
Gadis cantik berkerudung mengikuti Syahdan masuk ke dalam rumah dengan diam. Salam yang di berikan Syahdan saat akan melewati pintu, terjawab sayub dari dalam dengan dua suara riuh laki-laki. Mungkin mereka adalah kedua adik lelaki Syahdan yang kebetulan di rumah.
"Duduklah, akan kupanggil orang yang sangat ingin melihatmu," ucap Syahdan dengan menoleh Ratria. Menunjuk sofa tamu yang kemudian berjalan menjauh ke arah lain di ruang rumahnya.
Ratria dengan cepat menjatuhkan diri dan duduk tegak menunggu. Merasa cukup tegang, tidak menyangka jika kedatangannya ke Surabaya akan bertemu dengan Syahdan. Terlebih lelaki itu telah membawanya ke rumah untuk berjumpa dengan ortunya. Meski dengan drama ancaman yang dilayangkan Syahdan semalam.
"Hei,,!" sebuah sapa pada Ratria datang dari arah samping tiba-tiba. Lelaki muda tampan, sedikit mirip dengan Syahdan.
"Hei,!" sambut balas Ratria dan tersenyum. Merasa harus menjadi tamu yang baik.
"Siapa,,?" tanya lelaki itu. Begitu santai dengan menunjuk dagu pada Ratria.
"Ratria.. Aku,,,aku teman pak Syahdan," Ratria merasa kebingungan menjawab.
"Ratria,,?! Bukankah kamu gadis perkebunan yang baru dinikahinya? Kamu putri dari mantri yang dulu pernah mengobati ortuku,,?!" lelaki itu bertanya seru pada Ratria dengan ekspresi wajah yang cerah. Ratria mengangguk tersenyum. Merasa lega jika lelaki itu telah paham sendirinya.
"Bagus, lebih baik kamu sering-sering saja ke sini. Aku akan menjaga kamu. Sebab,, mas Syahdan sudah punya kekasih,,"
"Kahfi,,!!" hardik Syahdan yang kembali lagi ke ruang tamu dan mendengar ucapan adik bungsunya.
"Apa ucapanku salah,,? Aku berniat melancarkan urusan kamu, mas,!" sanggah Kahfi dengan santai pada Syahdan.
"Jangan ikut campur. Ini urusanku. Mana mama,?" tanya Syahdan dengan nada kesalnya. Memandang Ratria sekilas lalu kembali ke Kahfi.
"Nggak tahu. Di loteng, kayaknya," jawab Kahfi ragu-ragu.
"Rat, ikutlah aku,"Syahdan berdiri menunggu dan memandang Ratria. Yang dipandang segera berdiri lalu tersenyum manis pada Kahfi sebagai tanda pamitnya.
"Ahhh...!! Klepek-klepek,,!!!" Kahfi berseru sambil menggelosor telentang di sofa dengan gaya terengah. Playboy bungsu yang tampan itu bermaksud menggoda Ratria.
Syahdan menggelengkan kepala berulangkali, sikap erorr Kahfi berlaku pada siapa saja tanpa pandang bulu.
Wanita selaku nyonya rumah yang sedang diburu oleh Syahdan sebab terbatas waktu, tak kunjung ketemu. Justru mendapati Khairy, adik nomor tiga yang tengah fitness di loteng.
"Mama mana, Khai,,?!" tanya Syahdan tanpa mendekati Khairy.
"Lagi arisan," jawab Khairy singkat sambil melirik Ratria.
"Mas, Siapa,?!" tanya Khairy.
__ADS_1
Merasa heran sebab Syahdan tiba-tiba membawa gadis menawan yang asing dan belum pernah dilihatnya. Sedang Khairy begitu paham pada sang kakak yang hanya berminat mendekati Judith dan telah sering berkunjung ke rumah.
"Ratria ,!" jawab Syahdan sambil duduk di sofa. Lelaki itu nampak gusar sebentar dan berdiri kembali.
"Rat, ini adikku, Khairy," ucap Syahdan lirih pada Ratria.
"Ratria,,?" gumam Khairy yang lalu melempar senyum tipis pada Ratria. Dan mendapat balasan senyum manis yang cerah. Tubuh yang terasa panas sebab fitness yang kencang, kian terasa gerah saja rasanya.
Syahdan paham dengan gelagat wajah Khairy yang menegang. Adik lelakinya nampak berpaling wajah dari Ratria dengan enggan.
"Ratria, ikut aku,!" Syahdan yang gusar kembali memanggil Ratria untuk diajaknya menyingkir dari loteng.
Surabaya sangat gerah tanpa AC dan kipas. Kebiasaan Syahdan sepulang kerja adalah rebah sejenak dan mandi. Tapi ibunya kebetulan tidak di rumah pada saat yang tidak tepat sama sekali.
Meninggalkan Ratria sendirian, dirinya tidak tenang. Sedang ada dua buaya beda karakter dalam rumah. Syahdan menganggap jika Ratria adalah gadis gunung yang polos. Itulah penyebab manager Air Asia yang terhormat nampak gusar.
Ratria terus mengikuti dibelakang Syahdan dengan diam. Merasa lebih baik mengekor Syahdan daripada sendirian di rumah asing yang bertebaran lelaki. Hatinya justru tenang dan pasrah mengikuti Syahdan yang entah membawanya ke mana.
"Masuk,," ucap Syahdan sambil memegangi pintu yang baru dibukanya. Ratria terkejut dan enggan.
"Kamar,,?" tanya Ratria merasa bingung.
"Eh, iya. Lebih baik aku menunggumu di ruang tamu saja," Ratria serba salah. Tapi juga ogah dimasukkan Syahdan ke dalam kamarnya. Ratria telah berbalik dan berniat akan pergi ke ruang tamu lagi.
"Rat, lebih baik menungguku di kamar,!" seru Syahdan sambil menarik tangan Ratria hingga kembali berbalik.
Dengan cepat, adegan menarik paksa Ratria ke dalam kamar terulang kembali. Hanya Syahdan tidak memeluk gadis itu kali ini.
"Kamu suka sekali memaksaku," gerutu Ratria sambil mengibas tangan Syahdan.
"Duduk lah," ucap Syahdan mengabaikan ucapan Ratria.
Ada sofa lebar dengan meja serta sebuah televisi di dinding. Ratria segera duduk dengan rasa kikuk dan salah tingkah. Lelaki pemilik kamar begitu santai melepasi baju kerja dengan acuh tanpa mempedulikan perasaan tamunya.
Ratria berpaling muka membuang pandangan. Namun Syahdan justru sempat menyalakan televisi hanya dengan handuk kekecilan yang melingkar di pinggang.
Dan nafas Ratria terasa sangat lapang setelah pemilik kamar semi toples itu meluncur ke dalam kamar mandi. Syahdan benar-benar menganggap dirinya seperti patung tak berakal.
Ratria terkantuk-kantuk dengan tayangan sebuah konser musik pop serta hembusan lembut AC yang menerpanya tanpa henti. Sekuat daya melawan dengan melebar-lebarkan kelopak mata serta menonjol-nonjolkan bola mata. Namun nyatanya tak berefek memberi sedikit pun kesegaran di mata. Kepalanya kian berat dan pening menahan ngantuk yang dahsyat.
__ADS_1
Ratria terbangun saat mendengar suara pria mengaji dari televisi. Pertanda datang maghrib sebentar lagi.
Terkejut dengan keberadaan dirinya di tempat tidur yang empuk. Masih jelas saat dirinya menyandar pasrah di sofa sebab tak mampu lagi menyangga matanya.
Syahdan,,???!
Lelaki pemilik kamar justru merebah di sofa dengan menghadap televisi namun tertidur.
Setelah mandi kilat dan membersihkan diri tergesa, Ratria keluar dari kamar mandi buru-buru. Terkejut dengan Syahdan yang telah bangun dan duduk tegak memandangnya.
"Pak Syahdan, ibumu belum pulang,?" tanya Ratria demi mencairkan suasana.
"Sudah," jawab Syahdan pendek. Lelaki itu terus mengamati wajah Ratria yang basah.
"Kerudungmu tidak kamu lepas,?" tanya Syahdan dengan pelan.
"Sebentar lagi pun aku pulang. Aku akan pulang, pak Syahdan," ucap Ratria berulang.
"Kamu tidak tanya bagaimana kamu pindah dari sofa ke ranjang,?" tanya Syahdan dengan nada mengejek.
Ratria sengaja tak bertanya. Tidak ingin membahas, sebab Ratria sudah menduga jawabannya.
"Lain kali biarkan saja aku tidur di sofa. Tidak usah memindahku," ujar Ratria tanpa sanggup memandang Syahdan. Gadis itu menunduk.
"Maksudmu, kamu berminat untuk tidur lagi di kamarku,?" Syahdan tak bisa menahan senyumnya. Ratria sadar dengan kesalahan ucapannya.
"Bukan seperti itu.. Maksudku, jangan mengurusiku,," Ratria asal menyanggah dengan cepat.
"Aku tak minat. Hanya menuruti arahan ibuku," sahut Syahdan sambil berdiri dan mendekati Ratria. Mata jernih polos itu melebar cantik pada Syahdan.
"Apa ibumu masuk ke sini,??" Ratria terkejut. Merasa lalai dengan tidurnya. Malu telah kedapatan tidur di kamar lelaki anak nyonya rumah tanpa izin, atau menunggu dulu hingga bertemu.
"Ibuku sudah melihatmu. Menyuruhku memindahmu ke ranjang. Kurasa ibuku menyukaimu," ucap Syahdan di depan Ratria begitu dekat. Jelas terlihat jika wajah yang masih ada sisa basahnya itu berubah memerah.
"Pak Syahdan, aku harus segera kembali ke asrama bandara. Temanku pasti sedang bingung mencariku. Boleh aku berjumpa dengan ibumu sekarang, agar aku bisa segera pergi,?" tanya Ratria tergesa.
Mengingat janji untuk jalan bersama Hendra di Surabaya kota malam ini.
"Tunggulah sebentar. Aku maghriban dulu. Kamu sudah,?" tanya Syahdan sambil menuju kamar mandi meninggalkan Ratria. Yang ditanya hanya berdiri tegak ditempat. Merasa jika Syahdan tidak butuh jawaban apapun darinya.
__ADS_1