
Makanan yang dipesan Vario telah berada di depan Judith. Gadis itu memegangi kepala yang dikeluhkan sedang sakit beberapa belas menit yang lalu. Vario tetap kukuh tidak mau memberikan obat penawar nyeri di kepala, jika Judith bersikeras tidak mau makan lagi.
"Bagaimana pemeriksaan kesehatanmu oleh dokter maskapai bisa selalu baik-baik saja, Dit? Kamu ini pasti kurang gizi dan nutrisi," ucap Vario dengan yakin. Judith menjeling sewot padanya dengan mata kian lebar.
"Ish mas Rio! Aku kan selalu minum suplemen dan vitamin macam-macam dengan kualitas terbaik. Bukan sembarangan yang kubeli!" sahut Judith memprotes.
"Terserah. Tapi aku yakin tubuh kamu kurang karbohidrat, protein dan.....!" Vario tidak meneruskan bicara.
"Dan apa, mas Rio?" Judith penasaran. Bermakna ucapan Vario mulai berpengaruh untuknya.
"Dan..Kurang lemak, Dit!" tegas Vario menambahkan.
"Maksud kamu, mas?" Judith menyimak wajah Vario yang tersenyum. Tampan sekali..
"Aduh, Dit,, bagaimana ya..." Vario bingung sendiri.
"Sudahlah, Dit. Habiskan makanan itu!" tukas Vario dengan tegas. Kembali mengetik di notebook. Tidak lagi dipedulikannya Judith.
Mereka sedang duduk bersama di sofa. Staff agency itu harus terus menyiapkan schedule terbang untuk para pramugara dan pramugari agency di manapun dirinya berada. Itu memang sudah menjadi kesanggupan dirinya sejak awal. Dan bukan masalah sama sekali baginya sebab sudah terbiasa.
"Sudah habis, mas Varioooo... Mana hadiahnya?" Judith berkata dengan nada menggoda. Gadis Jakarta itu memang mempunyai sifat bawaan yang manja.
Vario menoleh tak percaya. Dan memang benar, baki makan yang masih dipangku Judith hampir habis.
"Nasi tadi hanya beberapa sendok, Dit. Masak telur sebutir saja tidak sanggup?" Vario tidak meluluskan. Kembali mengetik dengan acuh.
Telur sebutir yang sudah berubah bentuk menjadi menarik dan lucu itu telah terpotong-potong. Judith telah menghabiskannya kemudian.
"Sudah,,," ucap Judith menyandar sofa nampak lelah. Vario perlahan menoleh. Baki makan itu telah benar-benar licin.
"Teh panas itu diminum juga, Dit." Vario menemukan lagi kekurangan.
"Sudah,," Judith telah meminum hampir setengah gelas teh panas yang telah menghangat.
"Tunggulah lima menit lagi," Vario kembali memberi terapi kesabaran pada Judith. Dan anehnya, gadis itu menjadi manis dan menurut pada staff di agencynya itu. Judith hanya menyandar diam dengan memandangi Vario yang kembali fokus di notebook.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian..
Vario memandang Judith yang telah meringkuk lelap di sofa. Wajah cantiknya nampak menghadap Vario hingga tertidur.
"Dit,,,," Vario yang berniat membangunkan, hanya memanggilnya satu kali.
Selain tidak ingin memberikan obat pereda nyeri, rasanya juga iba pada Judith. Dari catatan riwayat kesehatan pribadi yang diakui Judith pada Vario, dirinya memang sering mengonsumsi obat pereda nyeri.
Vario yang tahu jika Judith dan Syahdan adalah sepasang kekasih, merasa iba pada nasib Judith. Meski tidak pernah mengalami, bisa dipahami jika Judith mungkin sedang sangat sedih dan kecewa. Telah ditinggal sang kekasih menikah, meski mereka masih juga bersama.
Ratria memang adik yang sedang di belanya demi bisa bersama suami hingga nanti. Tanpa ada pihak ketiga yang merecoki. Namun Vario juga iba dan ingin bersikap adil pada Judith. Alasan itulah, penyebab dirinya tidak ragu lagi untuk memberi perhatian lebih pada Judith.
Malam di Macau kian menggigit. Dan hanya dalam kamar-kamar tertutup dengan mesin penghangat atau perapian besar saja yang mampu menghangatkan. Vario telah merebah di sofa dengan berselimut sangat tebal.
Judith yang baru diangkat untuk dipindahkan ke ranjang semakin pulas dalam pejam. Tidak terbangun dan tidak meminta obat pereda nyeri di kepala. Vario merasa seperti mendapat kelegaan tersendiri sebab itu.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Begitu juga di sebuah rumah dinas yang ditempati sang manager. Namun tidak di dalam kamar. Pendingin ruangan yang sedang dinyalakan itu memberi rasa nyaman bagi pemiliknya. Namun tetap tidak mampu membuat sang manager yang sedang galau itu cepat tidur.
Begitu juga di kamar yang sebelah. Ratria sedang merasa gerah dengan efek obat yang kali ini lebih keras kandungannya. Dokter tidak menyertakan alasan kenapa obat yang diberikan kali ini berbeda.
Dan sangat disayangkan bahwa obat itu tidak memberi efek mengantuk yang bagus. Mungkin sebab jantungnya yang sedang terlalu keras berdetak.
Ingat jika dengan meminum susu putih hangat bertabur sedikit kopi yang nikmat akan menyebabkan rasa ngantuk. Ratria ingin membuatnya.
Terkejut Ratria, ternyata sedang ada Syahdan yang duduk di sana dan duduk di kursi yang menghadap kamarnya. Pintu kamar mereka sama-sama menghadap ke dapur.
"Pak Syahdan, kamu tidak tidur?" sapa Ratria setelah dekat di meja.
"Aku tak bisa tidur, Rat," Syahdan menjawabkan masalahnya.
"Kenapa tidak bisa tidur?"tanya Ratria sambil membuka almari dapur di dinding. Mencari adakah susu di sana.
__ADS_1
"Ya, tidak mengantuk," jawab Syahdan nampak lelah.
"Mencari apa kamu?" Syahdan memandang Ratria yang nampak serius dengan pencariannya.
"Susu. Aku ingin minum susu hangat biar cepat tidur," jelas Ratria.
"Sepertinya tidak ada, Rat. Kenapa kamu tidak langsung tanya padaku? Besok kubelikan,," ucap Syahdan. Di depannya hanya ada segelas air putih.
"Itu ada bakery isi coklat yang tadi kubeli di bioskop. Jika mau makan itu dulu," ucap Syahdan menyarankan.
"Tidak, nanti aku gendut," jawab Ratria. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dari galon. Dan Syahdan pun tersenyum.
"Kenapa tidak bisa tidur?" tanya Syahdan perhatian.
"Gerah. Obat itu sangat keras." Gelas di tangan Ratria telah kosong.
"Lalu bagaimana, Rat. Bukankah itu tidak bagus? Apa kamu kuat?" tanya Syahdan. Terlihat khawatir pada Ratria.
"Biar sajalah dulu. Percaya saja pada dokter. Besok pas kontrol coba kutanyakan. Lagian aku bisa sambil berkeringat. Selama sakit, aku nggak pernah lagi olahraga," sahut Ratria. Meredam kekhawatiran Syahdan padanya. Dan memang nampak kelegaan di wajah tampannya.
"Rat, aku akan nonton TV. Kamu tidur?" tanya Syahdan. Ratria telah mencuci gelasnya di wastafel dan sedang mengeringkan tangannya. Ratria memandangnya.
"Iya. Aku akan tidur,"
"Aku duluan ya, pak," Ratria tersenyum dan meninggalkan Syahdan yang juga berdiri menuju ke ruang televisi. Hanya bersebelahan dengan dapur. Tepat di depan kamar Ratria.
Syahdan menggelosor di sofa dan menyalakan televisi. Berkali-kali mencari tak juga menjumpai saluran yang mungkin disukainya. Dan akhirnya menemui siaran dunia di liga penyisihan peserta piala dunia untuk persiapan tahun depan.
Ratria sedang gelisah di kamar barunya. Srmakin tidak merasa mengantuk dan kini bertambah kian resah. Suara televisi dengan acara bola yang riuh itu pertanda jika Syahdan sedang menonton televisi. Hanya tidak yakin apakah lelaki itu masih menonton atau sudah ditonton televisi. Dan akhirnya Ratria keluar dari kamarnya.
"Pak, aku juga ingin lihat tivi," Ratria izin bergabung. Syahdan yang segera menolehnya saat keluar kamar segera mengangguk.
"Sinilah, Rat. Ayo begadang saja. Besok aku libur, hari Minggu." Syahdan menyambut Ratria dengan wajah cerahnya.
"Iya, pak Syahdan," sahut Ratria sambil duduk di sebelah Syahdan menghadap televisi.
__ADS_1
Belum lama bergabung bersama, kini mereka tidak lagi menonton televisi. Tapi telah bertukar menjadi ditonton televisi. Begitu mudahnya mereka tertidur dengan masih berposisi menyandar di sofa.