Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
25. Vario


__ADS_3

Mendengar seruan nama Syahdan, otak Ratria bekerja dan menyimak. Merasa geli dengan sikap Syahdan pada gadis cantik yang manja padanya. Lelaki itu terkesan bucin pada sang kekasih yang cantik, Judith.


Ratria cukup mudah untuk meyakini bahwa gadis yang bersama Syahdan di butik Tunjungan tadi adalah Judith. Sebelum diantar kembali ke bandara, Ratria sempat diajak singgah di ruang keluarga bu Anisa. Saat di situlah dengan usil Kahfi menunjuk sebuah foto koleksi keluarga yang salah satunya ada kekasih Syahdan di album. Nama gadis cantik yang kahfi bilang sebagai kekasih Syahdan itu adalah Judith.


Dan sangat tidak menyangka jika kemudian menjumpai mereka tengah ngedate di Tunjungan. Ini sungguh kebetulan menarik yang dijumpai Ratria.


Tak ingin terlihat, Ratria segera menyambar sepotong baju tidur dan dua set dalammann yang tadi sempat disukainya. Membawa ke kasir tergesa dan antri di sana. Sambil mencuri pandang saat Judith keluar lagi dari baju pas dan menunjukkan kembali pada Syahdan.


Hendra juga bergegas menyudahi belanjanya saat Ratria telah berhasil menenteng bag belanja dari kasir. Tidak ingin kehabisan waktu untuk menjelajah Surabaya kota di lokasi yang lain saat malam. Apalagi dengan gadis semenarik Ratria. Hendra tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melancarkan pendekatan.


"Kenapa nggak bilang aku, kalo kamu sudah belanjanya, Rat. Kan aku bisa sekalian bawa barangmu ke kasir. Tau-tua kamu sudah pergi dari kasir," tegur Hendra saat mereka keluar dari butik.


"Ah, nggak papa, mas. Aku malu jika mas Hendra melihat belanjaku. Nggak ada gunanya dong, kita berpencar demi privasi,?" ucap Ratria dengan terus berjalan di samping Hendra.


"Ya sudah jika seperti itu. Yuk kita lanjut jalan-jalan," ajak Hendra dengan melangkah lebih cepat.


Ratria benar-benar berjalan cepat demi mengimbangi langkah Hendra yang panjang dan cepat. Lelaki itu memang jangkung dan tegap. Mungkin akan sangat cocok jika mencoba masuk ke dalam kesatuan angakatan bersenjata.


Ratria terus berjalan cepat sambil menahan lelahnya. Ingin menegur agar Hendra lebih melambatkan langkah, tapi merasa tidak enak. Ada tetes peluh di dada dan punggung Ratria yang gerah. Jarak mall ke latar parkir Tunjungan lumayan jauhnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Pria tampan itu nampak gelisah tidak tenang saat keluar dari butik. Memandang sekilas ke penjuru luas butik untuk terakhir kali sebelum melangkah keluar dari pintu.


"Mas, antar Judith ke spa bentar saja yuuk," rengek Judith setibanya di parkiran. Syahdan agak menegang mendengarnya.


"Tadi kata kamu beli baju saja, Dit..? Aku capek. Minta Khairy saja untuk mengantarmu. Dia punya banyak waktu luang." Syahdan berkata dengan pelan. Tidak ingin membuat Judith tersinggung.


"Ah, mas Syahdan selalu melemparku pada mas Khairy..!" gerutu Judith dengan wajah yang cemberut.

__ADS_1


"Jika denganku, jangan malam ini," ucap Syahdan akhirnya.


"Kapan,?!" seru Judith sebelum masuk mobil.


"Jika libur," ucap Syahdan dengan pelan. Judith kian manyun dengan jawaban Syahdan yang tanpa kepastian. Sedang dirinya sangat paham jika Syahdan akan terus pergi kerja tanpa ada waktu libur khususnya. Hari libur Syahdan sama sekali tak bisa diduganya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Rumah megah di perumahan super cluster itu tidak lagi terang benderang. Telah meredup dengan pemadaman di beberapa titik lampu.


Bu Anisa baru saja mengunci pintu rumah dan melakukan pemadaman lampu-lampu. Niat untuk memadam lampu ruang tamu diurungkan. Syahdan nampak keluar kamar dan menuruni anak tangga buru-buru. Menyambar ikat kunci miliknya di atas meja ruang tamu.


"Eh, mau ke mana, Dan. Kan kamu baru saja pulang dari mengantar Judith,?" sang mama terheran dengan anak lelaki yang tak kenal kata lelah.


"Iya, ma. Aku ada urusan. Nanti aku tidak pulang. Kunci saja pintunya,"


"Assalamu'alaikum,!" pamit Syahdan pada ibunya.


"Iya,,!!" sayup jawab Syahdan masih terdengar.


Bu Anisa merasa lega dengan sayup jawab putra sulungnya. Terlepas sungguh-sungguh atau hanya sahutan iya yang palsu.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Barisan pramugara yang mungkin baru turun dari salah satu pesawat yang mendarat itu, terlihat mencolok. Menjadi pusat perhatian sesaat sebab penampilan mereka sangat mampu memberi hawa segar.


Begitu juga Ratria. Tidak peduli dengan adanya Hendra, ikut menoleh mereka barang sejenak. Dan seorang yang lebih mencolok dari mereka dengan baju berbeda, adalah penarik Ratria untuk kembali menoleh.


Berdebar sangat gembira. Yakin jika itu adalah kakak tiri yang diam-diam ingin dijumpai di sana, Rio,,! Ya, Vario seperti sosok yang menyambut kedatangan para pramugara di bandara. Nampak berwibawa dan disegani oleh para pramugara yang lainnya. Apa kerja Vario,,?! Ratria heran bertanya-tanya..

__ADS_1


"Kak Rio,,!" Ratria nekat memanggil saat rombongan pramugara akan jauh berlalu.


Rio berhenti melangkah dan menoleh pada asal suara. Terkejut sesaat dan nampak berusahaa bertenang. Berbicara pada salah seorang dari mereka yang kemudian mengangguk pada Vario.


Rio berbalik lagi dan berjalan cepat mendekati Ratria. Tidak menyangka jika adik tirinya yang cantik itu berkeliaran di bandara.


"Ratria,,?! Kenapa kamu di sini,,?!" Rio terheran-heran bertanya.


"Aku ikut seminar dengan tim Telkom, mas. Kenalkan, ini mas Hendra temanku," kata Ratria dengan rasa gembira. Hendra dan Rio saling bersalaman dan tersenyum.


"Rat, nanti aku telpon. Aku harus menyertai mereka saat ini. Kamu tinggal di asrama,?" tanya Rio memastikan. Dan adiknya mengangguk.


"Baiklah. Aku akan segera menelepon. Aku kerja dulu. Mari mas,!" Sapa Rio tergesa dan berbalik. Lelaki itu berjalan cepat menyusul rombongan pramugara.


"Dia kakak tirimu yang kamu ceritakan itu, Rat,?" tanya Hendra sambil kembali beriringan berjalan dengan Ratria.


"Iya mas," Ratria mengiyakan dan mengangguk. Vario memang sempat menjadi tokoh perbincangan dengam Hendra di perjalanan menuju Surabaya kemarin. Hendra bertanya detail tentang anggota keluarga Ratria.


"Cepat istirahat, Rat. Pasang alarm. Jangan terlambat lagi. Assalamu'alaikum," Hendra berpamitan di lorong pintu kamar Ratria.


"Wa'alaikumsalam. Terimakasih, mas,!" sahut Ratria meski Hendra sudah hampir berlalu. Dan segera ditutup rapat pintu kamar yang lalu dikuncinya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Gadis di dalam kamar sedang merebah dengan rasa yang nyaman dan lega. Bersiap tidur meski sedang penasaran. Rio, kakak tiri belum juga menghubunginya. Pesan yang telah diluncurkan Ratria berpuluh menit lalu, belum tersambut dan tentu belum ditanggapi. Sesibuk apa Rio hingga malam seperti ini masih bekerja,?! Ratria belum paham dengan sistem kerja malam..


Tok,,,!! Tok,,!! Tok,,!!


Pintu kamar yang diketuk beruntun membuat Ratria kembali tegang dan berdebar. Sangat heran dengan orang yang terdesak hingga harus bertemu saat malam. Merasa agak takut dan ragu membukanya. Siapa,,??

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2