Telah Dikawin Gantung

Telah Dikawin Gantung
53. Izin Pulang


__ADS_3

Pukul tujuh malam tepat, Arka membelokkan mobil gunung yang hanya memuat dua orang, kembali ke garasi di rumah dinas. Mereka baru kembali dari periksa rutin yang terakhir dan merambat ke plesiran di Kebun Binatang Surabaya. Meski merasa senang, garis lelah nampak jelas terbaca di wajah Ratria.


"Rat, di depan tadi seperti mobil mantan dosen kamu,," tegur Syahdan sebelum meraka keluar dari mobil. Memang ada satu fortuner hitam yang juga baru datang dan menyandar agak jauh dari pagar.


"Sepertinya memang iya, pak," sahut Ratria membenarkan.


"Kamu sudah tahu dia akan datang?" Syahdan bertanya dengan kaku. Ratria mengangguk.


"Kenapa kamu tidak bilang? Untuk apa dia datang?" tanya Syahdan kembali. Seperti tidak suka dengan kedatangan mantan dosen Ratria yang tiba-tiba ke rumahnya.


"Aku segan denganmu, juga tidak menyangka jika pak Jati akan datang malam ini. Dia hanya ingin mengantar madu asli dari hutan," sahut Ratria lirih. Merasa segan dengan lelaki pemilik rumah yang sekaligus suaminya.


"Baiklah, temui saja, Rat. Aku akan langsung masuk ke dalam rumah." Syahdan memutuskan.


Kemudian keluar dan menutup kasar pintu mobil. Abai dengan Ratria yang masih duduk tertegun di kursinya. Merasa tidak enak dan segan pada Syahdan.


Jati juga baru keluar dari mobil dan mendekati pagar saat Ratria berjalan menuju ke arahnya.


"Assalamu'alaikum, Rat?" sapa Jati yang berdiri di luar pagar.


"Wa'alaikumsalam, pak Jati.,," sahut Ratria tersenyum. Tangannya hendak membuka pagar dengan ragu. Arka lah yang tadi menutup. Entah di mana sopir muda itu sekarang.


"Rat, enggak usah dibuka. Aku di luar saja. Tidak lama,,,!" seru pak Jati pengertian.Pagar di rumah dinas memang tinggi, namun sela jerujinya tidak rapat.


Pak Jati mengulur bag kecil pada Ratria dan tersenyum.


"Rat ini yang kubilang dalam pesanku tadi. Madu sangat asli dari hutan. Tidak tercampur dengan bahan lain satu tetes pun. Juga sangat bagus untuk kesehatan dan lukamu," Jati menerangkan dengan yakin.


"Asli,,?"gumam Ratria mengulang .


"Iya. Ini koleksi milik temanku. Dia hobi mencari dan mengumpul madu asli untuk dikoleksinya sendiri." Imbuh pak Jati sambil tersenyum memandang wajah cantik Ratria yang lelah.


🍃🍃🍃

__ADS_1


Syahdan buru selesai dengan mandi sorenya yang malam saat Ratria muncul dari arah ruang tamu. Gadis itu membawa satu botol kaca bening berisi madu yang berwarna keemasan di tangan.


"Rat, pak Jati masih di luar?" tanya Syahdan. Tiba-tiba ingin menemui. Merasa dirinya baru saja bersikap tidak sopan. Ratria nampak bungkam sesaat sebelum akhirnya bersuara.


"Sudah pulang. Baru saja pergi, pak Syahdan," terang Ratria sambil berbalik dan membuka pintu kamar yang hampir seharian ditinggalkan.


Syahdan tertegun sebentar dan juga berbalik ke kamarnya kemudian. Perkiraan jika Jati akan berkunjung sangat lama ternyata salah total.


🍃🍃


Jika malam lalu dengan model panjang pada celananya, malam ini baju tidur yang dipakai justru dengan bawahan sangat pendek. Kembali menampakkan paha mulusnya yang indah.


Syahdan kesusahan menutup pintu kamar saat Ratria tengah sibuk bolak balik di meja dapur menata makanan. Food delivery yang dipesan baru saja tiba mengantarkan pesanan punya Syahdan. Dan Ratria lah yang menerima kedatangannya kemudian.


Syahdan telah duduk tegang dengan nafas yang serasa putus-putus. Meski atasan tidak lagi menggantung, tapi potongan lengan super pendeknya telah menampakkan sedikit bahu dan lengan tangan yang cerah. Bahan katun tipis dan lembut membuat baju tidurnya menempel lekat di badan. Cetak badan yang berlekuk itu nampak jelas bentuknya.


"Rat, cepatlah duduk, ayo mulai makan," Syahdan mencari solusi sendiri untuk resahnya.


"Pak Syahdan duluan saja, aku masih menunggu air yang akan mendidih sebentar lagi," sahut Ratria dengan tetap membelakangi.


Syahdan ibarat kucing yang dihadapakan pada ayam goreng lezat dan menggoda namun masih ragu, aman diterkamnya atau justru tidak. Sikap pemaksa yang sempat dimilikinya, lenyap sementara entah ke mana..


"Pak Syahdan, mau dibuatkan kopi susu nggak?" tanya lembut Ratria kian menyesakkan.


"Nggak usah, Rat. Habis makan, aku ingin cepat tidur," jawab Syahdan. Menghirup nafas ke dada sangat panjang. Ratria telah duduk di sampingnya.


"Pak Syahdan, boleh aku bicara?" tanya Ratria dengan memandang wajah Syahdan.


"Hemm, apa?" Syahdan juga mengangguk.


"Semalam kamu membolehkan aku pulang, tapi kapan mas Arka bisa mengantarku? Kamu tidak membolehkanku naik bis kan?" tanya Ratria merasa Syahdan tidak memberinya kepastian.


"Tunggu, sabar ya, Rat. Aku lihat dulu jadwal kerjaku." Syahdan mengambil air putih di gelas yang disediakan Ratria.

__ADS_1


"Sebenarnya,,, sebenarnya pak Jati juga mau ke Blitar. Apa boleh aku menumpang?" tanya Ratria dengan berdebar. Resah dengan reaksi Syahdan pada izinnya.


Ting,,!!


Syahdan melepas sendoknya tiba-tiba. Tertegun diam tanpa memandang Ratria.


"Emm, maaf pak Syahdan. Bukankah kamu sangat sibuk? Jadi biar aku tidak merepotkan kamu maksudku,," Ratria menjelaskan alasannya. Syahdan menoleh.


"Lebih baik kamu naik bis, Rat," jawab Syahdan pendek. Kembali memegang sendok dan melanjutkan makannya. Sate kelinci berlumur sambal kacang yang nikmat. Dengan tumis buncis pedas yang manis.


"Iy..ya, pak Syahdan,," tercekat Ratria menjawab. Menyamarkan sedih hatinya. Melirik Syahdan yang acuh tak acuh dan hanya fokus pada isi di piringnya.


Syahdan tidak benar-benar menahan dan melarangnya agar tidak pulang. Lelaki itu mengizinkannya pulang begitu saja. Bahkan sopirnya pun tidak juga disuruh mengantar. Tapi malah disarankan naik bis saja.


Meski sedih dan kecewa, tapi juga ada rasa lega bahwa Syahdan menyuruhnya naik bis saja. Bukan untuk pulang bareng pak Jati, sang mantan dosen. Bisa jadi jika Syahdan membolehkannya untuk pulang ke Blitar bareng pak Jati, mungkin Ratria justru telah menangis tak tertahan saat ini. Ah, anehnya hati ini...


Makan malam berlangsung dengan bisu. Kedua insan di meja sedang berlomba saling bungkam. Juga adu makan untuk segera mendahului menghabiskan isi makanan di dalam piring, mereka melakukan tanpa bersuara sepatah pun. Hingga usai dan habis isi piring.


Ratria berdiri setelah menghabiskan segelas susu buatannya. Bersama Syahdan yang juga sedang berdiri. Mereka bertemu pandang dan saling menguncinya sesaat. Berakhir dengan anggukan dan senyum gugup Ratria yang terlihat salah tingkah.


"Rat," tegur Syahdan. Bersama ulur tangan yang menyentuh di lengan bahu Ratria yang lembut. Ratria tentu saja terkejut.


"Pak Syahdan,,?!" sahut Ratria dengan dada yang berdebar laju seketika.


"Besok jadi pulang ke Blitar?" tanya Syahdan sambil mengelusi bahu Ratria dengan jari-jarinya yang besar. Ratria mengangguk dengan mata melebar. Berdebar dengan sentuhan Syahdan di kulit bahunya.


"Temani nonton tivi malam ini, Rat," ucap Syahdan sangat lembut.


"Iy,,ya, pak Syahdan. Aku temani," sambut Ratria dengan cepat.


"Aku tunggu. Keluarlah dari kamarmu setelah ini." pesan Syahdan sambil terus memegang bahu Ratria.


"Iya. Aku akan ke kamar dulu,"Ratria memandang Syahdan dan bergerak mundur dari kursi. Syahdan mengangguk, menarik tangannya kembali dari bahu Ratria. Membiarkan gadis cantik itu berlalu terburu ke arah kamarnya dengan senyuman. Merasa lega dan puas bahwa Ratria kembali tidak menepis tangannya kali ini..

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2