Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
54. Panas dan Gelap


__ADS_3

Ratria akan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan menggosok gigi. Bersamaan Syahdan yang juga keluar kamar untuk pergi menuju kamar mandi.


"Kamu duluan saja, Rat. Jangan lupa nanti kutunggu di ruang tivi," ucap Syahdan tersenyum dan berbalik ke dalam kamarnya.


"Iya, pak Syahdan," jawab Ratria mengangguk dan berjalan lurus, yang kemudian membelok ke kamar mandi.


Kekonyolan yang hakiki, mereka adalah pasangan suami istri tanpa pertengkaran, namun membuat janji untuk saling bertemu di ruang tivi dalam rumah. Seolah rumah dinas Syahdan itu sangatlah luas sekali...


πŸƒπŸƒπŸƒ


Ratria kembali mengenakan jaket santai menutupi tubuh indah berlekuknya. Setelah sempat bimbang apakah perlu memakai jaket atau tidak. Meski Syahdan kemungkinan memang hanya ingin ditemani nonton tivi malam ini, tapi memandang pantulan diri di cermin, rasanya kian berdebar di dada.


Merasa galau keluar kamar, merasa agak malu dan segan. Untuk mengurangi degub laju di dada, Ratria meraih sisir dan merapikan rambut halusnya perlahan. Berharap Syahdan tidak sabar lalu mengetuk dan memanggilnya di pintu kamar. Itu akan jauh terasa lebih baik. Tapi sepertinya tidak akan begitu, Syahdan hanya akan menunggu hingga dirinya keluar dari kamar.


Diletaknya sisir di meja rias. Rasa bosan dan pegal terlalu lama menyisir, membuat hatinya agak tenang. Ratria berbalik dan menuju pintu. Berniat datang ke ruang tivi untuk menemani tuan rumah nonton tivi. Tapi...


"Ya Allah,,!!!! Pak Syahdan,,!! Pak,,,!! Pak Syahdaaan,,,!!!!!"


Ratria berteriak panik dan kencang. Rasa terkejut yang sangat membuatnya ketakutan. Seluruh penjuru rumah sedang dilanda kegelapan tiba-tiba. Tak terkecuali kamarnya. Tangannya mencengkeram erat gagang pintu tanpa berani membukanya. Merasa begitu tagang dan kaku dalam gelap.


"Pak Syahdaaan,,!!! Paaak,,!!"


"Pak Syahdan,,"


Ratria kembali meneriaki tuan rumah dengan keras yang kemudian meredup saat di dengarnya sambut Syahdan.


"Ratria,,! Tenanglah,,! Aku akan ke kamarmu,," sahut Syahdan beserta derap sandal di kakinya. Seketika panik Ratria menjadi kelegaan.


Rasanya kembali berdebar saat pintu kamarnya didorong terbuka dari luar. Dan Ratria membukanya lebar-lebar.


"Pak Syahdan,,,?!" Ratria berseru lega saat nampak Syahdan dengan sorot lampu dari ponsel.


"Mana ponsel kamu, Rat? Punyaku sedang low bat. Power bankku di kantor," terang Syahdan.


"Punyaku sudah mati dari tadi. Lupa nggak kutancap charger. Aku nggak bawa power bankku. Kenapa bisa mati lampu, pak Syahdan?" tanya Ratria dengan nafas yang masih terengah sebab terkejut dan takut.

__ADS_1


"Ayo bersamaku, Rat." Syahdan berkata sambil memegang tangan Ratria dan menariknya keluar kamar. Ratria menurut dan mengikuti berjalan dengan diam.


Syahdan membawa Ratria ke dalam kamarnya dengan penuh percaya diri. Yakin jika Ratria tidak memiliki cukup nyali untuk sendirian dalam gelap.


"Rat, anggap saja kamar kamu masih di sini. Di ruang tivi pun nggak ada yang ditonton. Lebih baik istirahat saja sambil menunggu nyala listrik," terang Syahdan. Didudukkan Ratria di pembaringan. Dengan posisi saat Ratria masih join tidur di sana waktu itu.


"Kenapa mati lampu, pak Syahdan?" ulang tanya Ratria. Syahdan nampak menggoyangkan ponsel yang kian redup nyalanya.


"Sepertinya tiap bulan ada pemadaman, Rat. Tapi sebab aku jarang pulang ke sini, aku lupa,, hari dan tanggal apa pemadamannya. Aku juga tidak ada persiapan lilin atau lampu emergency. Maaf ya, Rat," sesal Syahdan. Lelaki itu berjalan memutar dalam samar. Duduk di sisi ranjang yang biasa ditempatinya. Ponsel kian redup itu sudah tidak lagi dipedulikan.


"Berbaring saja, Rat. Ponsel ini akan mati sebentar lagi. Biasanya mati lampu agak lama." Syahdan sambil membentangkan selimut dan merebahkan dirinya. Tidak jauh di tepi ranjang seperti waktu itu, namun langsung mengambil posisi di tengah tanpa segan. Ratria merasa lebih berdebar lagi karenanya.


"Apa lampu tidur baru yang pak Syahdan beli itu bukan lampu emergency?" Ratria bertanya penuh harap.


"Tidak ada energy yang disimpan, Rat. Tidak pernah kunyalakan," jawab Syahdan dalam gelap. Ponsel meredup itu telah benar-benar mati saat ini.


"Pak Syahdan, aku numpang tidur, ya,," izin Ratria dengan segan. Merebahkan diri perlahan dengan debar dan was-was.


"Tidur saja, Rat. Rasanya pegal jika duduk saja sambil menunggu nyala," sahut Syahdan dalam gelap. Ratria membenarkan dalam hati.


"Argghh,, pak Syahdan,,!!!!" teriak keras Ratria sekali lagi. Terkejut hebat dengan suara tokek yang tiba-tiba saja berbunyi dan entah di mana adanya. Namun seperti tepat di atas kepala Ratria. Rasanya sangat kaget tak terkata.


"Maaf, pak Syahdan. Aku terkejut. Rumahmu ini penuh dengan kejutan,," keluh Ratria.


"Auwh, pak Syahdan,," Ratria kembali jantungan. Gerakan kaget yang diniatkan berpeluk guling, ternyata badan Syahdan yang dipeluknya erat dan mendapat sambutan peluk tak kalah erat darinya. Ratria dan Syahdan telah saling peluk sangat erat.


"Maaf, pak Syahdan. Aku sangat kaget. Apa tokek itu di kamarmu?" ucap Ratria tercekat. Namun gagal merenggangkan pelukan. Syahdan tidak melonggarkannya sedikitpun.


"Iya, Rat. Mungkin di atas almari," Syahdan menyahut dengan serak.


"Haaah,,!!" Ratria kembali memeluk Syahdan dengan erat.


"Sudah, Rat. Biarlah. Mungkin dia pun juga sedang ketakutan seperti kamu," redam Syahdan dengan suara kian serak.


"Jaket kamu ini lepas saja ya, Rat. Badanmu berkeringat." Syahdan berkata dengan sedikit merenggangkan pelukan. Jaket Ratria telah dilepasnya dengan mudah.

__ADS_1


"Panas, pak Syahdan," keluh Ratria tanpa sadar.


"Tidak usah pakai selimut," sahut Syahdan sambil menarik selimut ke bawah.


"Tapi aku takut. Nanti tokek itu meloncat," panik Ratria.


"Ada aku, Ratria," ucap Syahdan sambil memeluk Ratria dengan hangat. Merasa lega yang sangat, tubuh lembut itu diam saja tak berontak.


Tokek,,!!.Tokek,,!! Tokek,,!!


Bunyi tokek kembali meneror. Ratria melenting kaget sekali lagi. Syahdan yang sudah menduga gerakan Ratria, sangat sigap menahan kepala Ratria dengan wajah di lehernya.


Insting hasrat yang kian siaga membawa tangannya untuk menarik kepala Ratria. Menengadahkan wajahnya dengan cepat. Dan sukses mendaratkan bibirnya di bibir Ratria dalam gelap. Insting lelakinya tengah bekerja dengan sangat maksimal. Hal yang sangat ingin dilakukan dan dipendam, dengan nyata didapatkannya.


"Emmh,," lenguh Ratria dalam gelap. Syahdan telah menyeretnya dengan ciuman yang dalam di bibirnya. Ratria memang tidak ingin menolak dan telah rela menyambut dari awal. Bahkan telah menduganya.


Syahdan juga menelusur lembut dirinya di balik baju dengan tangannya yang besar dalam gelap. Engah nafas yang memburu sebab Syahdan terus gencar mecium di bibir dan wajah, membuat Ratria kian merasa sangat panas.


"Pak Syahdannnhh,,,," erang Ratria saat Syahdan melepas bibirnya untuk mengambil nafas dengan sangat terengah.


"Rat, ini adalah first kissku. Kamu adalah yang pertama aku sentuh, Rat," ucap Syahdan sangat serak dengan tangan yang kembali bergerilya dalam gelap.


"Aku pun juga,,pak Syahdan. Kamulah yang pertama mencium dan menyentuhku," sambut Ratria dengan terengah. Jika saja lampu terang, wajah cantiknya akan terlihat sangat merah.


"Ah, Ratria,, terimakasih sambutanmu," rintih Syahdan. Kembali merapati bibir Ratria yang manis.


Kembali saling melumatt, menyesapp, mengulumm bibir dan lidah. Tangan Syahdan tak berhenti meraba dan menggenggam. Bahkan Ratria dan Syahdan telah tanpa busana lagi dalam gelap. Gadis molek itu telah pasrah tak berdaya.


Ratria kian hebat mendessahh, merintih dan mengerrang. Syahdan telah lama bergeser di leher dan dadanya. Membawa bibir dan lidah untuk menyerang gencar di sana. Menyertai jari-jari dan tangan yang telah lebih dulu singgah berkuasa. Mereka berdua sedang kalap dalam gelap yang nikmat.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

__ADS_1


__ADS_2