Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
70. Naik Jabatan


__ADS_3

Pagi setelah menghabiskan sarapan bersama Ratria, Syahdan berangkat kerja dengan minta diantar hingga di pintu saja. Asisten rumah sudah datang pagi-pagi dan membuat menu sarapan untuk mereka berdua.


"Rat, istirahat di rumah ya. Perutmu masih sakit?" tanya Syahdan sambil memakai sepatu di depan pintu.


"Enggak lagi, pak Syahdan. Mungkin karena lapar dan masuk angin," terang Ratria.


"Kenapa tak bilang jika tidak suka sayur terong? Semalam aku tidak tahu jika kamu hampir tidak makan di rumah kakung," keluh Syahdan.


"Nggak papa, sekarang sudah enak lagi rasanya. Aku memang kurang berselara makan semalam dan seperti inilah jika aku sedang datang bulan," terang Ratria.


Syahdan telah selesai bersepatu. Berdiri tegak dan memandang Ratria dengan muka agak tegang. Mata tajamnya menyimpan maksud yang terpendam.


"Rat, istirahatlah. Tapi lepaslah dulu suami kamu pergi kerja dengan baik." Syahdan meminta dengan senyum. Wajah cantik itu jadi memerah. Dengan lambat Ratria mengambil tangan Syahdan dan menciumnya.


"Sudah," ucap Ratria dengan wajah yang berpaling.


"Hanya begitu?" goda Syahdan.


"Daripada enggak,,, dan ada mas Arka di depan," jawab Ratria lirih. Namun dadanya sedang bergemuruh dengan bising.


Tiba-tiba dengan cepat Syahdan memajukan wajah untuk mencium keningnya.


"Aku berangkat, Rat. Assalamu'alaikum!" Syahdan berpamit sapa dan cepat berbalik. Seperti merasa malu dengan tindakannya sendiri.


Sedang Ratria juga masih terpaku di tempat. Merasa tak percaya dengan kehidupan pernikahannya bersama Syahdan telah mengalami perubahan cukup pesat. Dan perubahan yang diakui sebagai kemajuan menuju kebaikan rumah tangga mereka berdua di masa depan yang cerah.


🍃🍃🍃


Ruang tertutup dan sangat bersih hygenis serta wangi karbol menyegarkan, sedang ada tiga kepala di dalamnya. Syahdan sedang bertemu pribadi dengan bos besar yang ternyata masih datang bersama putri cantik seksinya. Mereka sedang membahas sesuatu yang terlihat cukup serius. Wajah tampan Syahdan nampak tegang dan bimbang.


"Syahdan, aku sangat puas dengan dedikasi kerjamu. Aku serius memberikan peluang ini untukmu. Dan aku sangat tidak suka mendapat penolakan. Pikirkan kembali dan jangan membuatku kecewa, Syahdan," ucap bos besar dengan sangat tegas. Mungkin ini adalah paksaan halus bagi Syahdan.


"Banyak bonus untuk kamu. Rumah mewah, tabungan melimpah, kendaraan mewah dan lain-lain yang akan segera kamu dapatkan. Dan mobil yang sudah kamu terima itu adalah hadih sangat kecil dariku," sambung bos besar dengan pandangan yang tajam.


"Terimakasih, presdir," ucap Syahdan dengan segan dan hormat.

__ADS_1


"Dan semenjak hari ini, putriku Kasandra, akan mendampingi kamu sebagai sekretaris pribadimu. Ini adalah fasilitas istimewa untukmu dariku. Jangan kamu kecewakan aku dan putriku, Syahdan." Bos besar memberi sebuah tekanan pada manager terbaiknya kembali.


Syahdan yang tidak menyangka mendapat sebuah tawaran menggiurkan sebagai manager bagus serta terpilih, diam-diam justru merasa dirinya sedang dalam bahaya simalakama.


Tawaran untuk naik jabatan sebagai manager pusat yang mengepalai seluruh manager cabang daerah, justru seperti telah mematikan langkah dan kariernya.


Apalagi harus bergandengan dengan sekretaris sekaligus putri bos besar yang bisa saja menumbang iman kapan saja padanya. Syahdan sangat paham tujuan bos besar yang mencoba menyodorkan sang putri padanya. Lalu, akan di kemanakan pernikahannya bersama Ratria?


Sayang sekali bos besar tidak berkata terus terang pada maksudnya. Dan Syahdan pun tidak bisa menolak terang-terangan akan hal itu dengan cepat.


"Syahdan, nanti malam aku akan terbang menuju Singapura. Mulai detik ini, ruang kerja kamu telah berpindah ke sini, dan Kasandra akan mendampingimu. Arahkan putriku pada atitude dan standart kerja yang tepat dan bagus. Jangan bimbang untuk mengoreksi cara kerja Kassandra, Syahdan," tegas bos besar sekali lagi. Syahdan nampak terkejut.


"Apa, presdir? Serta merta saya sudah harus berpindah ke ruang kerja baru ini? Ini ruangan anda, saya merasa tidak layak. Mohon maaf, saya tidak nyaman, presdir," Syahdan sedikit menunduk.


"Saya juga sangat tidak paham dengan tugas dan spesifik kerja sebaga kepala managerial seluruh cabang. Ketidak cakapan saya itu pasti akan mengancam eksistensi maskapai besar anda ini, presdir,," Syahdan menolak halus pada kenaikan jabatan mendadaknya.


"Jangan berfikir pesimis, Syahdan. Aku tidak asal mengangkat jabatanmu. Sudah kusiapkan orang yang kompeten mendampingi kamu. Kasandra akan menunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan dan lakukan. Dia adalah sekretaris multi talenta dan tentu saja tidak sembarangan. Jangan lupa dia adalah putriku." Presdir menerangkan dengan tegas dan jelas.


"Kudengar kamu sudah menikah?" tanya presdir tiba-tiba.


"Itu tidak masalah untuk posisi kamu, Syahdan." Presdir kembali menegaskan.


"Kamu kurasa cukup pintar mengatur waktu. Antara bersama istrimu, dengan tugas barumu. Yang tentu saja kamu akan sering bepergian ke anak cabang di kota lain, dan tentu bersama Kasandra tentunya," jelas presdir lagi.


Yang bagi Syahdan itu adalah peringatan bahwa dirinya harus pandai dan bijak membagi waktu antara Ratria dengan Kasandra. Merasa kian kelabakan dengan wacana naik jabatan tiba-tiba dari sang presdir.


Juga merasa kian janggal. Untuk apa menyediakan sang putri di posisi sekedar jadi sekretaris pribadi untuk Syahdan. Dari percakapan tadi, jelas nampak jika Kasandra telah lihai pada apapun masalah di perusahaan sang ayah. Kenapa tidak meletak putrinya sendiri di posisi jabatan yang justru diberikan padanya? Syahdan merasa serba salah tidak nyaman.


🍃


Sang presdir telah kembali ke hotel demi persiapan penerbangan nanti nalam menuju ke Singapura. Meninggalkan sang putri seksi bersama manager pusat yang baru saja diangkat dengan cepat. Hanya menunggu waktu resmi pengangkatan yang akan dipersiapkan sendiri oleh Kasandra kemudian.


Ruangan nyaman sangat luas, bahkan terdapat tiga buah pintu yang Syahdan yakin pasti sebuah kamar di antaranya.


Kasandra nampak sedang membuka koper kecil di sofa. Mengacuhkan Syahdan bersama rasa mimpi dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Pak Syahdan, saya akan berganti baju di sini, apa anda keberatan?" tiba-tiba Kasandra bertanya. Suara dan nadanya begitu merdu mendayu.


"Oh, silahkan, Kasandra. Kamu bebas melakukannya!" sambut Syahdan. Berusaha menyembunyikan kejutnya.


Wanita cantik, anggun dan nampak matang itu dengan santai membuka baju atasan dan menukar dengan baju lain di depan Syahdan begitu saja. Syahdan buru-buru membuang pandangan, tidak menyangka Kasandra akan bertukar baju secepat itu di depannya.


Putri pewaris itu membawa koper munuju salah satu pintu kamar setelah selesai bertukar baju di luar kamar. Yang keluar lagi dari kamar dengan cepat. Dan Syahdan menggelengkan kepala dengan kelakuan vulgar Kasandra tadi di depannya.


"Kurasa aku akan memberi pengarahan singkat padamu, pak Syahdan. Sekaligus apa saja yang harus kamu kerjakan,,kamu lakukan,, serta kamu persiapkan dari jauh-jauh hari di posisi barumu ini." Kasandra telah duduk tepat di depan Syahdan. Rasanya sangat aneh,,memang benar Kasandra bukan sekedar sekretaris. Tapi adalah bos besar yang sesungguhnya.


"Bagaimana jika aku membuat kesalahan fatal? Sedang aku memang tidak siap dengan posisi baru ini, Sandra?" ucap Syahdan memancing. Berusaha nampak biasa pada putri bos besarnya.


"Jangan khawatir, pak Syahdan. Itu akan mudah diperbaiki bersamaku," jawab Kasandra dengan senyum simpul dan tatapan bermaknanya.


Kasandra berpenampilan lebih menggoda dan seksi lagi sekarang. Atasan lengan pendek tipis itu tidak mampu menyamarkan bukit yang tanpa penutup di baliknya. Begitu jelas menyembul dengan dua puncak yang menonjol. Syahdan istighfar dalam hati. Sungguh merasa sesak dirinya. Mengakui jika dirinya adalah lelaki sangat normal dan bisa saja menjauh dari taqwa kapanpun tiba-tiba.


"Maaf iku ingin tahu sedikit dengan wanita terhormat sepertimu yang rela tinggal jauh di kota sekecil Surabaya atau Sidoarjo ini. Apa suami kamu tidak keberatan?" tanya Syahdan. Tidak ingin membuang-buang waktu untuk mengetahui segalanya.


Kasandra terdiam sejenak, menelisik wajah Syahdan dengan kedua matanya yang indah.


"Aku sudah berpisah dengan suamiku beberapa bulan yang lalu. Namun kini mantan suamiku sedang sangat mencariku," terang Kasandra terus terang dengan lancar.


"Kenapa? Dia ingin kembali padamu?" tanya Syahdan. Merasa penasaran dan menarik.


"Bukan untuk kembali padaku. Tapi untuk mengambil calon bayi di rahimku." Kasandra tersenyum pada Syahdan sangat cantik.


"Bagaimana maksudnya?" tanya Syahdan kurang paham.


"Saat kami berpisah, aku dan mantan suamiku juga tidak tahu jika ternyata aku tengah hamil anaknya. Begitu dia tahu aku mengandung, dokter keluarga kami yang memberitahunya, dia ingin memantauku dan mengambil anak ini setelah kulahirkan," Kasandra menerangkan dengan terus tersenyum. Memandang Syahdan yang tampan dan sangat menarik di matanya.


"Jadi, kamu pergi ke sini untuk menghindari mantan suami kamu?" tanya Syahdan menebak. Kasandra tersenyum dan mengangguk.


"Apa ada hubungannya dengan kenaikan jabatanku serta posisimu sebagai sekretaris pribadiku?" Syahdan bertanya sambil meredupkan pandang matanya pada Kasandra. Berharap jika wanita cantik itu akan berkata turus terang segalanya dengan cepat.


"Iya, ada, pak Syahdan. Tapi ini tidak akan aku katakan dengan cepat. Bagaimanapun, kamu dan aku adalah orang yang saling berasingan. Itulah, aku akan mendampingimu bekerja. Guna meyakinkan, apakah kamu memang pegawai yang tepat atau tidak untuk mendapat penghargaan dari ayahku yang selanjutnya. Selamat bekerja bersamaku, pak Syahdan,"

__ADS_1


Kasandra mengulur tangan pada Syahdan tanpa ragu. Namun meski ragu, Syahdan juga menyambutnya dengan cepat. Mereka telah saling menggenggam dan berjabat tangan dengan hangat. Sebuah perjanjian kerja sama antara atasan dan bawahan yang meragukan telah saling disepakati.


__ADS_2