Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
57. Masuk Angin


__ADS_3

Perkebunan teh, Sirah Kencong, Blitar...


Meski sudah berminggu-minggu kamar tercinta tidak ditiduri, tapi mbak Lusi selalu datang merapikan dan membersihkan. Juga mengganti sprei di ranjangnya dengan rutin. Kamar Ratria dengan cat dinding warna pink ungu itu tidak terasa pengap atau juga berdebu. Udara segar terus berganti melalui jendela kamar yang rajin dibuka oleh mbak Lusi setiap pagi dan ditutup saat sore.


"Mas Arka makan siang dulu ya. Mbak Lusi sudah menyiapkan," kata Ratria pada Arka yang baru menerima telepon di ponsel. Ratria baru datang dari arah kamarnya.


"Enggak mbak. Terimakasih. Aku makan di jalan saja nanti." Arka tersenyum menjawab. Lalu berdiri bersiap untuk kembali ke Surabaya.


"Kok cepet-cepet tho, mas? Apa ora capek?" tanya mbak Lusi yabg baru datang dari dapur.


"Ya capek, mbak. Tapi ya memang di jalan kerjaku, menyupir. Selain menyupir aku tidak ngapa-ngapain mbak,," Arka tersenyum dengan lebar.


"Nggak mampir Tulung Agung tho, mas?" tanya mbak Lusi lagi. Sopir Arka berasal dari kabupaten Tulung Agung.


"Mboten (tidak), mbak.. Jauh, perlu dua jam ke sana,," jawab Arka sambil menyambar kunci mobil dan mendekati mbak Lusi.


Arka berpamitan pada mbak Lusi dan Ratria untuk berangkat ke bandara Juanda kembali. Merasa harus selalu siaga saat si boss memerlukan dirinya. Sekarang pukul sebelas siang dan akan sampai di Juanda, kira-kira pukul tiga lebih atau juga saat ashar.


🍃🍃🍃


"Kok pulang sendiri, Rat. Suami kamu nggak ngantar? Kaki kamu sudah benar-benar sembuh?" tanya mbak Lusi yang ikut masuk ke dalam kamar. Ratria sedang mengeluarkan baju dan dimasukkan ke almari.


"Sudah sembuh mbak. Tapi ya nggak sempurna. Agak penyok. Jadi nggak pede pakai sandal," keluh Ratria dan abai tentang Syahdan. Memandang sekilas jempol jaki kanan yang baginya sedang cacat. Mbak Lusi mengamati.

__ADS_1


"Lhah itu sudah bagus, Rat. Daripada kena potong. Lama-lama juga sempurna lagi,," hibur mbak Lusi.


"Iya juga, mbak. Tapi ya sementara harus pakai sandal. Masih sakit jika dipakaikan sepatu," jelas Ratria lagi.


"Ya iya.. Wong luka kamu masih belum ada satu bulan,," mbak Lusi tersenyum.


"Mbak, pak Syahdan pernah bilang bersedia membiayai jika aku mau operasi. Biar jempolku kembali cantik lagi. Apa dia sungguh-sungguh ya,,?" tanya Ratria. Namun tanpa memandang mbak Lusi. Sibuk menghanger baju yang telah dicucikan oleh Syahdan malam tadi.


"Ya pasti benar yang dia bilang itu, Rat. Dia nggak akan cuma ngomong saja. Memangnya sudah sejauh apa hubungan kalian itu, Rat?" mbak Lusi sambil memandang lekat Ratria sebab penasaran. Yang ditanya sedang melepas kerudung di kepalanya.


"Sejauh bagaimana maksudmu, mbak?" tanya Ratria, berlagak tidak paham. Sedang di dalam hati sangat berdebar tiba-tiba ingat Syahdan.


"Ya, selama kamu di sana kan cuma dua orang saja dalam rumah. Terus kamu kecelakaan, yang ngurusi kamu hanya pak Syahdan. Apa kalian nggak merasa saling tertarik gitu. Atau kamu sendiri itu, nggak punya rasa suka sama suami kamu, Rat?" tanya mbak Lusi dengan mimik yang serius.


"Lha kamu sama pak Syahdan, memang tidak pernah sentuh-sentuhan gitu, Rat?" mbak Lusi seperti tak habis pikir.


Syahdan adalah pria sukses, hartawan dan tampan. Ratria gadis sangat cantik dengan body ideal, dan sudah menjadi istri Syahdan. Ditambah lagi tinggal seatap. Seperti tidak mungkin saja jika tidak asa rasa saling tertarik sedikit pun pada mereka. Mbak Lusi geleng-geleng kepala tak percaya.


"Mbak, aku mau ganti baju. Kepalaku agak pusing, perutku juga terasa mual. Ingin muntah tapi nggak bisa. Aku mau rebahan dulu, mbak, capek,," Ratria berharap mbak Lusi cepat pergi.


"Ealah, Rat. Kamu ini alasan nggak mau jawab yaa. Ya sudah, kamu tidurlah. Habis perjalanan jauh, mungkin kamu agak masuk angin. Aku buatkan jahe hangat yo, Rat. Tunggu..." Mbak Lusi keluar kamar menuju dapur.


Ratria tidak tidur, tapi menyambar handuk dan pergi mandi sangat kilat. Mengganti baju, serta shalat dzuhur super cepat. Seperti akan tumbang saja rasa badannya.

__ADS_1


🍃🍃🍃


Jahe hangat dan herbal penolak masuk angin yang diberi mbak Lusi telah diminum satu jam yang lalu. Tapi rasa tidak nyaman justru kian hebat menderanya. Pening dan mual hebat tapi tidak muntah.


"Aduh, Rat. Mungkin AC yang di mobil tadi kuat banget, Rat.." Mbak Lusi duduk di tepi ranjang.


"Iya mungkin mbak. Aduuuuh...." rintih Ratria. Tubuhnya meringkuk dan menggeliat di ranjang. Rambut panjangnya sudah berserakan di mana-mana.


"Kita ke dokter saja, Rat. Atau kerokan saja? Kamu mau nyoba? Pilih kerokan apa turun ke dokter Cahyo? Nggak jauh kliniknya, Rat," ucap mbak Lusi nampak panik. Ratria menoleh mbak Lusi dengan mata berbinar.


"Iya mbak, aku milih nyoba kerokan saja. Sakit nggak ya,," sahut Ratria berdebar.


"Aku kerok pelan-pelan, Rat. Cuma nyeri dikit dan mungkin kamu geli soalnya kamu tidak pernah kerokan. Lepas baju atas kamu itu. Tengkurap, Rat," ucap mbak Lusi. Bergegas turun mencari gelas dan minyak angin.


"Pakai apa, mbak?" tanya Ratria yang sudah tengkurap.


"Bukan koin kok, Rat. Ini pakai gelas, jadi nggak sakit. Jika sakit pun, hanya sedikit," ujar mbak Lusi sambil merangkak naik ke ranjang.


"Kamu sambil baca doa apa saja ya, Rat. Mudah-mudahn cepat pergi angin kamu. Bismillaaah,,," ucap mbak Lusi. Ratria menjawab dengan anggukan di kepalanya. Seperti tak kuasa bersuara.


Mbak Lusi sudah duduk di samping punggung polos Ratria sambil membuka tutup botol minyak angin. Wanita itu tertegun, punggung Ratria yang indah mulus terlihat janggal di mata. Banyak noda dan lebam kecil yang mengganggu pemandangan di kulitnya.


Mbak Lusi merasa heran. Berfikir dengan banyak kemungkinan penyebab lebam sambil cepat-cepat mulai mengerok. Ratria sesekali merintihkan pening dan mualnya. Mbak Lusi meredam rasa panik dengan mengamati punggung Ratria. Banyak praduga sedang melintasi kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2