Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
75. Hadiah Melimpah


__ADS_3

Kasandra telah duduk anggun di sofa ruang tamu yang panjang. Ratria pun memilih duduk di samping Syahdan pada sofa yang juga panjang dan berhadapan. Kepala Kasandra menatap lurus dan tegak memandangi kedua tuan rumah di depannya. Atau bisa jadi wanita itu beranggapan jika rumah dinas itu adalah miliknya juga.


"Maaf, sebenarnya sekretaris pribadimu ini siapa, pak Syahdan?" tanya Ratria. Tidak bisa menahan lagi rasa heran. Kasandra memang bersikap sopan bahkan juga anggun. Namun kesan meremehkan ada di wajah cantik itu.


Syahdan memandang Ratria dengan rasa bimbang sejenak.


"Sebenarnya Kasandra adalah putri dari pemilik saham terbesar di maskapai tempat aku dinas, Ratria." Syahdan mengakui fakta yang sebenarnya.


"Jadi,,," gumam Ratria menggantung. Memandang Syahdan juga pada Kasandra bergantian.


"Oh, jadi seperti itu... Ya jika begitu, silahkan pak Syahdan berbincang saja. Barangkali berita yang akan di sampaikan oleh bu Kasandra memang begitu penting bagi kalian," sambung bicara Ratria setelah paham dengan nada yang sopan.


Menutupi kecewa hati akan kebenaran prasangkanya. Ucapan bahwa bossnya Syahdan memiliki seorang anak perempuan yang sedang ingin menikah, bisa jadi memang benar. Kecewa pada Syahdan yang sedikit pun tidak mau membenarkan dan bercerita padanya.


"Ratria, kamu ini lucu sekali,, ha,,ha,,ha.. Menyebut suami kamu dengan pak,,? Lagipula pak Syahdan ini nampak sangat muda lho,,, umurnya baru tiga puluh tahun. Apalagi dengan baju santai seperti ini,,," tiba-tiba Kasandra tertawa berkomentar. Memberikan pandangan takjub pada Syahdan.


"Dan sebagai sekretaris pribadinya, aku sangat paham juga dengan jiwa mudanya. Aku juga tidak keberatan memanggilnya dengan sebutan mas,," ucap Kasandra tanpa segan dan malu.


"Emmm, jadi kalian benar-benar menikah sebab perjodohan..? Terdengar dramatis sekali,," sambung komentar Kasandra. Tersenyum remeh pada Ratria.


Ratria menatap tajam pada Kasandra.


"Maaf, jika saya lancang. Tapi saya juga ingin berkomentar mengenaimu, bu Kasandra," Sahut Ratria dengan ketus.


"Sebenarnya hubungan bu Kasandra dengan pak Syahdan lebih lucu lagi.. Bagaimana bisa, putri seorang boss besar seperti bu Kasandra ini hanya sekedar menjadi sekretaris pribadi seorang manager saja?" tanya Ratria.


"Apa bu Kasandra tidak memiliki skill bagus sedikit pun untuk duduk di kursi yang seharusnya anda tempati sendiri? Kenapa bu Kasandra justru memilih menjadi bawahan pak Syahdan? Saya yang sangat awam saja merasa ini sangat aneh," sambung bicara Ratria. Menatap Kasandra dengan mata berkilatnya yang jernih.

__ADS_1


"Ehemm,,,! Ratria, bisa tolong ambilkan sembarang minuman untuk tamuku?" tegur Syahdan menengahi. Memandang Ratria dengan tatapan menenangkannya. Dan Ratria cukup segera memahami.


"Bisa, akan kuambilkan, pak Syahdan. Tunggulah sebentar," sahut Ratria dengan lembut. Lalu berdiri dengan pandangan hanya pada arah ruang dapur dan televisi. Tidak ingin bertatapan mata dengan Kasandra lagi saat itu.


"Sandra, hal penting apa yang akan kamu sampaikan padaku?" tanya Syahdan.


Syahdan memandang lekat pada Kasandra. Wanita cantik itu sedang mengatupkan rapat bibirnya sambil melirik Ratria yang melenggang berlalu.


"Mas,,, emmh,,, Pak Syahdan apa tidak keberatan kupanggil dengan sebutan, mas,,?" Kasandra bertanya dengan manja seperti biasa. Tapi cukup bagus, saat ada Ratria, mampu ditahan dirinya untuk bersikap tidak berlebihan pada Syahdan.


"Aku tidak mempermasalahkan apapun panggilan orang kepadaku, Kasandra. Termasuk kamu yang ingin memanggil mas padaku. Silakan, aku tidak keberatan," sambut Syahdan dengan hangat pada Kasandra.


Wajah cantik itu nampak berbinar dengan tanggapan Syahdan akan keinginannya. Merasa lampu hijau sedang ada di pihaknya.


"Terimakasih, mas. Kamu selalu membuat hatiku gembira akhir-akhir ini. Tidak sia-sia aku menuruti keinginan papa untuk berkenalan denganmu," ucap Kasandra tersenyum.


"Hanya ada seperti ini ya, bu Kasandra. Silahkan di minum."


Ratria berkata setelah meletak baki dan kembali duduk di samping Syahdan. Merasa cukup lega sebab Kasandra tidak berpindah duduk bersama Syahdan.


Entah, perasaannya mulai sangat tidak enak dengan kedatangan wanita yang nampak berkelas, namun mudah mengusik itu. Ratria menangkap ada aura pelakor di kedua mata Kasandra yang berbinar. Tiba-tiba merasa ketakutan andai Kasandra akan memalingkan Syahdan darinya. Ratria mulai berdebar tidak tenang.


"Hemm, Sandra, segera saja jelaskan apa tujuan kamu mendatangiku saat ini,,?" Syahdan kembali mendesak agar Kasandra menjelaskan.


"Siap, mass... Sabarlah sebentar ,," sambut Kasandra. Tidak menyembunyikan nada manjanya.


Mengambil tas kerja miliknya dari sofa dan mengeluarkan sebuah file dokumen yang berisi beberapa lembaran berkas.

__ADS_1


"Hari itu aku sudah bilang padamu, papaku akan datang lagi dan ingin makan malam bersama kamu, mas. Dan bawalah juga Ratria dengan kamu. Papaku ingin berbicara hal penting dengan kalian." Kasandra menerangkan sambil mengulur map file itu pada Syahdan.


Ratria merasa heran dengan ucapan Kasandra bahwa sang papa ingin berbicara juga dengannya. Untuk apa,,, sedang dirinya tidak saling mengenal sama sekali sebelumnya. Dan Ratria hanya ingin diam dulu dengan ikut menyimaknya.


"Apa ini, Sandra,,?" tanya Syahdan terheran. Namun tangannya terulur menerima.


"Itu adalah bukti kepemilikan rumah mewah, mobil mewah, serta tabungan dengan jumlah yang papa anggap cukup untuk sementara. Bukankah waktu itu, papa memang ingin memberi bonus melimpah padamu, mass,,?" jelas Kasandra dengan tegas.


Syahdan memandang Kasandra dengan gusar.


"Untuk apa bonus melimpah seperti ini, Sandra? Sedang aku pun bekerja di posisi baru juga belum terlalu berfungsi. Ini sangat berlebihan, Sandra." Syahdan menyodorkan kembali map file itu ke hadapan Kasandra di meja.


"Terima saja, mass. Kamu adalah manager yang langsung dipilih oleh papaku dari sekian banyak manager punya papa. Kumohon janganlah mas Syahdan menolak." Kasandra kembali menyodor file itu ke hadapan Syahdan di meja. Dan wanita cantik itu menyambar satu soft drink yang lalu dibukanya.


"Bahkan aku juga sudah mendapat hadiah mobil yang kemarin itu, Sandra. Fasilitas rumah dinas ini juga sudah nyaman untuk kutinggali bersama Ratria. Dan tabungan, aku juga tidak memerlukan tabungan bernilai fantastis itu. Semua hadiah-hadiah melimpah justru akan membebaniku, Sandra," terang Syahdan dengan niat ingin menolaknya.


"Terima saja, mas Syahdan. Papaku akan sangat kecewa dan merasa tidak dihargai jika niat baiknya tidak diterima. Kamu paham sendiri bagaimana perasaan orang tua kan,,?" ucap Kasandra mendesak.


Lalu meneguk soft drink itu dengan perlahan sebagian. Leher mulus jenjangnya tersuguh nyata dan menggoda saat sedikit menengadah.


Ratria merasa tidak nyaman melihatnya. Rasa kesal dan tidak suka. Melirik pada Syahdan yang ternyata terus memandang Kasandra tanpa segan. Meski dengan tatapan sang suami yang tanpa ekspresi, tapi Ratria sangat kesal.


Dan tentu hanya dipendam saja perasaannya. Sedang mereka berdua adalah partner bisnis. Ratria juga enggan jika dikatakan sebagai istri perusak bisnis sang suami. Sebisa mungkin, Ratria berusaha menyimak dengan diam sementara.


"Tolong hadiah itu disimpan saja, mas. Jangan lupa, malam nanti papa ingin makan malam dengan kamu dan Ratria. Aku akan mengirimkan share lokasinya nanti malam. Jangan tidak datang ya, mass,, aku sangat menunggumu,," Kasandra kembali mengingatkan dengan sedikit nada manja. Telinga Ratria terasa berdengung mendengarnya.


Mungkin kedatangannya suduh cukup. Wanita itu berdiri dengan membawa tas kerja di tangannya. Merapikan gaun mewah yang melekat indah di badan, dan kali ini sangat tertutup dan sopan. Jauh berlainan dari baju kerja yang biasa dipakai saat bekerja bersama Syahdan di ruang kerja pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2