
Pendingin yang sudah diaktifkan oleh pemilik rumah kini mulai bekerja. Hawa di ruang TV yang banyak detik lalu terasa sangat gerah, kini perlahan terasa sejuk dan nyaman.
Begitu juga dengan Ratria, yang tadi merasa begitu tegang, kaget dan berontak tidak tenang, kini nampak bungkam dan mulai duduk diam tanpa gerakan di pangkuan Syahdan. Hanya merespon terkejut sebab tangan Syahdan yang menempel mulai bergerak dan seperti sengaja menggelitik.
"Kamu ingin berbincang apa, pak Syahdan?" Ratria tidak menegur atau menghindari tangan Syahdan. Seperti sadar jika lelaki di belakangnya memang berhak memegangi dirinya.
"Katakan dengan jujur. Apa alasanmu bilang jadi tidak suka dengan hadiah sepatu dari adikku?" tanya Syahdan. Sambil terus bersiaga memegangi pinggang dan perut Ratria. Tidak ingin jika Ratria tiba-tiba berdiri dan pergi.
"Aku tidak bisa memakainya. Kakiku sakit," jawab Ratria. Hanya suaranya saja yang terdengar dan bersaing dengan suara televisi di depan mereka yang terus saja menyala.
"Jangan bohong, Rat,!" hardik Syahdan. Memandang gemas punggung mulus yang sedang terlihat sebagaian. Dengan rambut indah yang sangat wangi menggiurkan.
Syahdan sedikit menggerakkan satu jari tangan di bagian perut dan tepat di lubang pusarnya. Dan Ratria terkejut menggeliat.
"Pak Syahdan aku geli,,!! Aku ingin turun,,! Kita berbincang dengan duduk di sofa saja,,!!" Pekik Ratria sambil terus bergerak. Dan terdiam saat tangan Syahdan juga diam.
"Jawab dengan jujur, Rat. Jangan bohong lagi. Atau kamu pilih ku gelitiki perut kamu hingga kaku ?" Syahdan tersenyum di belakang punggung Ratria.
"Jangat jahat, pak Syahdan."
"Sebab,, aku segan padamu. Sepertinya kamu tidak suka jika adikmu membelikanku barang mahal. Aku tahu diri pak Syahdan," jujur Ratria dengan perasaan hatinya.
"Ah, Ratria! Bukan seperti itu!" seru Syahdan.
Dipeluknya erat perut Ratria dengan menempelkan diri di punggung wangi itu. Syahdan sedang mengendusi punggung dan rambut Ratria sepuasnya. Dengan was-was dan risau jika Ratria tiba-tiba kembali berontak, menghindar atau bahkan marah. Tapi ternyata tidak, Ratria diam dan membiarkan perlakuannya.Syahdan diam-diam merasa terheran sekaligus bergembira.
"Lalu, kenapa? Pak Syahdan seperti tidak suka,," keluh Ratria. Diam-diam juga merasa berdebar yang sangat dan geli. Bahkan risau jika Syahdan mendengar detak laju di dadanya.
"Kamu terlihat suka dengan sepatu branded yang dibelikan Kahfi. Tapi waktu kamu beli baju dalam branded dengan uang dariku, kamu tidak mengakui, kamu tidak terima, Rat." keluh Syahdan juga sesuai dengan perasaannya.
__ADS_1
"Kamu pun tahu itu branded? Oh, pak Syahdan kamu sangat dekat dengan Judith," keluh Ratria dengan lirih. Namun Syahdan juga mendengar. Semakin dipeluknya Ratria.
"Bukan seperti itu juga, Rat. Tapi aku juga memilih brand yang sama denganmu." jujur Syahdan dengan tersenyum.
Ratria diam-diam tersenyum merasa malu sendiri. Waktu itu memang kurang paham dengan pilihannya. Total belanja dengan nominal jutaan rupiah yang harus dibayar, tentu saja uangnya kurang. Terpaksa menggunakan uang pemberian Syahdan di amplop yang memang sebagai uang cadangan dalam tasnya.
"Baiklah, pak Syahdan. Terimakasih ya, waktu itu secara tidak sengaja, kamu membayari belanjaku yang ternyata aku pun tak sanggup membayar sebab uangku memang kurang. Apa kamu suka?" tanya Ratria dengan tersenyum tegang dan berdebar.
"Bukan maksudku mengungkit, Rat. Aku hanya ingin kamu juga bersikap adil pada pemberianku. Jadi kamu terima saja hadiah dari adikku, tapi kamu juga harus menerima apa saja jika kapan pun aku memberimu sesuatu. Bagaimana?" tanya Syahdan. Kemudian menggesekkan wajah di punggung Ratria kembali.
"Aah,,, geli,pak Syahdan,," rintih Ratria sambil menggeliat. Tak kuasa menanggapi pertanyaan Syahdan barusan. Lelaki itu tidak hanya menciumi punggungnya. Tapi juga mengelusi perutnya memutar. Ratria benar-benar sedang merasa sensasi yang baru dari sentuhan seorang lelaki di sepanjang usianya.
Pendingin ruangan yang telah berfungsi maksimal tidak mampu lagi menahan aliran darah yang menghangat di antara mereka.
Ratria juga merasa jika Syahdan telah berkelakuan seperti drakula. Mungkin lelaki itu sedang tidak lagi menciumi, tapi sedang menyesapi punggungnya. Nyeri dan geli sedang di rasakannya, namun merasa jika itu bukanlah sakit, tapi rasa yang nikmat..
Serba salah pada keinginannya untuk berbuat lebih dan jauh. Namun kerisauan pada kemarahan pemilik punggung indah yang begitu banyak dilumat dan disesapi tanpa ada rasa kenyang, justru membuatnya kian dahaga dan gersang, Syahdan masih ingat untuk menahan gerak tangan dan dirinya.
"Ah, Ratria,,," desah Syahdan dengan serak.
"Pak Syahdan, aku ingin turun," pinta Ratria. Yang sebenarnya merasa jika tangan kekar itu sudah sangat longgar dan tidak lagi menguncinya. Tapi Ratria hanya ingin bersuara dan bermanja. Menghempas panas berlebih yang sedang dirasanya.
"Sebentar lagi saja ya, Rat,," sahut Syahdan. Kembali menenggelamkan wajah di punggung dan rambut Ratria merasa enggan mengangkatnya.
Namun merasa tidak nyaman dengan gerakan Ratria di pangkuan. Ratria sedang gelisah. Mungkin gadis yang dipangkunya mulai tidak nyaman dan merasa janggal dengan gerakan aneh di tempat yang didudukinya. Syahdan tidak peduli sesaat meski paham jika dirinya harus cepat pergi saja ke kamar mandi.
"Pak Syahdan, turunkan aku. Aku merasa pegal, sepertinya kesemutan,," Ratria berkata lirih dan merasa kesusahan.
"Iya, Rat. Turunlah. Jangan masuk kamar. Temani aku nonton di sini," jawab Syahdan melepaskan pelukannya di perut. Tangan kekar berotot itu ternyata cukup sopan. Tidak bergeser jauh-jauh dari perut. Sebab tunduk pada rasa takut pemiliknya jika gadis yang dipangkunya akan murka dan menjauh.
__ADS_1
Diletaknya Ratria duduk di sebelahnya perlahan. Mereka saling memandang dan seperti salah tingkah. Wajah keduanya sedang sama-sama memerah.
"Pak Syahdan, aku ingin tidur di kamar saja ya. Besok adalah jadwal kontrol kakiku. Aku takut jika kurang istirahat, akan berpengaruh dengan kondisi kakiku." terang Ratria dengan lembut. Berusaha menyantaikan sikapnya kembali. Serta mematah kekakuan di antara mereka berdua.
"Oh, besok jadwal kamu pergi periksa, Rat?" tanya Syahdan terkejut. Ratria mengangguk.
"Iya, pak Syahdan. Jika sibuk, aku bisa pergi periksa sendiri. Kamu jangan khawatir, aku bisa kok, pak," terang Ratria buru-buru. Ingat jika Syahdan sedang repot dan tidak ingin menambah kerepotan.
"Bukan itu, Rat. Tentu saja aku akan mengantar kamu. Tapi aku hanya ingin tahu, apa kamu tetap akan minta pulang ke Blitar jika dokter sudah melepasmu?" tanya Syahdan dengan wajah kian tegang.
Ratria nampak berkerut dahi dan mengerjapkan mata berkali-kali.
"Eh,,, Iya, pak. Aku ingin pulang," jawab Ratria dengan pelan. Namun tidak bertanya, apakah Syahdan membolehkannya pulang ke Blitar ataukah tidak. Dada Ratria kembali berdebar lebih kencang.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
πππππππππππ
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Terimakasih hadiah VOTE darimu ya kak...
Terimakasih juga tinggal jejakmu..
Yang VOTE nya belum dipakai.. Lepas aja di sini yooooo... author benar2 mengemis VOTE Senin padamu...πππ
Juga Terimakasih yang ingat memencet kolom "minta update" untukku ya...
πππ
__ADS_1