Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
38. Akur


__ADS_3

Dosen berprestasi sekaligus bervisual sangat menarik itu datang setelah adzan maghrib. Tepat saat Ratria menyelesaikan shalatnya. Lelaki istimewa yang sempat ditolak cinta oleh mahasiswinya, salah satu kembang kampus sebab alasan yang jelas, kini datang kembali dengan sejuta harapannya.


"Pukul berapa, pak Syahdan pulang, Rat?" tanya Jati yang ikut memanggil dengan sebutan pak pada Syahdan, mengikuti Ratria. Adzan isya telah berlalu cukup lama.


"Dia bilang tidak malam, pak. Mungkin sebentar lagi," ucap Ratria. Juga tetap memanggil pak, meski sang mantan dosen memintanya memanggil mas.


Jati berusia 29 tahun, lebih muda satu tahun dari Syahdan. Dan sudah sangat tahu bagaimana awal pernikahan serta kehidupan pernikahan Ratria. Jati begitu lihai menjebak Ratria dengan pertanyaan-pertanyaan mematikan sehingga Ratria telah berterus terang segalanya.


Yang berawal tanya kenapa menikah begitu mendadak, kenapa sampai di terminal bus menuju Blitar tanpa ditemani sang suami.. Hingga Jati juga tahu bahwa Syahdan telah mempunyai kekasih seorang model sekaligus pramugari yang begitu cantik di Surabaya. Semua itu terkuak pada perbincangan mereka di rumah sakit saat menunggu kedatangan Syahdan waktu itu.


Judith cukup populer di kalangan model lokal di kota Surabaya. Jati yang asli arek Suroboyo pun tidak asing dengan kekasih Syahdan yang seorang model pendatang baru dari Jakarta. Dirinya kerap kali mendapat undangan atau mewakili beberapa acara dan even di kotanya.


"Mungkin itu pak Syahdan, Rat," ucap Jati sambil meletak cappucino kemasan yang tadi dibawanya sendiri. Ada tiga gelas kemasan minuman di atas meja teras.


Sebuah mobil sport gunung berhenti di luar pagar dengan mesin yang terus menyala. Syahdan nampak keluar dari pintu penumpang dan berjalan memasuki pagar rumahnya. Mobil itu bergerak maju perlahan meninggalkan pagar depan dan Syahdan. Driver itu adalah Arka yang telah kembali sehat.


Syahdan berjalan tegas dan menghampiri dua orang yang sedang bernostalgia itu di teras. Bersalam sapa dengan hangat dan ramah pada tamu sekaligus mantan dosen tampan Ratria. Mereka kemudian terlibat dalam perbincangan umum maupun pribadi.


"Jadi kita saling berlawanan ya, pak Syahdan. Anda sebagai anak sulung dan saya sebagai anak bungsu. Ha..ha..ha.." Jati tertawa dengan ucapannya sendiri yang juga diiringi Syahdan dengan tawanya.


Merasa konyol dengan persamaan mereka yang berlawanan. Jati empat bersaudara dan semua adalah laki-laki dengan dirinyalah si bungsu. Sedang Syahdan juga sama namun dirinyalah si sulung.


"Namun lebih leluasa saya, pak Jati. Sebagai sulung, bebas tinggal di mana saja. Tidak seperti anda yang wajib kembali dan menjaga orang tua. Meski semuanya harusnya juga wajib ya. Ha..ha..ha,," Kali ini Syahdan yang tertawa dan kemudian Jati pun juga tertawa. Dirinya mengikuti Jati yang telah memanggilnya dengan sebutan pak.


Rupanya orang tua Jati juga tinggal di perumahan dinas yang sama namun beda lokasi. Ayah Jati adalah petugas bea cukai bandara dan belum pensiun. Sedang Ibunya adalah mantan pramugari dan sekarang sedang sakit-sakitan sebab usia. Sangat menginginkan putra bungsu untuk kembali dan sudi menemani.


Itulah alasan Jati kenapa mengajukan pindah tugas dari universitas negeri di Malang ke universitas yang juga negeri di Surabaya. Yaitu demi menunjuk bukti baktinya pada kedua orang tua!


Syahdan bersemangat untuk mengobrol seru bersama Jati, sang mantan dosen. Sebab Ratria nampak begitu gembira dan terus saja ikut tertawa bersama.


Wajah cerah berseri itu agak meredup saat Jati berpamitan undur diri. Tak terasa malam hampir menunjuk di angka sepuluh dan lebih sedikit menit.


"Apakah rumah pak Syahdan masih terus terbuka jika di lain hari saya ingin berkunjung kembali?" tanya Jati penuh maksud. Memandang berharap pada Syahdan dan juga memandang Ratria.


"Oh, silahkan, pak Jati. Selama tujuannya baik dan bermanfaat untuk Ratria, kurasa tidak masalah," jawab Syahdan setelah mendapat pandangan Ratria yang hampir sama dengan Jati, berharap dibolehkan.


Jati pun akhirnya benar-benar undur diri setelah meninggali Ratria beberapa pesan dan melempar salamnya. Lelaki itu menghampiri mobil yang diparkirnya agak jauh menepi dari pagar. Dan perlahan menghilang menuju perumahan dinas orang tuanya di posisi yang lain.


"Apa bunga lily putih adalah kesukaanmu?" tanya Syahdan sambil melirik seikat lily putih di kursi kosong. Ratria menggeleng tapi kemudian mengangguk. Syahdan tidak lagi bertanya. Diambil ikat lily dan diletak di pangkuan Ratria. Lalu didorongnya kursi roda bersama Ratria untuk masuk ke dalam rumah. Tidak lupa dikuncinya pintu rumah.


"Pak Syahdan sudah mandi?" tanya Ratria mendongak Syahdan sekilas. Lalu meletak ikat lily di atas meja sofa. Syahdan membiarkannya.


"Sudah, di kantor tadi," sahut Syahdan sambil membelokkan kursi roda ke kamar.Lelaki itu memang tidak masuk rumah semenjak datang dan langsung gabung berbincang.

__ADS_1


"Kamu sudah shalat isya,?" tanya Syahdan. Lelaki itu bersiap mengangkat Ratria yang sedang mengangguk dengan lekat-lekat menatapnya.


"Kenapa, Rat,? Apa kamu tegang, aku akan mengangkatmu ke ranjang," tegur Syahdan yang mulai mendapati mimik tegang dan kaku di wajah cantik Ratria. Senyum itu kembali menghilang tak berbekas.


"Iya, pak Syahdan. Aku selalu merasa tegang saat kamu akan mengangkatku. Mungkin aku merasa sangat merepotkanmu," Ratria begitu jujur menjawab pertanyaan Syahdan sesuai dengan apa yang dirasanya.


"Kenapa?" tanya Syahdan. Dan langsung diangkatnya tubuh barbie Ratria saat wajah itu sedang mencari alasan.


"Auwh,,!" jerit kaget Ratria.


"Kenapa?" tanya Syahdan dengan geli melihat wajah kaget Ratria.


"Ini bukan tegang, tapi kaget," keluh Ratria merasa agak lemas. Syahdan meletaknya perlahan di ranjang. Tapi Syahdan tidak langsung menarik tangan seperti biasanya.


"Kenapa,?" kali ini Ratria yang heran bertanya. Syahdan menoleh. Mereka berpandangan sangat dekat.


"Kenapa kamu seperti sangat berat, Rat ?" tanya Syahdan yang tidak juga berdiri. Wajahnya hanya beberapa centi saja dari hidung Ratria yang runcing.


"Maaf, aku membuatmu lelah, pak Syahdan. Aku ingin istirahat," sahut Ratria abai dengan pertanyaan Syahdan padanya. Lalu berpaling wajah, menjauhkan dirinya agak ke samping.


Syahdan berdiri dengan cepat dan bergeser menjauh. Ratria kembali memberi respon dan jawaban yang tidak disukainya.


Sekembali dari kamar mandi, dua buah kapsul minyak telah diambilnya dari botol kaca yang baru pagi tadi dipesan dan sekarang di genggaman.


"Pak Syahdan! Terimakasih,,, bahkan aku lupa tentang obat herbal yang kuinginkan pagi tadi," ucap Ratria sambil tersenyum gembira. Senyum yang begitu manis seperti sedang mendapatkan hadiah.


Setelah diam fokus beberapa detik untuk berdoa, sangat cepat dimasukkan kapsul itu ke dalam mulut bergantian dan ditelan. Dengan dibantu dorongan air minum dari botol.


"Pak Syahdan, terimakasih. Kamu pasti sangat lelah. Istirahatlah," Ratria menegur Syahdan yang tengah mengamatinya meminum obat seperti tanpa kedip.


"Kamu pintar sekali menelan obat, Rat," puji Syahdan. Merasa usahanya mendatangkan kapsul itu tidaklah sia-sia. Untuk urusan kesembuhan, asal sudah berusaha dan berdoa, semua adalah urusanNya..


"Aku benar-benar ingin sembuh total, pak Syahdan. Meski nanti bentuk jempolku mungkin akan mengerikan. Yang penting tidak dipotong. Aku takut," luah Ratria. Memandang Syahdan yang mulai merebah di tepi ranjang. Mereka begitu berjauhan.


"Kamu bisa operasi plastik, Rat. Jika mau, aku akan membiayainya," sahut Syahdan berkomentar. Ratria nampak terkejut sesaat.


"Ah, kamu baik sekali, pak Syahdan. Tapi aku tidak berfikir hal itu. Menambal tubuhku dengan plastik, rasanya juga menyeramkan," gumam Ratria agak keras.


Syahdan diam saja meski mendengar. Merasa jika sebenarnya tidak tahu-menahu tentang operasi plastik. Hanya memberikan solusi terbaiknya.


"Rat," panggil Syahdan dari sebelah. Lelaki itu sedikit bergeser mendekat. Ratria membiarkannya.


"Rat, pak Jati adalah mantan dosen kamu yang menawari membuatkan skripsi untukmu waktu itu kan?" tanya Syahdan.

__ADS_1


Diperhatikannya wajah Ratria yang merona memandangnya. Mereka kembali berpandangan cukup lama.


"Iya," jawab Ratria nampak berubah tegang.


"Sepertinya kamu juga suka. Lalu kenapa tidak kamu terima? Sepertinya kalian saling suka,,," ucap Syahdan memancing.


Memperhatikan Ratria yang nampak ragu menjawab.


"Sebab,, waktu itu dia langsung bilang ingin menikah denganku. Dan yang membuatku bingung. Aku akan dibawanya ke Surabaya. Sedang waktu itu, bayanganku hanyalah ingin bekerja di Blitar saja dan tetap tinggal di Sirah Kencong. Jadi aku harus menolaknya," jawab Ratria. Ada senyum di wajahnya.


"Jadi, apa sekarang kamu akan menerimanya jika dia kembali melamarmu,?" tanya Syahdan nampak mendesak. Entah apa yang ada di dalam pikiran sang manager.


"Aku,, aku tidak tahu pak Syahdan," jawab Ratria. Wajahnya kembali memerah.


Syahdan yang terus memperhatikan Ratria, merasa geli dengan tingkah Ratria yang sedang erat memeluk guling.


Namun berfikir jika Ratria mungkin saja menganggap jika guling itu adalah Jati, rasanya tidak nyaman untuk terus lama-lama melihatnya.


"Rat, lampu kamar kumatikan," terang Syahdan sambil bangun cepat dari ranjang.


Lampu kamar telah dimatikan sangat cepat. Tidak menunggu persetujuan Ratria lagi. Dan kembali merebah di ranjang dengan tidak lagi di pinggir.


"Pak Syahdan, kenapa di kamar kamu ini gelap gulita dua puluh empat jam? Bagaimana jika listrik padam? Kenpa tidak memasang lampu tidur dan juga lampu emergency,,?" tanya Ratria beruntun.


Menunggu jawaban..tapi tidak juga terdengar jawaban.


"Pak Syahdan, kamu tidur,,?" tanya Ratria agak terheran. Cepatnya tidur...


"Besok aku belikan ya, Rat. Selama ini aku merasa tidak butuh. Sorry jika begitu gelap," terdengar suara Syahdan yang terdengar masih bugar.


Ratria menahan rasa terkejut. Syahdan tidak tidur di tepi seperti semalam. Yakin jika lelaki itu telah ke tengah dan cukup dekat dengannya. Tapi Ratria mendiamkan. Tidak ingin lagi menegur. Berfikir jika ini adalah kamar Syahdan yang tentu lebih berhak menggunakan sesukanya. Ratria telah berdoa dan berharap akan tidur dengan tenang dan aman malam ini.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Terimakasih jejak koment dirimu ya...


**Yang VOTE nya belum dipakai..


lepas saja di sini ya..


Terimakasih buat kakak readers yang sudah menjejak , mengVOTE, menghadiah dan melike ya...

__ADS_1


doa bahagia untuk kamu...😘😘😘**


__ADS_2