Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
64. Pagi di Vila


__ADS_3

Bunyi adzan subuh terdengar sayub di kamar hangat dalam vila. Alun panggilan khas subuh mengudara dari mushola di blok perumahan dinas paling bawah. Satu-satunya rumah ibadah umat muslim milik perhutani untuk umum yang dimiliki Sirah Kencong.


Mata di wajah tampan yang tadi masih marapat, telah terbuka perlahan dan kemudian tersenyum. Perempuan yang berkata telah rela namun masih sesekali menangis hingga tertidur pun, kini sedang meringkuk pulas memejam di mimpinya.


Menangis yang kemudian terdiam setelah dibujuk, tapi kemudian menangis lagi yang juga kembali diam setelah dibujuk. Berulang seperti itu, hingga niat Syahdan untuk mencoba mengulang hasrat sekali lagi dipatahkannya terpaksa. Membiarkan sang istri yang sesekali masih terisak di pelukan hangatnya. Hingga Syahdan pun tertidur tak sengaja.


Subuh pagi saat bangun, ternyata Ratria telah tidur meringkuk di ujung. Menjauh dan melepas diri dari pelukan hangatnya semalam. Yang Syahdan sama sekali tak terasa gerak geser sang istri saat dirinya tertidur semalam.


Syahdan membawa diri bergeser mendekati Ratria untuk dibawa kembali ke dalam pelukan. Namun mendapat penolakan dari Ratria meski matanya masih saja memejam. Tangan dan kaki selalu kompak bersama memberi tolak dorongan di tubuh Syahdan yang mencoba merapat.


"Rat, sudah subuh. Apa kamu marah padaku,," ucap Syahdan yang gagal memeluk tubuh sang istri untuk kesekian kalinya.


Ternyata Ratria begitu responsif meskipun saat tidur. Kelopak cantik yang sedang menutup mata itu bergerak-gerak ulang dan mulai membuka sedikit. Yang kemudian menelusur dan menemukan wajah suaminya.


"Pak Syahdan,," Ratria tertegun, mungkin sedang berusaha cepat untuk meraup memori di kepalanya. Matanya nampak melebar sebentar yang kemudian meredup.


"Rat, kamu marah denganku?" tanya Syahdan dengan suara serak bangun tidur.


"Tidak," jawab Ratria cepat dengan senyum malunya.


Syahdan bergerak laju demi mendengar jawab Ratria yang melegakannya. Namun kembali mendapat penolakan dengan cara yang sama sekali lagi. Syahdan kembali gagal merapati untuk memeluk hangat Ratria.


"Kenapa, Rat. Kamu bilang tidak marah kan?" Syahdan terheran dan bingung.


"Jangan dekati aku dulu, pak Syahdan. Aku masih kesakitan, aku takut. Sedang kamu pasti ada tujuan kan?" Ratria tersenyum namun sedikit menjauhkan diri lagi ke tepi.


"Maaf ya, Rat. Tapi,, baiklah jika kamu tidak mau kupeluk," ucap Syahdan. Memperhatikan Ratria yang tetap meringkuk jauh dan mengacuhkan dirinya.


Diam-diam tangannya meraih remot penghangat kamar dan menggantikan dengan mode puncak himalaya. Wajah tampan itu tersenyum diam-diam dan menunggu.

__ADS_1


Lima menit kemudian..


Tubuh yang masih jelas terlihat dalam ingatan akan indahnya, kini meringkuk berbalut selimut, mulai gelisah, dan terus saja bergerak. Efek uap salju mungkin mulai menyerang dan menusuk. Bahkan Ratria telah meluruskan diri tidur miring dan memandangi wajah Syahdan.


"Rat, sudah subuh. Kamu tidak bangun?" tanya Syahdan.


"Sebentar lagi," suara Ratria terdengar nyata kedinginan.


"Kamu tidak cepat subuhan dulu?" tanya Syahdan lagi. Ratria menggeleng.


"Sebentar lagi," ucap Ratria lirih dengan kata jawaban yang sama.


"Kamu tidak ingin mandi pagi-pagi?" Syahdan bertanya lagi. Menyembunyikan senyumnya.


"Sebentar lagi," Ratria menjawab sama kembali. Kali ini suaranya lebih dalam dan sendat. Mungkin sudah merasa dingin yang sangat.


"Jika begitu, aku mandi dulu. Sebab kamu tidak mau bangun dan mandi," ucap Syahdan. Menunjuk gelagat akan bangun dan mandi.


Moment yang sengaja dicipta oleh Syahdan. Tidak ingin menyiakan kesempatan. Kembali merapati Ratria dan memcoba memeluknya. Debar resah jika akan mendapat tolakan, segera dihempaskan. Ratria justru telah memberi sambutan hangat pelukannya.


"Hanya seperti ini ya, pak Syahdan. Yang semalam itu jangan diulang dulu," sambut Ratria dengan pelukan eratnya.


"Itu kan sunah, Rat. Ibadah mudah dan menyenangkan," Syahdan tersenyum-senyum.


Memeluk erat istrinya. Subuh tanpa penghangat dan justru terganti dengan pendingin, terasa sangat menyiksa raga.


Diam diam dipasangnya kembali pengatur suhu di kamar. Perlahan hawa kutub mulai tergilas oleh rasa hangat yang nyaman.


Namun hangat nyaman dan debar tidak begitu lama dirasakan. Ratria kembali gelisah dan perlahan melepaskan pelukannya. Ingin saja tetap dipeluk paksa, tapi enggan jika kembali mendapatkan tendangan.

__ADS_1


"Pak Syahdan, aku ingin mandi. Subuh akan habis cepat jika diabaikan. Kamu atau aku dulu yang mandi?" tanya Ratria sambil bangun dan duduk. Menutupi baju tidur merahnya yang mini.


"Kenapa harus gantian? Kita barengan sajalah, Rat. Tidak dilarang kan?" tawar Syahdan. Tangannya menarik selimut Ratria tiba-tiba. Terbuka dan nampaklah tubuh indah dengan baju yang super hemat kain.


"Tidak,,!! Aku tidak mau,,!!" jerit Ratria dengan panik. Menarik lagi selimut itu untuk ditutupkan kembali di badannya. Ratria begitu malu dan seperti lupa dengan percintaan mereka semalam.


"Aaahh, Ratriaaa,,!!" seru Syahdan mengimbangi Ratria yang histeris. Tidak ingin lagi meneruskan memaksa. Sang istri memang sedang sangat keras kepalanya. Bisa jadi mereka berdua akan kehilangan waktu subuh bersama.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Syahdan melarang Ratria memakai baju yang dipakai datang dari rumah dinas yang semalam. Hanya membolehkan bertukar baju yang di almarinya saja selama mereka sedang berada dalam vila. Juga meminta pada Ratria guna mencoba masak apa saja untuk mereka sarapan pagi ini.


"Bikin apa, Rat?" tanya Syahdan yang duduk di kursi meja makan.


"Hanya bisa membuat nasi goreng saja, pak Syahdan. Tidak apa-apa, kan?" tanya Ratria dengan segan. Masih ingat rasa masakannya yang keasinan waktu itu.


"Iya, Rat. Aku sangat menyukai masakan kamu. Apapun rasanya," ucap Syahdan tersenyum. Tentu saja langsung ingat dengan rasa lebih garam di hasil olah tangan Ratria waktu itu.


"Pak Syahdan, menyindirku," sahut Ratria tiba-tiba dengan ketus. Syahdan menahan nafasnya sejenak. Mulai berfikir jika Ratria mungkin saja akan datang bulan sebentar lagi.


"Aku tidak berani menyindir kamu, Rat. Kamu ini garang sekali. Aku hanya berkata yang fakta-fakta saja," timpal Syahdan kian tersenyum lebih lebar tanpa bisa ditahannya.


"Aku tidak jadi bikin nasgor," rajuk Ratria tiba-tiba. Tapi tetap saja hilir mudik mencari kelengkapan bumbu rempah. Membuat Syahdan agak tegang kelabakan.


"Aku sangat lapar, Rat. Kan apapun rasanya, bagiku enak sekali," bujuk Syahdan.


Berusaha tenang duduk di kursi memandangi sang istri. Mencuci mata pagi-pagi dengan tampilan seksi menggodanya. Ratria terlihat masih sibuk, hilir mudik bolak-balik di meja dapur vila dengan bingung. Sebab tidak hafal dengan bumbu rempah dan peralatan yang tersimpan di dapur dan almari. Juga berjinjit banyak kali dengan dress tanpa lengan dan bawahnya sebatas tengah paha.


Syahdan membiarkan saja kebingungan Ratria. Hanya mengamati dan tak ada niatnya membantu. Sebab terasa begitu asyik dan dirinya pun lebih tidak paham lagi dengan keadaan dapur di vila peninggalan sang kakek. Meski dirinya adalah cucu yang paling rajin dan sering berkunjung, tapi mana tahu dengan segala tata letak di dapur.

__ADS_1


Ada sepasang suami istri yang standby menjaga vila. Tapi Syahdan meliburkannya mendadak malam tadi. Merasa ingin mendapat privasi penuh bersama istri di kedatangannya kali ini.


Jauh beda dengan keadaan dapur dalam rumah dinasnya di Bandara. Syahdan merasa sudah tahu dan hafal segala benda di luar kepalanya. Lebih sering tidak memiliki asisten dalam rumah. Sebab Syahdan adalah lelaki lajang yang lebih sering pulang dan tinggal di rumah orang tua bersama para saudaranya.


__ADS_2