Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
35. Sekamar Sementara


__ADS_3

Gadis cantik yang masih keras kepala meski sudah tak berdaya, telah duduk di sofa dengan gestur menunggu. Pemilik rumah memintanya duduk dan bertenang di sana.


Sang tuan rumah sedang bingung sejenak di ruang tengah yang lengang.


Hanya kamar miliknya saja yang standby ditempati. Sedang kamar yang kemarin sempat disiapkan untuk Ratria, kini terlihat lusuh dan kusut kembali. Makhlum, membukanya pun Syahdan hampir tidak pernah. Selain hanya merasa perlu satu kamar saja, tapi dirinya juga jarang meniduri rumah dinas.


Syahdan meyakinkan diri dan kembali menuju ruang tamu.


"Ratria, sebaiknya kamu istirahat. Ayo kubawa kamu ke kamar," Syahdan berniat untuk mengangkat Ratria.


"Pak Syahdan, aku ingin jalan sendiri saja," kali ini Ratria berkata dengan nada segan. Bukan lagi nada tegas ataupun nada ketus. Entah perasaan bagaimana yang sedang berserabut di dadanya.


Syahdan pun malas berdebat, membiarkan saja Ratria yang telah berdiri dan mulai berjalan pelan dan pincang. Lelaki itu berjalan cepat mendahului Ratria menuju arah kamarnya. Dan membuka lebar-lebar pintu kamar menunggu Ratria.


"Permisi ya, pak. Aku numpang tinggal," ucap Ratria sangat pelan saat melewati Syahdan di pintu. Mungkin dirinya sadar, jika saat ini bukan hanya menumpang tinggal saja, tapi juga menumpang hidup bahkan juga perlu dirawat oleh Syahdan.


"Hemmm,," hanya seperti itulah jawab Syahdan. Sambil matanya mengawasi.


Ratria mencapai ranjang dan segera merebahkan dirinya. Sebab merasa kepalanya tiba-tiba begitu berat dan mengantuk tak tertahan. Mungkin obat yang disuntikkan saat dirinya sedang pingsan. Atau sebab nutrisi bagus yang tersalur oleh infus dengan tetesan laju ke tubuhnya. Tubuhnya sedang kenyang dan nyaman.


"Pak Syahdan,,,aku belum cuci kaki,,,,"


Syahdan yang hampir menutup pintu dari luar, mengamati sejenak dan kembali ke dalam kamarnya. Ratria berbicara namun sudah menutup mata dan tidur. Apa maksud gadis itu memanggil dirinya, apa minta dicucikan kaki? Sepertinya tidak mungkin.


Namun sekilas memandang telapak kaki yang agak bernoda itu, Syahdan tidak tega.


Dibersihkan dengan hati-hati menggunakan tisu kering yang dibasahinya. Kaki dan telapak cantik itu kembali mulus tanpa noda keruh yang samar. Ratria yang sangat pulas tidur ditutupi dengan selimutnya sebatas pinggang.


🍃🍃🍃


🍃🍃🍃


Pukul 22.00 WIB..


Sebuah mobil sport gunung sedang menyandar di garasi dengan kasar. Pengemudi tampannya keluar buru-buru dan menutup keras pintu mobil seperti membanting. Membuka tergesa pintu rumah dengan anak kunci yang seperti akan dipatahkan dalam lubang. Menutup keras pintu kembali setelah dirinya di dalam dan menguncinya sangat cepat.

__ADS_1


Syahdan menuju kamar dengan langkah kaki panjang dan tergesa.


"Rat,," panggil Syahdan dengan lirih saat sudah masuk kamar. Gadis yang dipanggil sedang meringkuk di dalam selimut dan nampak terisak.


"Rat, ada apa? Kamu menangis?" tanya Syahdan khawatir sambil menarik pelan selimutnya. Wajah Ratria terlihat, bersama pandangan matanya yang basah.


" Sorry, tadi aku ada panggilan penting dari kantor. Niatku hanya sebentar atau meminta Vario melihatmu. Tapi kakak lelakimu sedang penerbangan ke Laos dari pagi tadi hingga lusa. Dan ternyata urusanku di kantor begitu banyak. Maaf, Ratria. Kamu marah?" tanya Syahdan hati-hati.


Seperti menghindar agar Ratria tidak lagi menyengitnya. Syahdan benar-benar tidak suka jika Ratria berkata sengit dan ketus.


"Aku tidak marah,,,hik,,hik,,,hik,," Ratria kembali menangis setelah menjawab dengan sangat gemetaran. Wajah mulus cerahnya sedang memerah yang sangat.


"Lalu, kenapa menangis? Kamu ingin apa?!" tanya Syahdan agak panik.


"Ada kecoak terbang, kakiku sakit. Aku tidak bisa lari, pak Syahdan.... Hik,,hik,,hik,," Ratria kembali terisak setelah menunjuk jarinya ke atas. Syahdan bernafas lega dengan senyum tipis yang samar.


Ratria memang benar-benar jijik dan takut pada kecoa. Apalagi kecoa gila yang terbang sembarangan. Meski sebagian orang menganggap sepele, tapi baginya sungguh sangar melebihi monster yang seram.


Memang benar, kecoa itu sedang santai di plavon pojok kamar. Dan langsung jatuh terkapar setelah Syahdan mengguyur dengan insect spray yang mujarab.


"Rat, kecoa sudah kubuang. Habis ini pintu itu akan ku tambal kertas agar kecoa tidak bisa menyelip lagi." Syahdan memandang sekilas Ratria dan mengulur sebuah bungkusan.


Syahdan membuka bungkusan yang berisi kotak makan. Agak geli dengan Ratria yang masih mendongak wajah sembab cantiknya ke plavon, mencari barangkali ada kecoa baru yang lain.


"Besok akan kujemput ART di rumah mama untuk bersih-bersih. Kemarin sempat ada ART, tapi mungkin suka nyuri. Beberapa kali uang dan beberapa barangku hilang. Aku nggak sempat lagi nyari gantinya," terang Syahdan dengan tersenyum.


"Sudah nggak ada lagi. Kecoa itu takut padaku. Kamu jangan diam saja, Rat. Kecoa akan muncul saat sunyi,"


Kini Syahdan lah yang terus berbicara. Merasa agak kesal sebab Ratria terus diam. Namun cukup melegakan saat Ratria mulai makan dengan cepat seperti yang tadi disuruhnya. Rasa kesal Syahdan pada gadis itu jadi menguap seketika.


"Kutinggal mandi sebentar. Habiskan makanmu. Akan kusiapkan obatmu setelah mandi," ucapnya.


Syahdan segera berbalik dan menghampiri almari bajunya. Tidak melihat anggukan Ratria yang tertegun memandangnya dan berhenti mengunyah. Mulai sadar jika kamar yang ditempati adalah kamar Syahdan.


Ratria kembali mengunyah dengan cepat. Berusaha pasrah dan tidak berburuk sangka pada lelaki pemilik kamar. Membenarkan ucapannya jika tinggal di sini lebih baik daripada tinggal dengan Vario, kakak tirinya. Memahami jika Syahdan bukanlah pria buruk.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Kursi roda yang tadi tidak berguna, kini telah siaga di samping tempat tidur dengan setia. Ratria telah dua kali menggunakannya untuk menuju kamar mandi. Menolak tawaran baik Syahdan untuk menggendong dan mengantarnya ke sana.


Merasa sangat lega telah mandi ala kadarnya dan menukar bersih seluruh baju. Serta sholat isya di atas kursi roda semampunya. Ratria bersiap rebah di atas tempat tidur. Dan bersamaan dengan Syahdan yang entah dari mana, masuk ke dalam kamar yang sama.


"Rat, lampu kamar dimatikan apa dinyalakan?" tanya Syahdan dari depan pintu.


Ratria terdiam, berfikir sejenak dengan dada berdebar. Dimana pemilik kamar akan tidur?


"Ratria,,?" ulang Syahdan bertanya.


"Dinyalakan saja," putus Ratria. Merasa trauma dengan kecoa terbang di kamar. Serta takut dengan kamar asing yang baru ditempati.


Ratria yang telah memegangi selimut merasa berdebar tegang. Syahdan tidak keluar lagi, tapi berjalan memutar dan merebah di samping Ratria yang kosong.


Syahdan tidak memunggungi Ratria, justru berposisi miring menghadapnya. Merasa begitu lega saat tidak ada hardikan untuknya.


"Pak Syahdan, apa tidak ada kamar lain untukku,?" tanya Ratria dengan sopan. Merasa harus cukup tahu diri.


Syahdan yang menganggap suasana sedang aman, sedikit gelagapan.


"Ada dua kamar lain. Tapi belum dibersihkan. Mungkin akan banyak kecoa terbang di sana. Tunggu hingga dibersihkan," jawab Syahdan dengan lancar.


"Kapan,?" tanya Ratria lagi.


"Besok. ART mama yang akan kuajak ke sini besok itulah yang bersih-bersih," terang Syahdan sambil memandang Ratria di sampingnya.


Ratria terdiam, merasa sedang dipandangi Syahdan. Rasanya jadi tegang dan tidak leluasa bernafas.


"Pak Syahdan... Lampunya lebih baik dimatikan. Dan tolong tidurlah agak tepi saja," pinta Ratria tiba-tiba dengan memberanikan diri menoleh wajah Syahdan. Mereka saling berpandangan.


"Kenapa?" tanya Syahdan dengan terus menatap.


"Aku,, aku tidak suka kamu melihatku," ucap Ratria terus terang.

__ADS_1


Syahdan tidak lagi berkata-kata. Segera bangun lagi dan mematikan lampu dengan cepat. Dan keadaan kamar benar-bebar sangat gelap.


Ratria merasa Syahdan telah kembali tidur di sampingnya. Ada rasa tenang dan tidak ada apapun ketakutan. Bahkan tidak risau akan adanya Syahdan di ranjang yang sama. Dirinya justru sempat merasa was-was jika lelaki itu tidur di luar kamar saat lampu telah dimatikan.


__ADS_2