
Syahdan terlihat lebih cerah saat keluar dari mushola mini di kamarnya. Telah mengenakan celana jins hitam dengan kemeja pendek biru navy. Nampak lebih muda dan cool.
"Kamu tidak shalat,?" tanya Syahdan sambil menyembur parfum dua kali ke bajunya di bagian punggung dan dada.
"Tidak. Libur," sahut Ratria membuang muka. Shaydan manikkan alis sesaat. Lalu tersenyum.
"Ayolah kita keluar," ajak Syahdan dengan melangkah di depan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Perempuan berambut pendek dan juga diikat di belakang dengan rapi itu terlihat cantik meski sudah nampak berumur. Meminta Ratria duduk di sampingnya. Dengan Syahdan di depan Ratria.
Ada juga Kahfi yang duduk di depan sang ibu. Sedang Khairy duduk diam di samping Syahdan.
Pak Adam, ayah mereka tidak ada lagi di rumah. Telah berangkat terlebih dahulu ke kota Bontang, Kalimantan. Ada urusan bisnis yang mendadak perlu kehadirannya. Dan bu Anisa, ibu mereka, akan menyusul kemudian.
Mereka telah asyik mengobrol.
"Jadi kamu belum punya pacar? Kenapa, kamu kan cantik, Rat,?" tanya bu Anisa dengan mengamati Ratria terus terang.
"Almarhum nenek melarang saya untuk dekat-dekat dengan lawan jenis, bu." Ratria menjawab kenyataan dirinya.
"Lalu, saat kuliah di Malang, kamu kos juga kan? Nggak nyuri-nyuri jalan bareng cowok,?" tanya bu Anisa dengan topik yang sama. Ratria nampak menggeleng.
"Lalu, apa kamu diam-diam tidak pernah suka sama cowok,?" tanya bu Anisa tersenyum. Dan Ratria juga ikut tersenyum sangat manis.
"Ya, saya kan juga normal, bu. Pernah suka juga diam-diam. Dan ternyata dia pun juga suka. Tapi saya terpaksa menolaknya," cerita Ratria membuat mereka menatap Ratria bersamaan.
"Lho, kenapa, Rat,?" tanya bu Anisa terheran.
"Dia playboy kampus kami, bu," kali ini Ratria tersenyum lebar-lebar. Ingat saat konyolnya waktu dulu.
"Dengar tuh, Fi,,!" Khairy bersuara pada Kahfi.
__ADS_1
Kahfi hanya menjejalkan sesendok penuh nasi putih ke mulutnya dan senyum-senyum pada Ratria.
Bu Anisa tidak peduli, tetap menoleh pada Ratria di sampingnya.
" Selama empat tahun kuliah di Malang, nggak pernah ngedate sama cowok? Atau teman-teman kos,,? Nggak bosan ya, diam saja dalam kamar kos,?" bu Anisa terlihat asyik bertanya lagi pada Ratria. Merasa tidak paham tentang anak perempuan. Semua anaknya laki-laki. Dan diam-diam terobsesi dengan anak perempuan.
"Saya sangat sibuk belajar, bu. Jika ada hari longgar atau libur kuliah, saya lebih suka pulang. Jadi sebenarnya kamar kos saya lebih banyak nganggurnya daripada saya tinggali," terang Ratria.
"Jadi, kamu masih ting-ting, Rat ? Wah,,, langka tuuh,,!!" komentar Kahfi yang kembali menyerobot. Bu Anisa justru senyum-senyum, memandang Ratria yang menunduk sedang malu.
"Tapi banyak kan cowok-cowok yang suka sama kamu,?" tanya bu Anisa kembali. Ratria tersenyum dan mengangkat lagi wajahnya.
"Iya. Ada juga, bu." Ratria memandang bu Anisa dengan terus tersenyum.
"Terus, ada nggak yang paling berkesan sampai sekarang,?" lanjut bu Anisa. Merasa sangat menyukai senyuman Ratria. Dan gadis itu sedang mengangguk.
"Ada, bu. Dosen saya. Sangat baik. Bahkan saya pernah diimingi untuk dibuatin proposal skripsi yang pasti akan diaccnya sendiri," Ratria kembali tersenyum mengingat hal itu.
Ratria hanya menggeleng pada bu Anisa. Melirik Syahdan yang masih memandang piringnya.
"Tapi status dosenku itu lajang kok, bu. Dia adalah dosen termuda dan terbaik di kampus kami," sanggah Ratria memandang Kahfi sesaat.
"Ehm. Dengar itu kahfi... Panas kan kamu dengernya,,? Sudah termuda,,, terbaik lagi,, Kamu sekarang pasti iri, kan? Coba bandingkan dengan dirimu. Kamu TER-- apa, Fi,,. ?" tanya bu Anisa agak jengkel dengan si bungsu.
"Jangan tidak bangga dulu denganku, ma. Bisa jadi aku nanti paling sukses di antara seluruh lelaki di muka bumi. Pintar pendidikan belum tentu sukses di masa depan," sanggah Kahfi terdengar cukup bijak.
"Iyaaa laah, aamiin. Janji lho kamu, Fi.." Bu Anisa memandang tegas dan hangat.
"Aman, ma,,,!" sahut Kahfi dan memandang lagi pada Ratria.
"Lalu, pada lelaki yang sudah menikahi kamu, Syahdan, bagaimana tanggapanmu,?" tanya bu Anisa melirik anak lelaki yang acuh pada perbincangan di meja.
Ratria menghentikan gerakan sendoknya. Memandang Syahdan yang tetap acuh tak peduli.
__ADS_1
" Maaf ya, bu.. Jujur saya menikah dengan pak Syahdan sebab terpaksa. Saya merasa dipaksa. Meski pak Syahdan telah memberi saya kebebasan untuk menentukan masa depan saya sendiri, tapi pak Syahdan tetap saja pemaksa. Jadi, sebenarnya saya sedang sakit hati dengan anak lelaki ibu," Ratria memandang ekspresi bu Anisa.
Wanita itu mengangguk-angguk dan tersenyum. Seperti sedang berfikir, apa yang harus diucapakannya untuk menghibur dan meredam perasaan Ratria. Dan Syahdan, lelaki itu sedang meminum segelas besar air putih hingga habis.
"Maaf, ya, Ratria. Kami pun juga sempat kesal dengan Syahdan. Dia bertindak sendiri tanpa mengabari orang tuanya. Tahu-tahu pulang dan bilang tentang kamu. Dan maaf juga, kami tidak pernah menjumpaimu. Jujur, aku tidak menyangka jika ayah Yakub sangat memperhatikanmu." ucap bu Anisa merasa menyesal dan tidak enak hati pada Ratria.
"Saya juga tidak tahu-menahu sama sekali tentang hal ini, bu. Sampai sekarang pun saya masih seperti mimpi," jujur Ratria terdengar sedih. Dan sebagai wanita, bu Anisa paham akan hal ini.
"Apa yang membuatmu merasa sangat sedih dan terpaksa, Rat,?" tanya bu Anisa hati-hati.
"Sebab..Selama ini saya belajar sungguh-sungguh dengan diawasi nenek saya. Saya belajar baik-baik agar cepat selesai. Menamatkan kuliah yang sangat melelahkan dengan berusaha tepat waktu. Saya merasa sangat lega dan bebas setelah itu. Bekerja,, mendapat uang dan mungkin akan menemukan jodoh yang saya sukai. Tapi saya tiba-tiba malah menikah."
"Dan yang membuatku sedih, status saya yang tidak jelas. Diam-diam sudah menikah. Saya takut jika suatu saat bertemu dengan lelaki yang saya juga suka, dia tidak percaya padaku. Tidak mau menerima statusku yang ternyata bekas istri orang," keluh sedih Ratria. Bu Anisa jadi merasa bersalah dan iba.
"Bagaimana ini,, kamu tidak menyukai Syahdan sedang Syahdan juga menyukai gadis lain. Ratria, kamu juga tahu kan, jika Syahdan juga sedang menyukai gadis lain,?" tanya bu Anisa serba salah. Ratria mengangguk, melirik sekilas pada Kahfi yang tadi sempat ember padanya.
"Nah, bagaimana jika seperti ini dulu. Biar kamu merasa tenang. Sebab Syahdan sudah memaksa kamu, maka dia harus bertanggung jawab."
"Syahdan, jika suatu saat Ratria menerima lamaran orang, kamu harus maju. Jelaskan keadaan Ratria. Dia masih tersegel, tidak beda dengan perawan yang belum menikah."
"Kamu pun jangan coba-coba merusak Ratria ya, Dan. Kecuali kamu berniat serius, sungguh-sungguh dan tidak berniat menceraikan Ratria. Tapi dengan catatan,,, hanya jika Ratria juga menyukaimu. Kamu jangan pernah memaksanya lagi Dan. Biarlah Ratria mendapat kebahagiaannya. Ingat kata mama, Dan," putus bu Anisa.
"Ratria, jika ada apa-apa denganmu, jangan segan kabari aku ya. Jika Syahdan berbuat hal-hal yang tidak kamu suka dan menyakitimu, katakan. Jangan ragu," bu Anisa mengusap-usap lembut punggung Ratria.
"Syahdan, kamu paham maksud mama,?" tanya bu Anisa gemas. Sebab Syahdan tidak memberi respon apapun selama perbincangannya dengan Ratria. Seolah anak lelakinya itu tuli dan tidak ingin peduli. Seperti tidak punya masalah dan rasa bersalah.
Namun di sisi lain juga merasa kebimbangan. Sebenarnya sangat suka dengan pembawaan dan sikap Ratria. Sedang kepala bu Anisa juga masih terus ingat adanya nama Judith. Gadis cantik dari Jakarta yang seorang model dan merangkap sebagai pramugari. Hijrah dan tinggal di Surabaya demi seorang Syahdan yang disukainya sejak pertama bertemu.
Dan Judith adalah putri dari rekan bisnis pak Adam dan bu Anisa. Pengusaha sukses yang begitu baik hati untuk merangkul usaha pak Adam mulai dari nol. Dan tetap saling menggandeng hingga sesukses seperti sekarang ini.
Ada harapan jika kerja sama mereka akan berlanjut pada pernikahan putra putri mereka dengan bahagia dan abadi selamanya.
Bu Anisa dan pak Adam sungguh merasa simalakama untuk bersikap tegas pada putra mereka.
__ADS_1