Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
72. Semeja Berempat


__ADS_3

Wajah yang biasa berseri serta tersenyum saat memandang padanya, kini nampak tanpa ekspresi, sedikit pucat, dan bahkan terkesan sinis. Tidak ada sapa manja apapun dari Judith padanya.


"Dit, kamu dengan siapa? Boleh gabung duduk?" tanya Syahdan pada Judith. Memandang tiga bangku kosong di meja.


"Duduk saja, mas," sambut Judith merespon.


"Kasandra, kamu ingin ikut gabung di sini atau memilih meja lain?" tanya Syahdan pada Kasandra. Memandang wanita itu sejenak, lalu mendudukkan diri di salah satu kursi kosong di sana.


"Tentu saja paling tepat di sini bersama kamu, pak Syahdan. Atau di manapun, itu tidak masalah," sambut Kasandra dengan suara bergelombang.


"Duduklah, Sandra. Perkenalkan, ini Judith, putri rekan bisnis orang tuaku sekaligus seperti adik perempuanku sendiri." Syahdan memandang Kasandra dan Judith dengan pandangan agar mereka saling bersapa mengenali.


Kasandra memandang Judith dengan senyum anggun dan mengangguk. Judith juga membalasnya dengan senyuman yang tipis. Tidak ada gelagat pada keduanya untuk saling mengulur tangan dan berjabat.


"Ehem!" sebuah dehem pelan terdengar. Rupanya Vario yang sedang membawa dua baki makan telah berdiri tidak jauh dari meja.


"Hei, Vario,,!" sapa Syahdan. Tersenyum hangat pada lelaki yang sekaligus kakak iparnya


"Pak Syahdan. Apa kabarmu? Apa Ratria sedang sehat dan kakinya sudah benar-benar pulih?" tanya Vario. Memandang Syahdan juga memandang Kasandra sekian detik sambil duduk di kursi yang sisa.


"Alhamdulillah, Rio. Istriku sudah berjalan dengan normal kembali. Hanya mungkin,,, jika Ratria mau, perlu operasi plastik kecil untuk mengembalikan bentuk jari jempol di kakinya."


Syahdan menjelaskan dengan memandang lekat pada Vario. Juga menggeser mata pada Judith. Dua baki yang dibawa Vario, salah satunya adalah untuk Judith. Syahdan sedikit menduga sesuatu mungkin sedang terjadi di antara Vario dan Judith. Diam-diam hatinya merasa lega dan mengikis rasa bersalah yang ditanggung selama ini.


"Ratria,,apa itu nama istri kamu, pak Syahdan?" Kasandra bertanya menyela tiba-tiba.


Judith langsung mendongak, memandang agak sinis pada Kasandra dan Syahdan.


"Betul. Mereka baru saja menikah. Mereka menikah sebab dijodohkan. Ternyata Ratria, gadis yang dinikahinya itu sangatlah cantik tiada banding. Kurasa mereka sudah sama-sama saling menyukai sekarang. Tidak akan ada seorang wanita pun yang akan sanggup menggeser Ratria darinya," ucap Judith dengan tajam.


Judith mengatakan hal itu sangat lancar dengan mata memandang tajam pada Kasandra dan Syahdan bergantian. Seperti sedang menumpah kesal dengan cara menyindir keduanya.


"Benarkah?" respon Kasandra tersenyum. Dan disambut anggukan dari Judith dengan tatapan mata yang sinis.


"Tentu saja benar, bukankah aku sudah seperti adik perempuan mas Syahdan,,,? jadi aku sangat paham perasaannya," sambut Judith.

__ADS_1


"Hemm... Ternyata dramatis juga pernikahan pak Syahdan dengan istrinya. Jadi mereka tidak saling mencintai rupanya,,," Kasandra menanggapi dengan nada yang remeh.


"Hei,, bukan seperti itu..! Aku yakin jika mereka sudah mulai saling mencintai. Mereka setiap hari bersama. Harap anda paham akan itu, miss Kasandra..!" Judith meletak sendoknya seketika. Seperti sangat tidak terima dengan kesimpulan Kasandra yang di baru didengarnya.


Dan tidak ada yang paham. Ketegasan Judith berbicara itu sebab kemarahan pribadi atau pembelaannya pada rumah tangga Syahdan dan Ratria.


Yang jelas, Judith sangat muak dengan cara Kasandra memandang manja pada Syahdan. Juga cara mereka berjalan yang rapat saat awal mula dilihatnya datang ke Kantin. Serta nada manja saat Kasandra berbicara pada Syahdan. Dan lebih tidak suka, Judith paham jika di balik blazer mewah itu, Kasandra tidak mengenakan bra di dadanya.


"Dit, sebaiknya fokus dulu dengan makanan kamu. Istirahatmu hanya tiga puluh menit. Kamu harus segera bersiap untuk penerbangan ke Semarang pukul tiga nanti," tegur Vario tiba-tiba. Memandang Syahdan dan Kasandra sekilas.


"Maaf, pak Syahdan. Kami sedang mengejar waktu." ucap Vario harap maklum. Dan mulai makan dengan sendok garpu di pegangan.


"Silahkan Vario. Itu makanan pesananku juga sedang diantar ke meja." Syahdan sambil menunjuk seorang petugas kantin yang tadi sempat didekati, sedang menuju ke meja mereka dengan dua baki berisi lengkap menu makanan.


Syahdan dan Kasandra pun segera memulai makan siang setelah baki itu diletak sempurna di meja. Dan pelayan kantin pun berlalu setelah menerima ulur tip rupiah dari Syahdan.


"Sudah sangat kompak rupanya kalian berdua yaa.. Ck,,ck,, ck,, isi menu dalam baki kalian benar-benar sama tak berbeda." Judith kembali menyerang tiba-tiba. Bermimik muka sinis tanpa memandang siapapun. Sedang mata dan tangan masih fokus di bakinya.


"Dit, kamu bermaksud bicara padaku kah? Kesamaan ini hanya kebetulan saja. Tadi aku sedang tidak ingin memperpanjang antrian di sana." Syahdan memandang Judith sebentar. Lalu kembali lanjut makan dengan tenang.


Meja makan itu hening beberapa waktu lamanya. Keempat orang yang duduk itu sedang menjamu selera dalam hening dan diam. Hingga salah satu dari mereka berdiri dan bersapa.


"Ehem, pak Syahdan, saya duluan. Oh ya, saya pesan, tolong jaga adikku baik-baik. Meski kalian menikah terpaksa, tapi jangan sekali saja menyakiti dan mengecewakan hatinya," ujar Vario dengan tajam. Melirik sekilas pada Kasandra dengan pandangan yang tak kalah tajamnya.


"Jangan khawatir, Vario. Terimakasih perhatian kamu," sambut Syahdan mengangguk. Wajah cerahnya nampak sedikit pias dengan ucapan Vario padanya.


"Sama-sama, pak Syahdan," sambut Vario mengangguk.


"Mas Rio, aku juga sudah. Aku bareng!" seru Judith. Berdiri menjauhi kursi dan meja. Tidak ingin berbasa basi pada Syahdan dan Kasandra.


Syahdan pun tidak terlalu peduli dengan sikap Judith yang abai. Namun dirinya cukup heran dengan isi baki Judith yang ternyata sudah bersih. Itu sangat mencengangkan baginya. Judith yang biasa hanya habis makan beberapa sendok saja, kini telah mampu menghabiskan isi baki begitu cepat. Sekali lagi Syahdan merasa lebih lega.


🍃


Judith dan Vario telah keluar dari kantin dan hilang dari pandangan. Tinggal Syahdan dan Kasandra yang diam hening menghabiskan makanan di baki makan keduanya.

__ADS_1


"Apakah itu tadi sama dengan abang ipar kamu, pak Syahdan?" tanya Kasandra menoleh senyum pada Syahdan.


"Iya, Sandra. Tapi lebih muda dariku tiga tahun," sahut Syahdan mengangguk.


"Bermakna dua tahun lebih muda dariku," respon Kasandra. Sambil menatap di pintu keluar masuk kantin yang sedang tidak ada sesiapa saja di sana.


"Apakah sudah menikah?" tanya Kasandra kembali. Sepertinya diam-diam merasa cukup tertarik dengan latar belakang Vario.


"Belum," jawab Syahdan singkat.


"Staff apa dia itu,,?" tanya Kasandra tanpa kedip.


"Agency di penerbangan dan awak pesawat." Syahdan meminum teh manis setelah menjawab.


"Apa pernah maskapai kita mengambil awak pesawat dari agencynya?" tanya Kasandra yang kembali sambil makan.


"Sudah tidak terhitung lagi, Sandra," jawab Syahdan. Tidak ingin tahu dengan tujuan segala pertanyaan Kasandra.


"Sandra, makanku sudah selesai. Akan kuhabiskan sisa istirahatku di Masjid bandara," ujar Syahdan. Telah berdiri dan bersiap pergi.


"Tunggu, aku ingin bicara sebentar, pak Syahdan. Duduklah," ucap Kasandra dengan tegas.


"Ada apa Sandra?" tanya Syahdan yang sudah duduk semula di kursinya.


"Papa memberi pesan, dalam waktu dekat akan datang kembali ke Surabaya. Dan ingin mengundang makan malam bersama kamu, dan juga bersama istrimu. Kuharap kamu siap memenuhinya kapanpun itu, pak Syahdan," terang Kasandra dengan tegas.


Syahdan terdiam tanpa respon sepatah kata pun. Hanya memicing matanya pada Kasandra dengan tajam.


"Sudah? Aku harus segera ke Masjid, Sandra." Syahdan telah berdiri.


"Oke. Silahkan. Jangan lupa segera kembali ke ruang kerja kita, pak Syahdan," jawab Kasandra tersenyum menggoda. Menyodor tangan lentiknya ke arah pintu keluar di kantin, tanda relanya melepas Syahdan untuk beranjak pergi duluan.


Syahdan bergegas jalan meninggalkan kantin menuju Masjid di bandara. Meski menunjuk ekspresi tak peduli, sebenarnya sangat berfikir pada pemberitahuan Kasandra barusan. Boss besar menginginkan bertemu dengan Ratria dengan alasan makan malam.


Untuk apa,,, Syahdan yakin, sedang ada rencana yang akan menyusahkan lagi dari boss besar untuk dirinya!

__ADS_1


__ADS_2