
Daging buah siwalan yang terasa lebih nikmat sebab ditambah sedikit air, susu dan madu oleh Ratria, dalam sekelip mata telah raib berpindah ke dalam perut. Dibawa mangkuk itu ke dapur dan dicucinya.
"Sudah habis ya, Rat?" tanya mbak Lusi. Sibuk membersihkan lantai dapur dari segala serpihan kulit buah siwalan.
"Sudah, mbak. Enak, lembut. Kayak kelapa muda. Terimakasih ya, mbak," jawab Ratria sambil terus mencuci.
"Iya,,tapi aku hanya sendiko dawuh juragan (menuruti perintah tuan) saja. Nanti terimakasihlah sama dia, Rat," mbak Lusi mengoreksi.
Ratria terdiam. Ucapan mbak Lusi kembali mengingatkan pada Syahdan. Dan tentu membuat dadanya semakin berdebar. Sebab, lelaki itu sedang berada di zona yang sama dengannya. Di vila pabrik Sirah Kencong!
"Rat,," panggil mbak Lusi. Wanita itu telah berdiri di sampingnya.
"Ada apa, mbak?" tanya Ratria. Menyimpan mangkuk dan sendok ke dalam almari piring di dapur.
"Habis ini, kamu siap-siap. Sopir pak Syahdan sebentar lagi turun. Akan membawa kamu ke vila," ucap mbak Lusi hati-hati.
Ratria nampak tenang. Namun, jantung dalam dada sedang membuka dan menutup sangat cepat seketika.
"Rat,,, kamu paham kan?" tanya mbak Lusi, sebab Ratria diam saja.
"Maksudmu apa, mbak? Aku akan diajak ke vila? Buat apa, mbak?" tanya Ratria menoleh mbak Lusi berusaha nampak tenang. Menyembunyikan debar di dada.
"Kok buat apa sih, Rat. Kamu kan istrinya. Wajar kan jika suami kangen sama istri. Makanya kamu diambil, dibawa ke vila. Biar saling ketemu. Terus mau ngapain lagi, ya kalian bebas, suamimu bebas. Wong kamu sudah dinikahinya, Rat," ujar mbak Lusi dengan tersenyum. Wajah Ratria begitu pias dan tegang.
"Mbak, kamu jangan nakut-nakuti aku yaaa,," respon Ratria bergumam.
"Lhoh...Nakut-nakuti gimana tho? Memange pak Syahdan punya muka seram, nggak tampan, mengerikan? Atau dia telah berlaku jahat dan telah menyakiti kamu, Rat? Ayolah,, cerita padaku.." mbak Lusi menyimpan tawanya.
"Kalo soal seperti itu, ya enggaklah, mbak. Tapi aku merasa malu," ralat Ratria.
"Ngopo (Kenapa) malu,,? Sama suami jangan malu, yang manja gitu lho, Rat. Kalo sudah suami istri. Apa saja kelakuan kalian, nggak ada yang berani mempermalukan," petuah mbak Lusi sungguh-sungguh.
"Iya deh, mbak. Aku ke kamar dulu saja, ya." Ratria berbalik badan menuju arah kamarnya.
"Kamu mau siap-siap kan, Rat?!" Seru mbak Lusi dari dapur.
"Siap-siap tidur, mbak!" sahut Ratria dari pintu kamarnya. Menunjukkan jawab suara yang terdengar ogah-ogahan.
"Sebentar lagi kamu akan diambil!" Seru mbak Lusi sekali lagi.
Blak,,!! pintu di kamar Ratria telah ditutup.
π
__ADS_1
Dengan cepat Ratria membawa diri tengkurap di ranjang, wajahnya tersenyum. Berubah posisi menjadi meringkuk miring, masih dengan tersenyum. Merubah posisi lagi jadi terlentang, semakin lebar senyumnya.
"Syahdan,,, pak Syahdan,,, Syahdan,," bibir manisnya bergerak menyebut-nyebut nama itu dengan terus tersenyum.
Lalu meloncat duduk dengan wajah cerah berseri. Berdiri mengambil sisir dan kembali duduk di ranjang untuk menyisir cepat rambut berkilaunya. Dan diikatnya rapi agak tinggi.
Mengambil bedak padat, disapukan tipis merata di wajah halus mulusnya. Dengan olesan lip balm strowberi dua kali oles di tiap bibir meronanya. Semua dilakukan dengan hati yang terus kuat berdebar.
Tin..!
Semakin setengah jantungan saja rasanya. Bunyi tin satu kali itu pasti mobil yang sama dengan pajero milik Syahdan.
Apakah lelaki itu yang datang sendiri menjemput..
Bagaimana ini,, langsung saja ikut dan menurut atau menunjuk drama pura-pura jual mahal dulu. Duh malunya,,,
Tok,,! Tok,,! Tok,,!
Bunyi ketukan di pintu, mematah kegalauan Ratria. Seperti sedang mendesaknya untuk segera membuka dan keluar.
"Rat, ayo keluar. Itu sopir pak Syahdan sedang menunggu. Nggak usah bawa-bawa baju. Punyamu sudah aku siapkan rapi di almari vila. Ayooo,," desak mbak Lusi.
"Aku nginap di sana, mbak? Sendirian?" Ratria menatap mbak Lusi lekat-lekat.
"Sama pak Syahdan, Rat. Menemani suami kamu. Ayooo.." Mbak Lusi akan menarik tangan Ratria kembali.
πππ
Arka telah menyandarkan mobil ke dalam garasi di vila. Turun memutari mobil dan membukakan pintu untuk Ratria.
"Mbak, pak Syahdan pesan untuk masuk ke dalam dulu. Masih menemui tamunya di ruang kerja. Monggo, mbak,, masuk saja," terang sopir Arka. Memimpin berjalan untuk membuka pintu vila.
Ratria duduk di sofa dengan rasa sangat tegang. Merasa cemas, resah bagaimana bersikap jika berhadapan kembali dengan Syahdan. Bertanya-tanya, apakah Syahdan juga sedang menanggung perasaan yang sama seperti dirinya?
Ponsel yang belakangan jarang disentuh, segera dibuka pada media sosial facebooknya. Tersenyum-senyum sendiri, berita pernikahan yang baru terkata petang tadi, dengan cepat telah menyebar ke banyak teman-teman di facebook. Berpuluh-puluh pesan sedang menotifikasi untuk segera dibuka.
Ratria membuka satu-satu dengan bahagia dan gembira. Senyum cerah menghias di wajah berserinya dengan ekspresi berlainan di setiap pesan yang dibuka dan dibaca. Kepala, mata dan rasa telah menyatu dan fokus di halaman pesan biru itu. Tidak merasa jika seseorang yang tadi membuat begitu resah dan tegang telah masuk ke dalam vila dan berjalan pelan mendekati.
Ratria tersenyum haru saat membaca pesan dari Dimas, teman lelaki yang juga ikut menjenguk dirinya petang tadi. Ada keluh sedih juga doa bahagia yang ditulis Dimas di pesan inbox birunya.
"Siapa, Dimas, Rat,,?"
"Arrgh,,!!"
__ADS_1
"Pak Syahdan,,?!!" seru kejut Ratria.
"Apa kabar, Rat,," sapa Syahdan di belakangnya.
Ratria tidak jadi menoleh. Wajah Syahdan tepat di samping kepalanya dengan tangan terjulur melingkar di leher. Dan lebih kacau lagi, ponsel yang dipegang telah diambil Syahdan tanpa disadarinya. Syahdan berdiri membungkuk di belakang sofa.
"Kamu sudah lama?" tanya Syahdan dengan hembus hangat yang menerpa di pipi Ratria. Gadis itu mengangguk, namun ponsel miliknya telah tenggelam di kedua telapak tangan lebar Syahdan tanpa disadari.
"Pak Syahdan, kembalikan ponselku,," ucap Ratria tersendat. Syahdan seperti telah memeluknya dari belakang.
"Apa ada yang rahasia?" tanya Syahdan dengan nafas hangatnya.
"Tidak ada, tapi aku sedang memeriksa pesan-pesan dari temanku." Ratria berusaha mengambil ponsel dari Syahdan. Tapi justru tangannya ditangkap dan digenggam hangat oleh Syahdan.
"Rat, terimakasih kamu mau datang ke sini. Sorry tamuku belum pulang. Sangat banyak yang sedang kami bahas. Jadi kusuruh Arka saja untuk cepat jemput kamu. Aku tidak ingin kamu keburu tidur," terang Syahdan dengan lembut.
"Apa kakimu baik-baik saja? Bagaimana perutmu, apa masih mual?" tanya Syahdan perhatian.
"Iya, kakiku terus membaik. Aku tidak mual lagi, itu hanya masuk angin. Terimakasih oleh-oleh darimu," sahut Ratria dengan tegang. Menggeser diri ingin melepaskan tangan Syahdan.
"Pak Syahdan, jangan begini. Tolong duduklah dengan baik. Kenapa aku diambil ke vila?" tanya Ratria. Dadanya berdebar, harum wangi yang berhari-hari tidak lagi tercium, kini berulang kali di hirup dan memenuhi paru di dadanya.
"Ya, sebab aku ada di vila, Rat." Syahdan menjawab dengan santai. Menarik diri menjauhi Ratria, memutari sofa dan duduk dekat di samping Ratria.
"Jika aku di tempat lain, kamu juga kubawa ke tampat lain," terang Syahdan menambahkan. Sambil membuka ponsel Ratria. Menyisir pesan di facebook Ratria. Bibir merah lelaki itu juga ikut tersenyum saat membaca pesan-pesan.
"Pak Syahdan, mana ponselku,, kamu jangan stalking aku doong,,!" tegur Ratria. Meski baginya tidak ada yang rahasia, rasanya risih jika facebooknya dikuliti orang lain.
"Rat, di setiap foto, kamu selalu pakai kerudung?" tanya Syahdan abai dengan teguran Ratria. Menoleh dan memandang hangat Ratria.
"Iya," jawab Ratria menunduk.
"Bagus sekali, Rat," ujar Syahdan terdengar suka.
"Nenekku akan marah jika aku berfoto tanpa kerudung," jelas Ratria. Menoleh Syahdan sebentar.
"Kakek nenekku dan kakek nenekmu, makamnya sama... Ayah kamu juga, kan? Sebelum ke Surabaya, aku ingin berziarah. Antar aku ya, Rat," ucap Syahdan. Ratria mengangguk. Syahdan juga tersenyum dan mengangguk. Kembali mengamati layar ponsel Ratria sejenak dan kemudian menutup halaman facebooknya.
"Teman-temanmu hampir semua mendoakan kamu agar cepat hamil dan memiliki momongan. Apa komentarmu? Belum ada yang kamu balas di pesan-pesan yang mereka kirim di inboxmu, Rat," Syahdan berkata lirih dengan senyumnya yang tipis. Seperti sedang meledek Ratria.
Ratria tidak merespon dan pura-pura tak mendengar. Tapi menyambar ponsel dari tangan yang pemiliknya sedang lalai. Syahdan membiarkan dan tidak berusaha merebut kembali. Hanya memandangi tingkah Ratria dengan wajah tampannya yang terus saja tersenyum.
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1
π±π±π±π±π±
VOTE me, please...π