
Kakek Muchsin yang kebetulan ada di teras sedang menebar pakan untuk para lele di sungai mini buatannya, sangat kaget sekaligus senang dengan kedatangan Syahdan bersama Ratria yang mendadak. Segera membawa pasangan yang sedang dimabuk kepayang itu masuk ke dalam rumah uniknya.
Mereka bertiga telah duduk nyaman di sofa dengan saling berhadapan. Kemudian saling menanyakan kabar, saling bercerita, dan saling menanggapi. Dan pada akhirnya sang kakek mengatakan sesuatu sambil berbisik pada keduanya.
"Apa,,??!" ucap Syahdan dan Ratria bersama dengan wajah saling pandang dan senyum. Lalu mereka pun mengangguk mengerti pada kekek Muchsin.
"Di mana dia, kung?" tanya Syahdan dengan suara rendah. Kakek Muchsin menunjuk arah belakang dengan jarinya.
"Kalian temui nanti saja. Sekarang ayo pergi makan dulu. Kalian pasti lapar tho,,? Ayo, sana...!" Halau kakek Muchsin sambil berjalan memimpin di depan. Menuju meja makan di dapur. Adzan dzuhur telah terdengar semenjak Ratria dan Syahdan belum sampai lagi di rumah sang kakung.
"Dan, ajak istri kamu menginap yang lama di sini." ujar kakek Muchsin.
"Ratria, kamu suka tho, di sini? Hawa di sini juga nggak kalah seger dari Kencong. Malah enak di sini, dekat kota. Mau ke mall,,,,dekat. Mau ke bioskop,,,, ada. Mau petik apel, jeruk, wortel, bawang, brokoli,, cuma di sebelah itu. Semua tanamam kita punya sendiri. Enak wesss...."
"Lha di tempatmu sana, ketutup hutan. Terpencil. Mau ke mana-mana juuuauh,,, ha,,ha,,ha,,," ujar kakek Muchsin. Terkekeh memandang Ratria yang ternganga mendengar bicaranya.
"Kung Muchsin, memangnya tahu keadaan tempatku di Sirah Kencong,,?" tanya Ratria merespon. Kakek Muchsin telah sangat paham keadaan Sirah Kencong.
"Yaa tahuuu,, kamu lupa tho, nduk? Ibune Syahdan kan asalnya sana. Masak aku ora silaturahim ke rumah besan? Yo main,,, apalagi waktu itu masih muda. Aku rajin jalan-jalan ke sana. Naik gunung Butak,,," terang kakek Muchsin dengan sangat bersemangat.
"Eh,,, nggih, kung. Aku lupa," sambut Ratria tertawa. Menoleh pada Syahdan di samping, sang suami tengah tersenyum mengejeknya.
Mereka sambil terus mengobrol hingga selesai makan siang. Sajian makan siang di meja makan kakek Muchsin benar-benar tradisional tapi sangat lezat. Ratria sampai dua kali mengambil pecel lele pedas di piringnya. Berlomba dengan Syahdan yang bahkan tidak terhitung lagi habis berapa ekor lele yang dimakan olehnya.
"Kung, aku ke kamar dulu." Syahdan pamit pada sang kakek. Diikuti Ratria yang terbirit di belakangnya.
Memasuki kamar Syahdan yang pernah Ratria singgahi bersama pemiliknya waktu itu.
"Ayo kita ke belakang dulu, Rat," ajak Syahdan. Ratria mengangguk, paham pada maksud sang suami. Mungkin Syahdan ingin memberi empati pada pria muda yang sedang patah hati di belakang sana.
Agak jauh di belakang rumah, ternyata ada kolam ikan luas sebagai muara dari lubang air di sungai mini. Sangat jernih bahkan tembus pandang hingga ke dasar. Dan kolam besar itu pun, ada saluran pengaliran air yang Syahdan bilang menuju sungai besar di balik pagar.
Jadi, air mengalir dari bukit ke pipa, jatuh mengairi sungai buatan yang mengelilingi rumah, mengalir lagi ke kolam besar, dan tersalur lagi menuju sungai alam perbukitan di balik pagar belakang rumah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!" Syahdan memberikan salam sapanya pada Khairy yang duduk merenung di gazebo. Gazebo kayu yang kokoh dan sebagian berada di atas kolam.
"Wa'alaikumsalam, mas !" sahut Khairy. Wajahnya menoleh dan terkejut.
"Sedang apa kamu, Khai?" tanya Syahdan. Mendekat dan memasuki gazebo yang diikuti Ratria.
"Cari angin sambil mancing, mas. Kalian akan ke Blitar?" Khairy memandangi Ratria dan Syahdan bergantian. Mereka berdua mengangguk.
"Iya, mas," sahut Ratria dengan sopan. Meskipun Khairy adalah adik ipar, tapi umurnya lebih tua dari Ratria banyak tahun.
"Kamu merokok, Khai?" tanya Syahdan. Matanya memandang ke gelas kosong yang berisi beberapa puntung rokok di dalamnya.
"Hanya iseng. Biasanya juga tidak," sahut Khairy dengan enggan.
"Khai, kamu yang sabar. Judith bukan jodohmu. Aku dan Ratria pun juga kaget dengan pernikahan Judith. Ternyata diam-diam hubungan mereka sangat dekat." hibur Syahdan pada sang adik.
"Betul, mas Khairy. Aku pun tidak menyangka. Aku tidak tahu jika hubungan mereka sangat dekat. Mereka pintar sekali menyimpannya. Harap makhlum, ya mas. Pasti jodoh mas Khairy diam-diam sedang merangkak mendekat. Sabar, mas," ucap Ratria. Berupaya menghibur hati adik ipar yang sedang nampak kecewa sangat dalam..
" Kamu harus semangat, Khai. Masih tidak terhitung lagi wanita yang lebih baik dari Judith di Jawa Timur ini. Apa kamu ingin mencarinya di Kalimantan? Mama dan papa sering memintàmu belajar bisnis batubara kan?" tanya Syahdan pada adik lelakinya yang tampan. Khairy menggeleng.
"Bagaimana jika mengurus perkebunan teh di Blitar bersamaku, Khai? Kamu pun juga memiliki saham sepuluh persen dari kakung Yakub," terang Syahdan. Tapi Khairy menyambutnya dengan geleng-geleng kepala.
"Ah, apa lagi itu, mas. Aku tidak ingin terkucil di perkebunan denganmu. Yang ada, nanti aku akan makin susah dapat istri," keluh Khairy tersenyum. Sepertinya sedih yang dia rasakan mulai terkikis.
"Kau lupa, aku mendapatkan istriku di sana," ralat Syahdan. Tangannya menjulur menepuk punggung Khairy.
"Betul, mas Khairy. Jodoh datangnya tak disangka. Pokoknya di manapun kamu berada, jangan pernah satu kalipun merasa putus asa. Percayakan saja semuanya pada yang di atas, yaa." Ratria juga ikut meyakinkan Khairy demi mendukung ucapan sang suami. Khairy menoleh Ratria dan tersenyum.
"Iya, kakak ipar," sahut Khairy dengan jawaban kocaknya yang tak terduga.
"Bagus, adik ipar. Hi,,hi,,," tawa kikik Ratria tak bisa lagi ditahan. Syahdan juga ikut tertawa. Bahkan kembali menumbuk empuk punggung Khairy dengan tinjunya.
"Patahkan! Patahkan saja punggungku!" respon Khairy sambil tersenyum sangat lebar.
__ADS_1
Ekspresi wajah Khairy justru seperti sedang menikmati. Syahdan masih menumbuk-numbuk empuk punggung lebar adiknya. Postur tubuh Khairy dengan Syahdan hampir sama besar dan tinggi.
"Rat,," panggil Syahdan. Tinju tangannya sudah membuka lebar dan ditepukkan di atas pahanya. Syahdan sedang duduk berselonjor dua kaki.
"Iya. Kenapa, mas?" tanya Ratria dari tempatnya bersimpuh.
"Belum lelah? Ayo istirahat,,!" ajak Syahdan. Matanya melirik sedikit ke arah rumah di kamarnya.
"Capek,," jawab Ratria. Menganggukkan dagunya yang sedikit membelah di tengah. Nampak menggemaskan di mata sang suami.
"Khairy, aku ke kamar dulu istirahat. Aku berangkat pagi sehabis sarapan. Jika kamu ingin ikut, tinggal saja mobilmu di sini. Kita pergi ke Blitar bersama dengan mobilku saja," ucap Syahdan sebelum pergi berlalu.
"Mas Khairy, kami ke rumah dulu." Ratria bersapa dengan Khairy sebelum tergesa menghampiri Syahdan. Suaminya berdiri menunggu datangnya.
🍃🍃🍃
Mukena yang baru dipakai untuk shalat ashar, sedang dilipat saat Syahdan menghampiri. Memeluk erat dari belakang dan melingkarkan tangan di perut. Syahdan meletak dagu di atas kepalanya.
"Terimakasih ya, Rat. Kamu sudah datang dan mau jadi istriku," ucap Syahdan di rambut Ratria yang wangi. Rasanya sangat hangat.
"Sama-sama, mas. Aku juga merasa sangat senang," sambut Ratria. Meletak mukena yang sudah rapi di atas meja kayu. Dan Ratria pun berbalik menghadap pada Syahdan.
"Misal besok Khairy ikut kita ke Blitar, kamu tidak keberatan kan?" tanya Syahdan. Wajah tampan dengan bibir merahnya sedang mendekat dan semakin rapat di wajah Ratria.
"Tidak. Yang penting ada kamu ya, mas. Apa dia juga akan tinggal di vila?" tanya Ratria. Menatap mata Syahdan yang berkilat tajam padanya.
"Iya, Rat. Jika tidak di vila, adikku harus tinggal di mana?" tanya Syahdan tersenyum.
"Tapi mas Khairy juga belum tentu ikut kan, mas Syahdan,,?" tanya Ratria berbisik. Hatinya merasa berdebar kencang. Hidung mancung Syahdan sudah seperti menancap di ujung hidungnya.
"Hemm,,," sahut Syahdan dengan tak sanggup lagi berkata-kata.
Ratria merasakan hangat di dada dan kepala. Syahdan telah mengambil kedua bibir Ratria dengan ciuman penuh hasratnya yang dalam. Nafas lelaki itu telah berubah menderu sangat cepat. Menenggelamkan bibir Ratria dengan hisapann dan lumathan yang panjang.
__ADS_1
Suara yang meluncur dari bibir mereka, terhempas oleh bunyi gemericik air yang keluar dari semburan pipa-pipa besar di luar. Mereka melakukan dengan perasaan sangat nyaman. Serasa sedang berlayar di awang dengan letak dunia yang saling berseberangan dan aman.