
Perjalanan kurang lebih dua puluh menit yang mereka tempuh, telah mengantar kembali ke pelataran parkir apartemen mewah Judith. Apartemen masih sangat lengang saat subuh. Hanya nampak dua orang penjaga keamanan yang terus bersiaga dalam sisa tugas malamnya. Satu nampak siaga di dekat pintu masuk, dan yang seorang lagi tegak siaga di lobi dekat lift. Menyambut kedatangan Judith bersama suami dengan senyuman yang ramah.
"Lho, dari mana ini mbak Judith sama suami? Kok sudah kembali, tidak pergi nimun ke Bali ya?" iseng penjaga malam itu pada Judith dan Vario.
"Iya mas, ini baru pulang dari rumah budhenya suami. Permisi ya, mas,," sambut Judith ramah dan juga melempar senyumnya.
"Eh, iya mbak. Silahkan. Semoga mas suami betah tinggal di sini lho,," sahut penjaga tak kalah ramah dengan senyum lebarnya pada Vario.
"InsyaAllah, mas. Mari,,," sambut Vario beramah tamah dan tersenyum.
Lift yang membawa mereka meluncur tenang menuju ke atas di lantai empat. Vario dan Judith saling menggenggam tangan dengan saling meremas sesekali.
"Dit, kapan kita ke Bali ya?" keluh Vario. Merasa bersalah, belum bisa membawa Judith bertamasya ke tempat yang viral.
"Habis ini mas,," jawab Judith mengejutkan. Vario menoleh cepat tidak paham.
"Habis ini? Kamu ingin, Dit?" tanya Vario dengan bimbang.
"Iya, mas. Kita tengah bersiap menuju ke sana," jawab Judith, semakin tidak bisa dipahami. Rio tersenyum mengharap penjelasan.
"Tidak, aku tak mau menjelaskan. Biar mas Vario penasaran saja,," sahut Judith dengan nada yang manja.
"Nakal kamu ya, Dit!" tegur Vario. Meremas erat tangan Judith yang digenggamnya.
"Mas, jangan kenceng-kenceng. Jadi nggak enak, sakit,," keluh Judith pura-pura meringis.
Vario menahan tawa dengan ucapan Judith yang terdengar jujur menggelitik.
"Sorry, Dit.. Kayak gini?" tanya Vario. Terus diremasnya tangan Judith dengan lembut dan hangat. Judith hanya tersenyum kikuk dengan wajah meronanya.
🍃
Judith nampak sibuk mempersiapkan baju-baju yang akan dibawanya untuk ikut Vario pulang kampung ke Blitar. Tidak begitu banyak, hanya bingung untuk memilih mana yang terbaik di antaranya.
"Tidak usah bingung, Dit. Atau tidak usah membawa baju ganti sekalian. Nanti kubelikan baju baru di jalan. Beli baru tidak akan membuat kamu bingung," ujar Vario memberi solusi. Judith menoleh dan terlihat masih bingung.
"Segan," jawab Judith pendek.
"Segan padaku? Apa aku terlihat tidak memiliki uang? Aku mampu, Dit," ujar Vario. Bergeser duduk mendekati sang istri.
__ADS_1
"Asal bukan barang mewah dan itu secukupnya, kamu jangan segan. Lagipula aku belum pernah membelanja kamu apapun," bujuk Vario dengan lembut. Judith menatapnya.
"Iya. Terimakasih, mas." Judith mengangguk dan duduk di samping Vario.
"Maaf, aku membuatmu jadi beban. Pasti mas Rio tidak siap untuk menikah. Ini sangat mendadak," ucap Judith merasa bersalah. Vario menggeleng, mengambil bahu Judith dan merangkulnya.
"Meski terlihat tidak siap, sebagai lelaki aku harus siap. Siap juga dengan segala tanggung jawab sebagai seorang suami terhadap istri. Baik dari segi beban moral dan beban materi. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk kamu, Dit. Harap kamu mau bersabar dan menerima segala kekuranganku." Vario menjelaskan sambil menepuk-nepuk pundak istrinya.
Judith merasa haru sekaligus bahagia. Vario nampak ikhlas menikahinya. Diberanikannya memeluk leher Vario dengan rasa yang sebak bahagia.
"Mas, terimakasih. Kamu baik sekali. Aku merasa beruntung dinikahi kamu. Aku akan berusaha jadi istri yang baik untukmu. Menurut pada kata-katamu yang akan membawa kebaikan padaku," ucap Judith dengan memeluki Vario.
Vario membalas memeluk dengan erat dan hangat.
"Sama-sama, Judith. Aku tidak pernah menyesal menikahimu. Aku tidak merasa keberatan." Vario mengeratkan peluknya. Yang disambut Judith dengan kian rapat mengalung tangan di leher.
"Dit, bagaimana jika pagi ini kita lanjut adegan semalam. Sepertinya akan jauh lebih nyaman jika dilakukan di tempat kita sendiri dan tanpa adanya orang lain," bisik Vario dengan lirih.
Tangan Judith yang mengalung di lehernya terasa menegang.
"Bagaimana, Dit? Kamu tidak ingin?" tanya Vario. Perasaannya berdebar, dan menahan nafasnya diam-diam. Kalungan tangan Judith di lehernya merenggang.
"Sangat ingin sekali, Dit. Ayo kita lakukan," jawab Vario berbisik.
Mereka saling pandang sesaat dengan saling melempar senyum yang tegang. Vario mendekati bibir indah merona itu perlahan. Merapati dan mengulummnya sangat lembut. Judith pun mengimbangi dan meniru. Saling memaguth, menyesapp serta melummath dengan penuh debar dan hasrat.
🍃🍃🍃
Dua insan saling berpeluk dengan engah yang lega. Merasa hempas raga yang lelah namun penuh puas bahagia yang sangat. Nikmat raga yang hanya angan selama ini, telah nyata dirasakan bersama. Dan tentu dengan orang terkasih yang tidak mereka sangka datangnya.
"Terimakasih, Dit. Kamu beri mahkotamu yang paling berharga untukku." ucap Vario di sisa engah nafasnya.
"Sama-sama, mas. Terimakasih juga, menjadikanku sebagai wanita yang pertama kamu sentuh," balas Judith memeluk erat tubuh Vario yang polos.
"Judith..." Sebut Vario dengan suaranya yang serak. Memeluk hangat tubuh indah sang istri yang juga masih tak berbaju selembar kain pun.
"Apa, mas,," tanya Judith. Tangan halusnya telah berani mengelusi dada Vario yang cerah.
"Jika kamu hamil bagaimana?" tanya Vario. Membelai lembut rambut Judith yang panjang.
__ADS_1
"Menurutmu bagaimana?" Judith justru kembali bertanya.
"Kamu cepat hamil saja, bagaimana?" bisik Vario kembali. Menarik lembut kepala Judith dan memandang lekat wajahnya.
"Iya, mas. Terserah padamu. Lagipula aku tidak bekerja lagi. Apa yang harus kulakukan kalau bukan hamil saja,,," ucap Judith dengan pasrahnya. Vario merasa sangat bahagia tak terkata. Kembali dibenamkan kepala cantik dan wangi itu ke dalam dadanya.
"Mas, aku lapar. Ayo kita makan nasi goreng yang dikasih budhe tadi,," tawar Judith dengan mendongakkan wajahnya.
"Iya. Kita bersihkan diri dulu," sambut Vario bersemangat. Mencium kening Judith singkat dan turun dari ranjang. Menyambar handuk dan dililitkannya di pinggang. Bersiap akan pergi ke dalam kamar mandi.
"Mas,,!" panggil Judith dengan manja tiba-tiba. Vario berbalik, mengangkat alisnya. Judith sedang memandangnya malu-malu.
"Ada apa, Judith,,?" tanya Vario terheran.
"Bawa aku, ingin mandi bareng,,," rengek Judith mengejutkan.
Vario tercengang, serasa tak percaya mendengarnya. Tidak mampu lagi berkata-kata. Berjalan mendekat dengan cepat. Menyambar tubuh Judith yang menepi di ranjang.
Mereka saling menatap menuju kamar mandi. Rasa bahagia dan penuh puja terpancar di kedua mata mereka. Hingga pintu kamar mandi terhempas menutup tanpa perlu lagi dikunci. Keduanya mungkin sedang saling tersenyum atau juga tertawa bahagia di dalam sana. Menikmati moment seru yang indah menegangkan bagi pasangan halal pengantin baru.
🍃🍃🍃
Mobil gress yang dipesan oleh buyernya sehari lalu, telah bisa langsung digunakan. Kini sedang meluncur membelah jalan raya bersama kedua pemilik baru di dalamnya.
Vario membawa Judith menuju kota Blitar dengan mobil baru yang telah dibelinya. Hasil tabungan dari jerih kerja keras sebagai pramugara sekaligus staff agency yang telah bertahun-tahun menabung lamanya.
"Mas, nanti tabungan kamu habis,, kan ada mobil dinas?" tanya Judith. Namun bahagia nampak jelas di wajahnya.
"Mobil dinas itu buat pergi bekerja. Yang ini, untuk istriku. Buat pergi-pergi jauh dengan istriku yang cantik," jawab Vario tersenyum.
"Terimakasih, ya mas... Kamu bawa aku pergi ke Bali dengan mobi barumu," ucap Judith tersenyum. Vario menoleh tak paham.
"Apa, Dit? Ke Bali?" tanya Vario bingung. Judith mengangguk sangat yakin.
"Iya, kita ini mau ke Bali,,,, Balitar,, Blitar.. Ha..ha..ha.." jelas Judith dengan tertawa cerianya.
"Ah, Dit. Kamu ini... Kapan-kapan kita pasti akan benar-benar terbang ke Bali. Tunggu aku punya cuti yang panjang, ya,,," ucap Vario berjanji.
Judith hanya tersenyum dan mengangguk. Membuang wajah dan pandangan ke jalanan di samping. Menyembunyikan mata yang sedang berkaca-kaca haru bahagia. Judith merasa begitu indah pernikahan yang tengah dijalani bersama lelaki di sampingnya..
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃🍃