Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
37. Terancam Amputasi


__ADS_3

Dua Insan telah meluncur meninggalkan gerbang rumah sakit besar bertipe A di kota Surabaya. Mereka baru menemui dokter spesialis tulang, alias dokter ortopedi sekaligus traumatologi di RSUD Dharma Bhakti Husada, Surabaya.


Hasil pemeriksaan dari kontrol rutin di dua hari yang pertama, membuat pemilik luka di jempol kaki nampak muram dan tidak bersemangat.Wajah suramnya bahkan lebih mendung dari saat naskah skripsinya pernah ditolak pak Jati Hutomobowo hingga dua kali. Ancaman kehilangan sebelah jempol kaki ternyata lebih menakutkan baginya.


"Sudah, Rat. Jangan menangis. Masih ada kesempatan dua kali kontrol lagi." Syahdan kian resah saat kepala yang terus berpaling ke samping itu nampak terguncang di bahunya.


"Kita usahakan lagi agar kontrol dua hari mendatang kondisi lukamu lebih membaik lagi dari kontrol kali ini," imbuh Syahdan.


Gadis berkerudung tidak lagi menyembunyikan wajah ke samping. Kini menunduk melihat jempol kaki dengan perban baru setelah menoleh sebentar pada Syahdan.


"Aku tidak ingin kehilangan jempol kaki. Apa ada obat herbal yang mungkin memberi keajaiban... Apa kamu pernah dengar, pak Syahdan?" tanya Ratria terdengar berharap. Dipandanginya wajah lelaki tampan yang sedang duduk tegak di kursi kemudi.


"Aku lupa tidak memikirkan tentang hal itu, Rat. Tentu ada, dan aku sangat yakin itu mujarab. Cukup bagus untuk membantu mendampingi pengobatan kimia medis kamu itu," ucap Syahdan tersenyum dengan wajah yang cerah.


Ratria langsung menoleh dengan mata jernihnya yang berkilat.


"Apa nama obat herbal itu, pak Syahdan,,?!" tanya Ratria sangat gembira. Namun Syahdan tidak langsung menjawab. Hanya menoleh sebentar dan membungkam.


"Pak Syahdan, apa,,?" Ratria bertanya lagi dengan lembut. Menunggu bibir merah Syahdan terlihat membuka.


"Aku akan segera mencarikannya untuk kamu. Tapi ada satu syarat dariku," ucap Syahdan serius. Ratria berkerut dahi.


"Kamu tidak ikhlas, pak? Kenapa harus ada syarat,, apa jika aku tidak mau, kamu membiarkan jempol kakiku dibuang? Kamu terkadang memang jahat. Lalu, apa syaratnya?" Ratria menggerutu dan merasa agak kesal. Syahdan nampak pias dan menegakkan duduknya dengan galau. Berusaha abai dengan ucapan Ratria yang seperti letupan tak berapi. Dan memandang Ratria sebentar sebelum berbicara.


"Kamu tidak usah pindah ke kamar lain. Tetap saja kita sama kamar. Kamu di kamarku saja," tegas Syahdan mengutarakan ajuan syarat nya.


Seperti yang diduganya, mata indah itu memicing tajam dan berekspresi ketus padanya.


"Pamrih. Pak Syahdan akan ingkar janji," ucapnya kemudian.


"Bukan pamrih dan ingkar janji. Tapi itu untuk kebaikan lukamu. Agar aku mudah mengawasimu. Kamu tahu sendiri aku sangat sibuk, Rat. Jadi ringankan tanggunganku, mudahkan urusanku. Tidak mungkin juga aku tidak melihat kamu sama sekali di kamarmu. Bayangkan jika aku sama sekali tidak melihat keadaan kamu sebab aku sangat sibuk. Apa kamu tidak kecewa padaku? Jika di kamarku, aku akan mudah mengurusmu. Kamu paham, Rat,?" Syahdan agak lama menoleh ke samping.


Ratria pun akhirnya mengangguk.


"Iya, pak Syahdan. Aku paham, maafkan aku. Maaf merepotkan kamu," sahut Ratria dengan wajah menunduk. Syahdan pun mengangguk dengan ekspresi yang puas.


"Obat apa itu, pak,?" tanya Ratria setelah hening sesaat di antara keduanya.


"Kamu tunggu lah dengan sabar. Tidak akan kusebut. Aku tidak mau jika diam-diam kamu beli sendiri via online dan ternyata yang kamu pilih adalah barang palsu. Bukankah itu sia-sia? Jempol kaki kamu itu taruhannya, di bengkel reparasi mana pun, tidak ada suku cadang pengganti jempol kakimu." ucap Syahdan serius.


"Iya," sambut Ratria terdengar pasrah saja.


Syahdan menaikkan kedua alisnya merespon jawaban Ratria.

__ADS_1


Hening di antara kepala dua orang. Mobil melaju dengan kecepatan tetap dan sedang. Mereka tengah berperang dengan serabut dalam kepalanya masing-masing.


Syahdan dengan rasa lega sebab sikap Ratria yang selalu berakhir menurut padanya. Namun juga tidak nyaman dengan ekspresi tegang dan sedih di wajah cantik itu.


Ratria dengan rasa segan dan galau sebab merasa sedang tidak berdaya. Bahkan hampir seluruh hidupnya secara perlahan telah dikendalikan oleh Syahdan. Bayang hidup bebas dengan masa depan indah pilihannya sendiri, setelah sekian lama di bawah kendali sang nenek, rasanya seperti pupus.


Meski paham dengan segala kuasaNya, namun sangat takut dan was-was dengan luka di jempolnya. Sangat menyesal dengan kecerobohonnya waktu itu. Tapi,,, tragedi itu adalah cara yang tidak di sengaja untuk kembali bertemu dengan pak Jati..!!


🍃🍃🍃


Ratria pasrah dengan semua tindakan Syahdan demi kebaikan luka di jempol kakinya. Syahdan sedang meletaknya perlahan di atas tempat tidur dengan wajah yang begitu saling berdekatan. Dada lebar lelaki itu sangat segar dan wangi meski Ratria sering juga berpaling.


"Vario jadi datang?" tanya Syahdan setelah meletak Ratria di ranjang. Duduk di samping kaki Ratria sambil mengatur engah nafasnya. Tidak menyangka jika Ratria ternyata jauh lebih berat dari waktu pertama kemarin diangkatnya. Padahal tidak nampak perubahan apapun di tubuh gadis itu.


"Penerbangannya kembali diundur. Cuaca di Laos sedang tidak bersahabat," terang Ratria sambil menutup kakinya dengan selimut.


"Jika pak Syahdan ingin ke bandara, pergi saja. Aku tidak masalah sendiri. Tapi,," ucap Ratria menggantung.


"Kenapa, Rat,?" tanya pak Syahdan berkerut dahinya.


"Tolong usahakan jangan pulang malam," pesan Ratria dengan segan.


Syahdan nampak tegang sesaat. Merasa dirinya sedang berguna bagi gadis itu. Itu adalah pesan yang sering dilontar sang ibu padanya. Tapi tentu saja dengan rasa dan maksud berlainan. Ratria merasa khawatir dengan dirinya sendiri jika di rumah tanpa teman saat malam. Dan sang ibu yang khawatir akan dirinya jika pulang terlalau larut malam.


Tapi keduanya memberi makna tersendiri bagi lelaki tampan itu. Hanya merasa tidak puas dengan wajah yang kembali terpasang mendung dan tanpa senyuman sekali pun. Apa Ratria benar-benar tersiksa untuk sekamar bersamanya...?


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


ART akan datang tiap hari pukul enam pagi dan pulang saat tengah hari. Sebab ART itu kebetulan bekerja setengah hari juga di komplek perumahan dinas yang sama dengan rumah dinas Syahdan.


Namun khusus hari ini, dimulai kerja selepas tengah hari dan berakhir pukul lima sore. Ini adalah permintaan Syahdan, sebab kebetulan hari ini Ratria akan ditinggalnya setelah tengah hari. Syahdan telah merelakan waktu kerjanya untuk mengantar Ratria pergi kontrol. Dan ART Itu pun setuju.


🍃🍃


Syahdan yang akan berpamitan pada Ratria di kamar, nampak heran sekaligus senang dengan Ratria yang sedang tersenyum-senyum dengan muka yang berseri. Wajah cantik itu nampak bersemangat dan merona.


"Lagi apa kamu, Rat?" tanya Syahdan mendekat. Ratria sedang memegangi ponselnya, wajah itu seketika hilang senyum dan bahkan kembali nampak tegang. Syahdan kian penasaran, apa penyebab Ratria nampak merona,,,?


"Aku sedang bersua dengan teman lamaku," iawab Ratria nampak gugup.


"Teman perempuan apa lelaki,?" tanya Syahdan dengan pelan. Berharap Ratria berbicara jujur padanya.


"Perempuan, pak Syahdan," jawab Ratria terdengar agak gugup. Syahdan tentu saja tak percaya. Mana ada teman perempuan membuat Ratria jadi tersipu dan merona,,

__ADS_1


"Ratria, jika kamu ingin. Undanglah temanmu itu datang ke sini. Itupun jika kamu tidak malu dengan keadaan rumah yang biasa seperti ini. "


Syahdan mengatakannya dengan santai. Memandang wajah dengan mata jernih yang tengah memandanginya tanpa kedip. Ratria nampak tegang dan bimbang.


"Rat, di dapur sedang ada wanita agak tua yang bersih-bersih. Mungkin setelah itu, jika sempat kamar juga. Dia akan pulang pukul lima sore. Akan datang tiap hari dan aku membayarnya tiap minggu. Jika ada apa-apa panggil saja ibu itu. Namanya bu Tina," terang Syahdan sambil berdiri.


"Aku akan berangkat kerja sekarang. Panggil saja teman kamu untuk main ke sini, Rat," pesan Syahdan sambil membetulkan kerapian kemeja dan dasinya. Lalu berbalik meninggalkan Ratria.


"Pak Syahdan,,!!" seruan Ratria membuatnya berhenti.


"Ada apa, Rat? Kamu ingin kubelikan sesuatu,?" tanya Syahdan dengan wajah sangat hangat dan cerah. Ratria segera menggeleng.


"Tidak.... Tapi sebenarnya, temanku ada yang ingin menjengukku ke sini. Dia ingin aku minta izin padamu, boleh tidak dia menemuiku di rumahmu,?" tanya Ratria nampak segan.


"Boleh, Ratria... Suruh datang saja,," sambut Syahdan dengan cepat.


"Tapi, temanku bukan perempuan. Dia laki-laki,," Ratria semakin ragu menerangkan.


"Siapa temanmu laki-laki di Surabaya ini, Rat?" tanya Syahdan dengan lembut. Menyembunyikan rasa heran. Meski sudah menyangka, namun juga merasa terkejut.


"Dia yang menyerempetku kemarin. Pak Jati, mantan dosenku." Ratria kemudian menunduk. Rasanya semakin segan.


Dan Syahdan merasa teekejut lagi. Namun tetap ditutupi. Merasa salut dengan kejujuran serta sikap Ratria yang sopan. Juga teringat bagaiman wajah itu tersenyum merona saat tadi. Merasa senang jika gadis itu bisa tersenyum.


Dan Syahdan pun tetap ingat akan janjinya pada gadis itu untuk memberinya kebebasan.


"Dia sedang di Surabaya?" tanya Syahdan tetap lembut. Ratria mengangguk.


"Liburan,?" pancing Syahdan.


"Mungkin selamanya. Sebab keluarganya di Surabaya. Dan sudah dapat ACC pindah ke UNAIR," jawab Ratria sambil mengangkat wajah memandang Syahdan.


Dan Syahdan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Boleh, Ratria. Tapi aku tidak bisa menerima tamumu itu. Salam saja buat mantan dosenmu itu." jawab Syahdan dengan pelan.


"Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum,!" sapa Syahdan sambil bergegas menuju pintu kamar dengan cepat.


Bagaimana pun dirinya sedang merasa galau. Antara dirinya sebagai lelaki yang tidak ingkar janji. Juga harga dirinya sebagai seorang suami.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Tiap Senin, Noveltoon akan ngasih free VOTE padamu..

__ADS_1


Sangkutin di sini saja ya...


Terimakasihku padamu yaaa..!! 😘😘😘


__ADS_2