Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
33. Otewe Pulkam


__ADS_3

Empat hari kemudian...


Hampir satu minggu mendekam di rumah dinas Vario, rasanya mulai bosan. Bukan fresh pikiran yang dihasilkan, tapi rasa jadi beban dan sedikit rasa tertekan. Bukan Vario kurang baik, kakak tirinya itu bersikap sangatlah baik padanya.


Hanya ada beberapa kejadian yang cukup meresahkan, dan tentu membuat Ratria jadi merasa kurang nyaman.


Seperti kejadian pagi ini...


Setelah subuh berlalu, Ratria keluar dari dalam kamar. Ingin menyedu lemon hangat dan madu. Juga ingin membuat nasi goreng telur super pedas. Sudah lama tidak merasa nasi goreng buatan mbak Lusi, lidahnya jadi rindu. Bukan lidah saja sebenarnya, jujur hatinya juga rindu pada wanita lembut itu.


Ingat jika di lemari es, Vario menyediakan bahan sayur lengkap khusus untuk Ratria. Vario hampir tidak pernah masak atau makan di rumah. Kakak tiri Ratria menghabiskan hampir seluruh waktunya di bandara.


Ceklerk,,!


Pintu di kamar Vario yang berseberangan dengan dapur, telah terbuka lebar tiba-tiba. Ratria yang asyik melamun sambil mengiris bawang terkejut. Refleks berbalik dan melihat asal bunyi di pintu kamar Vario.


Lebih terkejut lagi, Vario keluar kamar tidak memakai baju. Hanya bercelana pendek ketat dengan potongan setengah paha dan menggantung seksi di pinggulnya. Seperti akan jatuh saja terlihat.


Vario yang bak model itu begitu santai mengambil minum dan meneguknya. Tidak menyadari adanya Ratria yang kikuk memandang. Baru menyadari saat Ratria telah menunduk dan Vario akan mencuci gelas di wastafel.


"Eh, Ratria,,!" ucap Vario terkejut dan cepat berbalik masuk ke kamarnya kembali. Dan cukup lama sang kakak tidak kunjung keluar dari kamar. Mungkin lelaki itu juga malu.


Vario baru keluar kamar saat hampir pukul tujuh. Telah rapi dan gagah dengan kemeja putih lengan panjang serta celana bahan warna hitam. Masih nampak sisa kikuknya saat berhadapan dengan Ratria. Yang gadis itu pun terlihat salah tingkah.


"Mas, sarapan dulu. Aku bikin nasi goreng telur. Enak banget. Ini piring kamu, mas," Ratria segera mencairkan suasana. Vario mengangguk dan segera duduk di meja makan mini dalam dapur


"Rat, yang tadi itu maaf. Aku nggak melihat kamu. Aku lupa jika ada kamu," ucap Vario menjelaskan. Namun bibir itu sudah ada senyum sedikit.


"Iya mas. Nggak papa. Itu wajar, biasa saja. Aku juga langsung ngiris bawang lagi kok," ucap Ratria dengan manisnya. Vario mengangguk dan segera sarapan pagi dengan nasi goreng buatan sang adik. Vario terlihat buru-buru.


"Mas, jam kerjanya kok nggak menentu sih,?" tanya Ratria.


"Iya, Rat. Tergantung permintaan. Tidak masalah, yang penting ada uangnya," jelas Vario. Lelaki itu telah berdiri. Bersiap pergi kerja.


"Rat, di atas kulkas ada pizza kesukaanmu. Semalam kamu sudah tidur." ucap Vario sambil bergerak akan keluar.


"Oh, iya mas! Terimakasih,!" sambut Ratria.


"Eh, Rat. Tolong kalo hujan, jendela kamarku ditutupkan, ya,!"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum,!" seru Vario sebelum menutup rapat pintu depan.


"Iya, mass!" sambut Ratria sekali lagi.


Meski begitu suka dengan pizza, tapi kali ini rasanya kurang nafsu. Masih merasa tidak enak hati dengan kejadian pagi ini. Sebenarnya ini bukan yang pertama.


Tapi sebelumnya Vario masih memakai celana panjang atau sarung. Baru pagi inilah Rio begitu lambat menyadari dengan penampilan yang sangat meresahkan. Ratria yang tidak terbiasa dengan penampakan live seperti itu, tentu saja merasa sangat risih. Meski sangat paham jika Vario tak sengaja dan terlambat menyadari.


Kepalanya berputar dan hatinya tergerak untuk mengingat ucapan Syahdan padanya tempo hari. Syahdan....Apa kabar...


Bibir manis itu tersenyum masam mengingatnya.


🍃


Setengah lingkaran pizza lezat telah meluncur nikmat ke dalam lambung di perut. Bersama suara hujan yang tiba-tiba turun langsung deras dan mengguyur.


Kotak pizza buru-buru ditutup dan diletak ke atas kulkas semula. Ratria berlari ke dalam kamar Vario dan menutup jendelanya cepat-cepat.


Niat keluar kamar terpending saat melihat satu foto dalam pigura di meja. Mungkin adalah meja kerja Vario yang diletak dalam kamar.


Ratria tersenyum sangat sedih. Itu adalah foto zaman SD. Sangat hafal dengan suasana SDnya di Sirah Kencong. Bahkan ada Ratria kecil di antara banyak bocah berseragam merah putih dalam foto.


Ratria mencari Vario. Merasa tidak kenal siapa Vario saat dulu. Hanya satu yang membuat dirinya yakin jika ada Vario kecil di situ. Bocah cilik tampan yang mirip Vario saat ini. Ratria tersenyum kecil dan membalik pigura, berharap ada sesuatu tulisan.


Senyum Ratria menghilang. Foto itu adalah dirinya saat menjadi putri raja di pawai HUT RI di SMPnya saat dulu. Yang memang diambil sang ibu dan disimpannya. Tapi kemudian menghilang.


Ibu bilang dicolong adik lelakinya yang waktu itu masih kecil untuk dibuat mainan. Ibu mencarinya hingga bosan pun tak juga ketemu. Adik kecil yang ditanya pun berkata tak tahu menahu.


Dan sekarang, entah bagaimana prosesnya, Ratria tak menyangka jika Variolah yang menyimpan. Rasanya begitu sesak dan semakin merasa tidak nyaman!


🍃🍃🍃


Keinginan pulang kampung tak bisa lagi dibendung. Ratria talah standby pulang ke Blitar dengan tiket di tangannya. Gadis itu sedang menunggu kedatangan bus VIP di Terminal Purabaya atau Bungurasih, Surabaya. Terminal paling sibuk di Indonesia sekaligus sebagai terminal terbesar di Asia Tenggara. Konon..


Hawa terminal begitu panas dan gerah. Rasanya sangat ingin membeli dan menikmati es buah. Saat masuk dalam terminal, sempat dilihatnya kafe mini bergambar es buah yang segar.


Meski di dalam terminal tak kurang-kurang penjual es buah, tapi Ratri begitu ingin mendatangi kafe es buah yang diluar. Kedatangan bis VIP yang satu jam lagi, membuat Ratria segera beranjak berjalan.


Hati yang resah, merasa tak nyaman dan terburu pulang, membuat dada Ratria tidak tenang. Bayang es buah yang akan menyegarkan, telah begitu melenakan. Dan semua itu, penyebab gadis itu kurang hati-hati menyeberang.

__ADS_1


Ciiiiiiiiiiit,!!!!


Sebuah mobil yang melaju telah mengerem begitu kuat dan mendadak. Tidak menyangka jika ada penyeberang jalan yang memotong tiba-tiba. Namun senggolan kecil tidak bisa dihindari.


Gadis berhijab penyeberang jalan itu sukses pingsan sebab terkejut yang sangat.


🍃🍃🍃


"Apa jika Ratria sudah sadar, boleh saya antar pulang, dok,?" tanya seorang lelaki yang nampak berwibawa dan berkharisma.


"Maaf, pak. Meski anda adalah mantan pengajar dari pasien dan siap bertanggung jawab, tapi pasien sudah bersuami. Suaminya sudah dihubungi di alamat yang tertera di KTP pasien. Dan sedang dalam perjalanan menuju kemari." Jawab sang dokter menegaskan.


"Baiklah, dok. Saya pilih yang mana baiknya saja. Tapi saya akan melunasi biaya perawatan dan seluruh obat yang akan diperlukan. Bisa ditunjukkan di mana saya boleh melunasi semuanya?" tanya lelaki itu dengan sopan. Dokter muda itu mengangguk.


"Mari saya tunjukkan," ucap dokter sambil berbalik.


"Sus, kamu jaga pasien ini. Suaminya akan datang. Aku sambil pergi ke ruanganku sebentar. " pamit dokter pada seorang perawat yang sedang melintas.


"Siap, dok. Silahkan," sahut perawat sambil mengangguk. Perawat itu mendekati ranjang perawatan Ratria. Mengamati segala sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu.


Korban serempet mobil yang diam-diam telah sadar dari pingsan, ikut mencermati percakapan dari tadi. Rasa kaget sebab terserempet mobil, telah berganti dengan rasa berdebar yang sangat.


Ada dua penyebab debar laju di dadanya. Pertama sebab suara lelaki barusan. Penyerempet kaki Ratria adalah mantan dosennya, pak Jati Hutomobowo!


Penyebab galau yang kedua, Syahdan telah dihubungi polisi serta pihak rumah sakit tentang dirinya. Dan bahkan sedang di dalam perjalanan mendatangi rumah sakit.


Ah,bagaimana ini... Bagaimana jika Syahdan masih ingin membawanya untuk tinggal bersama?


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Izin promo 😃


Yang belum baca dan berminat membaca, Karya Baru sudah End


Hasrat Palsu

__ADS_1



Terimakasih dukunganmu..!!!😘


__ADS_2