Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
51. Di Macau


__ADS_3

Di belahan bumi lain, di Asia Timur Raya, Kota Macau...


Vario baru saja mandi pagi meski waktu setempat sudah menunjuk di angka penanda siang hari. Tumpukan kerja online, serta hawa yang terus serasa membekukan, membuatnya tidak mandi saat subuh. Meski pilihan air panas juga standby dua puluh empat jam non stop di kamar mandinya.


Sweater hangat baru saja dipasangkan di badan tegapnya saat pintu kamar diketuk seseorang. Vario bergegas membuka dengan bayang nama dan wajah Judith sebagai orang yang sedang berdiri di luar. Dan memang benar adanya...


" Ada apa, Dit? Kamu ingin makan pagi denganku?" tanya Vario menebak. Judith nampak bermake up dan cantik.


"Tidak, mas. Ini sudah agak siang. Aku sudah sarapan dengan teman-teman dari maskapai. Ini sudah hampir tengah hari, tapi kamu belum makan?" Judith terheran dan seperti tak percaya saat Vario menggeleng.


"Memang enak ya ngasih teori saja. Praktiknya memang susah," sindir Judith soal makan pada Vario. Yang disindir berpaling muka tersenyum.


"Kamu ke sini mau ngapain, Dit?" tegur Vario on point.


"Ingin ditemani kamu jalan-jalan,," jawab Judith tak kalah on point.


"Aku lelah, Dit. Habis makan ingin tidur saja, " jawab Rio. Merasa badannya sedang kurang fit sebab sangat kurang tidur. Judith nampak mengedik bahu kecewa.


"Baiklah, mas Rio istirahatlah. Aku dengan pak Johan saja,," sahut Judith. Dan berbalik pergi meninggalkan pintu kamar Vario.


"Dit,,!" Vario berseru dan Judith berbalik memandang Vario.


"Yang kamu maksud, pak Johan kapten di penerbangan kita kali ini?" Vario menatap curiga. Judith mengangguk.


"Jangan keras-keras, mas. Siapa lagi kalo bukan pilot kita,, emang kenapa?" Judith cepat mendekati Vario. Menoleh kanan kiri di sekitar.


"Jangan nekat, Dit. Dia sudah punya istri. Kamu berniat untuk menambah hitungan sebagai wanita simpanannya?" ucap Vario dengan lirih. Menatap lekat-lekat wajah cantik Judith dengan tajam. Judith nampak terkejut. Tapi hanya sebentar saja.

__ADS_1


"Apa bedanya jika aku sedang dengan mas Syahdan,,,?" sahut Judith nampak kembali bersedih. Vario lebih keluar dari pintu dan mendekati Judith.


"Dit, meski aku juga menyarankan kamu untuk tidak lagi dengan pak Syahdan, sebab dia sudah menikah dengan adikku , tapi Syahdan jauh beda dengan pak Johan. Aku yakin Syahdan tidak berusaha merusak kamu. Tapi jika kamu dengan Johan, kamu memang akan dipelihara dengan baik. Tapi kamu juga siap-siap saja akan kehilangan dirimu. Dia adalah seorang pria yang sedang berjauhan dengan istri. Pintar-pintarlah memilih, Dit. Hati-hati," tegas Vario dengan lirih dan hampir berbisik.


Judith menundukkan wajahnya.


"Hik..hik... Kurasa, mas Syahdan sudah tidak peduli padaku. Telfonku tidak pernah diangkatnya. Pesanku tidak juga dibalasnya. Aku marah dengan mereka. Aku benci dengan adikmu," Judith justru terisak di depan Vario.


"Dit, jangan menangis. Mereka akan mengira kita sedang bertengkar. Ayolah temani aku makan, setelah itu kutemani kamu belanja. Apa teman-teman dari maskapai tidak ada yang ingin belanja sepertimu?" tanya Vario. Heran kenapa Judith tidak memilih pergi bersama teman pramugari dari maskapai.


"Mereka sudah pergi ke Macau Zoo pagi-pagi tadi. Aku ingin ikut. Tapi aku merasa jika baju yang kubawa tiba-tiba terasa sangat kecil. Ingin beli baru dan yang agak longgar," terang Judith dengan wajah berbinar. Merasa senang dengan kesanggupan Vario yang mau menemani.


"Tunggu sebentar," ucap Vario dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Wajah tampannya sedang tersenyum. Gadis cantik yang menunggu di luar nampak lebih berseri dan berisi dari minggu lalu, saat awal kedatangan mereka di Macau. Bahkan beberapa kali juga kepergok makan dengan isi makanan di piring lebih beragam dan sedikit menggunung. Nafsu makan Judith telah meningkat drastis dua ratus persen banyaknya.


"Ke Macau Mall International saja ya, mas?" Judith menoleh meminta pertimbangan. Dan Vario pun mengangguk. Lalu menyampaikan tempat yang disebutkan Judith pada driver dalam bahasa mandarin. Gadis cantik itu tidak menguasai bahasa China satu jenis bahasa pun.


Taksi pun meluncur laju dan tenang. Tatanan jalan di Macau telah terencana dan tersusun sangat baik. Hampir tidak pernah terjadi kemacetan di seluruh ruas jalan dalam kota di Macau.


Keterdiaman mereka di sepanjang jalan sesekali terpecah oleh dering ponsel milik Judith. Beberapa kali panggilan masuk hanya didiam acuhkan oleh Judith. Bahkan kini telah ditukar dengan model lampu saja yang menyala. Tanpa getar juga tanpa bersuara yang lalu dilempar ke dalam tas di pangkuannya..


"Kenapa tidak kamu angkat? Dari siapa, Dit?" tanya Vario pada gadis di sampingnya.


"Dari pak Johan." Judith menjawab sambil menarik ponsel dari dalam tas. Kebetulan ada nama Johan di layar dan sedang memanggil.


"Bagaimana bisa pak Johan tiba-tiba nelponin kamu? Itu pertanda kamu terpilih, Dit," ucap Vario sungguh-sungguh. Seperti telah hafal pada macam karakter para pilot atau kapten pesawat pada tiap-tiap maskapai.

__ADS_1


"Terpilih apaan, ogah. Nggak jadi aku mas, kamu bilang dia nggak murni ngajak jalan,," terang Judith.


"Semalam aku ngajakin kamu makan malam, tapi kamu nggak mau,, Lalu aku gabung sama Nela, pramugari maskapai, lalu pak Johan bergabung. Nah itu, dia ngajakin ngobrol. Terus ngajakin jalan-jalan. Aku nggak tau kalo dia udah kawin," sambung Judith.


"Apa dia nggak tahu, kalo kamu dekat dengan pak Syahdan?" tanya Vario.


"Tahu, dia kenal sama mas Syahdan. Bahkan tahu juga kalo udah nikah. Itulah, dia nyaranin aku untuk move on. Dia bilang ngajak jalan sebab ingin menghiburku,, ternyata udah nikah," keluh Judith tersenyum.


"Kalo pak Johan belum nikah, kamu pasti mau diajak jalan pak Johan, Dit?" tanya Vario tiba-tiba. Judith memandang sekilas dengan sewot.


"Mas Rio lupa, pagi tadi siapa dulu yang kucari. Siapa juga yang pertama kuminta nemenin belanja? Aku pun baru tahu jika pak Johan udah kawin itu dari kamu,," ucap Judith nampak kesal.


"Iya, Dit. Kenapa harus aku?" pancing Vario.


"Sebab aku marah dengan adikmu. Jadi mas Vario harus mau menemaniku selama aku tidak bisa minta tolong pada mas Syahdan," terang Judith dengan ekspresi yang masih saja agak kesal.


"Jadi, karena pak Syahdan dan Ratria yang menikah, maka menurutmu aku yang harus bertanggung jawab denganmu?" tanya Vario serius. Judith meliriknya dengan segan.


"Iya,,, tapi selama aku jauh dari mas Syahdan,," Judith tersenyum lebar pada Vario.


"Itu egois namanya. Kamu akan menyakiti adikku," protes Vario.


"Mereka tidak saling menyukai. Akulah yang sedang sangat tersakiti," sanggah Judith. Vario menoleh, memandang Judith dengan redup dan hangat.


"Ingatlah tentang jodoh, Dit.. Anggap saja kamu belum jodoh. Orang yang sudah nikah saja banyak yang kemudian cerai, apalagi cuma kekasih seperti kalian. Sangat lumrah jika tiba-tiba kalian putus di tengah jalan," redam Vario.


Judith berpaling dan bungkam. Mengakui kebenaran kata-kata Vario. Apalagi dengan fakta jika dirinya dan Syahdan belum pernah ada ikatan apapun. Jika Vario tahu hal yang sebenarnya, Judith yakin, sikap lelaki itu pasti akan lebih tegas lagi padanya. Tapi meski dirinya sadar, rasa hati masih saja begitu sakit pada Ratria.

__ADS_1


__ADS_2