sang presdir. Dan pemilik nama pun siaga menyimak.
"Iya, presdir," sahut Syahdan. Menatap presdir yang kini redup memandangnya.
"Sekali lagi dan ini permohonan bantuan darimu yang terakhir. Syahdan, bagaimana jika kamu menikahi Kasandra sementara saja? Hingga anaknya lahir,,"
"Kasandra hanya ingin meminjam nama kamu," terang pak presdir pada harapnya kali ini.
Syahdan nampak memejam mata sebentar dan bernafas dengan panjang.
Sedang Ratria,,, berusaha susah payah menguasai diri agar air mata tidak meluncur dan tumpah. Juga mengambil nafas yang panjang banyak kali agar rasa sesak di dada tidak menjalarkan rasa sakit ke jantungnya.
"Meminjam nama saya? Kasandra meminjam nama saya sebagai suaminya sekaligus ayah dari calon bayi?" tanya Syahdan dengan heran.
"Betul, Syahdan. Bantulah hingga habis melahirkan saja," bujuk presdir. Memandang Syahdan dengan tatapan redup penuh harap.
"Maafkan, sekali lagi saya tidak bisa menikahi Kasandra. Saya sudah menikah. Nama saya hanya bisa dipakai satu kali sebagai suami Ratria. Yang juga sekalian untuk anak dari darah daging saya sendiri, presdir." Syahdan kembali menegaskan.
"Tapi kalian menikah sebab perjodohan. Tidak mungkin kamu sudah mencintai Ratria. Kamu masih lama lagi untuk memiliki anak, mass.... Berilah aku kesempatan,,hanya sampai aku melahirkan saja. Kumohon padamu, mas Syahdan. Juga padamu, Ratria," Kasandra menyela dan memohon. Wajah yang biasa penuh senyum dan pesona itu nampak sedih sekarang.
"Hik,,,hik,,,hik,,,hik,," suara tangis isak Kasandra yang tak lagi ditahan. Presdir terkejut menoleh demikian juga Syahdan.
Tidak ada yang tahu jika Ratria pun sedang menangis diam-diam. Tapi tentu saja tangisnya berlainan rasa dengan apa yang sedang Kasandra rasakan. Ratria menangis sebab haru dan rasa teruja tak terkata. Syahdan ternyata mencintainya.. Benarkah?
"Sudah, Sandra. Ini adalah pilihan kamu sendiri. Dan ini sudah jadi ujian untuk perjalanan hidupmu. Lelaki baik bukan hanya Syahdan saja. Pasti akan ada yang lebih baik lagi dan yang memang disiapkan untukmu. Kita harus menerima dengan lapang penolakan Syahdan. Dia memang sudah menikah. Dan tentu saja istrinya juga tidak ingin jika suaminya menikah lagi. Kita kena paham hal itu. Bayangkan juga jika kamu berada di posisi istrinya. Pasti kamu juga tidak rela, Sandra,," bujuk sang ayah dengan menepuk-nepuk lembut punggung Kasandra.
"Baiklah, Syahdan. Aku tidak ingin lagi membujukmu. Jika kamu ingin pulang. Kamu duluan saja. Aku masih akan berbicara dengan putriku," presdir Alex memandang pada Syahdan dan juga Ratria bergantian.
Dan moment inilah yang sedang ditunggu oleh Syahdan sedari tadi.
"Baik, pak presdir. Saya akan segera keluar. Terimakasih atas jamuan makan ini. Selamat malam," sambut Syahdan. Kembali sedikit membungkuk sebagai tanda berpamitan. Sang presdir pun menyambut dengan anggukan kepalanya sekali.
Syahdan segera berdiri dan mengulur tangan pada Ratria. Disambut perlahan dengan wajah yang masih saja menunduk. Dan Ratria pun berdiri.
"Permisi, presdir. Selamat malam." Syahdan berpamitan sekali lagi sebelum membawa Ratria berbalik dan keluar dari private room.
__ADS_1
"Silahkan, Syahdan," balas presdir. Menyahut tanpa memandang keduanya. Hanya menyimak saat pintu terdengar sedang dibuka dan ditutup kembali dengan pelan kemudian.
🍃
Syahdan merasa bingung sendiri, sang istri terus melanjutkan diamnya di sepanjang perjalanan menuju pulang. Bahkan kali ini hanya mengangguk dan menggeleng saja tiap Syahdan mengajaknya bicara ataupun bertanya. Berusaha mengingat dan terus berfikir, apalagi kesalahan yang telah dilakukan namun belum diperbaikinya. Hingga Syahdan pun memilih diam pasrah sebab rasa yang lelah.
Mereka telah sampai dan kembali memasuki rumah dinas. Syahdan berbalik badan setelah mengunci pintu rumah dengan rapat. Merasa heran dengan Ratria yang ternyata masih menunggu dan berdiri diam memandangnya.
"Rat, kamu masih di sini? Ada apa?" tanya Syahdan terheran. Ratria mendongak memandangnya dengan lekat.
Sangat terkejut, Ratria telah mendekat dan memeluknya dengan erat. Yang kemudian menangis tersedu dan terisak.
"Hik,,,hik,,,hik,,,hik,,," tangis Ratria.
"Ratria,, kamu ini kenapa. Apa salahku? Aku sudah minta maaf dan menjelaskan semuanya padamu. Apa ada sikapku yang masih mengecewakan kamu?" tanya Syahdan. Juga membalas memeluk Ratria dengan erat. Merasa bingung namun gembira mendapat rangkul peluk sang istri.
"Hik,,,hik,,,hik,,,hik,,," Ratria justru kian sedu menangis.
"Katakan padaku, kenapa?" desak Syahdan.
"Aku,,,,aku ingin memanggil kamu, mas... Mas Syahdan,,, hik,,hik,,hik,," Ratria menjawab terbata. Sambil kedua tangan mencengkeram punggung Syahdan.
Ah, Syahdan bahkan hampir ingin tertawa. Namun juga berubah menjadi rasa haru dengan cepat. Itu memang hal yang sangat diinginkannya.
"Iya, Ratria. Panggil aku seperti itu. Aku merasa sangat suka. Terimakasih." Syahdan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku,," Ratria kembali akan bicara. Namun terdengar masih ragu.
"Kamu kenapa, Rat? Bilanglah padaku,," ucap Syahdan sambil mengusap lembut kepala Ratria.
"Aku,,,, aku,,, aku ingin hamil,,,, hik,,hik,,,hik,," ucap Ratria yang kembali menutupnya dengan tangis.
Tentu saja Syahdan sangat terkejut, seperti kejatuhan durian Kan Yao saja rasanya. Begitu bahagia hingga tak bisa lagi berkata-kata.
"Masss,,,!!!!" Tangis Ratria berubah menjadi jeritan histeris.
__ADS_1
Syahdan telah membopong Ratria tiba-tiba. Membawanya laju berjalan menuju ke dalam kamar. Entah apa yang akan dilakukan pada Ratria kemudian. Syahdan hanya tidak mampu berkata-kata. Saat itu baginya, tindakan jauh lebih berguna daripada berbicara!!