
Sayup adzan subuh yang berkumandang dari bandara Juanda kembali terdengar di kamar gelap sang manager. Si pasien cantiknya sedang berkedip-kedip bangun dan diam menunggu pergerakan dari pemilik kamar. Dan kembali tidak ada tanda-tanda bangun dari Syahdan.
"Pak...Pak Syahdan,,,," panggil Ratria pelan dan lembut. Tak ada respon gerak apapun.
"Pak Syahdan,,, sudah subuh. Bangunlah,, nyalakan lampu kamar. Pak Syahdan,,!" panggil ulangnya agak keras.
Ratria kembali membangunkan Syahdan seperti subuh sebelumnya. Menajamkan telinga untuk mengenali pergerakan Syahdan.
"Pak Syahdan,,,! Aku ingin bangun,,!" panggil Ratria sekali lagi. Sebab tak ada juga tanda-tanda pergerakan apapun dari Syahdan.
"Heeemmm,,," dan kembali mendapat sahutan yang sama. Deheman malas dari orang di sebelahnya.
Ratria terkejut, Syahdan masih begitu dekat di sampingnya. Tapi kembali dibiarkan, toh Syahdan juga tidak melakukan apapun. Lelaki itu tidur begitu tenang dan konsisten. Tidak melakukan senam tidur yang mengancam kenyamanan tetangga bantal di sebelahnya.
"Pak Syahdan. Sudah subuh, nyalakan lampunya," ucap Ratria sambil memeluk erat guling di jepitan.
Merasa pergerakan di sampingnya.
"Rat, bagaimana kakimu? Apa sudah nyeri hebat lagi?" suara Syahdan tiba-tiba terdengar.
"Eh... Tidak terlalu. Aku justru lupa untuk merasakannya. Tidak terlalu sakit lagi, pak Syahdan," ucap Ratria. Merasa lalai dengan sakitnya sendiri. Dan luka di jempol kaki memang sudah tidak hebat lagi rasa nyerinya.
"Syukurlah," sahut Syahdan dengan suara terdengar sangat dekat.
"Sebenarnya, itu kapsul apa, pak Syahdan,?" tanya Ratria lagi. Ucapan ingin bangun seperti sengaja ditepikannya.
"Itu berisi minyak ikan kutuk dan minyak burung but-but. Asli dari kalimantan. Ibu dan ayahku yang mengirimkan untuk kamu. Mereka berharap kamu baik-baik saja." terang Syahdan yang sepertinya juga sedang malas untuk bangun.
"Bagaimana bisa cepat sekali datangnya?" Ratria kembali bertanya. Seperti tidak ingin bangun saja.
"Ayah dan ibuku mengantarnya ke bandara. Pilot air asia yang terbang lepas ashar telah membawakan langsung ke sini," terang Syahdan. Masih tidak ada tanda duduk nya.
"Apa bedanya dengan yang dijual di sini, pak? Sepertinya banyak juga yang menjualnya," tanya Ratria menyimak.
"Itulah, aku was-was jika kamu membelinya di sini. Sudah tidak murni, Rat. Jika dari Kalimantan, benar-benar ikan dan burung segar dari hutan pedalaman. Sari minyaknya murni tidak tercampur. Jadi jauh lebih mahal dari yang di pasaran," terang Syahdan panjang lebar.
"Terimakasih ya, pak Syahdan," Ratria merasa bersyukur mendapatkan aslinya.
"Hemm,,," Syahdan hanya menjawab dengan deheman.
Kamar gelap gulita itu hening sesaat. Memang sungguh gelap. Pintu sama sekali tanpa celah. Jendela itu terdiri tiga lapis. Paling luar adalah daun jendela berbahan kayu jati tua, kemudian teralis besi yang rapat. Serta terakhir gorden tebal dengan warna abu-abu tua. Sangat gelap totalitas!
__ADS_1
"Pak Syahdan, kamu tidak bangun?" tanya Ratria. Tiba-tiba hasrat ginjalnya menuntut.
"Iya, ini akan bangun," jawab Syahdan agak lambat. Dan lelaki itu sambil duduk perlahan. Seperti berat memisah diri dari bantal.
Lampu telah menyala terang benderang. Syahdan memandang sejenak Ratria yang memunggungi dan masih berpeluk guling di ranjang. Selimutnya tidak lagi dipakai. Dress tidur selututnya agak tersingkap setengah paha. Kaki dan paha itu sangat indah dan mulus.
Ah, mungkin Ratria sedang merasa berbunga-bunga hatinya. Rasa bahagia sebab baru berjumpa kembali dengan Jati Hutomobowo malam tadi. Lelaki mantan dosen terbaik idaman hatinya. Syahdan segera berpaling dan meluncur masuk ke dalam kamar mandi dengan mengusap wajah berulangkali.
Ratria yang biasanya tidak pernah lalai berselimut tubuh, kini seperti abai dan sedikit tidak peduli. Merasa nyaman dan yakin jika Syahdan bukanlah lelaki kurang ajar. Meski ingin buang air kecil yang sangat. Namun menunda sejenak untuk menikmati kenyaman pagi hari di ruangan sangat tertutup yang hangat. Berpeluk guling yang empuk dan lembut, rasanya sangat nikmat. Meski waktu tidurnya begitu melimpah. Rasa malas tetap singgah!
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Ratria sudah banyak kali bilang pada Syahdan bahwa kakinya sudah terasa jauh lebih nyaman dan tidak nyeri, tapi lelaki itu tetap saja mengangkatnya tiba-tiba. Tidak peduli lagi pada larangan dan tolakan Ratria agar tidak mengangkatnya. Tapi bagusnya, Ratria tidak lagi berkata ketus atau juga menghardik.
"Pak Syahdan, aku sudah begitu sehat. Tidak akan apa-apa jika jalan sendiri." protes Ratria saat Syahdan telah meletaknya di sofa. Mereka akan pergi kontrol kembali.
"Kamu hanya perlu menurut padaku, Ratria. Kamu tidak akan merugi. Dan juga cepat sembuh," sahut Syahdan di telinganya.
Syahdan berjalan dan membuka pintu lebar-lebar. Arka sudah siap menunggu di samping teras bersama mobilnya.
"Assalamu'alaikum, mass Syahdan,,"
"Hei, dia di rumahmu, mas,?! Kenapa kakinya?! Aduh takut,,, diperban,,!" seru Judith. Gadis itu menepi di balik tubuh Syahdan. Seolah begitu takut dengan kaki Ratria yang diperban.
"Assalamu'alaikum,,!" seru lelaki dari pintu.
Ratria, Syahdan dan Judith menjawab serempak bersamaan.
Vario telah menjulang di depan pintu. Memandang lekat-lekat Ratria tanpa kedip. Dan berjalan tergesa mendekat.
"Ratria,,? Kamu baik-baik saja? Maaf,," ucap Vario. Rasanya tidak bisa lagi berkata-kata. Merasa begitu sedih sekaligus bersalah. Dan merasa lega saat Ratria mengangguk dan tersenyum padanya.
"Mas, antarin aku ke bandara. Dua puluh menit lagi aku terbang ke Canbera. Aku sudah dibayar. Iya, kan mas Vario,,?!" ucap Judith nampak terburu.
"Taksimu mana,,?" tanya Syahdan sekilas memandang Ratria lalu pada Judith.
"Ban bocor. Driver taksi kata nggak bisa ambil aku. Ayo masss,,,!" Judith berkata dengan tangan menarik lengan Syahdan.
"Judith. Ratria baru kecelakaan, aku akan mengantarnya pergi kontrol ke ortopedi.." terang Syahdan sambil memandang Judith minta makhlum.
"Eh, kecelakaan, hiii... Tapi mas Vario kan kakak dia, biar diantar masnya sajalah. Mas Vario antar dia ya. Nanti kalo aku lambat, kamu yang kusalahkan. Kamu jangan marahi aku, ya," Judith memandang Vario.
__ADS_1
"Vario, tolong antar Judith ke bandara sebentar, bagaimana?" tanya Syahdan pada Vario. Dan Vario langsung mengangguk.
"Tidak. Aku ingin diantar kamu, mas,," ucap Judith memandang Syahdan.
"Mas Rio, antar aku saja ke RSUD Dharma Bhakti Husada, yuk,,," Ratria menyela menengahi. Merasa harus tahu diri dan mengalah.
Tapi Vario nampak bimbang.
"Baiklah, Vario. Kali ini aku merepotkanmu. Tolong antarkan Ratria. Apa kamu ada waktu?" tanya Syahdan merasa serba salah.
Memandang wajah tampan Vario yang nampak kusut dan lelah.
"Baiklah, pak Syahdan. Ratria, aku akan mengantarmu," ucap Vario sambil mengangguk pada Ratria.
Sebab Vario sama sekali tidak mengerti, dirinya hanya diam menunggu Ratria berdiri dan berjalan. Ratria pun tanggap dan segera berdiri untuk berjalan sendiri.
"Ayo, mas Rio." Ratria mulai berjalan.
"Pak, aku pergi dulu. Mari, mbak,," sapa Ratria saat melewati Syahdan bersama Judith yang meringis ngeri memandangnya.
"Tunggu, Rat,," panggil Syahdan.
Degh,, Syahdan telah mengangkatnya tiba-tiba. Kali ini Ratria merasa sangat serba salah. Judith memandang begitu sinis dengan wajah merah padam. Vario tertegun sejenak, lalu segera mengikuti Ratria yang diangkat Syahdan menuju mobil dinasnya vario.
"Terimakasih, pak Syahdan. Maaf, aku sangat merepotkanmu." Ratria tidak menolak gendongan Syahdan. Tapi justru mengucap maafnya.
"Cepat sembuh, Rat. Aku akan menggendongmu lagi lain kali." Syahdan berdiri perlahan dan menutup pintu mobil kemudian. Memutus pandangan Ratria yang tertegun menatapnya.
"Terimakasih, Vario..!" Syahdan berseru sebelum Vario masuk ke dalam mobil dinasnya.
"Tenang saja, pak Syahdan!" seru Vario sebelum pergi berlalu membawa mobilnya menuju arah kota.
"Mas Syahdan!! Ayo.. Nanti aku telat,,!!!" Judith berseru dan terdengar akan menangis.
"Iya, Dit! Masuklah ke mobil,!" Syahdan pun berburu masuk ke mobil mengikuti Judith. Arka sudah standby dan meluncur lancar ke jalanan menuju Juanda. Dirinya yang siaga dan mengamati sedari tadi, sudah sangat mengerti situasi.
Syahdan melirik Judith yang nampak sedih dan muram. Bagaimanapun sangat paham perasaan gadis itu. Gadis yang mendapat penuh perhatiannya selama ini. Suka bermanja, bercerita, dan percaya padanya.
Bukan tidak paham dengan perasaan Judith. Sangat paham, bahkan Syahdan pun seperti telah memelihara dan juga memupuknya. Entah sengaja atau tidak, kini Syahdan merasa bersalah. Memberi harapan manis namun tidak juga menyerahkan hatinya.
Syahdan merasa tidak yakin dan hanya sedang merasa sayang pada Judith. Juga merasa beban pada amanah orang tua waktu itu. Untuk menerima dengan baik saat Judith hijrah ke Surabaya demi rasa sukanya pada Syahdan. Namun itu dulu,,,,jauh sebelum dirinya menikahi Ratria..
__ADS_1