
Pagi yang cerah di tanggal warna merah, perempuan dengan dress tidur pendek dan rambut diikat tinggi asal itu tengah sibuk di dapur. Ditemani lelaki tampan bercelana pendek dengan kaos tipis yang lembut. Nampak mengacak rambut pendeknya yang agak basah dengan jemari tangan.
"Ambilkan bawang satu biji lagi, pak. Masih kurang...!" Sang koki yang cantik dan seksi itu menginstruksi.
"Okeee,,!" asisten tampan yang siaga itu menyanggupi. Menggeser diri ke almari dapur yang tinggi dan membuka. Mengambil bawang putih sesuai yang diwacanakan sang koki padanya.
"Ini, Rat." Syahdan mengulur bawang pada Ratria.
"Ini kan sebungkul, satu biji saja, pak,,!" protes Ratria. Mengembalikan sisa bungkul bawang pada Syahdan.
"Auwwh,," Ratria mengeluh. Berbalik cepat dengan mata melotot pada Syahdan. Yang dipandang tak rasa bersalah dan tetap mengibas tangan di rambut.
"Nggak sopan,," protes Ratria kembali. Matanya melebar cantik nampak kesal.
"Aku nggak sopan? Aku ngapain?" respon Syahdan. Memasang wajah tak berdosa.
"Ini,,, tadi mencubit di sini,," jelas Ratria. Menunjuk pantatnya dengan jari telunjuk.
"Siapa yang sudah bilang padamu?" Syahdan tak mau mengaku. Namun wajah tampannya tak lagi mampu menyimpan senyuman.
"Aku kan terasa,,," keluh Ratria. Sebal sekali, Syahdan sudah beberapa kali menggodanya pagi ini.
"Itu pasti hantu lelaki, Rat,," bisik Syahdan menakuti. Ratria kian menjeling.
"Iya, hantunya kamu,,!" hardik Ratria. Berbalik badan, kembali mengiris dan memotong sayuran.
"Kamu tidak takut?" tanya Syahdan. Berbisik di tengkuk Ratria dengan sedikit membungkuk.
"Jelas-jelas itu ulahmu lagi, pak Syahdan. Untuk apa takut,,?" sahut Ratria sambil terus mengiris.
"Kamu pura-puralah takut, Rat. Biar terasa ngeri-ngeri sedap. Kayak film itu,,," Syahdan berkata sambil senyum-senyum.
"Aku tidak mau. Pergilah nonton tivi sana. Aku sangat terganggu, pak Syahdan," hardik Ratria.
"Tidak, aku lebih suka menemani kamu di sini," bantah Syahdan.
"Jika begini, kita akan terlambat makan pagi,," keluh Ratria. Namun sambil tersenyum dan meneruskan proses masak.
"Salahnya sendiri, kamu tidak mau memberi seorang teman padaku,," keluh Syahdan. Lelaki itu berdiri di samping Ratria dan memperhatikan gerak tangannya.
"Salahku tidak memberimu teman? Maksud pak Syahdan, bagaimana?" Ratria menoleh dan memandang Syahdan serius.
"Aku menginginkan teman kecil. Baby laki-laki yang menggemaskan. Tapi kamu tidak suka kehamilan," Syahdan berkata sambil menggerakkan alis naik turun.
"Aku bukan tidak suka kehamilan. Sebagai perempuan, tentu saja berharap memiliki pengalaman kehamilan. Tapi aku hanya belum siap. Aku masih ingin bebas sebentar,, sebentar saja.. Apa kamu tetap keberatan, pak Syahdan?" Ratria bertanya serius pada Syahdan.
Syahdan tidak menjawab. Tapi wajahnya nampak dingin. Perlahan mendekati wajah Ratria. Marapati dan merekat di bibir. Mengulumm dan menyesapi dengan kasar. Seperti meluah kesal pada pemilik bibir itu. Ciuman kasarnya berubah lembut dan panas saat Ratria membalas dengan dessah. Sambil kedua tangan berlarian di tubuh Ratria tak tentu arah.
__ADS_1
"Pak Syahdannnh,,, nanti lagi yaaah.. Aku selesaikan masak duluuh.. Lapar,," keluh Ratria di sela engah nafas saat lummathan mereka terlepas.
"Masaklah, kutunggu nonton tivi," sahut Syahdan akur. Kata lapar membuatnya tidak tega, dan dirinya pun memang merasa lapar juga.
"Jangan dikasih garam banyak-banyak, Rat." Syahdan berpesan. Sebelum pergi, jari panjangnya sempat mencubit di dagu Ratria.
"Tidak,," sahut Ratria tercekat. Merasa begitu kaku untuk sekedar menanggapi sindiran itu.
Ratria kembali jadi koki setelah Syahdan terlihat duduk manis di sofa. Lelaki itu menghadap tivi dengan mata memandang ke arahnya. Paham apa yang dirasa sang suami, Ratria membiarkan dirinya dipandangi. Meski masih merasa risih sekali.
🍃
Syahdan meminta Ratria untuk mandi lagi, sambil menunggu hasil masakannya menjadi agak dingin di meja. Dan dirinya kembali meneruskan menonton tivi dengan rasa sedikit tidak sabar sebab lapar.
Namun yakin jika kali ini Ratria mandi dengan sangat cepat. Sang istri cukup bijak untuk menggunakan waktu pada situasai dan kondisi yang tepat.
Lima belas menit kemudian...
Seperti yang disangka, Ratria mebersihkan diri lebih cepat dari yang dikira. Perempuan dengan aroma sabun sangat wangi itu telah keluar dari kamar. Nampak cerah dan cantik alami dengan hanya menyisir rambut indahnya.
"Pak Syahdan, sudah. Ayo kita makan," sapa Ratria. Berdiri di belakang sofa yang diduduki oleh Syahdan di ruang tivi.
"Sudah?" tanya Syahdan. Sedikit menoleh dan lalu berdiri.
Mereka duduk di meja makan dan saling berhadapan.
"Jangan banyak dulu, pak Syahdan. Nanti kalo nggak enak gimana?" tanya Ratria dengan was-was. Tegang memandang Syahdan yang mulai menyendok isi piringnya.
"Aku lapar, Rat. Ini enak sekali. Apapun rasanya, pasti kuhabiskan,," ucap Syahdan yang kemudian sibuk memamah biak di mulutnya.
"Jadi sebenarnya terasa enak apa tidak?" tanya Ratria menahan nafas tanpa sadar.
"Enak...Enak sekali, Ratria. Cepatlah isi piring dan makan," ucap Syahdan di sela sibuknya.
"Hemm.. Iya.. Enak sekali. Sebab aku lapar,,jadi rasanya sangat enak, pak Syahdan," timpal Ratria sambil tersenyum.
Merasa ragu sendiri dengan rasa hasil masakannya. Yang jelas, makanan yang dijejalkan di mulut, begitu mudah dan cepat meluncur ke perut. Tak ubahnya dengan Syahdan yang begitu tergesa juga cara makannya. Mereka berdua sama-sama sangat lapar. Waktu sarapan yang harusnya pagi-pagi, telah merambat mendekati tengah hari.
🍃
Syahdan baru saja menunaikan shalat dzuhur, dan sedang menghampiri Ratria di sofa telefisi.
"Geser dikit, Rat. Mataku begitu berat," pinta Syahdan. Ratria sedang merebah santai di sofa. Dan tidak bergeser satu inchi pun.
"Sempit ini, pak. Nggak muat," tolak Ratria. Keberatan berbagi sofa bersama Syahdan.
"Ayolah, geser sedikit saja,,," bujuk Syahdan. Bersiap menggelitik di pinggang Ratria.
__ADS_1
Tok,,! Tok,,! Tok,,!
Ketukan di pintu dari luar, serta merta membuat Syahdan dan Ratria berpandangan. Bahkan Ratria telah meloncat duduk sebab sangat terkejut.
"Siapa, pak?" tanya Ratria. Memandang Syahdan dengan ekspresi ingin tahu.
"Aku belum tahu. Ayo kita lihat bersama siapa tamu itu," ucap Syahdan.
Ratria mengikuti Syahdan di belakang. Merasa aman dengan baju sopan di badannya. Bukan lagi baju tidur seksi yang dipakai pagi tadi. Namun kepala dengan rambut tergerai indah tanpa kerudung itu kembali diabaikannya.
Ceklerk..!!
Seorang wanita cantik tengah berdiri sambil tersenyum. Memandang bergantian pada Syahdan dan Ratria yang nampak terkejut dengan ekspresi berlainan.
"Kasandra,,?!" tegur Syahdan terheran. Ratria memandang Syahdan penuh tanya.
"Iya, pak Syahdan. Selamat siang. Boleh aku masuk?" tanya Kasandra dengan tegas dan sopan. Memandang Ratria sekilas dan tersenyum. Ratria terpaksa membalasnya.
"Ada apa, Kasandra? Bukankah hari ini kita sama-sama libur?" tanya Syahdan. Merasa kedatangan Kasandra seharusnya tidak perlu.
"Ada hal penting yang akan aku sampaikan. Boleh aku masuk?" Kasandra kembali bertanya. Tersenyum manis pada Syahdan dan Ratria.
"Siapa dia, pak Syahdan,,?" tanya Ratria. Menoleh penuh tanya pada sang suami.
"Dia,,," jawab Syahdan menggantung nampak bingung.
"Hai,, perkenalkan, namaku Kasandra. Aku adalah sekretaris pribadi pak Syahdan. Kamu Ratria, kan,,?" terang Kasandra penuh senyum.
Kasandra mengulur tangan pada Ratria. Yang mendapat sambut ulur dari Ratria dengan bimbang. Mereke bersalamam cepat dengan bungkam.
"Pak Syahdan, sebaiknya bawalah masuk sekretaris pribadimu. Mungkin sedang ada hal yang sangat penting untuk disampaikan. Sehingga pada hari libur pun, kamu masih juga dicarinya," ucap Ratria dengan jelas pada Syahdan.
"Izin menumpang duduk di dalam ya, pak Syahdan. Terimakasih atas sambut baikmu, Ratria," ucap Kasandra dengan terus memandang pada Syahdan.
"Masuklah, Sandra,," ucap Syahdan. Merasa harus cepat berbicara dangan apa saja tujuan Kasandra mencarinya.
Ratria mengamati wanita yang terlihat cantik sempurna dan sedang berjalan melewatinya. Aroma sangat lembut dan wangi terhembus dari setiap langkah yang ditinggalkan.
Ratria juga melirik wajah sang suami yang terlihat sangat tegang. Merasa heran dengan ekpresi yang tercetak dan keluar.
Siapa Kasandra,,? Kenapa Syahdan menerima kedatangan tamunya dengan wajah tegang dan cemas. Bagaimana bisa seorang manager terhormat menjadi sangat pias saat kedatangan wanita yang mengaku sebagai sekretaris pribadi itu. Siapa sebenarnya Kasandra,,? Ratria tak sabar untuk kembali bertanya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
...Beri VOTE mu di sini saja yaaa.......
...Terimakasih..!!😘😘...
__ADS_1
...Kakak reader yg sllu ingat memberi vote padaku, arigato!!...