
Ratria sedang mendapat tamu dari beberapa teman sekampung di perkebunan. Mereka asyik mengobrol bareng di ruang tamu rumah dinas. Ada juga mbak Lusi yang menemani setelah menyediakan kopi panas dan cemilan. Hawa petang setelah maghrib mulai menggigit kulit dan tulang.
"Jadi kamu sudah nggak di telkom lagi, Rat? Terus di Surabaya ingin nyoba nglamar ke mana? Sampai kecelakaan gitu,," salah satu teman lelaki Ratria bertanya. Dimas namanya.
"Waktu aku habis diputus kerja, aku pergi nyantai di Sidoarjo. Nyusul kakakku, mas Vario ke bandar. Pas mau pulang itulah aku kesenggol mobil di terminal," jelas Ratria sambil tersenyum pada Dimas. Merasa gembira dan bahagia didatangi teman-teman lamanya. Merasa begitu terhibur.
"Nikah saja lah, Rat. Kayak aku, enak,,, diam-diam saja di rumah," ucap salah satu teman perempuan Ratria. Nampak sudah berperut besar, yang mungkin sudah jalan delapan bulan kandungannya. Ratria nampak tegang namun masih meluncurkan senyum pada Vita, nama teman kecilnya yang hamil.
"Itulah, Vit. Aku belum minat hamil, masih ingin seneng-seneng. Kalo nikah pasti ujung-ujungnya hamil." Ratria mengusap wajah sehabis mengeluh.
"Eh, Rat. Dengar-dengan alasan kamu dipecat sebab kamu sudah nikah. Benar diam-diam kamu sudah nikah, Rat?" tanya teman Ratria yang lain lagi. Ratria agak tegang menjawab. Menoleh sebentar pada mbak Lusi. Dan wanita dewasa itu mengangguk padanya.
"Maaf ya, teman-teman. Aku tidak bermaksud bohong. Berita itu memang betul. Sebenarnya, aku sudah menikah." Jawab Ratria terus terang.
"Appa, Raaat,,???!!!!" respon para teman berbarengan. Terkejut memandang Ratria yang sedang tersenyum dan mengangguk.
"Hah, Rat. Aku sangat kecewa. Ternyata kamu seperti itu,,, Sudah berapa kali aku menembakmu? Tapi tetap kamu tolak. Ternyata maumu langsung nikah. Kenapa kamu tidak bilang? Suamimu di mana, kalian tidak pacaran kan, Rat?" Dimas mencerca banyak tanya pada Ratria dengan wajah kecewa.
Tin,,!!
Suara sirine satu kali terdengar bersama sebuah mobil Mitsubishi Pajero yang berhenti di luar pagar. Yang tak lama kemudian mbak Lusi mendapat panggilan masuk di ponselnya. Wanita itu pergi ke dapur untuk mengangkat panggilan. Dan selanjutnya tidak pernah muncul ke ruang tamu kembali.
Ratria terus mengobrol dengan teman-teman tanpa peduli pada mobil yang menyandar di luar. Merasa tidak pernah melihat atau pun mengenali mobil itu.
__ADS_1
Ruang tamu itu seperti aquarium saat malam. Dinding kaca di bagian depan akan menampakkan sangat jelas isi di dalamnya jika dilihat dari luar. Namun tidak tembus keluar jika dilihat dari dalam. Hanya dari pintu yang terbuka itulah bisa melihat keadaan diluar.
Hingga merangkak malam, obrolan seru sekaligus canda gurau itu barulah berakhir. Teman-teman Ratria undur diri dan Ratria mengantarnya hingga pagar. Merasa rumah begitu sepi saat kembali masuk ke dalamnya.
"Mbak...Mbak.... Mbak Lusi,,,!!" panggil Ratria dengan keras. Merasa tidak suka jika di rumah sendirian saat malam. Apalagi mbak Lusi dari tadi tidak nampak, entah ke mana perginya.
Mengakui jika dirinya sedang menjadi manusia penakut tiba-tiba. Merasa phobia sesaat pada segala makhluk yang ngetrend dengan sebutan hantu itu. Entah ada atau tidak, berharap janganlah sampai berjumpa.
Glontang,,,!!!
"Arrggh,,!! Mbaaaakk,,,!!" Ratria terkejut.
"Rat,,!! Ada apa??!!" itu suara mbak Lusi. Dari dapurlah asalnya. Kakinya terbirit melangkah laju ke dapur.
"Mbaak,,,,,,,,,,! Mbak Lusi ngapain,,?!" mbak Lusi sedang jongkok sambil memegangi parang panjangnya yang tajam.
"Buah siwalan,,??!" Ratria terheran.
"Iya, Rat. Buat kamu. Biar perut kamu nggak bermasalah lagi." Mbak Lusi kembali mengupas buah siwalan dengan lihai menggunakan parangnya.
"Mbak,,,memang dari mana dapat buah itu? Setahuku buah siwalan nggak ada di Blitar." selidik Ratria terheran.
"Memang iya, Rat. Susah nyari di Blitar," timpal mbak Lusi membenarkan.
__ADS_1
"Biasanya buah ini melimpah di Tuban, Lamongan, Sidoarjo, Surabayaaa,,, eh,," Ratria tersadar sesuatu.
"Lalu, mbak Lusi beli di mana siwalan yang banyak ini?" tanya Ratria mendesak.
"Aku nggak beli, Rat. Ini dibawakan ke Blitar dari Surabaya khusus buat kamu. Biar kamu nggak bermasalah dengan perut lagi katanya," terang mbak Lusi di sela kesibukan mengambil daging buah siwalan dari tempurungnya.
"Siapa yang membawakan, mbak,,?" tanya Ratria terkejut.
Berfikir kemungkinan siapa nama orang yang membawakan, hatinya berdebar. Jantung dalam dada berdetak lebih cepat tiba-tiba. Antara harap benar datangnya atau justru kecewa dengan harap hampanya.
"Yang bawa buah siwalan untuk kamu ini, pak Syahdan, Rat." Mbak Lusi tersenyum memandang wajah Ratria yang terkejut.
"Lalu, di mana orangnya, mbak?!" tanya Ratria dengan cepat.
"Di vila, Rat. Masih ada urusan di pabrik," terang mbak Lusi.
"Apa mobil yang di pagar tadi adalah pak Syahdan, mbak,,??" Ratria bertanya penuh debar.
"Iya, Rat. Itu tadi, pak Syahdan." Mbak Lusi telah selesai mengambili daging buah siwalan.
"Rat, ayo habiskan ini dulu. Segera habiskan lho, Rat. Siwalan ini cepat basi soalnya.." Mbak Lusi menyodorkan mangkuk berisi daging buah yang terlihat sangat lezat.
"Iya, mbak. Terimakasih." Ratria menerima mangkuk. Membawa ke meja makan dengan gontai.
__ADS_1
Duduk tidak bersemangat dengan menyendok daging buah siwalan yang dijejalkan banyak-banyak ke mulutnya. Pikiran melayang dengan hati sangat galau. Begitu kecewa dengan sikap Syahdan padanya.
Jauh-jauh datang dari Surabaya ke Blitar, tapi tidak ingin menemui dirinya. Justru mbak Lusi lah yang diajaknya berjumpa. Ratria merasa sangat kecewa pada lelaki yang mulai mengisi masuk ke dalam kepala dan hati di tiap harinya. Syahdan sedang ada urusan mendadak di pabrik dan bukan bertujuan untuk menyusul dirinya ke Blitar. Rasanya sedih sekali,,!