Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
40. Vario's Story


__ADS_3

Perban itu sudah dibalut menipis dan tidak nampak tebal lagi. Mungkin untuk menjepit sandal pun sudah muat. Jika kemarin memang begitu tebal hingga memenuhi sela-sela jari kaki.


Wajah cerah dan cantik berbingkai kerudung itu nampak kian sumringah dan berseri. Tidak sia-sia doa dan usahanya bersama Syahdan dua hari belakangan ini begitu gencar dilakukan.


Dokter sangat takjub dengan kemajuan kondisi luka di jempol kaki Ratria yang bahkan disebutnya sangat ajaib. Menyatakan jika sembilan puluh persen peluang, kemungkinan jempol kaki Ratria akan bertahan dengan sang tuan tanpa ada prosedur pemotongan ataupun pembuangan.


Sebab proses sembuh yang kategori mencengangkan itulah, dokter mengundurkan jadwal kontrol terakhir. Dari dua hari kemudian, menjadi lima hari kemudian.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Vario membawa mobil dinas warna merah itu memasuki latar parkir di daerah pesisir Sidoarjo. Yang sebenarnya tidak jauh dari lokasi bandara Juanda, hanya tempatnya saja berseberangan dan saling membelakangi.


"Kita di mana, mas?" tanya Ratria dengan takjub. Kepalanya sedang berkeliling memandangi hamparan laut pesisir yang tenang di seberang jalan raya.


"Masih di sekitar bandara, Rat. Di Sidoarjo. Kita makan dulu," Jawab Vario sambil menutup pintu mobil.


"Kita di Sidoarjo,? Eh,,iya,,ya,," tanya Ratria. Dan dibenarkan sendiri juga rasa herannya.


"Iya, Rat. Kenyataannya Juanda memang berlokasi di Sidoarjo, bukan Surabaya," Vario paham dengan kebingungan Ratria. Itu memang kesalahan umum yang telak namun sudah sangat lumrah.


"Tapi orang-orang, termasuk aku, sangat latah, mikirnya selalu di Surabaya," Ratria menyadari kesilapannya dengan tersenyum merasa lalai.


"Memang.. Hampir semua begitu. Tapi yang penting paham sajalah," pungkas Vario. Dan Ratria mengangguk untuknya.


Vario dan Ratria telah duduk di rumah makan terbuka dengan bermandikan angin pesisir yang sepoi. Memesan dua buah kelapa muda jumbo dengan menu makan kepiting saus pedas panggang untuk Vario, dan ikan bakar kecap pedas untuk Ratria atas pilihannya sendiri.


"Ratria,," panggil Vario dengan wajah yang serius.


"Iya, mass,," sahut Ratria. Memandang bertanya pada Vario.


" Rat, jujurlah. Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dariku?" tanya Vario. Wajah tampan kusutnya nampak menatap menyelidik pada Ratria.


"Mas Rio, kenapa bertanya begitu,?" Ratria pura-pura tidak paham.


"Kenapa kamu kemarin tiba-tiba pulang? Tidak menungguku dulu?" Vario nampak berusaha bersabar.

__ADS_1


Wajah cantik berkerudung itu sebentar menunduk dan sebentar membuang pandangan ke arah laut di pesisir.


"Rat,," tegur Vario. Ratria memandang dan menegakkan duduk di kursinya.


"Mas, aku ingin tanya. Ibu pernah menyimpan fotoku saat aku masih SMP. Saat aku dirias jadi putri raja di karnaval Wlingi dan duduk di kereta. Ibu bilang foto itu hilang. Dicari hingga sakit kepala pun tidak ketemu. Tapi ternyata foto itu kamu simpan. Kenapa mas Rio nggak bilang pada ibu?" tanya Ratria dengan nada yang lembut.


Vario membuang pandangan sejenak. Lalu memandang Ratria dengan mengangguk.


"Aku minta maaf, Ratria. Mungkin setelah aku jujur, kamu akan lebih kecewa padaku. Tapi kuharap kamu mau memahami penjelasanku," jawab Vario. Memandang segan pada Ratria.


"Coba mas Rio jelaskan, aku sangat ingin tahu," sahut Ratria dengan sabar. Mencoba paham dengan apapun penjelasan yang akan Vario katakan.


"Foto itu aku ambil dari adik lelaki kita, Bravo. Dia bawa-bawa foto kamu ke kamarku. Waktu itu aku sedang cuti. Dan fotomu itu sudah kubeli darinya. Waktu itu Bravo ku kasih duit dua puluh ribu. Aku belum kerja, Rat. Masih SMA, nggak punya duit banyak," Vario nampak tersenyum sangat lebar. Bahkan Ratria pun juga ikut tersenyum.


"Lalu, kenapa di fotoku ada tanda love, siapa yang ngasih tanda itu, mas ??" tanya Ratria sambil terus tersenyum. Kini hatinya sudah mulai menghangat. Rasa kikuk, kaku atau juga risih pada Vario pun perlahan terkikis.


"Akan kuceritakan padamu dari awal, Ratria. Kamu boleh kecewa, membenci atau juga menertawakanku. Bebas, Rat,,," Vario tersenyum dan mulai bercerita.


Banyak tahun yang lampau...


Meskipun masih duduk di bangku kelas lima SD, Vario dan teman-teman lelaki juga mengidolakan perempuan cantik di SDnya. Dan Vario juga ikut menyukai gadis kecil kembang SD yang masih duduk di kelas dua secara diam-diam.


Gadis itu sangat populer di antara lelaki-lelaki kecil SD itu. Vario terus menyukai dalam diam hingga bertahun lamanya. Bahkan mengambil foto bersama yang tersimpan di album sekolah.


Vario melanjutkan SMP plus pesantren di Blitar kota. Saat itulah dia baru paham bahwa gadis yang disukainya itu, Ratria, ternyata adalah saudara tirinya sendiri. Ratria sudah mulai berani mencuri datang ke rumah dinas ayah Vario untuk berjumpa sang ibu.


Sejak saat itu Vario berusaha menghilangkan rasa sukanya pada Ratria. Selalu memberi pandangan tidak ramah pada Ratria. Dan dirinya sadar jika Ratria ketakutan. Gadis cilik itu akan buru-buru pulang jika ada dirinya di rumah sedang liburan.


Hingga dirinya duduk di bangku SMA Surabaya, saat liburan di perkebunan, si bungsu Bravo membawa foto Ratria itu ke kamarnya. Vario merasa sayang jika foto itu tergunting. Sebab Bravo membawa gunting dan sedang hobi menggunting segala benda.


Foto Ratria tak sengaja terselip di buku pelajaran yang kemudian terbawa hingga ke Surabaya. Teman sebangku menemukan dan langsung meledek sambil memberi tanda love di belakang foto Ratria yang cantik itu.


Seperti itulah,,,


"Ha,,,ha,,,ha,," Ratria terus saja tersenyum dan tertawa. Tidak tahu bagaimana berkomentar. Hanya ingin tertawa saja di sepanjang Rio bercerita padanya. Rio pun juga sama. Tersenyum dan tertawa seperti halnya Ratria.

__ADS_1


"Jadi, apa sekarang mas Rio masih menyukaiku,,? ha,,,ha,,,ha,,!!" Ratria menggoda Vario.


"Apa boleh,,,?" Vario balas menggoda yang kemudian tertawa.


"Enggak, Rat. Kamu ini adikku. Aku adalah kakak lelaki kamu yang lurus. Nggak doyan aku sama kamu, Rat,,!" Vario menghempaskan sisa tawanya. Kemudian meneguk air kelapa sebab tenggorokannya sangat kering. Selalu sambil tertawa dari awal bercerita hingga cerita berakhir saat ini.


Ratria tersenyum merasa senang. Kakak tiri lelaki yang biasanya tanpa senyum dan tawa. Kini nampak gembira dan tak berhenti membuka mulut dan bibirnya.


"Lalu, teman mas Rio yang nulis tanda love itu, sekarang di mana,?" tanya Ratria tersenyum.


"Aku tak tahu, Rat. Mungkin sudah menikah. Banyak temanku yang sudah menikah dan punya anak," sahut Vario.


"Mas Rio sendiri kapan menikah? Pramugari melimpah ruah di bandara itu memang tidak ada yang menarik?" tanya Ratria. Yakin jika Vario banyak yang menyukai. Vario sangat tampan dan gagah.


"Doakan aku lah, Rat. Doakan agar jodohku mendekat," ucap Vario sambil menengadah ke atas. Langit sangat biru menghampar di angkasa laut pesisir Sidoarjo.


"Iya, mas. Aku doakan. Mas Rio cepat berjumpa dengan calon kakak iparku yang cantik dan berakhlaq baik yaa..." Ratria berucap sungguh-sungguh pada Vario.


"Aamiin. Thanks ya, Rat," sambut Vario.


Lelaki itu berdiri dan pergi dari meja menuju tempat pembayaran.


"Pulang, Rat. Kurasa pak Syahdan sedang istirahat siang. Bisa jadi dia akan pulang melihatmu. Kamu tenang saja, Judith akan kubuat padat terbang," ucap Vario penuh maksud. Ratria memamdang tidak paham.


"Judith padat terbang? Maksudmu apa, mas?" tanya Ratria kemudian. Mereka berjalan menuju parkiran.


"Menikah itu usahakan sekali saja. Pak Syahdan adalah lelaki yang cukup sempurna. Ambil hatinya, Rat," ucap Vario menyarankan. Mereka telah bersiap meluncur.


"Tapi aku bukan pelakor, mas Rio," ucap Ratria mengeluh.


"Tapi pak Syahdan sudah menikahi kamu, Rat. " sanggah Vario serius.


Ratria terdiam dan tidak lagi menimpali. Vario melaju agak kencang membelah jalan raya yang lengang siang itu.


Ucapan Vario padanya agar menikah satu kali saja, cukup mengganggu kepalanya. Apakah mungkin jika jodohnya adalah pak Syahdan,,?

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2