Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
84. Sah!!


__ADS_3

"Saaah..!!!" "Saaah..!!!"


"Saaah..!!!" "Saaah..!!!"


"Saaah..!!!" "Saaah..!!!"


Jawab seru yang terdengar riuh dan kompak dari para saksi, pertanda bahwa pernikahan resmi dan sakral antara Vario dengan Judith telah sukses dilakukan. Pernikahan sederhana dan mendadak itu dilakukan di Masjid At-Taqwa di bandara Juanda, Sidoarjo. Masjid luas dan sangat sejuk yang terletak di dekat area parkir di bandara.


Ratria dan Syahdan yang berencana pulang pagi-pagi, menunda keberangkatan mereka ke Blitar dengan perasaan terkejut tak menyangka. Sekaligus ikut merasa lega dan gembira. Namun, juga merasa penasaran dengan kehidupan rumah tangga Vario dan Judith nantinya. Sedang Ratria dan Syahdan adalah satu-satunya pihak yang paham akan awal mula pernikahan mereka.


Setelah meninggalkan amplop tebal untuk pasangan pengantin baru dan dadakan tersebut, Syahdan membawa Ratria benar-benar pulang ke kota yang dicinta. Kini Arka telah membawa mobil sport gunung tangguh kesayangan Syahdan, yang memuat mereka bertiga menuju kota proklamator di Blitar.


"Mas, nggak nyangka banget ya, mereka menikah." Ratria masih saja merasa tidak percaya.


"Jodoh sajalah itu, Rat. Memang nggak menyangka Judith berjodoh dengan kakak tirimu. Semua dipermudahnya," timpal Syahdan menoleh Ratria.


"Ish,,,ish,,, manisnya kalo bicara. Kenapa dulu pas awal-awal kita nikah itu, mas Syahdan nggak mau mengakui kalo aku ini jodohmu. Sikapmu justru tidak manis padaku,," protes Ratria dengan bibir mencebik.


"Bukan seperti itu, Rat. Kamu waktu itu jutek dan garang, aku tidak suka saja bersitegang sama kamu. Tapi,,," ucap Syahdan menggantung. Tersenyum melirik Ratria di sampingnya.


"Tapi apa,,??!!" hardik keras Ratria dengan sengaja.

__ADS_1


"Nah, garang kayak gitu kamu waktu itu, Rat. Seram. Tapi..." Syahdan kembali menggantung ucapannya. Sengaja menggoda Ratria. Arka sedang melirik mereka berdua lewat kaca pantau di atasanya.


"Tapi apa, mas Syahdan,,?" tanya Ratria dengan sangat lembut. Menepuk-nepuk bahu Syahdan perlahan.


"Kamu sangat garang dan jutek. Tapi sangat cantik seperti bidadari, Rat," ucap Syahdan menyerah. Tidak tahan dengan rayuan lembut Ratria.


Tapi Ratria justru mencibirnya.


"Kayak sudah pernah lihat rupa bidadari saja. Sok tahu,,," respon abai Ratria.


"Ya memang sudah pernah lihat, Rat," bela Syahdan pada ucapannya.


"Melihat bidadari dalam mimpiku, Ratria," ucap Syahdan tersenyum.


"Selingkuh,," sahut Ratria menyindir.


"Apa salahnya selingkuh dalam mimpi. Bidadari dalam mimpiku adalah kamu, Rat." Syahdan sambil mencubit dagu Ratria, yang kemudian tersenyum sangat cantik.


"Arka, kita singgah di rumah kakung dulu !" seru Syahdan pada sang sopir tiba-tiba.


"Siap, pak Syahdan,," sambut Arka terdengar siaga di depan.

__ADS_1


"Singgah di rumah kakung Muchsin lagi?" tanya Ratria terheran. Namun, wajahnya begitu jelas nampak cerah.


"Iya, Rat. Aku ingin menginap semalam saja di sana," terang Syahdan.


"Tapi, mas Syahdan bilang mau cepat sampai Blitar.. Pak Andi sedang menunggu,," ungkit Ratria pada ucapan Syahdan semalam.


"Sedang ada yang lebih penting lagi, Ratria," bisik Syahdan. Seperti tidak ingin jika Arka mengupingnya.


"Apa memang yang lebih penting?" Ratria menyelidik.


"Rat, aku hanya tidak ingin keduluan Vario dan Judith. Kita harus segera punya anak dulu. Semoga kamu cepat hamil ya, Rat. Jangan sampai keduluan pasangan baru itu. Gengsi, Rat," bujuk Syahdan kekanakan. Berbibisik-bisik lirih di telinga Ratria.


Ratria mengangguk paham dan tersenyum.


"Jadi, singgah di rumah kakung Muchsin pun juga bagian dari hanimun kita?" bisik tanya Ratria dan hampir tertawa. Syahdan hanya memandangnya datar tak menjawab.


Ratria merapatkan bibirnya perlahan. Tidak lagi berani tersenyum. Jika begitu, Syahdan sedang sungguh-sungguh dan serius. Lelaki itu benar- benar berharap hadirnya seorang buah hati diantara mereka segera. Ratria pun mengaminkan dengan khidmat akan harap sang suami dalam doa yang panjang di hatinya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2