Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
76. Beristri Dua


__ADS_3

Tepat setelah adzan dan menunai isya' nya, Syahdan menyambar ikat pinggang dan memakai di lubang yang ternyaman baginya. Sambil mencuri pandang pada Ratria yang terlihat sangat cantik dan modis dengan lipstik merona di bibir. Sang istri telah bersiap dengan tas tangan bersamanya.


"Sudah siap, Rat?" Syahdan menyapanya di pintu kamar. Sang istri hanya melirik sebentar dan mengangguk. Lalu melewatinya tanpa bicara dengan wajah bertekuk. Memang seperti itulah ekspresi di wajah cantiknya semenjak Kasandra pamit dari rumah dinas siang tadi.


Syahdan sesekali mengajaknya bicara dengan lembut meski tak mendapat tanggapan memuaskan. Hanya jawaban terbaiknya adalah kata tidak dan iya atau juga anggukan dagu dan geleng kepalanya.


Dan itu justru respon baik bagi Syahdan, bukan lagi jawab ketus, sengit atau pun mengacuhkan seperti kebiasaan sang istri saat marah. Syahdan merasa sedikit tenang karenanya.


Terlebih saat Ratria menjawab dengan sebuah anggukan pada ajakan Syahdan, untuk segera bersiap diri menghadiri undangan makan malam dari Kasandra. Rasanya sungguh lega. Syahdan pikir, Ratria tidak akan sudi hadir menemaninya.


"Rat, kamu cantik sekali. Jujur, tadi saat kutawari mengantarmu ke Salon dan kamu menolak, kupikir kamu tidak mau pergi malam ini. Terimakasih ya, Rat. Kamu pintar sekali berdandan," ucap Syahdan agak lirih.


Arka telah membawa mereka, membelah lajur jalan ke arah kota Surabaya. Menuju salah satu restoran besar di Surabaya, sesuai lokasi yang telah dikirim Kasandra ke aplikasi di ponselnya.


"Iya," jawab Ratria sepatah. Dengan terus membuang muka ke jalanan di jendela samping dan tidak melirik Syahdan sedetik pun.


🍃🍃🍃


Boss besar, yang tenar dengan sebutan presdir Alex, ayah Kasandra, telah menyewa sebuah private room untuk makan malam berempat. Presdir Alex bersama sang putri, Kasandra, melempar senyum saat Syahdan bersama Ratria baru tiba dan bergabung di sana.


Meja cukup besar itu telah penuh dengan menu jamuan makan malam yang bermacam ragamnya. Mereka memilih duduk di karpet tebal yang empuk dan lembut meski ada sofa juga di ruangan. Dan Ratria dengan presdir Alex pun telah saling jabat tangan berkenalan.


Syahdan sedang berbasa basi bersama presdir Alex saat mata Ratria bertemu pandang dengan mata Kasandra yang menatap hangat padanya. Tersenyum ramah dan bukan lagi tatap meremehkan seperti saat datang di rumah dinas siang tadi.


Makan malam dengan cepat telah dimulai tanpa ada percakapan di dalamnya. Keempat orang itu menghadap di piring masing-masing dengan bermacam isi dada dan kepala yang tentu saja saling berlainan.


"Syahdan dan juga Ratria, silakan dinikmati makan malam ini sepuasnya. Jangan merasa segan,," ucap presdir Alex. Piringnya telah kembali kosong dan sedang menikmati jus anggur di gelasnya.


"Terimakasih, pak presdir," sambut Syahdan tersenyum dan mengangguk. Isi di piringnya hampir habis. Sedang Ratria hanya diam dan masih berusaha untuk menghabiskan pilihannya.

__ADS_1


"Iya,,, mas Syahdan dan Ratria, jangan segan. Ayo bantu menghabiskan," sahut Kasandra dengan nada sangat ramah. Bukan lagi manja demi mencari perhatian dari Syahdan.


"Terimakasih, Sandra," sahut Syahdan dengan memandang sebentar wajah Kasandra.


Lima menit kemudian..


"Ehmm, sebab makan malam sudah selesai dan hari sudah malam, aku akan langsung pada tujuan pertemuan kita ini, Syahdan," presdir Alex mulai berbicara. Dan ini jugalah yang sedang ditunggu-tunggu Syahdan dengan tidak sabar di balik sikap tenangnya.


"Siap, presdir. Silahkan beritahukan pada saya," jawan Syahdan dengan hormat. Bagaimanapun presdir Alex adalah boss sekaligus atasan di maskapai besar tempatnya bernaung selama ini. Harus baginya untuk memuliakan seorang boss besar seperti presdir Alex.


"Begini, Syahdan. Aku sudah lama memperhatikan kamu. Aku suka dengan etika dan etos kerja kamu. Dan kebetulan saat ini aku sangat memerlukan bantuan kamu, Syahdan," terang sang presdir.


Nampak mengambil panjang nafasnya. Syahdan menyimak tanpa bersuara. Begitu juga Ratria dan Kasandra.


"Begini, kamu sudah tahu jika anak perempuanku, Kasandra sudah tidak bersuami, namun sedang hamil. Dan aku meminta bantuan kamu, Syahdan. Menikahlah dengan Kasandra,"


"Uhuk,,!! Uhuk,,uhuk,,!!" batuk tiba-tiba ini adalah Ratria.


"Kenapa harus saya, presdir? Anda dan Kasandra sudah tahu jika saya sudah menikah," ujar Syahdan memandang sang presdir.


"Kamu adalah pekerja lelaki terbaik dan yang kupilih, Syahdan. Dan yang paling penting, Kasandra pun menginginkan kamu."


"Kehamilannya sudah memerlukan sosok suami sekaligus ayah dari bayi di perutnya. Dalam pemeriksaan tertentu, dokter akan bertanya siapa ayah bayi di kandungan,"


"Selain kamu mendapatkan hadiah yang siang tadi telah diantar oleh Kasandra padamu, kamu juga akan menjadi salah satu pewarisku, Syahdan."


Presdir berhenti berbicara lebih lama kali ini. Dan mengarahkan pandangannya pada Ratria yang kian menunduk. Apakah perempuan itu menangis,,??


"Ratria, bukankah menikah lebih satu kali itu dibolehkan? Aku sebagai orang tua Kasandra mengetuk hati nuranimu untuk saling mengasihi sesama wanita. Tolonglah aku, Ratria," ucap Presdir dengan suara yang berat.

__ADS_1


Semua mata sedang mamandang ke arah Ratria. Dan perlahan wajah itu mendongak.


"Cukup pak Syahdan saja yang anda tanya. Saya hanya menyimak cerita yang sedang anda sutradarai ini, pak Alex," ucap Ratria dengan ketus.


Wajah presdir nampak berubah, jadi keras dan pias. Ada rasa tidak suka dengan jawaban istri Syahdan.


"Syahdan, bukankah peluang sangat bagus permohonan yang kuberikan padamu ini?" tanya sang presdir. Kini nampak abai pada Ratria.


"Saya sudah menikah. Ratria adalah istri saya, presdir. Maafkan, saya keberatan dan tidak bersedia menikah dengan Kasandra, presdir," ucap Syahdan menunduk.


"Kamu tidak harus berpisah dengan Ratria. Kalian masih akan bisa bersama meski Kasandra telah kamu nikahi. Istilahnya, kamu memiliki dua istri,"


"Jangan lupa, Syahdan. Kasandra membawa harta yang cukup untuk pernikahan kalian. Juga saham besar di maskapaiku ini, sebagian banyak akan menjadi milik kamu," presdir terus membujuk Syahdan agar mau bersetuju.


"Benar, mas Syahdan. Kasihanlah padaku. Nikahilah aku. Aku peelu bantuanmu,," bujuk Kasandra merayu.


"Maaf, Kasandra. Kenapa kamu tidak kembali bersama mantan suami kamu saja. Bukankah dia juga menginginkan bayi dalam kandungan kamu?" tanya Syahdan hati-hati.


Kasandra menggeleng. Dan tiba-tiba terisak menahan tangisan.


"Aku tidak akan pernah kembali padanya, mas. Dia adalah lelaki ringan tangan yang bisa membunuhku sewaktu-waktu," jelas Kasandra mengeluh.


"Bagaimana, Syahdan. Aku percaya bahwa kamu adalah lelaki baik yang tidak pelit untuk memberikan bantuan. Dan kurasa istrimu tidak terlalu keberatan." Presdir berkata dingin tanpa memikirkan perasaan Ratria.


"Maaf, saya menyela!" Ratria bersuara tiba-tiba.


"Betul, pak Alek. Saya memang tidak terlalu keberatan jika suami saya menikahi anak perempuanmu. Tapi saya juga sangat tidak keberatan untuk meninggalkan pak Syahdan jika dia sampai memilih dan menikahi putrimu." Ratria berkata tajam sambil memandang presdir Alex dengan tatapan berapinya.


"Presdir, maafkan saya. Saya tidak bisa memberi bantuan pada Kasandra. Maafkan aku, Sandra," tegas Syahdan akhirnya. Kemudian meraih tas kerja yang sengaja dibawa. Mengeluarkan segala berkas dan bukti kepemilikan segala barang mewah yang siang tadi diantar Kasandra ke rumah dinas. Syahdan telah berniat untuk segera mengembalikannya.

__ADS_1


Ucapan Ratria barusan, membuatnya lebih cepat mengatakan hal yang sempat ditahan untuk disampaikan. Syahdan ingin tahu, apa saja yang sedang dipikirkan oleh sang presdir yang terhormat demi bahagia sang anak. Sejauh mana keegoisan seorang konglomerat memperlakukan seorang bawahan yang dianggap tak berdaya sebab silau akan harta dan takhta.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2