
Lelaki yang mendadak merasa gerah berlipat-lipat itu baru selesai mengguyur badan dengan lambat. Dengan sekalian menunai isya'nya di mushola mini dalam kamar. Kini nampak fresh mengenakan baju santai yang melekat pas di badan atletisnya yang tegap.
Syahdan menyalakan televisi dan membiarkan saja tanpa mencari saluran terbaik yang mungkin akan disukai. Sepertinya menyalakan benda hitam kotak itu hanya kelatahan tangan dan sekedar ingin mengusir hawa sepi di kamar.
Kedua bola mata tajam tidak menatap ke layar televisi, tapi menunduk pada layar ponsel di tangan. Ada sesuatu yang mungkin sedang sangat dipikirnya.
Asisten Andi telah mengabari dari Blitar jika semua dokumen baru yang mengiringi pengeluaran buku nikah telah terbit dan diterima. Diantaranya meliputi Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga yang berisi nama Ratria dan dirinya. Yang dalam kedua tanda pengenal itu, Ratria diakui tinggal dan beralamat di Surabaya mengikuti alamat Syahdan begitu saja. Dan Syahdan merasa bersalah karenanya.
"Syahdan,,!!"
"Dan,,!"
"Dan,! Ayo keluar, makan!"
Itu adalah panggilan bu Anisa dari luar kamar. Sang ibu merasa jika Syahdan begitu lama berada di kamar dan tidak kunjung keluar. Sedang Khairy dan Kahfi bahkan sudah selesai makan dengan santai. Tapi si sulung tidak juga nampak batang hidung mancungnya di meja.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Hampir satu bulan Ratria magang di PT Telkom dengan selalu bersemangat...
"Rat, tadi ada pesan dari mas Hendra. Kamu diminta ke ruangan dia setelah selesai makan siang," ucap seorang perempuan dan lalu duduk makan di depan Ratria yang baru saja mengangguk.
"Kapan mas Hendra bilang, mbak,,?" tanya Ratria. Memandang Silva, teman seangkatan sesama magang namun lebih tua dua tahun darinya.
"Baru saja, pas aku lewat di depan ruang kerjamu menuju kantin," terang Silva sambil membuka kotak nasi yang merupakan jatah makan dari Telkom.
"Paling-paling diminta KTP kita. Soalnya aku juga baru diminta oleh ketua divisiku. Buat pengesahan terbaru sebelum gajian. Biar yakin kita nggak melakukan pemalsuan data apa pun. Memang ketat lah," terang Silva sebelum meluncurkan sendok berisi nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
"Iya, mbak. Gajian pertama kamu akan ke mana, mbak,,?" Ratria tersenyum sangat cerah. Serasa berdebar mengingat sebentar lagi akan merasa menerima gaji pertamanya.
__ADS_1
"Baiknya ke mana ya, Rat. Yuk barengan ke Blikot, Rat. Kuliner di alun-alun asik juga lho. Simpel," jawab Silva juga nampak bersemangat.
"Sekalian mampir ke makam yuk, mbak. Orang jauh saja datang. Kita orang dekat malah nggak pernah ziarah. Ha..ha.." ucap Ratria tertawa dengan fakta adanya.
"Betul, Rat. Udah dimerdekakan susah payah, buat nengokin makamnya aja ogah. Hi,,hi,,," timpal Silva merasa kurang sadar diri.
Yang mereka maksud adalah ingin ziarah ke makam proklamator Indonesia yang ada di sekitar Blitar kota, yakni bapak Soekarno. Salah satu diplomat pejuang sekaligus pemerdeka bangsa dan negara Indonesia dari cengkeraman senjata bangsa-bangsa gila. Yang kemudian diangkat sebagai presiden negara yang pertama. Berdampingan dengan bapak proklamator satunya, yakni bapak Hatta yang tercinta!
🍃🍃🍃
Ratria sudah berdiri di ruangan Hendra dan tepat di depan meja kerja atasannya.
"Duduk, Ratria," ucap Hendra dengan lembut dengan pandangan redup pada Ratria.
"Keluarkan KTP kamu, Rat. Jika sudah gajian, kamu ingin ke mana?" Hendra tersenyum.
"Ingin ke alun-alun kota, mas. Sama Silva," ucap Ratria dengan senyum. Mengulurkan lembar KTP yang sudah disiapkan diam-diam di saku seragamnya.
"Bener mas Hendra mau ikut,?" Ratria memastikan. Ternyata dirinya tidak keberatan. Hendra mengangguk dan tersenyum dengan lega.
"Tapi kutanya mbak Silva dulu, mas. Soalnya kita mau motoran ke Blikot, dia yang bonceng aku, mas," terang Ratria dengan wajah harap makhlum.
Sekali lagi Hendra mengangguk, wajahnya nampak sedikit kecewa. Lalu menekan-nekan papan keyboard di komputer. Sesaat terdiam. Tiba-tiba ada kerut di dahinya. Diulang kembali menaip keyboard dengan memandang KTP Ratria seksama. Dahi itu semakin berkerut. Hendra memandang Ratria.
"Rat, apa kamu sedang mengurus KTP baru,?" tanya Hendra terheran. Ratria menggeleng cepat-cepat.
"Enggak kok, mas. Lagian buat apa aku buat lagi. Itu kan sudah seumur hidup, ada apa, mas,?" tanya Ratria dengan ikut terheran.
"Nomor Induk Kependudukan alias NIK di Ka Te Pe kamu invalid, Rat," terang Hendra sambil menimang-nimang kartu dengan foto gadis anggun di tangannya.
"Lho, invalid gimana, mas? Aku benar-benar nggak ngurus yang baru," terang Ratria dengan bingung.
__ADS_1
"Coba aku ulang sore nanti, Rat. Jika tetap gagal, kamu pergi ke rumah pak RT saja biar cepat. Minta surat keabsahan ka te pe kamu ini. Kutunggu ya, Rat." Hendra mengulurkan kembali KTP itu kepada Ratria.
Ratria menerimanya dengan bingung. Lalu berdiri barbalik akan keluar dari ruangan Hendra. Bahkan lupa tidak berpamitan. Beberapa kemungkinan sedang berputar di kepala yang berkerudung cantik itu.
"Mas, apa bisa ya, ka te pe itu tiba-tiba berubah dengan terproses sendiri,?" Ratria berbalik lagi tak jadi melangkah. Hendra nampak berfikir sesaat.
"Mungkin bisa dengan keadaan tertentu, Rat," jawab Hendra sambil nampak berfikir.
"Apa keadaan tertentu itu seperti kematian, dan..." jawaban yang sudah di ujung lidah itu ditahan Ratria.
"Pernikahan mungkin bisa jadi, Rat. Atau tiba-tiba jadi presiden, ha,,ha,,ha," mas Hendra telah menyambung ucapan Ratria di kalimatnya yang pertama.
Ratria merasa dirinya sedang agak berputar-putar. Segera bergeser sedikit agar sensasi peningnya menghilang.
"Mas, aku permisi dulu. InsyaAllah, jika hingga sore masih invalid, aku tanya ke pak RTku, ya."
Ratria pamit dan berbalik melangkah pergi dari ruangan Hendra dengan gontai. Sadar jika dirinya sedang mulai mendapat masalah dari pernikahannya bersama si pemaksa, Syahdan. Gadis cantik berkerudung saat kerja itu merasa sangat kesal hatinya.
🍃🍃🍃
Hingga waktu mengisi absensi kepulangan, Hendra memghampiri dan mengatakan bahwa hasil enter NIK KTP Ratria masih sama juga hasilnya, INVALID. Ratri pulang dengan berjuta rasa yang menekan. Sedih, bingung, marah dan serba tidak ada kepastian.
Silva tadi sempat bercerita jika salah satu temannya yang bekerja di bagian kantor pemerintahan, terpaksa dihentikan kerja. Sebab dalam masa magang telah berganti status di KTP, dari gadis menjadi status kawin. Dan pihak kantor tidak bisa menerima alasan apapun yang diberikan.
Sebab inilah Ratria merasa sedih dan galau. Yakin jika dirinya pun sedang terancam bermasalah. Dan kemungkinan terburuk adalah berujung pemecatan. Ah, rasanya begitu resah.
🍃
Pak Eko menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah Ratria. Ada sebuah mobil yang terparkir di luar pagar, agak di depan dari pak Eko menghentikan motornya.
"Mobil siapa ini, ning ? Sepertinya tamu di rumahmu," tanya pak Eko berkomentar. Ratria memggeleng.
__ADS_1
"Tidak tahu, pak. Siapa ya,,?" ucap Ratria balik bertanya. Sambil mengulurkan uang dua puluh lima ribu rupiah pada pak Eko. Dan lelaki itu melaju pergi setelah menyimpan uang lalu berpamitan pada Ratria.