Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
36. Saling Janji


__ADS_3

Sayup adzan subuh dari Juanda terdengar di kamar rumah dinas sang manager. Namun pemilik kamar tidak terasa dan tidak terdengar gerakannya sama sekali.


Ratria yang sudah terbangun dari sebelum subuh sebab kakinya terasa nyeri luar biasa, hanya diam berkedip-kedip dengan tegang. Efek obat yang telah hilang, membuat matanya segar dengan kepala yang berfungsi sempurna kembali. Juga efek utama adalah nyeri di jempol kaki yang dahsyat, penyebab dirinya terus terjaga dalam gelap yang samar.


Hingga subuh lama berlalu, tidak juga samar kelebat Syahdan yang bangun. Rasanya kian gusar jika lelaki itu tidak akan bangun hingga mentari terbit penuh.


"Pak,,pak Syahdan,," Ratria lembut memanggil. Tidak ingin panggilannya menjadi kejutan.


Tidak ada suara juga tidak terasa pergerakan.


"Pak Syahdan,,!" panggilannya agak keras kali ini.


"Heeemm..."


Terasa ada pergerakan dan juga sahut dehem dari Syahdan di ujung tepi ranjang. Syahdan benar-benar memenuhi keinginan Ratria hingga sepanjang malam. Sangat konsisten dengan kesanggupannya.


Namun tidak ada lagi lanjut pergerakan apapun yang terasa dari sisi ranjang di sebelah.


"Pak Syahdan,,, subuh mau habis. Aku ingin bangun!" ucap Ratria sedikit keras dengan nada tetap lembut.


"Kamu ini membangunkan aku apa kamu saja yang ingin bangun, Rat?"


"Arrghhh,,!!" jerit Ratria serasa jantungan.


Suara Syahdan yang serak bangun tidur begitu dekat di samping wajahnya. Ratria tidak menyangka dan menyadari pergeseran Syahdan yang sangat dekat.


"Kenapa, Rat,?! Ada kecoa,?!" Syahdan juga terkejut. Sepertinya Syahdan telah duduk.


"Tidak ada kecoak. Tapi aku kaget. Apa pak Syahdan sedang mendekatiku,,?!" tanya Ratria agak keras.


Syahdan mengusap ulang kali rambunya yang pendek dalam gelap.


"Aku hanya memastikan jika aku memang sedang tidur denganmu, Rat. Seperti mimpi dengar suara kamu membangunkan tidurku ," jawab Syahdan sangat jujur.


"Pak Syahdan harus paham. Aku ini sedang terpaksa. Maaf jika aku membuat ranjangmu jadi sempit dan tidak nyaman," Ratria buru-buru menimpali.


Syahdan turun dari ranjang dengan kembali mengusap- usap rambut tebal pendeknya yang mulai terasa panjang. Merasa pening dengan ucapan Ratria yang berusaha tidak menyambung.


Lampu seketika menyala terang, sekaligus menampakkan gadis cantik yang sudah duduk menurunkan kaki dari ranjang. Syahdan keluar kamar dengan rasa tak percaya jika Ratria berada di kamarnya, bahkan telah tidur seranjang bersama semalam.


Merasa bersyukur lega dengan kepercayaan Ratria padanya. Juga tidak ada pertengkaran yang berarti di antara mereka semalam. Syahdan menyadari jika Ratria sedang berusaha bekerjasama demi kebaikan gadis itu sendiri sebab merasa telah menumpang padanya. Ratria cukup memahami akan situasi dan kondisi di antara mereka. Serta memahami keadaan rumah dinasnya yang jauh dari mewah.


🍃🍃🍃


Selain kamar yang ditempati, ada tiga tempat lain yang sempat terjaga bersihnya. Kamar mandi, ruang tamu dan mushola kecil di samping kamar mandi. Bahkan dapur pun, Syahdan tidak pernah menyentuhnya. Entah sudah seberapa tebal debunya di sana.


Lelaki itu tidak pernah mengisi perut di dalam rumah dinas. Jika terpaksa pun, sesuatu yang dibeli dan dibawa pulang, dia bereskan di ruang tamu seorang diri. Meski sering juga Judith bertandang ke rumahnya barang sebentar untuk sekedar menemani.

__ADS_1


Syahdan baru keluar dari sholat subuh saat Ratria juga baru keluar dari dalam kamar mandi. Mereka sama-sama terkejut.


"Kamu sudah mandi, Rat?" tanya Syahdan menetralkan rasa kejut.


Memperhatikan Ratria yang wajahnya berkilat basah di keremangan. Tidak ada lampu di depan kamar mandi atau juga di Mushola. Syahdan tidak terlalu peduli dengan hal ini. Meski ibunya juga bising jika kebetulan pulang dari Bontang dan bertandang ke rumah dinasnya.


"Iya, sudah," jawab Ratria.


"Setelah sholat subuh, aku ingin berbicara denganmu, pak Syahdan," sambung Ratria dengan meringis tak sengaja. Syahdan melihatnya meskipun tanpa lampu. Dirinya sudah biasa dengan suasana remang di rumahnya.


"Kakimu sudah terasa nyeri lagi,?" Syahdan terlihat khawatir. Ratria mengangguk.


"Tunggulah di kamar, nanti aku datang," kata Syahdan sambil menghampiri Ratria. Didorongnya kursi roda bersama Ratria dengan pelan menuju arah kamar.


"Tanganmu jangan sampai mengenaiku, pak Syahdan," tegur Ratria. Meski terkejut dengan perlakuan baik Syahsan, tapi was-was hatinya tetap bekerja dengan baik.


"Aku tahu, Ratria." Syahdan menjawab singkat sambil terus mendorong. Dirinya memang tidak lupa jika Ratria akan shalat subuh juga dan baru saja berwudhlu.


Syahdan meninggalkannya begitu saja di tepi tempat tidur dan berjalan keluar tanpa berkata apapun.


🍃🍃🍃


Ceklerk,,!


Syahdan memandang perempuan di atas tempat tidur yang masih bermukena. Wajahnya nampak lebih cerah dan begitu manis dipandang. Dengan mata berkilat yang lekat menyambut datangnya.


Ada bungkusan di tangannya, lalu diulurkan pada Ratria. Dan hanya disambut dengan pandangan segan dari mata indah itu.


"Habis berbicara, segeralah sarapan. Akan kusiapkan obatmu," Syahdan kembali duduk menjauh di depan Ratria. Wajah tampannya sedang berekspresi menunggu.


Ratria sedang menekuk-nekuk jemari tangan, sepertinya sedang resah untuk memulai berbicara. Wajahnya selalu tegang. Tidak pernah sekali saja tersenyum.


"Berbicaralah, Rat.. Atau kamu makan dulu? Kita bicara setelah kamu minum obat?" tanya Syahdan bersabar. Ratria cepat menyambut dengan gelengan kepalanya.


"Sebenarnya, aku ingin membicarakan hal yang mungkin bagimu tidak penting. Tapi ini sangat mengganjal bagiku," Ratria mulai pembicaraan.


"Saat kamu mandi, mas Vario telah meneleponku. Dia berkata akan datang ke sini dan menjemputku besok pagi, sepulang dari Laos. Tapi... Jika aku tidak ingin tinggal dengan mas Vario, berarti aku masih tinggal di sini denganmu." Ratria memandang Syahdan yang sedang mengangguk.


"Pak Syahdan masih akan menepati janjimu pada mamamu waktu itu, kan? Bahwa akan benar-benar menjagaku tanpa berniat memaksakan apapun padaku? Jadi, selama aku masih tinggal denganmu, tolong jangan buat aku tidak nyaman. Apa pak Syahdan sudah paham?" terang Ratria bertanya.


Syahdan memandang Ratria yang sedang berbicara seperti tak berkedip. Terdiam sesaat nampak menimbang.


"Jadi, kamu akan memilih tinggal bersamaku? Dan menolak dijemput kakak tirimu itu?" tanya Syahdan yang sama sekali bukan jawaban dari pertanyaan Ratria.


"Apa pak Syahdan keberatan dengan penjelasanku?" Ratria juga balik bertanya yang lain.


"Aku tidak peduli meski kamu tidak pernah menyukaiku, Ratria. Tapi kamu harus tetap tinggal denganku. Aku tidak akan membiarkan kakak kamu membawamu," Syahdan justru menegaskan jawaban dari pertanyaannya sendiri dengan tergesa.

__ADS_1


"Pak Syahdan berjanji untuk tidak mengusikku,?" desak Ratria kembali.


Syahdan pun akhirnya mengangguk.


"Baiklah, aku berjanji jika kamu juga berjanji untuk tetap tinggal di sini bersamaku, Ratria," ucap Syahdan menyanggupi. Ratria dengan cepat mengangguk.


"Termasuk memberiku privasi dengan sebuah kamar lain untukku?" Wajah kaku dan tegang yang cantik itu nampak samar tersenyum.


Syahdan dengan cepat mengangguk terasa terhipnotis.


"Terimakasih, pak Syahdan. Kamu sangat baik padaku. Jam berapa kamu menjemput ART di rumah mamamu?" tanya Ratria bersemangat. Kini wajah itu semakin cerah dan sedang benar-benar tersenyum.


Syahdan mengambil nafas yang panjang dan dalam.


"Ah, Ratria,,! Habiskan dulu sarapaan itu dan minumlah obatmu,!" seru Syahdan sambil cepat berdiri untuk mengambilkan set obat yang akan ditelan Ratria pagi ini. Seperti tak sanggup untuk memandangnya lebih lama lagi.


"Iya, pak Syahdan,,!" jawab Ratria bersemangat dan terus tersenyum. Tidak peduli meski sadar jika Syahdan belum memberi kepastian kapan akan menjemput ART dari rumah ibunya.


Syahdan cukup terkejut saat kembali ke dalam kamar, makanan di kotak nasi telah dihabiskan Ratria dengan cepat. Merasa gembira dengan pilihan pecel sayur dan ayam gorengnya itu sangat disukai Ratria.


Namun juga heran dengan gadis langsing seperti Ratria, tapi doyan makan apapun tanpa pernah ada sisa. Tidak habis pikir dengan perut tipis dan rata yang pernah dielusnya waktu itu selalu sanggup menampung segalanya.


"Apa kamu ingin makanan yang lain, Rat?" tanya Syahdan sambil mengambil kotak kosong dari tangan Ratria.


"Tidak, aku sudah tidak sanggup lagi. Terimakasih, pak," Ratria menjawab dengan ekspresi kekenyangan.


"Kamu menghabiskan makananmu dengan bersih. Cara makan kamu sangat bagus, Rat," ucap Syahdan ingin lebih tahu lagi apa yang sedang dirasakan Ratria saat itu.


"Jika pak Syahdan membelikan makan aku lagi, sebaiknya mintakan nasi setengah porsi saja. Sebenarnya aku terpaksa menghabiskan. Almarhum nenekku akan marah jika kusisakan makanan. Terutama nasi dari beli." Ucap Ratria nampak sendu. Selalu teringat pada sang nenek yang dirindu.


Syahdan kembali bernafas panjang setelah sekian detik menahan nafas di dadanya.


"Kenapa kamu tidak bilang dari semalam? Maaf, aku tidak paham, Rat," ucap Syahdan dengan lembut.


"Aku segan, pak Syahdan. Sudah baik aku diberi makan olehmu, kan..." jawab Ratria sambil berpaling wajah ke jendela.


Syahdan tidak lagi menyahut. Ada haru dengan perkataan Ratria. Gadis yang biasa bermulut ketus dan tegas padanya itu ternyata juga memiliki hati yang lembut. Syahdan menghampiri jendela kamar dan membukanya lebar-lebar dengan bibir tersenyum agak lebar.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


...Selamat bertahun baru! Semoga semakin bahagia dirimu! Aku sangat padamu!! 😘...


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


.🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2