Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
47. Baju Tidak Sopan


__ADS_3

Hari minggu yang cerah saat pagi. Asisten rumah sang manager, bu Tina, tidak datang kerja hari ini. Dan waktu subuh pun telah lama bersapa.


Ratria terbangun dengan ekspresi yang heran. Sangat ingat jika semalam duduk bersebelahan dengan Syahdan sambil melihat acara sepak bola kelas dunia di televisi, dan mungkin hingga ketiduran.


Tapi sekarang tidurnya telah rebah di sofa dengan berselimut miliknya yang di kamar. Ditolehnya penjuru di ruang TV, ternyata ada Syahdan yang juga tidur merebah di sofa. Tapi lelaki itu tidak berselimut.


Ratria bangun perlahan dan segera meluncur ke kamar untuk menyimpan selimut. Keluar lagi ke kamar mandi untuk mandi dan mengejar subuhnya dengan cepat. Dan baru dibangunkannya pak Syahdan di ruang TV kemudian.


Merasa pagi ini sangat bersemangat. Wajahnya semakin cantik dan merona dengan riasan tipis yang indah. Rambut kilau hitam tebalnya diikat tinggi jadi satu di atas. Dengan dress cantik setengah paha berlengan pendek yang serasi di tubuh berlekuknya. Dress yang harus dilapisinya dengan jaket dan celana leging saat keluar itu tidak lagi terlapisi. Tiba-tiba ingin sekali memakai baju tidak sopan itu pagi ini.


Ratria nampak indah dengan kakinya yang mulus dan jenjang. Seperti gadis muda belia yang berkembang maksimal dan sempurna.


🍃🍃🍃


Lelaki gagah dan tegap yang baru keluar kamar sedang berbaju olahraga warna hitam di badannya. Syahdan nampak atletis dan akan pergi berjogging.


Merasa terkejut jika tiba -tiba di dapur rumah yang biasa lengang atau kadang hanya bu Tina di sana, kini ada dewi cantik yang berdiri anggun di sana. Sedang memotong sayur dan juga mengocok telur.


"Kamu sedang apa, Rat?" tanya Syahdan sambil memutari meja. Dan kian terbelalak dengan penampilan Ratria yang nampak jelas di balik meja. Susah payah Syahdan bernafas dan mengatur nafasnya.


"Pak Syahdan, aku ingin masak. Jangan pesan makanan di luar ya. Tapi ya nggak tau nanti rasanya. Kamu tidak keberatan jika kupakai dapurmu, kan? Kamu juga mau nyoba makan masakanku kan?" terang Ratria tersenyum dengan tangan mengaduk telur.


"Iya, Rat," sahut Syahdan tercekat. Ini adalah kejutan pagi ini.


"Pak Syahdan mau jogging?" Ratria tersenyum manis memandang Syahdan.


"Iya, Rat," sahut Syahdan sambil mengambil air putih di gelas.


"Jangan lama-lama ya, pak Syahdan. Mungkin sebentar lagi siap, nanti dingin jadi tambah nggak enak," pesan Ratria. Syahdan telah berdiri dengan gelas kosongnya.


"Tambah nggak enak?" Syahdan terheran.


"Iya... Masakanku tuh nggak bisa paten nilainya, pak. Kadang bisa enak. Kadang enggak. Tapi lebih sering terasa nggak pas rasanya," terang Ratria dengan wajah yang bingung. Syahdan mengangguk paham.


"Aku akan segera kembali. Assalamu'alaikum, Rat ," Syahdan segera berbalik. Merasa sangat gerah pagi ini. Merasa harus segera mendapat hawa dari luar. Penampilan Ratria benar-benar menyesakkannya pagi ini.

__ADS_1


Berlari keliling lapangan bola di komplek perumahan, yang biasanya bisa lebih dari tiga puluh kali putaran, kini di putaran ke tujuh saja rasanya sudah bosan. Merasa tidak fokus dan seperti habis tenaga. Kepala dan mata terus teringat pada gadis cantik di dapur rumah yang berpesan agar dirinya tidak lama.


"Kok sudah, mas?!" seru seorang lelaki. Sepertinya sudah saling mengenali.


"Iya, Ren! Aku duluan!" seru Syahdan membalas.


"Iya, mas!" sahut lelaki itu sambil mengangguk pada Syahdan yang sedang tersenyum kemudian berlari menuju arah pagar keluar di lapangan dengan lari yang kencang.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Syahdan telah mandi dua kali sepagi ini. Sehabis mengeringkan keringat sejenak dan mandi, lelaki itu telah berpenampilan rapi dan wangi kembali. Mendekati meja makan dengan wajah tampannya yang tegang.


"Sudah siap, Rat?" tanya Syahdan dengan setenang mungkin bersuara. Bersiap kembali untuk menikmati pemandangan sejuk yang panas.


"Belum,,kupikir pak Syahdan akan agak lama sedikit. Maaf ya, tinggal ngangkat nasi saja ke meja. Makhlum, aku hanya sekedar calon koki. Jadi jauh dari kata cepat dan profesional," canda Ratria sambil sibuk menyiduk nasi dari cooker ke wadah nasi agar tersaji rapi di meja.


Syahdan benar-benar merasa seperti harus mandi lagi. Ratria mengambil nasi dengan mengangkat kedua tangan dan lengan ke cooker di meja dapur yang tinggi. Dan pasti dressnya juga terangkat yang membuat seluruh pahanya terlihat dan nampak vulgar menggoda. Syahdan mendesah resah banyak kali.


"Agak cepat, Rat. Aku sangat lapar," tegur Syahdan agar cepat terbebas dari siksa deritanya.


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin masak?" tanya Syahdan sambil mengisi piringnya.


"Aku merasa bersemangat pagi ini. Bosan jadi kembang ranjang," jawab Ratria dengan asal.


"Kembang ranjang?" Syahdan kian sesak saja mendengarnya. Ratria segera sadar pada ekspresi yang Syahdan tunjukkan.


"Maksudku, tukang tidur," ralat Ratria cepat-cepat. Syahdan menghempas nafas di dadanya.


Syahdan mulai menyendok sop brokoli dan jamur kancing untuk meluncur ke mulutnya. Dan sang koki nampak memandang dengan tegang. Wajahnya nampak cantik menajam.


"Pak Syahdan enak tidak?" tanya Ratria berdebar. Mata indahnya tidak berkedip memperhatikan ekspresi Syahdan saat makan.


Syahdan mengunyah dengan cepat, matanya terus memandang Ratria tanpa kedip dan nampak tegang saat menelan. Dan diulang terus dengan cara yang sama.


"Pak, enak nggak?" Ratria jadi tegang dan berdebar. Bagaimanapun Syahdan adalah seorang manager yang terhormat.

__ADS_1


Syahdan sedikit tersenyum.


"Sangat enak, Rat. Hanya aku perlu terus melihatmu untuk menghabiskan isi piringku,"


"Kamu tidak makan? Cobalah sendiri. Ini enak sekali. Kamu juga boleh memandangku saat makan," ucap Syahdan meyakinkan.


Ratria kian tegang. Mulai mengisi sendok dan menumpahkan di mulutnya. Merasa terkejut namun ditahan untuk terus dilummatnya. Sangat asin.


"Bagaimana, Rat. Enak?" tanya Syahdan. Sambil kembali menyendok dan memakannya dengan tenang. Pandangannya terus di wajah Ratria. Yang dipandangnya juga melakukan hal yang sama.


"Iya,,. Anggap saja ini enak. Dan aku juga perlu memandangmu untuk menghabiskannya." ucap Ratria sambil menahan senyuman dengan wajah yang segan.


"Terimakasih pujianmu, pak Syahdan. Maaf, lain kali akan kubuat yang lebih layak," sambung Ratria merasa sangat malu. Namun mereka terus saling memandang dan mengunyah. Yang kemudian saling melempar senyuman yang lebar.


"Pak Syahdan, apa semalam kamu menyelimutiku?" tanya Ratria.


"Iya, juga mengangkatmu." jawab Syahdan. Isi di piringnya hampir habis.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Ratria sambil mengambil telur dadar. Ternyata telur itu kurang garam. Pantas Syahdan beberapa kali menngambilnya.


"Aku perlu teman nonton tivi. Nanti malam temani nonton lagi ya, Rat," ajakan Syahdan disertai wajah tampannya yang serius.


"Iya, pak Syahdan. Jika aku susah tidur lagi, akan kutemani nonton tivi," jawab Ratria mengangguk. Wajah cantiknya sedang terlihat berseri. Syahdan pun mengakhiri sarapan dengan wajah yang cerah.


"Rat, apa bajumu baru?" Syahdan memandang lengan mulus Ratria yang terbuka. Gadis itu salah tingkah.


"Apa ini menurutmu tidak sopan, pak Syahdan? Maaf, aku merasa gerah terus-terusan di rumahmu," jawab Ratria setelah memandang bajunya sendiri.


"Surabaya memang sangat panas dan gerah. Kamu bebas memakai baju yang tidak sopan di rumah ini. Bahkan jika ada baju yang lebih tidak sopan lagi, pakai saja. Kamu tidak usah segan, Rat. Anggap saja ini rumah kamu sendiri," Syahdan berkata dengan tersenyum. Namun tidak menutupi wajahnya yang tegang.


Ratria cepat-cepat berdiri dan menyambar dua piring kotor di meja. Membawanya ke wastafel dan dicuci. Sambil menghempas wajah merahnya di sana.


"Rat, kamu lebih cantik jika memakai baju yang tidak sopan di depanku. Terimakasih ya, Rat,"


Syahdan berkata lirih di belakang Ratria dan kemudian berlalu. Berjalan cepat menuju kamar mandi dalam rumah. Merasa dirinya adalah penguasa sekaligus pemuja kamar mandi belakangan ini.

__ADS_1


__ADS_2