Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
27. Langsing dan Muda


__ADS_3

Syahdan merasa puas dengan wajah memerah yang berdiri kaku di depannya. Menilai jika gadis itu sangat menjaga gengsi dan harga diri padanya.


Sedang Syahdan sangat paham, bahwa bag besar pemberian Vario dengan cepat telah diterima Ratria. Merasa agak kesal dengan perlakuan berbeda dari gadis itu padanya.


"Bagaimana, kamu masih menolak,?"tanya Syahdan menyimpan senyumnya. Iba juga jika Ratria semakin merasa malu.


"Aku terpaksa memakai uangmu, pak Syahdan. Sebenarnya aku tak berniat memakainya. Tapi ternyata harga di butik itu sangat mahal. Aku lupa tidak melihat labelnya sebelum ke kasir," terang Ratria dengan wajah dan suara yang kaku.


Manager Air Asia tidak lagi menyembunyikan senyumnya.


"Jika tidak niat memakai. Lalu untuk apa kamu membawa amplop ini bersama kerja dinasmu ke sini,?" tanya Syahdan mengungkap fakta itu. Merasa memojokkan Ratria adalah hal yang menyenangkan. Gadis itu tetap saja beralibi dan tidak mau mengaku.


"Mbak Lusi yang memintaku membawanya," Ratria menjawab asal, benar- benar merasa gengsi dengan Syahdan.


Syahdan terus tersenyum dan menaikkan alisnya satu kali dengan cepat.


"Ah, sudahlah, Rat. Aku menemuimu bukan untuk bertanya kenapa kamu memakai uang dariku. Sebetulnya aku ikhlas memberi apa saja barang atau uang yang sudah diterima. Tapi kamu bilang tidak mau sebab tidak butuh uangku. Itulah yang tidak pas kamu ucap padaku, Ratria," ucap Syahdan jengah.


Lelaki itu dengan santai melepas jaket dan sepatu tanpa melepas kaus kaki. Menaikkan sebelah kaki panjangnya ke ranjang.


"Pak, kamu mau apa,?!" seru Ratria. Risau dengan kelakuan Syahdan yang meresahkannya.


Lelaki itu seperti sedang tuli kembali. Justru menaikkan sebelah kaki juga ke ranjang dan merebah cepat di pembaringan. Bantal bekas kepala Ratria beraroma sangat wangi.


"Apa kakak tirimu yang tampan itu juga sempat tidur di bantalmu,?" tanya Syahdan dengan usil.


Wajah cantik itu kembali memerah, mungkin sebab marah.


"Tidak.! Mas Rio, sangat sopan dan menghargaiku. Dia bilang hanya lima menit berbicara. Dan belum ada lima menit, kakakku sudah keluar," jawab Ratria dengan datar. Tidak ingin nampak sengit, merasa sadar jika Syahdan justru menyukai saat dirinya sedang marah.


"Tentu saja, kakakmu itu sedang bertugas di shift malam. Kamu mana tahu, jika sebenarnya dia ingin menginap di kamarmu," ucap Syahdan terkesan sembarangan.


Ratria sedikit terkejut dan nampak berfikir sesaat.


"Apa salahnya, pak Syahdan,? Mas Rio adalah keluargaku sendiri," Ratria kembali ketus tanpa sadar.


"Aku bukan berburuk sangka, Rat. Bisa jadi kakak lelakimu itu diam-diam suka padamu. Dia hanya saudara tirimu," Syahdan kembali memvonis.


"Pak Syahdan,! Jaga bicaramu, jangan sembarangan,!" tegur Ratria kembali terkejut dengan ungkapan pak Syahdan. Merasa hal itu tidak mungkin.

__ADS_1


Melihat lelaki yang justru sedang memejam mata dengan santai di ranjang sempit, rasanya sangat sebal.


"Sebaiknya segera katakan, apa tujuanmu menemuiku. Setelah itu, sebaiknya segeralah keluar, pak Syahdan. Berapa menit waktu take down cctv kali ini,?" Ratria mencoba mengendalikan diri dan bersikap cukup baik pada Syahdan. Gadis itu bersandar di dinding sebab pegal.


"Pertama, aku ingin kamu menerima honor bagianmu," ucap Syahdan dengan menunjuk amplop tebal yang sudah dia letak di atas amplop sengketa yang pertama.


"Yang kedua, besok pulanglah ke Blitar bersamaku. Biarlah temanmu itu pulang sendiri. Dia lelaki, tidak masalah pulang sendiri," ucap Syahdan dengan tegas.


"Apa,,?! Kami ini satu tim, pak. Mana mungkin aku pulang memisah,?" terang Ratria memrotes.


"Hem... Kamu pikir aku tidak paham dengan kelakuan ke tiga kawan tim kamu yang lain. Mereka juga tidak semobil denganmu. Benar-benar tidak senonoh." Syahdan terus saja memojokkan Ratria. Gadis itu tersenyum menanggapi.


"Repot sekali hidup pak Syahdan dengan menyelidiki tim kami. Apa semua tim undangan, kamu juga tahu?" Ratria merasa sangat jengah dengan Syahdan yang seperti mata-mata.


"Apa kamu tidak merasa diremehkan? Nekat sekali kedua senior kamu bermain skandal terang-terangan. Tidak berfikir jika bersama mereka sedang ada gadis magang, polos dan masih di bawah umur,," Syahdan memandang Ratria. Seperti menunggu saat gadis itu sedang marah.


"Di bawah umur,? Gadis yang kamu maksud itu, aku,?" Ratria berusaha tenang kali ini.


"Apa di tim kamu ada anggota perempuan lagi selain kamu dan seniormu yang tak senonoh itu,?" lempar balik Syahdan bertanya.


Ratria hanya tersenyum penuh arti.


"Manja,,?" Syahdan berkerut dahi tak paham.


"Iya. Yang seorang perempuan berulangkali mencoba baju dan bertanya sangat manja pada kekasih setianya," Ratria tersenyum kian lebar.


"Ha,,ha,,ha... Seorang manager terhormat serta Syahdan yang pemaksa pada gadis di bawah umur, ternyata begitu tunduk dengan setia pada kekasihnya yang masih bau kencur..Hi,,hi.."


Senyum lebar Ratria telah berubah menjadi tawa yang ceria. Bisa jadi jika ada orang lain yang mendengar, akan disangka kakak kunti sedang bergembira saat malam.


"Jadi, kamu,,??" Syahdan dengan cepat bangkit dan duduk. Merasa dirinya telah dipermainkan serta diam-diam diamati Ratria. Syahdan mengambil nafas panjangnya banyak kali.


"Dia dua puluh lima tahun. Masih di atas kamu," pungkas Syahdan kemudian. Lelaki itu telah berdiri dan melangkah mendekati Ratria.


"Benarkah? Tubuh langsing memang membuat seseorang lebih muda,," ucap Ratria menyindir.


Syahdan yang berdiri tepat di depan Ratria, berkerut dahi sesaat.


"Apa kamu berniat jadi selangsing dia? Perlu kamu tahu, kamu sudah nampak muda. Tidak perlu langsing lagi untuk terlihat lebih muda. Dan kamu sudah sangat langsing." ucap Syahdan sungguh-sungguh serta perhatian.

__ADS_1


"Aku memang muda. Bukan terlihat muda,, atau masih di bawah umur,," protes Ratria menggebu.


"Benarkah,,?" respon Syahdan dengan tersenyum. Menyapu tubuh Ratria sekilas.


"Jangan lupa, besok pulang denganku. Aku akan ada urusan di Perkebunan,"


"Dan terimalah uang dariku. Bersenang-senanglah dengan uang itu," ucap Syahdan menyambung.


Kemudian mundur dan duduk di ranjang.


Sepertinya lelaki itu sudah cukup berbicara. Setelah memakai kedua sepatu, lalu disambarnya jaket yang tadi dilepas di atas prmbaringan.


"Izin saja pada ketuamu, ada orang lain yang akan membawa kamu dengan selamat kembali ke Wlingi. Sebelum dzuhur kita berangkat. Arka akan menjemputmu di depan pintu masuk," terang Syahdan serius. Lelaki itu melewati Ratria dan akan ke pintu.


"Pak Syahdan. Maafkan aku, tapi aku tidak enak dengan temanku. Aku tidak mau pulang denganmu," putus Ratria sebelum Syahdan membuka pintu kamar.


Tanpa diduga, Syahdan berbalik dan kembali lagi mendekati Ratria. Mereka berpandangan dengan perasaan masing-masing yang berbeda.


"Apa kamu tidak kepanasan? AC kamarmu mati bukan? Aku saja tidak tahan," ucap Syahdan seperti abai dengan putusan Ratria barusan.


Bersama gerak tangan yang mengulur pada Ratria. Menarik jaket gadis itu dengan cepat. Baju tidur yang dipakai Ratria masih sama dengan yang kemarin. Celana panjang bergambar jeruk di mana-mana dengan atasan super mini yang senada tanpa lengan.


Perut mulus dan ratanya sangat jelas kelihatan dengan lubang pusarnya yang cantik. Lampu di kamar yang menyala saat Rio datang, tidak lagi di matikan. Syahdan nampak jelas dengan pemandangan malam yang begitu menggoda.


"Dengan begini kamu tidak terlalu kepanasan. Kenapa kamu tidak melapor jika AC di kamarmu mati,?" tanya Syahdan sambil cepat pergi dan berlalu.


Tidak lagi menunggu alasan dari jawab Ratria. Syahdan sadar jika Ratria adalah gadis muda belia yang menggoda. Dengan cepat membuka pintu dan meninggalkan kamar buru-buru.


Ratria mencapai ranjang dan duduk pelan di atasnya. Merasa gemetar dengan perlakuan Syahdan yang terakhir barusan. Merasa tak paham pada dirinya yang menurut saja saat Syahdan melepasi jaket dari badan dan tangan.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Put ur vote here, please..


Love u, trims datangmu... 😘

__ADS_1


__ADS_2