
Penutupan acara seminar dan sosialisasi bersama dua pihak perseroan itu telah selesai dengan lancar jaya dan gemilang. Kelegaan terbayang di hampir tiap wajah para peserta undangan di aula. Kerinduan pada keluarga serta kelelahan raga, adalah pendorong mereka untuk segera meluncur pulang bersemangat.
Begitu juga Ratria, Hendra dan Galih. Meski Galih harus meninggalkan pacar di Sidoarjo, tapi wajah lelaki itu tetap nampak cerah dan gembira. Mungkin setelah ini, di saat perjalanan pulang, si pacar akan kembali di apelinya.
Sedang pak Leo dan bu Siska, mereka juga nampak gembira. Tapi bayang suram di wajah melekat samar di sana. Entah apa masalah pada keduanya. Yang jelas setelah ini mereka tetap akan pulang bersama serta masih bisa selalu bertemu tiap hari saat kerja di kota Wlingi.
Syahdan bukanlah orang yang memberi kata penutup dari pihak maskapai Air Asia, namun dilakukan oleh rekannya. Entah di mana lelaki itu pagi ini. Sebelah lubang hidungnya pun tak nampak.
"Ratria,,!!"panggilan untuk pemilik nama itu sedikit mengundang perhatian. Beberapa orang ikut menoleh dan memperhatikan sejenak. Ratria yang berjalan bersama Hendra langsung berhenti dan membalik badannya.
"Mas Rio,,! seru Ratria setelah meyakini sosok itu dengan jelas. Vario nampak cerah di antara sekian banyak orang.
"Akan pulang,?" tanya Vario sambil melempar senyum tipis pada Hendra.
"Iya, mas. Sudah selesai," jawab Ratria tersenyum.
"Ya sudah. Hati-hati." ucap Vario.
"Sama-sama. Mas Rio kerja yang semangat dan semoga sukses, ya," sambut Ratria.
Vario hanya mengangguk kecil sekali dan memandang Ratria dengan lekat. Seperti ada hal yang akan disampaikan namun tidak jadi. Ada dua orang yang tiba-tiba datang dan berdiri di antara mereka. Yang Ratria sudah sangat mengenalinya. Pak Syahdan dan kekasihnya, Judith.
"Pak Syahdan,,?!" Hendralah orang pertama menyapa saat menyadari kedatangan Syahdan bersama perempuan jelita di sampingnya.
"Selamat pagi,,, Sudah akan pulang,,?" sambut Syahdan menatap Hendra dengan hangat. Yang kemudian mengangguk kecil pada Vario. Dan dibalas angguk samar juga dari Vario.
"Iya, pak. Ini akan on the way," sahut Hendra tak kalah hangatnya.
"Dengan siapa,?" tanya Syahdan terus terang. Menoleh sesaat pada gadis berkerudung yang juga sedang melebarkan mata padanya.
"Dengan kawan-kawan tim kami, pak," jawab Hendra dengan nada agak kaku. Mungkin sedang melawan kegusarannya sendiri.
"Berlima,,?" Syahdan bertanya dengan nada yang terdengar tetap ramah. Memandang Hendra yang seolah ragu akan menjawab.
"Iya, pak," jawab Hendra dengan mengangguk akhirnya.
__ADS_1
Saat mereka berbincang, Ratria sangat lekat memandang Syahdan dengan dada berdebar. Sebab rasa resah dengan apa tujuan lelaki itu menghampirinya dan Hendra.
Mata Ratria sempat bergeser pada gadis langsing dan cantik di samping Syahdan yang ternyata telah memperhatikan Ratria seksama. Ratria merasa dirinya sedang disetrika bolak balik tanpa panas oleh perempuan langsing di samping Syahdan.
Ratria juga tak ingin kalah dengan tidak membalas menyetrika Judith, yang baginya adalah kekasih Syahdan. Ratria juga mengamati Judith dengan seksama dari dekat.
Judith beralis tipis melengkung dengan mata lebar dan berhidung mancung, sangat sesuai dengan kulit putihnya yang cerah. Gadis itu memang cantik. Dan,,,,tubuh langsingnya yang terlalu.
"Jadi, Ratria akan bersama saya untuk pulang kembali ke Blitar," ucap Syahdan pada Hendra. Dan ini cukup membuyarkan pengamatan Ratria pada Judith dan juga keduanya.
"Aku ikut, ya mas," manja Judith pada Syahdan.
Lelaki itu menoleh pada gadis manja di sampingnya lalu pada Vario.
"Apa kamu ada libur? Tanyakan dulu pada atasan kamu," jawa Syahdan dengan nada dan ekspresi yang datar.
Judith nampak cemberut. Lalu memandang pada Vario dengan pandangan yang segan.
"Mas, boleh nggak, aku izin mendadak hari ini,?" tanya Judith dengan ragu memandang Rio penuh harap.
Rupanya kakak tiri Ratria adalah pramugara sekaligus staff di sebuah agency penerbangan. Salah satunya melayani permintaan pramugari lepas dari berbagai maskapai penerbangan yang sedang membutuhkan tambahan pramugari dan pramugara secara mendadak.
"Tunggu jika kebetulan kamu liburan, Dit." tegur Syahdan pada Judith yang cemberut.
"Pas aku liburan, belum tentu mas Syahdan ke Blitar," protes Judith dengan sebal. Dan Syahdan membiarkan tidak menanggapi lagi.
"Bagaimana, mas Hendra,?" tegur Syahdan pada Hendra yang nampak diam dengan sesekali menatap Ratria dan Syahdan.
"Tapi kami perlu dokumentasi perjalanan, pak Syahdan," Hendra bermaksud menolak dengan halus.
"Bukankah foto serta dokumentasi hanya perlu dibuat saat berangkat dan pulang,?" desak Syahdan pada Hendra. Abai pada Ratria yang sedang tajam memandangnya.
"Baiklah. Saya membolehkan setelah pembuatan dokumentasi,"
"Ratria, kenapa kamu tidak bilang jika pak Syahdan tetangga kamu di Blitar,? Betul kamu akan bareng pak Syahdan menuju Blitar ?" tegur Hendra dengan wajah datar pada Ratria.
__ADS_1
"Sorry, mas. Akupun baru saja tahu," bela Ratria. Merasa segan pada Hendra.
"Tapi aku nggak jadi pulang bareng pak Syahdan kok, mas. Lebih patut bareng mas Hendra saja. Masak kita berangkat bersama pulangnya nggak bareng.." sambung Ratria.
"Pak Syahdan, mohon maaf. Saya tidak jadi bareng pulang sama bapak. Saya lebih suka bareng ramai-ramai dengan kawan tim saya," tolak Ratria dengan tenang dan sopan. Dan memandang Syahdan dengan tatapan tegas. Seolah berkata tidak ingin lagi dipaksa.
Syahdan terdiam tanpa bisa berkata-kata. Nampak tidak menyangka jika Ratria tetap kukuh tidak mau.
"Bukankah lebih baik pulang denganku, Ratria? Dari Wlingi kamu tidak perlu repot menyambung ke Sirah Kencong dengan menyewa kendaraan lain," Syahdan mencoba membujuk.
"Ah, masss,,, orang dia nggak mau, ngapain dipaksa. Ntar ge er loh,,,!" sela Judith dengan pandangan sinis pada Ratria.
"Pak Syahdan, kami duluan ya. Tidak ingin terlalu terik di jalan." Ratria juga menyela dan tidak peduli pada Judith. Juga tidak peduli andai Syahdan diam-diam merasa kecewa dan marah pada penolakannya.
"Mas Rio. Baik-baiklah bekerja. Assalamu'alaikum," pamit Ratria pada sang kakak. Lalu berbalik tanpa menunggu respon dari Vario.
"Yuk buruan, mas Hendra," Ratria memberi kode pada Hendra untuk segera menjauh.
Hendra mengangguk pada Syahdan juga pada Vario dengan tergesa. Lalu berbalik berjalan cepat menyusul Ratria yang seperti berlarian saja berjalan. Mungkin gadis itu tergesa sebab pak Leo, bu Siska serta Galih telah menunggu mereka di parkiran.
Dan sangat mudah bagi Hendra untuk mengikis jarak dengan Ratria dalam waktu sebentar saja.
"Rat, sebetulnya pak Syahdan itu siapa,?" tanya Hendra pada gadis yang nampak tegang di sampingnya. Mereka telah berjalan beriringan.
"Dialah yang punya pabrik teh di Sirah Kencong, mas," jawab Ratria cepat dengan laju berjalan.
"Apa,,? Benar, Rat,??!" Hendra nampak terkejut.
"Kenapa, mas,?" Ratria terheran dengan reaksi Hendra.
"Pakdheku, pakdhe Eko, yang sering antar jemput kamu itu, Rat. Pas datang ke rumah kami, dia cerita jika boss baru pabrik teh di Sirah Kencong cukup bagus. Banyak membuat perubahan. Dari segi kenaikan gaji, juga beberapa tunjangan baru telah diadakan. Dan gosipnya bos baru itu masih muda dan tampan. Ternyata memang benar-benar masih muda dan sangat tampan ya, Rat." Hendra sangat jujur memuji.
"Apa kalian sudah lama saling kenal, Rat?" selidik Hendra dengan raut terheran. Gadis yang ditanya kemudian pelan menggeleng.
"Ya baru-baru ini saja kok, kami kenal, mas," terang Ratria dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Masih termangu dengan penjelasan Hendra tentang kebagusan nama Syahdan di lingkungan orang pabrik.