Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
69. Mengantar


__ADS_3

Bandar Udara International Juanda..


Seorang staff lelaki sedang merapikan meja kerja, dan komputer pun baru dishut down olehnya. Duduk sejenak sambil menyambar air minum dalam botol di meja. Meneguk hingga bersih isinya tanpa setetes pun tersisa. Dan beranjak pulang sambil menyapa seorang staff lelaki lain yang sedang jaga malam bergantian.


Seseorang hampir ditabrak olehnya saat akan membelok lorong menuju kantin khusus staff di bandara. Dan keduanya sama-sama terkejut dengan pertemuan mereka yang kebetulan. Wajah mendung gadis itu mendadak cerah saat tahu siapa lelaki yang hampir saja menubruknya.


"Mas,,,," sapanya menggantung dan seperti terpatung. Wajah pucat itu nampak terkejut memandang lelaki yang menjulang kaku di depannya.


"Hei, Dit. Kenapa kamu datang ke sini? Kamu kan bilang nambah cuti sakit, sakit apa?" tanya si lelaki yang adalah Vario. Menelisik wajah pucat si gadis yang adalah Judith.


"Aku demam, mas. Jadi cutiku dua hari dari kamu, tambah tiga hari dari dokter. Total lima hari yaa, mas," terang Judith dengan suara tedengar lemah.


"Judith, lalu untuk apa kamu kemari,,?!" hardik Vario agak keras tiba-tiba. Merasa kesal dengan gadis bermuka pucat sebab sakit, namun nekat berkeliaran di bandara yang selalu hiruk pikuk dan bising.


"Aku,,, aku mencari mas Syahdan, hik,,hik,," ucap Judith terbata dan diakhiri dengan isak tangis yang tersendat.


"Untuk apa menangis? Hentikan tangisan kamu, Dit! Lebih baik kamu ikut aku cari makan!" hardik Vario kembali.


Menyambar tangan Judith dan setengah menyeretnya berjalan. Yang kian lama, Judith pun berjalan tergesa sendiri mengimbangi langkah kaki Vario. Mereka telah berjalan tenang dan seperti bergandeng tangan dengan akur.


Vario membawa Judith masuk ke dalam kantin khusus staff bandara yang juga berada di dalam bangunan bandara. Kemudian memesan makanan dua baki, dengan menu komplet empat sehat dan lima sempurna pilihannya.


Pengunjung kantin tidak terlalu ramai. Sebab sudah sangat malam, juga tidak pada jam break dan bukan di jam istirahat.


Dengan menunjuk kartu pekerja sebagai pegawai dan staff di bandara Juanda, akan otomatis mendapat potongan harga yang lumayan menggembirakan. Vario merasa ini adalah rumah makan favoritnya. Selain ramah di kantong, namun olahan menunya sangat berkelas, hygienis dan lezat. Tak lupa juga sebab begitu dekat, dan sangat mudah di jangkau dari tempatnya bertugas.


"Kamu ingin tambahan sayap goreng nggak, Dit?" tanya Vario. Nada bicaranya telah hangat bukan lagi keras dan menghardik.


"Boleh?" sambut Judith agak segan. Masih merasa enggan sebab Vario baru bersikap keras padanya. Ada rasa tidak suka jika Vario memperlakukannya tidak hangat.


"Ini, Dit. Aku letak di piring kamu," ucap Vario tersenyum.


Sambil meletak ayam goreng sayapnya di piring Judith. Bukan tak tahu jika wajah cantik itu nampak tegang sebab sikap kasarnya barusan. Dan merasa lega saat wajah itu kembali cerah meski terlihat masih pucat.


"Terimakasih ya, mas." Judith menyambut dengan senyum yang nampak gembira. Vario mengangguk dan memandang tersenyum.

__ADS_1


"Ayo kita segera makan, Dith. Sudah malam, pukul sebelas lewat. Kamu nanti kemalaman. Lagian sedang sakit, kan?" ucap Vario. Mulai menyendok makanan dengan fokus setelah mengucap doa dalam hati sejenak.


"Iya, mas Vario," sambut Judith. Melakukan apa yang juga sedang Vario lakukan saat itu. Mengikis isi piring dengan sendok makannya.


Meja berkapasitas empat orang namun hanya berguna bagi dua orang itu hening seketika dan lengang. Vario dengan cabang pikiran tanpa beban apapun di kepala. Hanya rasa letih dengan perut kosong minta isi.


Sedang Judith, merasa gundah resah dengan serabut rumit di kepalanya. Gagal menghubungi Syahdan beberapa kali dan sekali diangkat, lelaki itu mengatakan jika sedang ke Blitar menyusul sang istri yang pulang meninggalkannya. Rasanya sakit sekali.


Hari ini tak berselera makan sedikit pun. Bahkan obat yang diberi dokter, juga tak berniat diminum apalagi dihabiskan. Tak ada semangat untuk hidup lebih lama. Namun kian malam tidak tahan juga rasanya. Nafsu lapar tiba-tiba datang mendera.


Hanya kantin bandara saja yang terbayang di mata. Meski hari sudah malam, pergi juga akhirnya ke bandara.


Namun sangat tidak menyangka dan terkejut. Vario yang telah berubah acuh kembali dan seperti lupa pada dirinya, tiba-tiba datang muncul dan bahkan mereka hampir saling bertabrakan.


Rasa terkejut, haru, dan gembira yang datang disela sedih hampanya sebab Syahdan, seperti mendapat guyur oase tak terduka. Tak disadari jika haru senang itu justru membuat menangis tak bisa lagi ditahan..


Namun saat Vario bertanya pada sebab tangisannya. Judith justru berputar otak dan berkata hal yang sebaliknya pada Vario. Yang ternyata Vario justru bersikap kasar padanya..


Judith pun merasa heran dan bimbang. Apa sebab bibirnya telah berkata yang bukan sesungguhnya pada Vario? Apakah Judith berharap mendapat simpati dan perhatian dari Vario? Yang dirasanya Vario sudah kembali tak bersikap ramah lagi padanya..


Dan Judith tidak rela jika lelaki itu kembali bersikap dingin dan acuh tak acuh seperti saat dulu padanya.


"Ya dapat, mas. Kenapa?" Judith tidak paham


"Sudah kamu minum?" selidik Vario.


"Ya sudah lah, mas. Tapi kan banyak, belum habis," terang Judith merasa agak tersindir.


"Satu kali minum berapa jenis obat?" tanya Vario mendesak.


"Eh, anu,, eemmmmh,, berapa jenis ya. Lupa banget aku, mas. Nanti aku lihat lagi yaa," jawab Judith gelagapan.


"Kamu jangan bohong, Dit. Minum yang rutin obat kamu itu." Sergah Vario dengan serius. Merasa tidak ingin setengah -setengan jika harus memberikan perhatian pada siapa pun.


Makan sangat malam itu berakhir dengan putusan Vario untuk mengantar Judith kembali ke apartemen yang disewa. Tidak terlalu jauh dari rumah dinas Vario dan Syahdan.

__ADS_1


"Terimakasih ya, mas?! Nggak singgah dulu?!" seru Judith dari pintu. Bertanya iseng dengan cara sopan seperti budaya yang telah umum berlaku.


Vario tidak menyahut. Namun langsung turun dan memutari mobil depannya.


"Yuk, aku ingin singgah di appartemen kamu, Dit," sambut Vario dengan wajah yang tenang.


"Kamu benar-benar akan singgah, mas?!" tanya Judith terkejut sendiri. Ada panik yang tersirat di wajah pucatnya.


"Cepat, Dit. Hampir tengah malam." Vario justru yang memimpin berjalan cepat di depan. Menuju ke sebuah lift dan menekan tombol pilihan. Judith pernah mengatakan nomor apartemen miliknya. Tentu saja Vario tidak lupa. Dan Judith pun termangu-mangu mengikuti.


"Mas Vario enggak lupa sama lantai dan nomor apartemenku?!" Judith tak bisa menahan takjubnya. Serta tak kuasa melarangnya.


"Ya tiba-tiba ingat saja lihat tombol-tombol kayak gini, Dit,," jelas Vario sambil memandang hangat Judith. Gadis itu diam tanpa kata-kata.


Vario benar-benar ikut masuk ke dalam lift dengan Judith. Gadis yang biasa banyak bicara dengan manja itu kini memilih bungkam dan merasa salah tingkah. Vario pun membisu dengan memandang ke arahnya sesekali.


"Kenapa, Dit? Kamu keberatan aku singgah ke apartemen kamu?" tanya Vario tersenyum. Judith telah berdiri di depan sebuah pintu dengan Vario yang mengikuti.


"Emmh, anu mas,, aku ingin minum obat dan istirahat. Sebab, obat yang malam belum aku minum," ujar Judith gugup.


"Ya sudah, sana cepat masuk." Vario menimpali santai dengan menunjuk pintu di belakang Judith dengan mata.


"Mas Vario, tidak jadi ikut masuk kan?" Judith nampak runsing sekali. Vario sangat ingin tertawa, hanya ditahan, sebab hampir tengah malam.


"Memang kamu tidak pernah menerima tamu, Dit?" Vario justru bertanya hal yang lain.


"Enggak.. Mas Syahdan hanya selalu mengantarku di tempat pemberhentian depan atau paling bagus sebatas lobi," terang Judith cepat. Vario mengangguk sekali.


"Jadi aku yang paling bagus ya, Dit. Benar-benar sampai di pintu,,?" goda Vario.


"Eh, bukan membandingkan. Bukan seperti itu,," ralat Judith bingung sendiri.


"Okelah, Dit. Kamu cepat masuk saja. Minum dan habiskan obatmu. Jangan lupa dikunci. Aku akan segera turun setelah kamu masuk," tegas Vario.


"Eh, iya. Terimakasih ya, mas. Assalamu'alaikum..!" sapa Judith sebelum akhirnya berbalik. Membuka pintu dengan kartu yang kemudian membawa dirinya masuk ke dalam. Pintu telah tertutup rapat kembali.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab lirih Vario.


Kemudian bergegas menuju lift, menekan tombolnya dengan cepat. Ingin segera meluncur turun dan pulang dengan selamat. Merasa dirinya sangat letih setelah seharian membanting kepala dengan banyak penyusunan jadwal terbang. Namun bagaimana, ini adalah pekerjaan pilihannya.


__ADS_2