Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
71. Menguati Benteng


__ADS_3

Sayup adzan dari masjid di Juanda, terdengar di kamar remang rumah dinas. Dua tubuh bede genre itu sedang saling merapat untuk mendapat rasa hangat yang lebih.


Ratria kian menyelip wajah di dada suaminya. Mengambil nafas dalam-dalam dan ingin mencium aroma Syahdan sepuas hatinya pagi ini.


Syahdan tersenyum dan merasa meremang yang geli. Hidung Ratria yang runcing di ujung, seperti menusuk-nusuk dadanya. Tangan kekarnya mengulur ke rambut di kepala dan membelai.


"Rat, kamu sudah bangun? Maaf semalam aku pulang lambat, kamu sudah tidur,," ucap Syahdan. Tangan besarnya terus membelai lembut rambut Ratria. Dan tangan halus lentik itu merambat yang juga mengusapi dadanya.


"Iya, aku ketiduran. Maaf tidak terjaga sampai kamu datang," sambut Ratria. Masih mengusap dada lebar dan keras sang suami. Syahdan erat memeluk Ratria di kepala dan pinggangnya.


Meski sedang meremang, bukan hanya hidung saja yang mencucuk, namun usapan tangan itu juga membuat kian meremang, Syahdan merasa sebak di dadanya.


Cobaan sebagai lelaki, bahkan sebagai seorang suami, sedang mendapat ujian bertubi yang berat. Terkadang Syahdan merasa oleng dan hampir tidak kuat saja menahan rasanya.


Kasandra begitu lihai membereskan segala masalah pekerjaan dengan cepat. Meski Syahdan sudah mulai paham dengan apa yang harus dilakukan, dikerjakan, serta direncanakan, Kasandra begitu sering melakukan banyak pekerjaan untuknya dengan kilat.


Syahdan justru merasa seperti asisten yang hanya sedikit saja bermanfaat. Dan selebihnya akan berubah tugas sebagai seorang bodyguard bagi Kasandra.


Semalam pulang sangat lambat, bukan sebab banyak kerja. Tapi justru menemani Kasandra untuk mengunjungi apartemen yang akan dipilih dan dibeli. Setelahnya, menemani lagi pergi spa dan shopping. Syahdan merasa jika Kasandra tak ubahnya seperti Judith. Begitu ingin dimanjakan. Tentu kali ini Kasandra jauh lebih mengancam dan pasti cenderung berbahaya. Syahdan sering sakit kepala dibuatnya.


"Rat, apa datang bulan kamu sudah pergi? Apa kamu sudah bersuci?" bisik Syahdan dengan serak. Merasa dirinya sedang siaga tegang pagi ini.


"Belum. Ini belum satu minggu, biasanya kurang lebih sembilan hari," terang Ratria.


"Ahh, lama sekali, Ratria," keluh Syahdan setengah mendesah. Voltasi dirinya terasa kian tinggi.


"Kenapa tiba-tiba tidak sabar? Biasanya kamu tidak mengeluh. Bukankah hampir tiap pagi pun kamu sudah menyentuh dan menggauliku? Apa kurang?" tanya Ratria dengan enggan. Sedikit merenggang diri dari Syahdan.

__ADS_1


"Tentu saja rasanya tidak sama, Rat. Tidak bisa menyamai dengan rasa yang kita lakukan pertama kali di vila malam itu. Aku ingin yang seperti itu," jelas Syahdan. Kembali mengambil Ratria untuk merapat di posisinya semula.


"Pak Syahdan, tinggal beberapa hari saja kok. Apa kamu marah?" Ratria serba salah.


"Marah? Marah pada siapa, Rat? Aku mana berani marah,,, sama dengan aku mencela aturan dariNya. Hemmm,,?" ralat Syahdan.


"Auuwwhh!! Ah! Geli, pak..." Ratria menggeliat sambil tertawa kegelian. Syahdan telah menggelitik pinggang dan kini meraba di seluruh permukaan kulitnya.


"Aku ingin bermain cepat, Rat! Adzan sudah dari tadi. Maaf, kamu tidak apa-apa?" tanya Syahdan.


Meski minta maaf dan merasa bersalah, tidak menyurut gerak aktifnya untuk bermain-main dengan sangat cepat. Merasa harus melakukan pagi ini pada sang istri. Demi mebentengi diri dari godaan Kasandra yang gencar di ruang kerja atau juga saat di luaran.


"Iya, pak Syahdan. Lakukan apa saja yang kamu inginkan, asal jangan di dalam sanaaah,,," sambut Ratria terengah. Syahdan sedang hebat mencumbunya.


Seperti itulah yang dilakukan Syahdan pada Ratria akhir-akhir ini saat pagi. Laki-laki itu sedang mencari solusi demi membentengi serta mendapat keamanan dirinya. Dan entah cara ini bertahan sampai kapan, Syahdan pun kadang merasa tidak yakin sendiri. Namun sadar jika tidak ingin terperosok ke dalam kubang dosa.


🍃🍃🍃🍃


Panas terik di luaran saat tengah hari, berbanding terbalik dari suhu di sebuah ruang mewah yang terasa sangat nyaman dan sejuk. Dengan dua manusia di sana yang sedang berdiskusi sangat dekat berhadapan.


"Kurasa sudah cukup penjelasan kamu, Sandra. Aku sudah mulai mengerti. Akan lebih mudah jika sudah beberapa kali kukerjakan," tegur Syahdan dengan pelan. Bagaimanapun tidak ingin menyinggung putri bos besar pemilik maskapai.


"Sebentar, pak Syahdan. Materi satu ini saja. Setelah itu kita istirahat bersama-sama," balas Kasandra dengan tegas.


Bukan sudah merasa pintar yang melintas di benak Syahdan. Hanya terasa sesak dan serba salah pada posisi dan cara Kasandra memberi teori kerja baru itu padanya.


Bagaimana tidak sesak. Kasandra yang berdiri serong di sampingnya begitu rendah membungkuk. Menjelaskan salah satu teori system kerja baru di komputer dengan lembut namun bersemangat. Dengan suara yang mendayu menggelitik sanubari lelakinya.

__ADS_1


Yang bahkan seperti biasa. Kasandra kembali membuka blazer dan hanya mengenakan outfit terbuka setiap kali berada dalam ruang kerja dengan Syahdan. Tentu saja lagi-lagi tanpa mengenakan penyangga dada. Jujur saja Syahdan begitu dibuat megap karenanya.


"Apa pak Syahdan sudah mengerti untuk bagian yang ini?" tanya Kasandra tersenyum.


"Untuk teori sudah kumengerti. Tapi praktiknya, kamu bisa pantau lagi. Kurasa cukup dulu, Sandra. Aku ingin istirahat ke kantin." Syahdan kembali menegur.


"Auwh, jatuh,,!" jerit Kasandra dengan lirih. Dan bagai kilat tangannya telah mengulur. Pensil yang dipegang, telah jatuh di paha Syahdan. Entah disengaja atau tidak, jatuhnya pensil dari genggaman adalah alasan tangan lentik itu telah singgah menelusur rapat di sana.


Syahdan dengan cepat menggeser duduknya. Namun Kasandra sempat menggoreskan tangan di meriam Syahdan yang telah siaga dan entah sejak kapan.


"Eh, sudah keras sekali, pak Syahdan,," goda Kasandra tanpa rasa malu sedikitpun.


Syahdan diam mengacuhkan dan berdiri dengan cepat. Pergi memutari meja sambil menyambar ponsel yang tadi diletak di meja.


"Aku akan makan siang satu jam, Sandra. Pagi tadi tidak jadi mengambil break timeku," ucap Syahdan sambil berlalu.


"Sudah kubilang kita istirahat bersama, pak Syahdan. Tunggulah sebentar!" seru Kasandra dari belakang.


Syahdan berhenti melangkah nampak ragu, dan akhirnya ditunggu juga Kasandra di pintu.


🍃


Kantin khusus staff sangat ramai saat siang. Hampir semua staff di bandara akan menumpah ruah untuk makan siang di sana. Syahdan sengaja menuju ke sana sebab merasa enggan untuk pergi keluar jauh dari bandara. Selalu ada Kasandra di sampingnya.


Sebuah meja yang hanya ada seorang wanita sedang duduk, menarik perhatian Syahdan seketika. Melangkah lebar menuju meja itu yang tentu diikuti oleh Kasandra di sampingnya. Perempuan itu menunduk dalam dan abai yang padahal sudah sempat melihat ke arah dirinya.


"Judith,,?" sapa Syahdan. Merasa tidak paham dengan sikap Judith yang abai seperti itu padanya.

__ADS_1


Judith mendongak, mengamati dua wajah yang sedang menjulang di depannya. Ekspresi datar Judith meyakinkan Syahdan bahwa Judith tadi memang sedang pura-pura tidak melihat datangnya.


__ADS_2