
Nasi goreng menggunung di piring jumbo yang diambilkan Ratria dengan wajah mendung cantiknya, mulai disendok Syahdan dengan pelan. Pembuat nasi goreng telur dua piring itu hanya melirik sekilas tanpa menunjuk wajah penasaran. Entah enak, entah tidak, atau juga entah asin atau tidak, sepertinya sedang tidak ingin peduli.
Syahdan memandang wajah Ratria dengan kunyahan perlahan. Menjadi lebih cepat dan kemudian ditelan. Diambil lagi sesendok penuh yang dijejalkan ke dalam mulut. Dengan cepat dikunyah dan lalu ditelan. Seperti itu berterusan tanpa jeda atau juga diselingi minuman. Syahdan terus makan dan mengunyah hingga gunung nasi goreng di piring berubah bersih rata dan licin.
Lelaki tampan dan cerah itu menaikkan kedua alisnya saat pembuat nasi goreng kedapatan memandangnya. Bersiap memberi nilai dan komentar untuk nasi goreng yang dibuat cukup cepat, yang entah dengan hati ikhlas atau tidak. Hanya wajah cantik Ratria terus mendung dengan bibir manis yang terlipat dan rapat. Syahdan tidak habis pikir dengan salah dan dosa apa yang telah dibuatnya tak sengaja pada Ratria.
Namun dugaannya tak terjadi. Ratria membuang muka dan menunduk di piring yang masih menggunung nasi goreng buatannya.
"Rat, kamu tidak sehat? Kenapa lambat sangat makannya?" tegur Syahdan dengan lembut.
"Kalo pak Syahdan ingin duluan, silahkan saja. Aku tidak apa-apa. Nanti kususul," sahut Ratria dengan wajah yang terus di piring. Syahdan menghela nafas panjangnya.
"Iya, Rat. Aku pergi ke kamar sebentar. Ngambil ponsel," sambut Syahdan. Lelaki itu berdiri dari kursi dan meninggalkan Ratria di meja makan.
Nafsu makan Ratria sedang terbang melayang tiba-tiba. Merasa dirinya mungkin sedang demam pagi ini. Juga berbicara pun rasanya begitu malas. Bahkan dengan Syahdan sekali pun.
Meski salahnya tidak bertanya, tapi rasanya kesal sekali. Syahdan tidak memberi komentar pada nasi goreng telur yang dibuatnya. Sebenarnya ingin bertanya, tapi was-was jika jawaban Syahdan tidak seperti harapannya. Padahal diam-diam Ratria sangat bersemangat membuatnya. Berharap hasil buatannya memuaskan. Tidak seperti hasil masakan asinnya di rumah dinas Syahdan saat itu. Tapi Syahdan tidak memberikan penilaian..
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Di dalam kamar hangat dan nyaman di vila. Syahdan baru saja menyimpan ponsel ke dalam saku celana pendeknya. Sepertinya baru membuat panggilan kepada seseorang yang berada di luar vila.
Berniat kembali ke meja makan untuk menemani Ratria menghabiskan sarapan. Namun berpapasan dengan sang istri yang sedang berjalan menuju kamar.
"Sudah habis sarapanmu?" tanya Syahdan. Berdiri menunggu di tempat menyambut Ratria. Yang ditanya menggeleng.
"Aku simpan dulu. Nanti kumakan lagi. Tidak bisa habis," pandang Ratria nampak sayu.
"Rat, aku masih mengantuk. Ayo kita sambung tidur. Aku tidak bisa lagi menahan ngantuk." Syahdan menyentuh lembut tangan Ratria dan ditarik pelan ke dalam kamar.
"Pak Syahdan, biasanya kamu tidak pernah tidur lagi saat pagi," tanya Ratria. Nampak bersemangat meluncur rebah di pembaringan. Berwajah cerah dan berbinar. Seperti sangat suka diajak pergi tidur lagi di kamar. Entah telah pergi ke mana mendung yang bergayut di wajahnya tadi.
Syahdan mengamati dan menyusul naik di sebelahnya. Sambil berbicara pada Ratria.
"Sebab aku harus pergi bekerja. Jika di sini,,,, sebenarnya aku juga harus sidak pabrik, Rat. Tapi rasanya enggan sekali," jawab Syahdan tersenyum. Mereka tidur miring berhadapan saling pandang.
"Kemarin mobil yang kamu bawa, aku tidak pernah lihat. Jadi aku tidak tahu jika yang di dalam mobil itu kamu. Maaf, pak Syahdan," ucap Ratria dengan memandang Syahdan si sampingnya.
__ADS_1
"Iya, itu mobil baru, Rat. Bonus dari bos pusat. Aku terpilih mendapat bonus itu. Arka ingin mencoba di perjalanan jarak jauh," terang Syahdan. Juga memandang Ratria di sampingnya.
"Apa bosmu masih muda?" tanya Ratria.
Syahdan terdiam. Mengamati wajah cantik dengan mata indah meneyelidik.
"Enam puluh tahun. Lelaki yang sudah tua, Rat. Kamu tidak jadi curiga?" tanya Syahdan tersenyum.
"Tidak. Hanya aku merasa jika bos tuamu sedang memiliki anak perempuan yang ingin menikah," Ratria tersenyum dengan jawab asalnya.
Namun tidak tahu jika diam-diam, Syahdan terkejut dengan ucapan Ratria yang asal itu. Mulutnya bungkam dan berat menanggapi.
"Apa mas Arka tidak tidur di vila?" Ratria bertanya memecah sunyi yang tiba-tiba.
"Dia lebih suka tidur di mobil atau mungkin di mushola bawah sana," jawab Syahdan. Merasa lega, Ratria membawa tanya dengan topiknya yang baru.
Tidak ada lagi pertanyaan. Mereka saling diam dengan terus menatap berpandangan. Kamar luas itu terasa lengang dan sunyi. Dan Ratria sangat tidak suka dengan keheningan seperti itu.
"Pak Syahdan,, sebenarnya aku ingin tahu, tadi itu nasi goreng buatanku, enak apa tidak?" tanya Ratria dengan wajah serius dan tegang. Mungkin sempat juga menahan nafas ingin tahu.
Syahdan tersenyum mencurigakan..
"Kan baru saja makan,, masak lupa,," keluh Ratria tak percaya.
"Umurku sudah banyak, Rat. Kepalaku penuh dengan urusan kerja. Mungkin butuh di refresh," ucap Syahdan ada maksud.
"Direfresh? Bukankah kamu pergi ke sini sama dengan refreshing? Ingin ke pantai?" tanya Ratria terheran.
"Refresh yang lain, Ratria," jelas Syahdan. Sedikit bergeser mendekat ke tengah. Ratria mendiamkannya.
"Yang lain,,?" gumam Ratria. Wajah tampan Syahdan mengangguk.
"Cium,,, cium aku, Ratria," Syahdan berkata lembut dengan senyum.
Mata Ratria membesar, namun juga ikut tersenyum kemudian. Merasa tidak salah juga menyenangkan hati Syahdan. Mungkin suasana hati Ratria sedang baik kembali.
"Satu kali saja,,,, habis refresh, jawablah yang jujur, bagaimana rasa nasi gorengku," sahut Ratria sangat tegang.
__ADS_1
"Iya,," saambut Syahdan. Nampaknya juga tegang, tak menyangka Ratria bersedia dengan mudah. Mereka saling pandang sesaat.
Cup..!
Super kilat Ratria mendekat dan mencium di pelipis Syahdan sekilas.
"Kamu curang, Rat. Aku tidak siap. Tidak ada rasanya. Kepalaku belum refresh. Ulangi ya, Rat," pinta Syahdan agar Ratria kembali menciumnya.
"Tidak mau..! Tadi bilang mau tidur, jangan modus ya pak Syahdan,," sahut Ratria. Merasa Syahdan mempermainkan dirinya.
"Tapi kepalaku rasanya penuh, Rat. Sangat perlu di refresh," ucap Syahdan dan kembali lebih mendekat. Sekali lagi Ratria memandanginya dengan diam.
"Aku lah yang mengantuk, pak Syahdan. Kamu sajalah yang mencium. Jangan lupa bilang, bagaimana rasa nasi gorengku, yaa,," ucap Ratria terbata. Matanya sayup redup dan nampak mengantuk tanpa daya.
Syahdan tak menjawab, namun bergerak pelan merapati Ratria. Dengan lembut diciumi pipi halusnya. Merambat ke dahi dan mata, lalu bergeser ke mana-mana. Ratria membiarkan. Juga saat Syahdan berlabuh dibibir manis incarannya.
Dan ternyata Ratria memberikan balasan yang tak kalah hangatnya. Mereka saling berciuman sangat lama. Yang berakhir dengan kerelaan Syahdan memutus ciumannya.
"Pak Syahdan, bagaimana rasanyaaa,,,?" tanya Ratria yang masih terengah bernafas.
"Rasa apa? Rasa ciuman tadi? Enak sekali, Rat. Kepalaku sedikit refresh." Syahdan tersenyum. Namun tidak tega untuk terus menggoda.
"Nasi gorengmu sangat enak. Bahkan aku menghabiskannya dengan cepat tanpa dibantu minum air. Benar-benar enak. Aku sangat suka, Rat," Syahdan berkata sesungguhnya. Merasa puas dengan wajah Ratria yang cerah sesaat debelum sayup redup kembali.
"Kamu mengantuk, Rat. Tidurlah,," kata Syahdan lembut memahami.
"Kurasa nasi goreng benar-benar membuatku mengantuk. Maaf pak Syahdan, aku tidur duluan. Kam tidak apa-apa?" tanya Ratria sangat lirih. Tangannya terulur memegangi dada Syahdan. Dan mata beningnya sudah tidak terlihat lagi sedikit pun. Ratria sudah benar-benar terlelap dan tidur.
Syahdan mencium lagi bibir manis itu sekilas. Lalu bangun dan diselimuti Ratria rapat-rapat. Diaturnya lagi suhu kamar agar semakin nyaman dan tenang.
Syahdan telah bertukar baju dan rapi. Akan mengunjungi pabrik dan perkebunan. Pak Andi telah menunggunya di teras vila saat ini. Rencana menyertakan sang istri untuk melihat pabrik bersama diurungkan.
Setelah menghubungi mbak Lusi. Syahdan mengerti keadaan Ratria. Bisa jadi memang akan kedatangan tamu merahnya. Mbak Lusi bilang, Ratria akan betah tidur saja dalam kamar seharian. Tidak tertarik untuk beraktivitas atau melakukan pekerjaan apapun.
Tentu saja Syahdan merasa bersalah pada Ratria. Selain semalam telah memakai raganya, tapi pagi ini juga dipaksa untuk membuatkan makan pagi untuknya. Syahdan menyesal.
Dan terpaksa ditinggalnya sementara tidur sendirian di vila. Tapi Syahdan sudah menghubungi dua orang pengurus vila untuk datang ke vila secepatnya. Berharap tiba sebelum Ratria terbangun.
__ADS_1
Syahdan harus segera menyelesaikan banyak urusan di pabrik. Bos besar pemilik maskapai beberapa kali menghubungi. Meminta sang manager untuk segera kembali di urusan kerja maskapainya di Juanda!