Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
41. Serba Ungu


__ADS_3

(Nyelip dikit ya....


Beloved readers, kemarin otor update 2 bab. Bab 39 dan 40. Tp otor lalai, keduanya jd bab 40. Barangkali ada yang kelewat/ belum baca. Harap sisir balik yaa..😂😘 Arigato)


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Setelah menolak tawaran Vario untuk mengantar hingga ke dalam. Ratria masuk ke dalam pagar rumah dengan sopir Arka yang standby di teras.


"Assalamu'alaikum,!" sapa Ratria tersenyum pada Arka. Mereka sama-sama tersenyum.


"Bagaimana kakimu, Rat? Dokter bilang apa?" tanya Arka berdiri.


"Alhamdulillah, mas Arka! Aku InsyAllah sudah sehat dan yang paling penting, nggak perlu amputasi." Ratria tersenyum dengan senang.


"Wah, Alhamdulillah, Rat,!" sambut Arka nampak lega.


"Eh, mas Arka juga baru sakit kan? Sakit apa kemarin mas? Sudah enak badanmu,?" Ratria tiba-tiba teringat akan itu.


"Iya, Rat.Thypes, dua minggu lebih aku terkapar. Sekarang pemulihan," terang Arka membenarkan.


"Betul, mas. Sambil olah raga. Biar cepat sehat dan kuat lagi," timpal Ratria.


Arka mengangguk tersenyum dan berdiri. Mengambil sesuatu dari kantung celana dan diulurkan pada Ratria. Ternyata kunci rumah.


"Pak Syahdan masih ikut seminar ke daerah Kenjeran. Aku disuruh ngasih kunci. Tadi lupa katanya. Itu simpan saja, Rat. Pak Syahdan masih ada duplikatnya," terang Arka.


"Terimakasih, mas," sambut Ratria sambil mendekati pintu untuk dibukanya.


Arka mengangguk dan duduk kembali. Lelaki itu merebah di sofa teras guna istirahat sejenak. Menunggu kode dari si boss untuk menjemput jika seminar sudah usai.


Arka dan Ratria sudah saling mengenal cukup baik. Dari menumpang mobil waktu itu, hingga Arka juga jadi salah satu saksi sah di acara nikahan antara dirinya dan Syahdan.


🍃


Sebab rumah terkunci, bu Tina, asisten baru itu datang ke rumah selepas waktu dzuhur. Tepat saat Ratria sedang meminum obat yang baru diresepkan pada kontrol kakinya kali ini. Arka yang belum berangkat mempersilahkan bu Tina untuk masuk saja ke dalam rumah.


" Ning Ratria baru pulang? Tadi saya ke sini rumahnya tutupan," tanya bu Tina dengan terus memandangi Ratria.

__ADS_1


"Iya, bu. Maaf ya, pak Syahdan pasti lupa. Belum terbiasa. Ibu, monggo masuk saja ke dalam. Silahkan,," sambut Ratria dengan memberi senyum ramahnya.


"Ning Ratria manggil suaminya kok pak ya? Bukan mas,,?" bu Tina nampak berkerut heran.


"Eh, iya bu. Aku lupa," Ratria nyengir dan bingung. Sambil memainkan ujung kerudung yang belum ditanggalkan.


"Lho kok bisa lupa, kayak orang baru kenal. Kayak dijodohkan saja, hi,,hi,,hi,," bu Tina tertawa sambil berlalu ke belakang.


Ratria hanya tersenyum sambil menarik bibir bawahnya untuk digigiti tanpa sadar. Dan Arka yang juga mendengar percakapan mereka di teras meski nampak tiduran, sedang ikut tersenyum diam-diam.


🍃🍃🍃


Gadis yang merasa nyaman setelah bertukar baju dan menyisir rambut hingga licin, telah merasa ngantuk yang hebat sebab obat. Juga sebab rasa lelah setelah mencuci semua baju busuk yang telah disimpan selama dua hari yang terakhir. Dua hari yang pertama, Ratria justru sudah mencucinya. Selain merasa diri harus kuat, tapi juga abai dan ketus pada apa yang dilarang oleh Syahdan padanya.


Baru setelah mendapat ultimatum amputasai di saat kontrol itu, Ratria sangat menjaga dirinya, seperti juga apapun yang dilarang Syahdan padanya. Bahkan untuk sekedar mencuci di mesin cuci pun, Syahdan juga melarang. Namun Ratria benar-benar tidak mengizinkan saat Syahdan berniat mencucikan baju kotor miliknya. Selain segan, Ratria merasa sangat malu.


Dan kini telah merebah nyaman dengan suasana remang di kamar. Jendela kayu yang terbuka dengan gorden yang menutup, membuat pencahayaan di kamar jadi syahdu.


🍃🍃🍃


Sang manager yang baru pulang dari kerja lelahnya, tengah membuka pintu kamar dengan sangat pelan. Bu Tina baru saja mengatakan jika Ratria sedang tidur di kamar. Syahdan tak ingin mengganggu tidurnya, meski sangat penasaran dengan hasil kontrol jempol kaki Ratria hari ini.


Bukan lega belaka yang dirasa setelah perlahan masuk kamar. Justru terkesiap dengan apa yang dilihat. Bukan kaki indah atau setengah paha saja yang nampak sekarang. Tapi sebagian celana dalamm ungu tuanya juga melambai. Syahdan merasa kepalanya sangat berat tiba-tiba. Segera dipasangkan selimut yang tersisih menjuntai itu sebelum dirinya pergi meluncur ke dalam kamar mandi.


🍃🍃🍃


Tengah memilih baju di alamari dengan keadaan meresahkan. Punggung besar dan lebar tanpa lemaknya sedang tak berbaju sehelaipun. Hanya berbalut handuk mini putih di pinggul. Lelaki itu berbalik dan akan melepas handuk untuk memakai baju namun diurungkan. Dan kemudian pergi menepi dan menyingkir.


Ratria merasa jika Syahdan tengah berpakaian di belakang dan di dekat pintu kamar. Mungkin Syahdan merasa segan dan tidak nyaman saat sadar jika ada Ratria yang tertidur menghadapnya.


Ceklerk..! Syahdan telah membuka dan menutup pintu kamar. Lelaki itu sedang berjalan di luar kamar.


Ratria tersenyum, sikap lelaki itu jauh beda dengan kesan yang dibandrolkan selama ini. Yang pada awalnya sangat pemaksa, arrogant, bahkan menyakitkan, kini berubah cukup sopan, dewasa dan perhatian.


Tapi..Syahdan sudah jadi kekasih orang..


🍃🍃🍃


Hujan yang turun deras tiba-tiba, mengharuskan Ratria untuk bangun cepat - cepat. Menghampiri jendela dan segera ditutupnya sebagian, Ratria tidak ingin terjebak kegelapan. Lalu berbalik cepat memburu pintu kamar. Namun hampir tertabrak pintu yang sedang dibuka. Ternyata Syahdan dengan tumpukan baju ditangannya.


"Ratria, sudah bangun? Bagaimana hasil ronsen kamu?" Syahdan bertanya sambil melangkah maju dan Ratria mundur lagi ke dalam.


Namun Ratria tidak langsung menyahut, sibuk mengambil baju miliknya di tangan Syahdan. Syahdan hanya tersenyum dengan mengulurkan baju milik Ratria.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Syahdan lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


Dia paham, Ratria sangat malu dengan baju jemuran yang diangkatnya dari teras belakang. Bukan hanya baju, tapi bertabur baju dalamann untuk atas dan bawah, dan semua serba ungu,,, ungu tua,, ungu muda,, pink ungu,, semua ada.


Ratria tengah duduk di ranjang memunggungi. Melipat baju yang baru diangkatkan oleh Syahdan. Baju itu cepat kering, sebab hanya perlu dianginkan. Dan Ratria sambil menjelaskan hasil rontgen tulang jempol kaki dari kontrol bersama Vario pagi tadi pada Syahdan.


"Jadi pergi periksanya, lima hari lagi,?" tanya Syahdan memastikan.


"Iya, pak Syahdan," jawab Ratria nampak mengangguk. Melipat bajunya hampir selesai.


"Nanti aku yang mengantarmu," janji Syahdan. Seperti merasa bersalah jika pagi tadi gagal mengantar.


"Aku sudah sangat kuat, pak Syahdan. Hanya rasa nyeri biasa. Dan itu bukan masalah. Jadi aku bisa pergi sendiri dengan taksi. Kamu jangan sering-sering bolos kerja," ucap Ratria dengan tangan yang sudah tidak lagi melipat.


"Aku tidak bolos, Rat. Bisa kuganti di jam berikutnya," sanggah Syahdan sambil duduk.


"Pak Syahdan, terimakasih ya. Sudah merawatku," ucap Ratria sambil menoleh.


"Hemm,," respon Syahdan dengan dehem.


Ratria sedang mengambil sebuah bag besar. Memasukkan baju yang dilipat dengan tidak rapi ke dalamnya. Merasa diawasi Syahdan, membuatnya kurang fokus melipat rapi bajunya.


"Rat, letak saja baju kamu di almari itu. Masih kosong. Bajuku tidak banyak," Syahdan berkata membujuk.


"Tidak usah, pak Syahdan. Aku sudah merasa sehat. Mungkin setelah kontrol yang terakhir, aku akan pulang," sahut Ratria terdengar lirih.


Syahdan mengusap rambut pendeknya. Mengabaikan ucapan Ratria.


"Akan kubelikan kamu almari sendiri ya, Rat. Bisa kamu pakai sementara," Syahdan telah mengeluarkan ponsel. Membuka aplikasi jual beli yang ternyaman baginya.


"Tidak usah, pak. Aku tidak mau," tegur Ratria.


"Kecil saja, Rat. Yang penting bisa kamu pakai. Atau kamu suka yang besar? Tapi akan susah kamu geser-geser," Syahdan terus berbicara. Dan akhirnya Ratria diam saja.


"Ini bagus, Rat. Tapi ini juga bagus. Kamu suka yang mana, Rat,?" Syahdan mengulur ponsel pada Ratria. Tapi Ratria acuh tidak mau melihatnya. Asyik melipat selimut yang lebar di atas kasur.


"Apa ini saja ya, Rat? Ada gambar kelelawar?" tanya Syahdan kembali.


"Kelelawar?" sahut Ratria tiba-tiba.


"Batman maksudku, Rat. Ini saja ya. Sudah kupesan. Mungkin satu jam lagi sampai," putus Syahdan. Lelaki itu meletak ponsel dan akan berdiri.


"Pak Syahdan! Jangan gambar betmen. Yang lain saja,," ucap Ratria tergesa.


"Gambar apa Ratria. Ini kamu suka?" Syahdan menyambar ponsel dengan cepat dan menunjukkan pada Ratria. Seperti sudah menyiapkan model itu.


"Iya," Ratria mengangguk nampak suka.

__ADS_1


Syahdan tersenyum. Almari yang dipilihkan sejak awal adalah warna biru dengan hiasan empat lavender ungu di tiap pojoknya. Sedang gambar kelelawar yang tadi dibilangnya, entah di mana adanya...


__ADS_2